
Bu Lidia bergegas menemui Yasmin. Ia merasa khawatir Bram akan mengganggunya.
"Yasmin... Kau baik-baik saja?". Suara Bu Lidia terdengar gugup.
"Ma, ada apa? Ayo duduk dulu!"
Yasmin menuntun Bu Lidia untuk duduk.
"Kamu tidak sempat bertemu seseorang, kan?" ulangnya dengan nafas tersengal.
Yasmin mengernyit heran.
"Ah, sudahlah. Mama yang paranoid sendiri.
Sebenarnya Mama mau melihat penampilanmu, tapi ternyata Mama sudah terlambat." ucapnya dengan nada kecewa.
"Jangan kecewa, Ma. masih ada malam lainnya. sebaiknya kita duduk di luar biar lebih santai. Kali ini aku yang traktir." Yasmin tersenyum manis.
"Okey..!" sabut Bu Lidia sambil merangkul bahu Yasmin.
Bu Lidia sangat terkesan dengan sikap periang gadis itu.
Setelah beberapa saat mereka duduk mengobrol, Satria juga datang ketempat itu.
Bu Lidia melambai ke arahnya.
"Sat..!
"Mama disini, juga?" tanya Satria agak terkejut.
"Iya, Mama ingin melihat penampilan Yasmin. Tapi sudah terlambat. Kamu sendiri?"
Satria kebingungan oleh pertanyaan Mamanya.
"Kebetulan lewat, dan aku ingat kalau Yasmin disini.jadi ya, aku sempatkan mampir." jawabnya berusaha tenang.
Yasmin menyembunyikan senyumnya.
"Lain kali bawa Kiran kesini juga, doa pasti jenuh dirumah terus." nasehat Mamanya.
"Iya, sekali - kali istrinya itu di senengin, ajak jalan-jalan kek, makan kek!" ucapan Yasmin membuat Satria melotot ke arahnya.
"Lho benar kata Yasmin, kamu tidak perlu marah."
Yasmin tersenyum penuh kemenangan karena di bela Bu Lidia.
"Ma, aku ke toilet sebentar, ya?" ucap Yasmin sambil bangkit.
"Mama? Yasmin panggil Mama?" Satria tidak percaya pada pendengarannya.
"Iya, memangnya kenapa? Kamu keberatan? Mama saja suka, kok Kamu yang keberatan." gerutu Bu Lidia lagi.
Yasmin yang masih di belakang Bu Lidia mengedipkan matanya pada Satria.
"Hebat, hanya dalam satu malam, dia bisa memanggil Mertuanya dengan panggilan Mama." ucap Satria dalam hati.
"Sat, tadi Mama berpapasan dengan Bram disini. Mama takut dia sempat melihat Yasmin. Kamu tau, kan gimana perangai buruknya, suka cari masalah dengan gadis-gadis."
Satria terdiam sejenak.
"Apa Bram masih berusaha mendekati Yasmin lagi? Benar-benar tidak ada kapoknya tu orang." batin Satria
"Mama tenang saja, Bram tidak akan berani macam-macam selagi ada Satria."
"Mama harap juga begitu."
Yasmin datang dan bergabung lagi dengan mereka.
"Tante pulang duluan, ya! Kau juga langsung pulang kalau sudah selesai urusannya!" kata Bu Lidia.
__ADS_1
"Dan, kau Sat, cepat pulang Kirana pasti sudah menunggumu!"
"Iya, Ma. Apa perlu aku antar?"
"Tidak usah, sebaiknya kau cepetan pulang, bikin kan Mama cucu yang banyak!" bisik Bu Lidia di telinga putranya. Lalu cepat-cepat keluar dari tempat itu.
Yasmin masih berdiam diri dengan acuh.
"Kenapa kau diam saja?" sapa Satria.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Bukannya kau harus segera pulang dan membuatkan cucu untuk Mama?" ucap Yasmin cemberut.
"Jangan di ambil hati omongan Mama." bujuk Satria lagi.
"Sudah ah.. aku males ngomong lagi.' Yasmin bangkit hendak meninggalkan Satria.
"Hey, jangan di biasakan pergi sebelum selesai bicara!" suara Satria terdengar tegas.
Yasmin duduk kembali. Tapi wajahnya masih kusut.
"Kau cemburu?" goda Satria.
Yasmin mendongak cepat.
"Tidak! Ngapain juga aku cemburu?" sangkal Yasmin.
"Ya, iyalah aku khawatir, bagaimana tidak khawatir? Suamiku tinggal berdua dengan wanita lain, apalagi kalian sudah sah sebagai suami istri. Siapa yang menjamin tidak akan terjadi sesuatu pada kalian."
"Buktinya selama ini aman-aman saja. Kau saja yang kurang percaya padaku."
Yasmin masih menekuk mukanya, ia tidak bisa bayangkan apa yang akan di lakukan dua insan berlainan jenis dalam satu rumah, apalagi mereka sudah halal.
"Kalau begitu baiklah.. Akan aku turuti permintaan Mama."
