
Yasmin begitu kaget menyadari dirinya sudah satu selimut dengan Satria.
Ia memeriksa seluruh badannya.
"Ssst.. jangan ribut, nanti di kira kita ngapa-ngapain oleh pak Karim." kata Satria.
"Emang dasar mesum, kau pasti senang, kan dengan kejadian ini?" tuduh Yasmin berapi-api.
"Kalau aku yang mesum, kenapa kau yang berada di kamarku? jadi, siapa yang mesum?" balas Satria dengan senyum nakalnya.
Yasmin terdiam, ia ingat semalam sudah datang ke kamar Satria karna takut pada suara angin dan guntur.
"Jangan sampai terjadi, hii..!" ia bergidik membayangkan sesuatu telah terjadi di antara mereka.
"Berisik banget., aku masih ngantuk soalnya semalam...??" Satria sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
"Semalam? tidak terjadi apa-apa, kan?" tanya Yasmin khawatir.
"Kau periksa saja, siapa tau ada yang hilang atau berubah dari mu." olok Satria lagi..
Yasmin mengibas selimut yang masih menutupi sebagian kakinya.
Ia bergegas keluar dengan tergesa.
Satria menatap kepergiannya dan tersenyum penuh arti. Ia juga mencium bagian kasur yang semalam di tiduri Yasmin. ia kembali membayangkan tangan gadis itu yang memeluknya dengan erat semalaman.
"Aku kenapa? apa aku jatuh cinta pada gadis itu?" gumamnya sendiri.
Satria menutupi mukanya dengan bantal.
Di kamar mandi, Yasmin memeriksa seluruh bagian tubuhnya, khususnya pada bagian sensitif nya.
"Tidak terjadi apa pun, aku yakin!" ucapnya lega.
Diam-diam dia kagum pada Satria yang sopan dan menjaga kehormatannya.
"Kalau pria lain di posisinya, pasti aku sudah di embat olehnya." pikir Yasmin positif.
"Yasmin , ayo cepat, ini sudah siang." teriak Satria.
"Hari ini aku tidak ikut, ya!" ucapnya malas.
"Terserah, tapi kau tau konsekwensinya, kan?"
Yasmin mengangguk.
"Aku tidak akan dapat jatah uang jajan, aku tidak boleh ini dan itu. Aku capek. Aku mau pulang ke rumahku saja!"
Yasmin meraih ranselnya dan melangkah pergi.
Satria memandangnya dengan heran.
"Kenapa tu anak? perasaan kemarin dia masih baik-baik saja."
"Yasmin, kau kenapa?" Satria menghadang langkah gadis itu.
Satria kaget karena mata Yasmin sudah basah oleh air mata.
"Aku tidak sanggup hidup serba kekurangan, aku tidak bisa sepertimu yang bisa hidup sederhana, semua butuh proses dan waktu. Sedang kau menuntut agar aku berubah dalam satu malam.m Mustahil, kan?" ucapnya seraya melangkah pergi.
"Kenapa tiba-tiba dia membahas soal ini lagi? apakah memang benar aku yang terlalu keras padanya?" bathin pemuda itu
Satria mengikuti langkah gadis itu dengan motornya.
"Kau tidak tau apa yang bisa di lakukan pamanmu itu padamu. Aku mohon jangan pulang kesana!"
"Apa perduli mu? aku hanya istri mu di atas kertas, kan?"
__ADS_1
Satria menggaruk kepalanya karna bingung dengan pertanyaan Yasmin.
"Terus maumu apa?"
Yasmin tak peduli, dia terus melangkah tanpa memperdulikan Satria.
"Okey, kau mau kemana? aku turutin kemauanmu sekali ini, asal kau tidak kembali ke rumah itu lagi."
Yasmin berhenti dan berbalik.
"Kau mau mengajak ku kemana saja?"
Satria mengangguk.
"Ke mall. Aku mau belanja sepuasnya, makan sepuasnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku shopping."
Satria terdiam.
"Ya, sudah ayo naik!"
Yasmin menurut naik ke boncengan suaminya itu.
"Tapi janji jangan minta yang mahal-mahal, ya!"
"Dasar pelit! belum juga belanja sudah ketakutan begitu."
"Bukan pelit, tapi berhemat." jawab Satria membela diri.
Wajah Yasmin terlihat bahagia, sudah lama sejak menikah dengan Satria ia tidak pernah shopping. Dengan gembira ia mengambil barang-barang yang di sukainya. sama sekali tak perduli pada wajah Satria yang terlihat linglung.
Karna terlalu asik memilih ini itu, ia sampai tak sadar menabrak seorang pria.
"Kau punya mata , tidak?" pria itu sudah hendak menamparnya, Yasmin sampai memejamkan mata karna takut. Namun tangan itu terhenti di udara.
"Jangan sekali-kali main tangan pada perempuan!" ucap Satria menatap pria itu dengan tajam.
