
Satria dan Yasmin sudah kembali bersatu. namun yang mengganjal di pikiran mereka adalah bagaimana dengan Kirana?
"Sudahlah, kita pikirkan lagi besok. Aku ngantuk, ayo kita istirahat." ujar Satria sambil berbaring di dekat Yasmin.
Yasmin menatapnya aneh.
"Kau tidur disini?" tanyanya ragu.
"Iya, kenapa? Keberatan?"
Yasmin menggeleng.
Dengan ragu ia pun ikut merebahkan tubuhnya.
Tiba-tiba tangan Satria sudah di bertengger manis di perutnya.
Yasmin kaget dan spontan memindahkannya.
"Kenapa kau merasa risih begitu? Kita sudah menikah lho..!" Satria menarik wajah Yasmin menghadap wajahnya.
"Apa perlu kita menikah sekali lagi?" tanya Satria lagi.
"Bu- bukan begitu maksudku, aku hanya belum terbiasa saja." jawab Yasmin gugup.
Satria kembali melingkarkan tangannya di pinggang Yasmin. Yasmin tidak berani berkomentar lagi.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku sudah mengantuk. Ayo kita tidur!"
Setelah itu Satria benar-benar memejamkan mata.
Mata Yasmin mengerjap tak percaya, Ia ingin memastikan semua yang terjadi nyata atau tidak. Ia sampai mencubit lengannya sendiri. "Au! sakit..." ia meringis kesakitan.
Karena merasa matanya mulai berat juga. Ia memberanikan diri memeluk tubuh pria yang selama ini di rindukannya.
Yasmin terbang ke alam mimpi dengan senyum terukir di bibirnya.
Pagi harinya Yasmin membuka matanya. Ia heran tidak mendapati Satria di sampingnya.
"Kemana pria aneh itu sepagi ini?" gumam Yasmin.
Ponsel Satria yang tergeletak di meja berbunyi.
Iseng Yasmin melirik nama di penelpon.
Tertera nama Kirana.
Ia ragu apakah harus mengangkatnya atau di diamkan saja.
"Siapa yang nelpon?" Satria keluar dari kamar mandi dengan handuk masih melingkar di lehernya.
"Kirana, aku tidak tau harus bilang apa.." jawab Yasmin ragu.
Aroma segar menguar dari tubuh Satria yang lewat di depannya.
"Cepat mandi sana, aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu."
Yasmin masih terheran. Saat mendengar Satria berbicara dengan Kirana.
"Ya, aku segera pulang, jangan menunggu aku, sarapan saja bersama Mama..!" Satria menutup telponnya.
Ia memandangi Yasmin yang tengah menatapnya juga.
"Kau harus ketemu sama Mama.." ujarnya kemudian.
"Mama mu?"
Satria mengangguk.
'Akhir-akhir ini Kirana sangat dekat dengan Mama. Aku takut hal itu akan menyulitkan kita."
Yasmin terdiam.
Ia membayangkan bagaimana wajah Mamanya Satria.
__ADS_1
"Melihat wajah Satria yang tampan, Mamanya pasti cantik." pikir Yasmin.
Ia teringat Tante cantik yang ia temui di kafe tempo hari,
"Andai saja Tante yang baik hati itu Mamanya Satria..."
"Heh.. Ayo cepat mandi! Malah senyum-senyum sendiri."
tegur Satria.
Saat Yasmin di kamar mandi, anak buah Satria datang membawakan baju ganti.
Sementara itu di rumah Satria.
"Kiran, kemana saja suami mu? Memang sering dia kayak gini?" Nyonya Lidia merasa kesal.
"Tidak apa-apa, Ma. Kiran mengerti kesibukan Satria. Yang penting dia sudah kasi kabar, Kiran jadi tenang."
"Ya, tapi kau sendirian tempat terpencil begini. Kalau masih ada pak Karim sih, Mama tidak khawatir."
"Jangan terlalu di besarkan, Kiran sudah biasa."
Terdengar suara motor Satria memasuki halaman.
Nyonya Lidia menunggunya di depan pintu.
"Ini dia tersangkanya..." sambut Mamanya langsung.
"Kenapa, Ma?" sebenarnya Satria sudah menebak aia yang akan terjadi. Mamanya begitu sayang pada Kirana, tentu saja dia tidak rela menantunya sendirian sepanjang malam. wanita itu menyangka Kirana adalah menantu yang sesungguhnya.
Entahlah, jurus apa yang di pakai Kirana hingga membuat Mamanya begitu sayang padanya. Satria mendesah pelan.
Memberi pengertian Mamanya tentang Yasmin dan Kirana adalah PR terberat buat Satria. Kalau ada pilihan ia lebih memilih melumpuhkan sepuluh preman sekaligus daripada harus membujuk Mamanya.
"Kau lupa hari ini ada peluncuran produk baru di perusahaan kita?"
"Satria ingat, Ma. Tapi Bara akan menangani semuanya." ucap Satria santai.
"Bara lagi, Bara lagi. jangan mengandalkan orang lain terus Sat." omel nyonya Lidia.
"Mama tidak mau berdebar denganmu. Mama juga tidak mau mendengar banyak alasan. Kau harus hadir bersama Kirana."
Satria menatap Mamanya dengan kaget.
"Ma, apa tidak berlebihan?"
