
Setelah memeriksa barang bukti itu, Yasmin bergegas mandi. Ia teringat saat Bram menyentuh nya, ia benar-benar merasa jijik.
Cukup lama ia mengguyur tubuhnya sambil memikirkan bagaimana langkah selanjutnya.
"Saat ini, Bram pasti sangat murka. Ia pasti sedang mencariku. Bagaimana caranya aku mengamankan barang bukti ini...? aku tidak mungkin menemui anggota keluarga maupun pengacara untuk menyerahkan bukti ini... sidang putusannya tinggal dua hari lagi."
Setelah menemukan cara.
Yasmin bisa memejamkan matanya. Pikiran dan fisiknya terasa lelah. bagaimanapun apa yang dia lakukannya untuk merebut bukti itu sangat menguras emosi dan tenaganya.
Esok harinya.
Masih dengan penyamarannya. Yasmin mendatangi sekolahan Rayyan. Dengan menyamar menjadi petugas Asuransi dia melewati beberapa anak buah Bram yang berjaga disitu.
Bram sangat pintar, dia sudah membaca gerak Yasmin. Karena itu dia memata matai Rayyan dan Bu Lidia. Bram berpikir kalau Yasmin akan menemui salah satu dari mereka.
"Kau memang cerdik, tapi aku selangkah berada di depanmu." ucapnya sambil mencibir kearah anak buah Bram yang tentu saja tidak mengenalinya.
Setelah berbicara dengan gurunya Rayyan. Dia beralih ke wali murid yang sedang menunggui anak mereka. Termasuk Dilla.
Yasmin memberikan secarik keras kepada Dilla.
Dilla yang tidak mengerti, memandang Yasmin heran. Yasmin langsung memberinya isyarat
Dilla jadi mengerti kalau yang di depannya itu
Adalah Yasmin sahabatnya.
,Dilla membaca coretan itu.
(Besok ajak Rayyan ke pengadilan. Jangan lupa)
Dilla memandang Yasmin.
Yasmin melirik kearah anak buah Bram.
Dilla terdiam. Kemudian dia bersikap biasa agar kedua pria itu tidak curiga.
Sebelum pulang, Yasmin menyalami anak anak yang baru berhamburan keluar.
Saat Rayyan berada dekat dengannya. Ia memasukkan bukti kecil itu ke dalam tas Rayyan. Ia tau, Rayyan sangat menyukai tas gendongnya itu. Hingga kemanapun dia pergi, tas itu selalu menyertainya.
"Beres..!" gumam Yasmin sambil berlalu pergi.
Di rumah Lidia, Bram datang dengan tidak sopan. Ia langsung masuk tanpa basa basi.
Bu Lidia yang sedang berada di rumah merasa kaget'.
"Ada apa ini?" serunya tidak suka.
Tatapan Bram bertemu dengan Kaka iparnya itu.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku mau mencari Yasmin. kau jangan coba melindunginya Lidia..!"
"Yasmin tidak ada disini. Kau cari saja di tempat lain." ucap Bu Lidia ketus.
"Kalau memang ada di tempat lain, tidak mungkin aku sampai disini."
"Aku sudah bilang, dia tidak disini. Bukannya kalian sudah bersama dalam beberapa hari ini?"
"Kau betul, tapi gadis nakal itu sudah mengambil sesuatu dariku lalu dia menghilang."
"Itu bukan urusanku, yang jelas kau harus segera pergi dari sini." usir Lidia.
"Aku tidak mau pergi tanpa mendapatkan apa yang aku inginkan." ucap Bram sambil memberi isyarat pada anak buahnya supaya menggeledah rumah itu.
"Tidak ada, tuan?"
Lidia mencibirnya.
"Sudah ku bilang, yang kau cari tidak ada disini."
"Bagaimana kalau aku datang untuk mencari mu."
"Jaga sikapmu! andai saja Satrio ada disini, dia akan mematahkan tanganmu."
Bram tertawa lebar.
'Kau harus menerima kenyataan kakak ipar, Satrio kebanggaan mu itu akan membusuk di penjara."
Lidia menahan amarahnya.
"Ini semua karena salahmu juga. Coba dulu kau terima cintaku, semua ini tidak akan terjadi. tidak ada permusuhan.. Kau dan aku akan mengelola perusahaan bersama."
"Jaga bicaramu, hargai aku sebagai ipar mu."
"Aku sangat menghargai mu cantiiik...!" Bram menyentuh dagu Lidia. Lidia langsung menepisnya.
Saat itu Dilla datang bersama Rayyan.
Melihat ketegangan yang terjadi membuat Rayyan berlari memeluk Omanya.
"Ray.."
"Kau apakan Oma?" ucap Rayyan dengan berani. Matanya menantang mata Bram.