Mata Yasmin melebar.
"Kau lihat saja!" tantang Satria lagi.
"Dengar dulu, aku mau bikin kan Mama cuc, tapi... Denganmu, bagaimana?" goda Satria. Pipi Yasmin seketika merona. mendengar ucapan Satria fantasinya langsung mengembara. Ia menutup wajahnya karna malu.
Tiba waktu pulang, Satria mengantar Yasmin pulang kerumah Mamanya.
"Lho, Sat.. Kamu yang antar Yasmin?" sambut Bu Lidia.
"Iya Ma. Habisnya sudah tidak ada taksi lagi. Kasian dia pulang sendiri." Satria beralasan.
"Maaf, Ma.. Aku sudah melarangnya, tapi Satria berkeras." Yasmin ikut bicara.
"Ya, sudah. Benar kata Satria, bahaya kalau kau pulang sendirian malam-malam begini."
Yasmin mohon diri untuk masuk ke kamarnya.
"Ma, Satria mohon ijin juga, Kirana pasti sudah menunggu."
"Iya, langsung lho. Jangan kelayapan lagi!"
Satria mencium tangan Mamanya.
Tok tok tok.. !
Yasmin tercengang mendekati jendela c
"Suara apa itu? Apa iya ada yang mengetuk jendela?" bulu kuduknya merinding seketika.
"Buka! Yasmin cepat buka!" suara seperti ******* di luar jendela.
Yasmin memeriksa ponselnya karena ada pesan yang masuk.
( Buka jendelanya, ini aku Satria!)
__ADS_1
 dengan perasaan bingung. Yasmin melihat keluar jendela. Benar saja, Satria sedang bergelantungan di balkon.
Bergegas ia mengulurkan sesuatu untuk menarik Satria.
"Apa yang kau lakukan?" omel Yasmin pelan.
"Aku mau membuktikan kata-kata ku, aku mau membuatkan Mama cucu, tapi dari mu." ucap Satria dengan senyum akin.
Mulut Yasmin masih menganga tak percaya. pria di depannya ini sangat nekat, bahkan ia berani memanjat balkon rumahnya sendiri hanya untuk membuktikan kata-katanya.
"Kau tidak bisa melarang ku!" ucap ya angkuh.
Satria mengunci pintu rapat-rapat. Lalu ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Yasmin masih terpaku di tempatnya.
"Ayo..!"
"Apa?"
"Sini duduk di dekatku!" Yasmin mengibas rambutnya yang setengah basah.
Satria terpesona melihat bentuk tubuh Yasmin yang hanya mengenakan baju tidur yang transparan.
Dengan langkah ragu Yasmin mendekat.
"Mama akan Marah kalau tau semua ini." desis Yasmin.
"Aku pikir marahnya akan reda kalau kau bisa memberinya seorang cucu." balas Satria.
Kini tangannya sudah merangkul tubuh Yasmin dari belakang.
"Aku sudah tersiksa karena kita harus berpura-pura tidak ada hubungan. Jangan siksa aku lagi dengan melarang ku bersamamu."
Tangan Satria semakin liar bergerilya melewati lekuk-lekuk tubuh Yasmin. Melihat Yasmin yang pasrah, semakin membuatnya bersemangat.
Ia benar-benar mewujudkan keinginan Mamanya untuk memproses seorang cucu.
Jerit tertahan Yasmin membuat Satria menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Sakit?" tanya penuh iba.
"Sedikit, tapi nggak papa.." di bawah sinar temaram senyum Yasmin terlihat indah berkabut gairah.
Satria mencium kening gadis itu penuh cinta.
"Aku mencintaimu..!" Bisik Satria di antara desah kenikmatannya.
Yasmin merasa terbang ke langit ke tujuh. Ia benar-benar menikmati setiap sentuhan pria yang selama ini menghiasi setiap mimpinya.
Pukul dua belas malam, Satria melepaskan pelukannya pada tubuh Yasmin.
Ia bergegas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Aku harus segera pulang. Mama maupun Kirana tidak boleh curiga." ucap Satria sambil mengenakan pakaiannya.
"Aku tidak tau apa tanggapan Kirana kalau tau kita sudah melakukan..."
"Tidak usah dipikirkan. Apa yang kita lakukan tidak salah di mata hukum, apa yang harus kita takutkan. Istirahat lah.!" Satria mengecup kening Yasmin yang masih bersembunyi di balik selimut.
"Hati-hati..!" ucapnya dengan tatapan menggoda.
Satria hanya tersenyum lalu pergi lewat jendela lagi.
Yasmin memeluk bantal guling di sampingnya.
"Terima kasih Satria, kau telah memberi warna dalam hidupku. Warna yang rasanya seperti nano-nano. Rame tapi penuh makna."
Yasmin mengenang bagaimana ia menentang pernikahannya dengan Satria dulu, mengenang saat ia sudah tega menukar Satria dengan kemewahan duniawi.
__ADS_1
Uaaahemm! Ampek ngantuk. Maklumin kalo banyak typo bertebaran ya, guys..