"Tidak, sudah saatnya dunia tau kalau kau sudah punya istri yang secantik Kirana." ujar nyonya Lidia berkeras sambil melirik Kirana.
Kirana menyadari kalau Satria merasa enggan.
"Benar kata Satria, ini terlalu cepat. Kiran juga kayaknya belum siap." kata Kirana ragu.
"Kalian memang banyak alasan. Kamu tidak perlu takut pada Satria, kan ada Mama.." ucap nyonya Lidia menyentil hidung Kirana.
Malam harinya ketika Mamanya sudah pergi.
Satria mengajak Kita mengobrol serius.
"Kiran, aku mau bicara."
"Tentang apa,?" jawab Kirana santai.
"Tentang Yasmin."
Dua kalimat itu mampir membuat Kirana meletakkan sendok yang hampir masuk ke mulutnya.
"Kenapa dengannya?" setau Kiran, Satria sangat membenci gadis itu.
"Dia berulah lagi?" sambung Kiran.
"Tidak, tadi pagi aku bertemu dengannya."
"Terus?"
__ADS_1
"Kami sempat berdebat, lalu dia bilang sudah pernah mengembalikan aset yang kau berikan padanya untuk menukar diriku, tapi kau tidak menerimanya, betul?"
Kirana tercekat. akhirnya hal yang ia tutupi selama ini di ketahui Satria.
"Kejadiannya tidak seperti itu, Yasmin memang sempat mengutarakannya padaku. Tapi aku bilang, apa dia serius dengan pilihannya itu. Jangan-jangan hanya karna dia melihat kebersamaan kita terus dia berusaha mengembalikannya padahal sifat buruk ya belum berubah. maaf, kalau aku tidak menceritakannya padamu. Aku pikir ini tidak penting buatmu. Kirana sangat menata kalimatnya, ia takut membuat Satria tersinggung.
"Ya, sudahlah. semua sudah terjadi." kata Satria pasrah.
"Sebenarnya aku tersinggung karena kau tidak membaginya denganku, bukankah aku bagian dari masalah ini?" sesal Satria.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung."
Satria mencari celah untuk bisa berterus terang pada Kirana bahwa dirinya dan Yasmin sudah kembali bersatu. Tapi melihat reaksi Kirana yang tidak suka saat ia membahas Yasmin membuat Satria menunda niatnya.
Malam itu Satria mengajak Yasmin jalan dengan menaiki motor bututnya.
"Kita berangkat...!" ujar Yasmin semangat sambil naik di boncengan Satria dengan santai. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan motor milik Satria.
"Yakin mau aku ajak keluar dengan motor butut ini?" sindir Satria.
Yasmin tertawa kecil.
"Iya, aku tau kau menyindirku. Tapi sumpah! aku tidak memperhatikan bagaimana motornya, yang ada di pikiranku, ini kencan pertama kita setelah gencatan senjata. Aku ingin menikmatinya tanpa memikirkan hal lainnya."
Satria tersenyum bangga, Yasmin sudah tidak mendewakan kekayaan lagi.
Satria melakukan motornya pelan. Ia ingin menikmati momen indah dan syahdu bersama Yasmin, wanita yang sudah berhasil menaklukkan hatinya. Yasmin di gadis bar-bar.
"Kau merasa kedinginan?" seru Satria saat merasa tubuh Yasmin agak bergetar.
"Iya..." jawab Yasmin singkat.
Satria meraih tangan Yasmin dan melingkarkan di pinggangnya.
"Peluk yang kenceng..!" kata Satria membuat Yasmin tersipu.
Mereka memasuki sebuah kafe yang cukup ramai.
"Ini kafe langgananku, menunya cukup menggoda." kata Satria sambil menarik sebuah kursi untuk nya.
"Kau tinggi pesanannya aku mau terima telpon sebentar." kata Satria.
Yasmin mengamati keramaian di kafe itu.
Satria sedang menerima telpon dari seseorang.
Seorang pemuda datang mendekati meja Yasmin.
"Sendirian saja.. Mau saya temani?" kata pria dengan genit.
Yasmin bergidik ngeri.
Iya, menggeleng sambil menunjuk Satria.
Si pria malah semakin berani.
"Jangan berusaha membodohi aku Nona. Kau datang sendiri, bukan?" si pria berusaha mengelus lengan Yasmin yang mulus mengkilat
Yasmin marah dan menampar pria itu.
Satria melihat kehebohan yang terjadi.
Ia hanya melihat keberanian Yasmin menghadapi pria hidung belang itu.
Tak disangka karna merasa malu, si pria memanggil temannya dan mengeroyok Yasmin. Sebuah tamparan hampir saja mendarat di pipi Yasmin. Namun tangan kokoh Satria sudah lebih dulu menahannya.
"Jangan suka main kasar pada wanita!" bentak Satria dengan geram. Para pria itu lari terbirit-birit.
"Dasar preman kampungan!" omel Yasmin. Tanpa di sadari Satria dan Yasmin, Kirana yang sedang berada di situ menyaksikan semuanya.
"Satria dan Yasmin? Mereka bersama lagi, dan.." Kirana tak mampu menahan gemuruh di hatinya, ia merasa Satria sudah membodohi nya.
.Kirana cepat-cepat berlalu dari tempat itu, ia tidak ingin keberadaannya di ketahui oleh Yasmin dan Satria.
__ADS_1
,