"Ohoo... Ini Satrio kecil? kau berani seperti ayahmu, dan pedas seperti ibumu. Aku suka ini." Bram bertepuk tangan.
Lidia memberi isyarat pada Dilla agar membawa Rayyan masuk kamar.
"Ayo, Ray..!"
Tapi tangan Bram menahannya.
"Tunggu dulu!"
Bram berjongkok di depan Rayyan.
Hal itu membuat Lidia dan Dilla menahan nafas.
"Bram, jangan bawa-bawa cucuku. Ini urusan orang tua.." Lidia memohon.
"Anak manis, siapa namamu?"
"Rayyan.." jawab Rayyan berani.
"Nama yang bagus. Kau tau Mama Yasmin dimana sekarang?"
Dilla menahan nafas. ia takut Rayyan salah bicara.
Setelah terdiam sejenak. Anak itu menggeleng.
"Ray tidak tau, Ray juga kangen Mama .." jawab Rayyan.
Setelah itu, Rayyan masuk kekamar di ikuti Dilla.
Bram terlihat kecewa.
"Sekarang keluar dari sini. Yang kau cari jelas tidak ada disini." Lidia menunjuk pintu keluar.
Dengan kesal Bram dan anak buahnya pergi.
Di pengadilan..
Bu Lidia, Dilla Adam dan Rayyan sudah hadir. Mereka menunggu mobil yang membawa Satria datang.
__ADS_1
Anak buah Bram berjaga-jaga. Mereka bermaksud menghalangi Yasmin kalau dia datang dan bersaksi nantinya.
Semua yang menurut mereka mencurigakan di periksa di pintu masuk.
Sidang berlangsung dengan sengit.
Bram juga hadir disana. Dia juga terus menekan Edgar.
Edgar merasa gugup di bawah ancaman Bram.
"Ingat, bicara sesuai kesepakatan kita, kalau tidak ingin anak mu ini menerima akibatnya."
Edgar menarik nafas.
"Dimana Yasmin? Kenapa dia justru tidak datang?" Edgar merasa gelisah.
Masing-masing pengacara berunding dengan klien mereka.
"Kenapa pak Edgar terlihat gelisah? Ini akan merugikan pihak kita." pengacaranya menegur.
Tiba saatnya perdebatan terjadi. Tim kuasa hukum dari Satria sudah merasa putus asa. mereka pesimis bisa membebaskan Satria secara mutlak. Tapi paling tidak mereka bisa meringankan hukumannya.
Di tengah keadaan yang terpojok. Tiba-tiba Edgar berbalik arah.
Dia malah mencabut segala tuntutannya.
Hal itu membuat Bram merasa geram.
Semuanya merasa heran dengan Edgar, termasuk Satria.
"Maaf yang Mulya, klient kami sedang stress, mungkin karena kehilangan istri dan masalah yang belum selesai ini. Karena itu dia tidak mengerti dengan apa yang di ucapkannya barusan."
"Keberatan yang Mulya. Disini kami ingin menegaskan. Kalau korban Kirana bukanlah istrinya."
Perdebatan semakin Sengit.
Saat itu, Yasmin muncul di pintu. Dengan wajah sendu dia mengikuti sidang berlangsung.
Tak sengaja mata Edgar menatap Yasmin yang duduk di bangku paling belakang.
Yasmin mengangguk padanya.
Edgar merasa mendapat kekuatan.
Hakim tidak mempercayai ucapan Edgar karena tidak ada bukti.
Namun tiba-tiba Kuasa hukum Satria berseru.
"Ijinkan kami menampilkan satu bukti lagi yang Mulya."
Bram tersenyum sinis. Ia yakin kalau Satria tidak akan lolos dari hukuman.
Kuasa hukum Satria menyerahkan benda kecil itu pada hakim
Semua yang hadir menahan nafas.
Namun mata Bram terbelalak saat menyadari
Barang buktinya yang di putar di ruang pengadilan itu.
Satria tidak percaya saat hakim menyatakan dirinya bebas dengan terhormat.
Bu Lidia langsung merangkul Satria terharu.
Begitu juga Rayyan.
Yasmin hanya bisa menyaksikan hal itu dari kejauhan. Ia menutupi wajahnya dengan kerudung panjang.
Namun mata Satria sempat bertemu dengan matanya. Buru-buru Yasmin keluar dari ruangan itu.
"Kau mencari siapa?" tanya Bara penasaran
Bara ikut mencari.
"Mungkin hanya perasaanmu saja. Mana ada Yasmin di sini." tukas Bara.
Mata Satria terlihat kecewa.
"Bara benar, mana mungkin Yasmin perduli padaku, entah aku bebas atau pun tidak." ucapnya dalam hati.
Namun Satria merasa penasaran, dari mana kuasa hukumnya mendapatkan bukti rekaman itu.
"Tadi di menit terakhir, mba Dilla memberikan bukti itu."
