
Kirana benar-benar marah pada Edgar.
Kenapa dia harus menelpon lagi, padahal ia uang yang dia minta sudah di transfer.
"Dasar laki-laki pecundang! Tidak berguna."
Ia mengomel sendirian
Di tempat Yasmin.
Satria memohon maaf kepada Yasmin.
"Aku sangat mohon maaf, karna harus meninggalkan Rayyan. Tapi anak buahku tetap akan mengawasi kalian."
"Terima kasih, tidak usah repot-repot. Pergi saja, anakmu sedang sakit lho... istrimu juga pasti tengah gelisah menunggu mu."
Sindir Yasmin
Satria menatapnya.
Ia tau Yasmin sedang menyindirnya.
'Kau cemburu?"
"Ih... Siapa yang cemburu? GR." ucapnya membelakangi Satria.
Yasmin tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
Tiba-tiba Satria memeluk pinggangnya dari belakang.
"Apa benar kau tidak merasa cemburu? Tapi melihat reaksimu, kau sangat cemburu saat ini." bisik Satria.
Yasmin berusaha melepaskan tangan Satria.
Tapi tangan itu begitu kuat.
"Lepas!" Yasmin meronta.
"Aku tidak akan melepas mu. Sebelum kau mengakui kalau kau cemburu.
"Mungkin kau tidak percaya, sejak kepergian mu. Aku tidak pernah dekat dengan wanita mana pun."
"Aku tidak percaya, lalu Kirana?"
"Aku di jebak oleh Kirana sampai akhirnya Dio lahir ke dunia ini." Yasmin masih tidak percaya juga.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk percaya, tapi aku sudah berkata jujur."
"Lebih baik kita tidak usah saling bertemu, kau lanjutkan hidupmu, akupun begitu. aku sudah merencanakan pernikahanku."
Satria membalik tubuh Yasmin.
Kini mereka saling berhadapan.
"Apa benar kau bisa berpaling dariku, dan memilih pria lain?" tatapan Satria begitu tajam.
"Tentu saja..!" jawab Yasmin gugup.
"Akan aku buktikan dengan caraku." ucap Satria tegas.
Ia memegang kedua bahu Yasmin.
"Kau istriku, ibu dari anak ku. Dan akan selamanya seperti itu..."
Satria menarik wajah Yasmin semakin dekat. Lalu Ia memberikan ciuman yang begitu dalam hingga Yasmin merasa susah bernafas. Namun ia menikmatinya, bukan hanya itu. Bahkan ia membalas dengan tak kalah panasnya.
Setelah selesai, Satria tersenyum kearahnya.
"Yang terjadi barusan adalah bukti bahwa aku masih ada di hati mu."
Yasmin memandang kearah lain.
__ADS_1
degupan jantungnya masih belum bisa ia kuasai.
"Sok tau!" ucap Yasmin keluar dari kamar itu.
Satria pergi dengan senyuman lebar tersungging di bibirnya.
Malam itu juga dia langsung terbang ke Jakarta.
"Dio..!"
Satria langsung ke kamar Dio. Tapi ia melihat anak itu tengah bermain dengan Kirana.
"Papa..!" Dio menghambur ke pelukan Satria.
"Papa dengar Dio sakit..?"
"Iya, Pa. Tapi sudah sehat, coba deh pegang dahi Dio.." Dio membawa tangan papanya dan menempelkan di dahinya
"Tadi siang memang sempat panas tinggi, tapi syukurlah dia mau minum obat.vdan akhirnya sehat.."
Kirana mendekati ayah dan anak itu.
Namun Satria tetap dengan sikap cueknya.
"Membuat Dio mau minum obat adalah tugasmu sebagai seorang ibu, bukan sebuah prestasi." Satria berkata tanpa melihatnya sedikitpun.
Kirana menarik nafas dalam-dalam.
Kadang ia merasa lelah juga mengejar cinta Satria.
"Kau sangat kejam, Sat. Kau menorehkan luka baru di hatiku setiap harinya." bisik. Kirana.
Satria bermain dengan Dio sebentar, lalu pergi ke kamarnya sendiri.
"Kapan datangnya,? Udah ketemu Dio?" sapa Bu Lifia.
"Sudah, Ma.." jawab Satria dengan singkat.
Dia meletakkan tangannya di dahi Satria.
"Kenapa,Ma?"
"Mama pikir Dio Sudah baikan, siapa tau demamnya pindah padamu." gurau Bu Lidia.
"Mama ada ada saja..." jawab Satria menyembunyikan senyumnya.
"Ada yang aneh dengan sikap anak Mama ini... Sekarang dia lebih murah senyum."
"Biasa saja kok, Ma. Ternyata Dio sudah pulih, itu sudah membuatku cukup senang." elak Satria.
"Yo, jujur sama Mama. Apa yang terjadi disana?"
Satria tertegun, kenapa Mamanya berkata begitu, tumben tumbenan pula dia memanggil dengan 'Yo'
"Soalnya, Kirana sempat nanya ke mama, apa yang akan Mama lakukan seandainya Yasmin datang membawa anaknya dalam kehidupan kita. Apa memang Yasmin sudah kembali?" manik mata Bu Lidia menatapnya penuh harapan.
