SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 37


__ADS_3

Hari itu Yasmin datang ke kantor Satria karna panggilan dari Bara.


"Selamat pagi, Pak!" ucapnya saat sampai di depan Bara.


"Anda sudah datang, langsung saja ke ruangan pak Satria. Ada yang ingin di bicarakannya."


Hati Yasmin berdesir.


"Apa yang akan di bicarakannya? apakah mengenai Rayyan?" batinnya.


"Helo...! Apa anda sudah siap?" suara Bara mengagetkan nya.


"Oh, iya. saya permisi.' Yasmin bergegas menuju ruangan Satria.


Yasmin mengetuk pintu ruangan Satria dengan pelan.


"Masuk..!" suara Satria yang tegas membuatnya sedikit gemetar.


Yasmin membuka pintu perlahan.


Ia melihat Satria sedang sibuk dengan setumpuk berkas di depannya. Ia terlihat tampan dan berwibawa dengan pakaian formal nya, dulu ia selalu melihat Satria dengan pakaian casual nya.


"Selamat pagi, Pak!"


"Silahkan duduk!" jawabnya angkuh, tanpa melihat sedikitpun.


"Kau pasti bertanya tanya kenapa aku memanggilmu kesini, jam sepuluh kita akan pergi ke sebuah acara fashion show, aku membawamu jelas karna kau lebih memahami bidang itu." kaki Yasmin gemetar. Dia akan pergi dengan Satria, Sesuatu yang menyenangkan sekaligus menegangkan.


"Kau siap?"


"Siap pak!" jawabnya tegas sampai kaca matanya pun hampir jatuh.


Hening beberapa saat.


Yasmin merasa seperti tersekap dalam ruangan yang tertutup, panas! Padahal AC dalam ruangan itu sangat dingin.


"Oh, ya... Bagaimana kabar Rayyan?"


Degh!


Dia masih ingat Rayyan?


"Baik, Pak! Bahkan sangat baik. sepertinya dia sudah tidak ingat dengan bapak!" jawab Yasmin cepat.


Satria mengangkat wajahnya. Kali ini ia menatap Yasmin dengan heran.


Yasmin menundukkan wajahnya.


"Maksud saya, Rayyan tidak akan menyusahkan bapak lagi. Saya jamin itu." suaranya terdengar serak.


Satria masih menatapnya, membuat Yasmin salah tingkah.


"Kau bicara sangat emosional, seolah aku akan merebut anak itu darimu. Padahal aku tidak pernah merasa direpotkan."


Yasmin duduk dengan gelisah. Satria memang tidak pernah bilang kalau ia keberatan. Tapi bagaimana dengan Kirana? Dia pasti merasa keberatan. Dan jangan sampai kemarahannya itu ia salurkan pada Rayyan. Biarlah Rayyan jauh dari papanya asalkan selamat dari Kirana.


"Tapi kalau kau tidak suka anakmu dekat denganku, itu hakmu."


"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud begitu."


"Sudahlah, kita bahas yang lain saja." kata Satria.


Saat itu Kirana masuk keruangan itu juga.


Ia sempat kaget melihat keberadaan Yasmin.

__ADS_1


"Kau disini?" Satria menyapanya dingin.


"Aku mau bicara soal Dio." ucapnya sambil melirik tidak suka pada Yasmin.


"Kalau begitu saya permisi." Yasmin beringsut dari ruangan itu. Ia menutup pintu pelan. Ia sempat mendengar suara Satria bernada tinggi.


"Urusan pribadi bicarakan di luar kantor!" setelah itu Yasmin tidak mendengar apa-apa lagi.


Tiba-tiba pintu itu terbuka.


"Kita berangkat sekarang!" ucap Satria tiba-tiba.


Yasmin melirik jam tangannya


Bukannya ini masih jam sembilan?


"Ini masih jam..."


"Jam berapa pun ini, kalau aku bilang berangkat, ya berangkat!" ucap Satria dengan wajah tegang. Kirana menyusul keluar dengan wajah tak kalah tegang. Sangat jelas terlihat mereka sedang berantem.


"Kau tidak bisa meninggalkan aku begitu saja.! Kita bicarakan baik-baik."


Satria terus melangkah tanpa perduli.


Yasmin tergesa mengikutinya.


Ia tidak berani bertanya tentang apa yang terjadi.


Mereka sedang berada di dalam lift. Karna


acara fashion show itu di adakan di sebuah gedung lantai tujuh.


Dan sangat kebetulan mereka cuma berdua.


Yasmin kembali merasa tegang.