"Dilla?" Satria langsung mencari Dilla.
Dilla sedang membersihkan tangan Rayyan yang penuh coklat.
"Dil, kata pengacara, kau yang memberi kan bukti itu, kau dapat darimana?"
Dilla terdiam.
Ia ingat pesan Yasmin kalau Satria tidak perlu tau tentang keterlibatannya dalam upaya pembebasannya.
'Ayolah, Dilla.. Kau katakan yang sebenarnya? Ini ada hubungannya dengan Yasmin?" tebak Satria langsung.
Dilla terlihat ragu.
"Sebenarnya Yasmin melarang saya menceritakan ini pada siapapun, tapi saya pikir, pak Satria sangat perlu tau soal ini."
Lalu Dilla menceritakan saat Yasmin memutuskan untuk bergabung dengan Bram dengan suatu misi.
Ia juga bilang kalau Yasmin berhasil membawa kabur barang bukti itu. Di tengah persidangan, Yasmin minta dirinya membawa Rayyan ke kamar kecil, disitu dia
Mengambil sesuatu dari tas Rayyan. Lalu Yasmin menyerah kannya pada pengacara.
Satria menarik nafas panjang.
"Jadi, benar dugaanku kalau Yasmin ada di sini tadi."
"Benar, pak, tapi dia buru-buru pergi, dia merasa tidak pantas bertemu dengan pak Satria lagi."
Semua cerita Dilla membuat Satria tidak tenang.
"Masih pantaskah aku membencinya atas perbuatannya? Dia jelas melakukan ini untuk ku."
Satria gelisah. Dia tidak bisa tidur memikirkan Yasmin.
"Dimana dia sekarang?"
***
Sementara itu, Yasmin merasa lega sekaligus sedih. Lega karena Satria bisa bebas. Sedih karena dia harus membayar kebebasan itu dengan mahal. Kenyataan nya dia tidak bisa lagi menatap wajah suaminya itu.
Ada yang masih mengganjal di hatinya.
Tentang keterlibatan Bram dalam kasus kematian papanya Satria.
"Aku harus bertemu Satria sekali saja. Bram harus mendapatkan ganjaran dari semua perbuatannya itu.
Paginya. Yasmin sengaja mencegat Satria di depan kantornya.
Yasmin langsung menarik tangan Satria ketempat yang agak terlindung. Ia takut mata-mata Bram mengintai mereka.
"Yasmin?" ucap Satria kaget.
Yasmin tertunduk.
__ADS_1
"Aku sadar, tidak pantas lagi menampakkan wajahku di depanmu. Tapi aku minta waktumu sebentar saja. Hanya lima menit. aku janji, setelah ini aku tidak akan menganggu hidupmu lagi." ucap Yasmin bersungguh-sungguh.
Satria menatapnya dengan kerinduan yang dalam. Tapi mengingat bagaimana Yasmin sudah memilih bersama Bram, ia memasang wajah tegas.
"Aku mau menyerahkan ini." Yasmin menyerahkan maf berwarna biru itu.
"Satria, kau harus berhati-hati, Bram selalu mengincarmu dan keluargamu. Pelajari isi map itu." Yasmin berbalik hendak pergi.
Satria menangkap tangannya.
Saat Yasmin berbalik. Tatapan mereka bertemu.
"Kau menyuruhku berhati-hati, lalu dirimu?"
Yasmin terdiam ia menatap mata Satria. Bibirnya bergetar ingin mengucap sesuatu.
"Aku memang marah karna kau tidak mengindahkan perintahku untuk menjauhi Bram. Walaupun aku sendiri tau, kau melakukan ini karena ingin menyelamatkan ku. Tapi semakin aku marah, aku semakin terluka. Semakin kau jauh aku semakin tersiksa." mata Satria terlihat sendu.
Ia seperti menahan sesuatu yang hampir tumpah dari matanya.
"Aku, aku juga terluka, tapi aku tidak bisa melihatmu di hukum karena sesuatu yang tidak pernah kau lakukan. Karena itu lah aku melakukan ini semua..." Mata Yasmin mulai berair.
Satria menggenggam tangan Yasmin.
"Maafkan aku..! Aku sudah meragukan mu." ucapnya terbata.
"Aku juga minta maaf, karena tidak mengindahkan kata-kata mu. Maaf, maaf....!" ucap Yasmin berulang kali.
Satria menarik tubuh Yasmin.
Untung tempat mereka berdiri terlindung dari mobil-mobil yang berjejer.
"Jangan tinggalkan aku dan Rayyan lagi. Kami membutuhkanmu." ucap Satria. Ia memeluk istrinya erat. seakan tidak ingin terpisahkan lagi.
Setelah itu. Satria tidak jadi ke kantor. Ia mengajak Yasmin ke suatu tempat.
"Ini, tempat siapa?"