Yasmin kaget, ia terpesona dengan sikap Satria yang terlihat begitu gentle melindunginya.
"Kau tidak apa-apa?" Satria memutar tubuh Yasmin untuk memeriksanya.
Yasmin hanya menggeleng lemah.
"Kita makan dulu." Satria menggandeng tangan Yasmin.
Yasmin merasa aneh dan menatap kearah tangannya.
Satria yang menyadari itu langsung refleks melepaskannya.
Mereka sama-sama terdiam.
"Hey kalian juga disini?" Kirana menghampiri mereka dengan suka cita dan menyapa mereka dengan ramah.
Kirana juga mengajak mereka duduk untuk makan.
Mata Yasmin selalu melirik kearah tas yang di pajang di etalase.
Saat Satria permisi ke toilet, Kirana mendekatinya.
"Kau suka?"
Yasmin menelan ludah,
"Apa pentingnya aku suka atau tidak, toh tidak akan bisa ke beli juga!" jawab Yasmin acuh.
"Ambil saja! dan kau juga boleh mengambil yang lain yang kau suka, aku yang bayar"
Yasmin menatap wanita itu seolah tak percaya.
__ADS_1
"Kau masih tidak percaya?"
"Owh tidak, bukan begitu. kita bukan rekan atau yang lainnya, kenapa kau begitu baik menawarkan itu semua padaku?" Yasmin penasaran.
"Kau benar, semua tidak ada yang gratis! tapi sudahlah, pergi sana!"
"Tapi Satria?" Yasmin terlihat ragu.
"Satria biar aku yang urus." kata Kirana sambil tersenyum.
Walaupun semula ragu-ragu, Akhirnya Yasmin menikmatinya, ia merasa dunianya kembali lagi.
"Yasmin kemana?" Satria yang baru kembali dari toilet mencari keberadaan istri manjanya itu.
"Tenang, Sat. dia lagi belanja."
"Tapi dia...?"
"Biarkan saja. aku yang traktir kok." jawab Kiran tersenyum.
"Bukan itu maksudku, aku sengaja mengajarinya... tapi sudahlah, kau tidak akan mengerti."
"Mengajarinya apa? dunia wanita itu tidak akan pernah bisa jauh dari yang namanya shopping. Mau kaya atau miskin sama saja, cuman yang membedakan daya belinya."
Satria terdiam. Ia bisa membenarkan pendapat Kirana, karna itu dia membiarkan Yasmin berbelanja sepuas hatinya.
Sambil menunggu Yasmin selesai, Satria dan Kiran mengobrol dengan akrab. Dari situ Satria tau kalau Kirana adalah seorang milyarder. dia adalah pewaris tunggal Widjaya Group yang menaungi lima perusahaan sekaligus.
Ayahnya sudah tiada, namun pamannya yang mengelola bisnisnya.
Kirana mengaku walaupun hidupnya bergelimang kemewahan tapi hatinya kesepian.
Dalam kesehariannya, dia lebih suka berpenampilan sederhana, dia juga tidak suka orang mengenalinya sebagai orang kaya.
Sangat berbalik dengan karakter Yasmin yang lebih suka hidup glamour.
Sampai akhirnya Yasmin datang dengan wajah puasnya.
"Waah, puas rasanya hari ini, sering-sering saja, mbak Kiran."
"Boleh, bagaimana kalau besok kita ke salon?
kau pasti suka."
"Ke salon? mau banget lah.." ucapnya bersemangat.
"Tidak boleh!" ujar Satria tegas.
"Tidak apa-apa, ini urusan perempuan." Kiran mengedipkan matanya pada Satria agar diam.
"Weeek.. !"
Yasmin merasa menang dan menjulurkan lidahnya ke arah Satria.
Sejak hari itu, Kiran sering datang kerumah Satria. Dengan alasan ingin mengobrol dengan Yasmin. Namun Yasmin lebih tertarik pada barang bawaan Kiran ketimbang berdiskusi hal yang kurang penting menurutnya.
Alhasil, Satria lah yang lebih banyak menemani Kiran.
Semakin hari Yasmin semakin lupa diri. Ia terlena oleh kemewahan yang di berikan oleh Kiran.
Satria dan Kirana pun semakin dekat. Di banyak kesempatan mereka lebih banyak menghabiskan waktu tanpa Yasmin.
"Yasmin, aku mau bicara." ucap Satria suatu malam.
"Bicara saja, aku dengerin!" jawab Yasmin acuh.
"Kau harus membatasi dirimu, jangan setiap Kirana memberi kau selalu menerimanya."
__ADS_1
"Apa salahnya? dia banyak uang, tapi bingung uangnya mau di apain.Aku hanya membantu dia menghabiskan uangnya.". jawab Yasmin asal.
"Tujuan awalku sudah gagal..." gumam Satria.