"Seandainya, ini seandainya lho, Ma. Yasmin datang dalam kehidupan kita lagi? Apa yang Mama lakukan?"
"Kau ngomong apa, Yo? Tentu saja Mama merasa sangat bahagia. Tapi apa benar dia sudah kembali? Dimana dia sekarang, kenapa kau tidak membawanya serta."
Satria mengangguk.
aku sudah menemukan Yasmin, dan Mama tau? Dia sudah melahirkan seorang putra yang tampan." ucap Satria sambil memutar galeri ponselnya. Lihat lah...!"
Bu Lidia memekik menutup mulutnya.
"Ini, kan anak yang pernah kau ceritakan itu.
cucuku... Dia benar-benar mirip dirimu. Sangat mirip."
Bu Lidia mengusap Photo Yasmin dan Rayyan sambil berlinang air mata.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau tidak membawanya pulang? Katakan disini rumah mereka!"
"Tenang, Ma. Bukannya aku tidak mau seperti itu. tapi butuh waktu untuk meyakinkan Yasmin. Dia sangat terluka dengan kejadian yang sudah menimpanya.
Karna itu, aku tidak mau memaksanya. Biarlah waktu yang akan merubah keputusannya. Lagi pula, aku harus menjelaskan pada Dio juga."
"Tapi Mama ingin bertemu mereka.. Mama ingin memeluk cucu Mama itu.."
"Pasti, akan tiba saatnya kita berkumpul lagi " hibur Satria.
Perbincangan itu tak lepas dari intaian Kirana. Dia bertambah geram saat mengetahui Bu Lidia begitu antusias bertemu cucunya.
"Gawat, kalau sampai anak itu bertemu Mama, Dio akan tersingkirkan. Aku harus mencegahnya."
Saat Bu Lidia meninggalkan kamar Satria. Kirana menyelinap masuk.
Ia menaruh air putih yang sudah di campur nya dengan sesuatu.
"Aku harus menciptakan jarak di antara mereka.' gumamnya lalu keluar lagi.
Satria keluar dari kamar mandi, ia terlihat lebih segar. Karna merasa haus ia meneguk air putih yang di siapkan Kirana.
Setelah beberapa menit, Kirana masuk perlahan.
Ia melihat Satria tengah berdiri di depan lemari. Handuk putih melilit di pinggangnya. Perlahan ia memeluk pinggang Satria dari belakang.
Sontak Satria berbalik karna kaget.
Namun Kirana tidak mau melepaskan tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" sergah Satria marah.
"Bertahun-tahun aku menunggu kau membuka hati untuk ku. Tapi hanya kekecewaan yang ku dapatkan
Biarkan aku memelukmu, hanya memelukmu seperti ini, apakah kau keberatan?" Kirana menempelkan pipinya di punggung Satria.
"Kau tau rasanya di acuhkan? Sakit, sakit sekali...!" tangan Kirana semakin erat memeluk pinggangnya.
Satria merasa heran, ke apa ia merasakan hal yang aneh, ia seperti ingin Kirana melakukan hal yang lebih. Ia semakin panik saat menyadari ada sesuatu yang hidup di bawah sana.
"Kiran, lepaskan aku..! Ini tidak benar,."
"Apanya yang tidak benar? Semua benar dan mungkin dalam cinta, Sat.vaku begitu mencintaimu. Kenapa kau tidak bisa merasakannya?" rintih Kirana dengan suara manjanya.
Perlahan tangannya sedikit turun mendekati handuk yang membungkus bagian bawah tubuh Satria.
Satria berusaha mempertahankan kesadarannya. Ia memegangi handuknya dengan erat.
Ia mendorong tubuh Kirana dengan kuat hingga terlentang di kasur.
Kirana tidak menyerah juga. Ia merasa kalap, sakit hati dan benci. Ia tidak perduli lagi dengan harga dirinya.
"Kirana, sadarlah! yang kau tunjuk kan padaku bukan cinta, tapi obsesimu yang berlebihan"
"Aku lelah menunggu kau mencintaiku, aku capek kau acuhkan. Aku hanya minta hak ku sebagai istri mu." wanita itu kembali menubruk Satria.
Satria merasa kewalahan, selain menahan gejolak dalam dirinya sendiri, dia juga harus menenangkan Kirana yang seperti kehilangan kendali.
"Aku benci Yasmin. semuanya hanya Yasmin dan Yasmin saja. Lalu aku?"
Kirana semakin ganas menyerang Satria.
Ia sampai lupa tujuan utamanya, yaitu menggodanya lalu merekam dan mengirimkannya pada Yasmin.
Satria sangat berharap ada seseorang yang menolongnya dari keadaan itu, ia tidak kejadian yang mengakibatkan kehadiran Dio terulang kembali, apa jadinya kalau ada Dio yang kedua.
Tiba-tiba pintunya di ketuk dengan keras.
"Pa, papa...!" suara Dio membuat Kirana menghentikan aksi brutalnya.
"Kau sembunyikan di kamar mandi, aku malu membayangkan bagaimana perasaan Dio kalau tau apa yang di lakukan Mamanya."
__ADS_1
Dengan hati dongkol, Kirana menurut. Ia masuk kemar mandi dan menyesali yang sudah dia lakukan.