"Apartemennya Bara. Tapi belum di tempati olehnya. Aku sudah bilang bahwa kita akan memakainya." Yasmin mengerutkan keningnya.
"Bukankah kita akan membahas isi map ini?"
Yasmin mengangguk.
"Lagi pula, apa kau tidak rindu padaku?" tanya Satria seolah marah.
"Kau memang tidak pernah sekalipun merindukan aku..." omel Satria lagi.
Yasmin menarik tangan Satria hingga dia berbalik menatapnya.
"Kau bilang aku tidak pernah merindukan mu?
Ayo tatap mataku, apakah disana tidak ada kerinduan?"
Satria terdiam.
"Aku sangat merindukanmu, bahkan rasanya hampir gila karena selalu merindukanmu. Lima tahun. lima tahun aku memendam kerinduan ini. Apa kau tidak melihat begitu banyak cinta dan kerinduanku padamu?"
Satria mengangguk. Lalu merengkuh Yasmin dalam pelukannya.
Satria sengaja menelpon kerumah dan bilang kalau tidak bisa pulang malam itu karena sebuah urusan. Dia berniat menghabiskan malam bersama Yasmin di tempat itu.
"Sat, aku tidak membawa baju ganti." keluh Yasmin.
"Kau tidak usah khawatir.
"Aku selalu menyiapkan banyak baju di mobilku. kau bisa pakai baju ku."
Satria keluar sebentar untuk mengambil beberapa baju ganti buat mereka.
Setelah mandi dan berganti baju, mereka menikmati makan malam yang romantis berdua. Satria sengaja memesan makanannya dan Yasmin yang menghiasnya.
Lilin sudah menyala.
"Kau tampak cantik dengan kemeja putih itu?"
Puji Satria.
Yasmin tersipu.
Ia tidak menyangka keadaan akan berbalik seperti ini. Satria menerimanya kembali.
Setelah melewatkan malam yang romantis.
Satria mengangkat tubuh istrinya kekamar.
"Kita lanjutkan malam kita yang tertunda." bisiknya mesra. Yasmin hanya bisa pasrah. Bagaimana tidak? Dia juga menghendaki hal yang sama saat ini.
Pagi datang menjelang. Yasmin bangkit dan hendak mandi, tapi Satria kembali menariknya.
"Semalam begitu indah. apakah kau mau berjanji kita bisa seperti ini terus? tidak ada salah paham, tidak ada masalah lagi."
Yasmin mengangguk kecil. Satria kembali mengajaknya bersembunyi di balik selimut.
"Astaga..! Kita belum mempelajari isi map itu?" ujar Yasmin.
"Pelan-pelan saja, masih banyak waktu." keluh Satria sambil mendekap istrinya.
"Tapi Bram tidak bisa di ajak pelan-pelan. Dia akan semakin berbahaya." dengan malas Satria bangkit dan mandi.
"Yas, kita mandi bareng..!"
"Tidak..!"
"Kenapa?"
"Aku malu.." jawab Yasmin dan mengunci kamar mandi dengan rapat.
"Dasar cewek, mereka memang aneh.
Masa sudah ada Rayyan juga dia masih malu padaku? Lalu yang semalam? Apa dia malu juga?" Satria menepuk Jidatnya sendiri.
Iseng dia membuka map yang tergeletak di nakas.
Rahangnya tiba-tiba mengeras.
"Bram..! Dosamu sudah melampaui batasnya. Aku pastikan kau akan membayar mahal semua perbuatanmu ini." Satria memukul tembok di sampingnya dengan geram.
Setelah itu Satria melaporkan Bram. Ia minta polisi' kembali membuka kasus kematian Papanya. Selain itu banyak sekali perbuatan Bram yang melanggar hukum yang bisa memberatkannya. dengan melalui proses yang cukup panjang. Akhirnya kiprah Bram berakhir di penjara.
Yasmin merasa lega.
Kini tidak ada lagi ancaman dalam hubungannya dengan Satria.
Adam dan Dilla juga memutuskan untuk menikah. Begitu pula dengan Bara. menyunting seorang gadis yang masih rekan kerjanya satu kantor.
Semua berakhir bahagia..
Tinggal Bu Lidia yang selalu meminta cucu baru pada Yasmin dan Satria.
"Huek..huek..!" tiba-tiba saja Yasmin berlari kekamar kecil saat mereka sedang sarapan bersama.
"Kenapa istrimu?" Bu Lidia menatap curiga. sedang Satria menggeleng tak mengerti.
"Dasar anak mama yang oon..! Suami tidak peka." ucap Bu Lidia tersenyum.
"Kau akan memberikan Mama seorang cucu lagi. Adiknya Rayyan."
__ADS_1
Sampai jumpa di kisah selanjutnya ya say, mohon maaf ๐๐kalau ada kata -kata yang menyinggung.
.