Sedih kah, atau bahagia kah dia dengan pernikahannya?


"Kenapa kamu diam saja?" suara berat Satria menyadarkannya.


"Saya harus bicara apa, pak?" ia balik bertanya.


"Tentang acara yang kita hadiri ini misalnya.."


Yasmin menyibak poni yang sedikit menutupi pandangannya.


"Saya takut.." jawabnya jujur.


"Takut? Padaku? Apakah aku seseram itu?" tanyanya sambil melempar senyum tipis.


Yasmin terpana oleh pesona pria yang sebenarnya adalah suaminya itu.


"Tidak, kalau bapak tersenyum seperti itu." jawabnya spontan.


Yasmin menutup mulutnya karna malu. Ia sudah kelepasan, bagaimana tanggapan pria ini selanjutnya? ia meringis menghadap kebelakang.


Tapi setelah menunggu beberapa detik berlalu. Tidak ada suara yang bernada marah terdengar.


Yasmin memberanikan diri menatap Satria.


Pria itu masih memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Maaf..!" ucap Yasmin ragu.


Satria tidak menanggapinya, ia terus acuh menunggu pintu lift terbuka.

__ADS_1


Namun dalam hati ia merasa cukup terkesan. Baru kali ini ada wanita yang berani memberikan pendapat seperti yang barusan Yasmin lakukan.


Acara Fashion show itu memang sangat meriah. Satria mengajaknya duduk di deretan kursi paling depan.


Yasmin tidak fokus pada acara itu. Tapi ia lebih memperhatikan Satria yang terlihat sama sekali tidak tertarik dengan acara itu.


 "Aku sama sekali tidak tertarik dengan acara seperti ini, tapi karena beberapa relasi bisnisku hadir disini, terpaksa aku juga ikut hadir.


Tugasmu adalah untuk mengamati bagaimana perkembangan mode yang berkembang di pasaran saat ini dan semacamnya, itu bisa jadi pertimbangan untuk produk yang kita luncurkan ke depannya."


"Baik, pak!" jawab Yasmin.


"Dan hasilnya kau laporkan pada Bara!"


Yasmin mengangguk lagi.


Tiga jam acara itu cukup membuat Satria jenuh.


Satria melangkah cepat ke mobilnya. Yasmin mengekor dari belakang.


"Masih ada waktu. Kita mampir makan siang dulu!" ucap Satria pada sopirnya.


"Saya mau langsung pulang, pak." kata Yasmin tiba-tiba.


"Dengan siapa?"


"Dengan teman saya, itu dia orangnya." Yasmin menunjuk kearah Adam yang stan bay di atas motornya.


"Owh, ya sudah.. Kalau begitu. Jangan lupa laporannya besok pagi."


Yasmin mengangguk.


Adam mendekat saat Satria sudah masuk kedalam mobil.


Satria masih sempat melihat Adam sebelum akhirnya mobilnya melesat di keramaian.


"Kenapa lama sekali, Yas? Hampir saja aku pingsan karena menunggu."


"Emang jam berapa kau datang?"


"Jam sebelas.."


"Pantesan, bukannya aku suruh jam satu?"


Adam memeriksa pesan Yasmin.


"Eh iya betul. terlalu bersemangat kalau sudah menyangkut ayang Yasmin." goda Adam dengan genit.


"Ayo naik, Yang!" ucapnya lagi membuat Yasmin geli. Adam memang menaruh hati pada Yasmin sejak lama. Namun Yasmin tidak pernah menanggapinya. Karna itulah, ia sangat bersemangat saat membuka pesan dari Yasmin agar menjemput nya dan berpura-pura menjadi kekasihnya di depan Satria.


"Kau harus terus berpura-pura jadi pasanganku!"


'Hanya pura-pura? beneran kenapa, Yang? Apa aku kurang ganteng. Kurasa tidak, aku cuma sebelas dua belas sama bos kaya tadi itu." ucapnya dengan bangga.


Yasmin mencubit pinggangnya dengan keras.


Ia merasa geli pada Adam, ia membandingkan dirinya dengan Satria? Ya jauh perbedaannya lah, bagai bumi dan langit.


Di tempat lain,  Satria sedang menikmati makan siangnya.


Tiba tiba ia teringat Rayyan.


"Anak itu sedang ngapain, ya?"


Senyum manisnya kembali mengembang.

__ADS_1


"Ada apa dengan anak itu, dia seperti punya daya tarik tersendiri. Aku saja sampai terhipnotis olehnya."


💞Terimakasih buat yang sudah mampir semuanya


__ADS_2