
Bu Lidia masih berlutut di lantai. Ia meratapi kepergian Yasmin. Walaupun Yasmin sudah mengecewakannya, ada rasa sedih di hatinya saat Yasmin pergi meninggalkan rumahnya. Mungkin karna janin yang di perut Yasmin ada hubungan dengan dirinya.
Kirana menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Mama tidak menyangka Yasmin seperti itu."
"Aku juga tidak menyangka, Ma. Yasmin yang ku kenal adalah gadis lugu dan polos."
Timpal Kirana. Ia sendiri sangat terkejut dengan kenyataan bahwa Yasmin hamil.
"Berarti selama ini mereka sering bertemu di belakangku." batin Kirana meronta.
"Kalian yang sudah memaksaku menjadi orang jahat!" pekiknya tanpa sadar. Untungnya dia berada di kamarnya. kalau tidak, Bu Lidia pasti sudah menaruh curiga padanya. Yah, Kirana yang semula berhati lembut kini berubah menjadi wanita egois.
Di luar rumah, Yasmin menyeret kopernya dengan lunglai. tak ada barang berharga yang di bawanya karna memang ia tidak memilikinya.
Ia menyetop taksi.
Ada keinginan untuk menemui Satria di kafe seperti janji mereka sebelumnya.
Namun saat mengingat janjinya pada Bu Lidia, ia mengurungkan niatnya.
"Kemana, Non?" tanya sopir taksi itu.
"Terminal, pak!" jawabnya pasti.
Yasmin mengusap dadanya yang terasa sesak.
"Maafkan aku, Sat. Aku tidak bisa bersama mu. Janji ku pada Mama adalah jurang pemisah di antara kita." gumamnya dengan hati perih.
Yasmin bertekad untuk meninggalkan kota itu sejauh mungkin. Ia tidak mau meninggalkan jejak sedikitpun bagi Satria.
Tanpa sadar ia mengusap perutnya.
"Aku akan menjagamu, Nak. Walaupun kita akan hidup tanpa ayahmu, ibu janji, kau tidak akan kekurangan kasih sayang."
Sementara itu, Satria merasa gelisah menunggu Yasmin menghubunginya.
Hadiah untuk Yasmin sudah di tangannya.
"Apa aku telpon saja lebih dulu? Ah tidak! Gadis keras kepala itu pasti merasa menang.
Biar aku cari di kafe, siapa tau dia sudah menunggu disana."
Satria bergegas ke kafe tempat Yasmin bekerja.
Ia sangat kecewa karna tidak bisa menemukan Yasmin disana.
"Dasar keras kepala, dia pasti masih marah dengan kejadian tadi pagi."
Dengan gusar ia menghubungi nomor Yasmin.
Ia bertambah heran karna ponselnya selalu di luar jangkauan.
Satria berinisiatif menelpon Mamanya.
"Kenapa Yasmin tidak bisa di hubungi, Ma? Apa dia masih dirumah atau sedang keluar?"
Suara Satria terdengar khawatir oleh Bu Lidia.
"Apa hubunganmu dengan Yasmin?" pertanyaan itu membuat Satria terhenyak.
"Apa maksud pertanyaan Mama? Apa yang terjadi di rumah, Ma?" Satria mulai curiga.
"Kau pulang secepatnya!"
Bu Lidia menutup telponnya.
"Yasmin..." ucap Satria panik dan berlari menuju mobilnya.
"Ma, apa yang terjadi? Kenapa Yasmin tidak mengangkat telpon ku?" tanya Satria beruntun.
__ADS_1
"Ada urusan apa kau menelponnya?" wajah Bu Lidia terlihat sinis saat menyebut Yasmin.
Satria mengalihkan pandangannya pada Kirana. Seolah ia minta penjelasan.
"Aku terpaksa menceritakan semuanya pada Mama..." jawab Kirana tertunduk.
"Lalu Yasmin dimana?" tanya Satria tak sabar. Ia tidak melihat keberadaan Yasmin sedari tadi.
"Mama sudah menyuruhnya meninggalkan rumah ini.." suara Bu Lidia begitu tenang.
Satria terlihat sangat terpukul.
"Kenapa, Ma? Bukannya Kirana sudah menceritakan yang sebenarnya?" protes Satria.
"Mama tidak bisa menerima karna kalian sudah membohongi Mama selama ini, lagi pula yang membuat Mama lebih marah lagi. Dia sudah hamil anaknya Bram! Bramantyo, kau dengar itu?"
"Hamil? Yasmin hamil?" Satria jatuh terduduk di lantai. Ia tidak bisa lagi mendengar ocehan Mamanya. Yang ada di pikirannya adalah di mana Yasmin saat ini? Dimana wanita yang sedang mengandung anaknya itu?
Tanpa memperdulikan panggilan Bu Lidia dan Kirana, Satria berlari hendak mencari Yasmin. Ia menyusuri jalan di kompleks perumahan mewah tempat tinggal Mamanya.
"Yasmin, ayolah.. Jangan pergi! Dimana kau saat ini?"
Satria membawa motornya dengan pelan. Ia terus melihat kanan kiri jalan berharap melihat Yasmin yang sedang menyeret kopernya.
Satria terus berusaha menghubungi Yasmin.
Tapi sampai malam menjelang ia tidak bisa menemukannya. Semua tempat dan teman Yasmin sudah dia hubungi. Tapi hasilnya pun nihil. Mereka tidak ada yang tau Yasmin dimana. gadis itu seperti lenyap di telan bumi.
"Apa yang sudah di katakan Mama padanya hingga dia memutuskan meninggalkan ku.?"
Satria merasa putus asa.
Bara sudah membantu mencarinya dengan mengerahkan anak buah mereka yang tersebar dimana-mana.
"Tidak ada petunjuk sedikitpun, Sat..." kata Bara sambil menepuk pundak Satria.
Bara sangat iba melihat keadaan sahabat sekaligus bosnya itu.
Matanya merah dan sembab.
"Dia dimana sekarang? Dia juga sedang mengandung anak ku, Bar."
"Sabarlah, kita akan terus mencarinya."
Tiba-tiba saja Bara teringat Bram.
"Apakah mungkin menghilangnya Yasmin ada hubungannya dengan Bram?" gumam Bara, namun sempat terdengar oleh Satria.
"Kalau sampai terbukti dia yang ada di balik semua ini, aku bersumpah tidak akan memikirkan ada hubungan darah lagi di antara kami..!"
Satria meremas gelas di tangannya dengan geram.
Ponsel Bara berbunyi.
"Dari nyonya...!" ucapnya gugup.
Satria memberi isyarat agar Bara agak menjauh. Ia merasa malas berdebat dengan Mamanya saat ini.
"Bara, apakah Satria bersamamu? Apakah dia baik-baik saja?" suara Bu Lidia terdengar khawatir.
"Ia, Bu. Satria bersama saya, cuma keadaan nya kurang baik." jawab Bara dengan ragu.
"Tolong antar dia pulang! Saya sangat khawatir " suara Bu Lidia lagi
"Nyonya meminta ku mengantar mu pulang.".
Ucap Bara hati-hati.
"Aku tidak mau pulang!"
Bara terdiam. Ia tau sifat keras Satria.
__ADS_1
"Kenapa kau masih disini? Aku ingin sendirian."
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini. Kau lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, aku tidak akan melarang atau bersuara." jawab Bara. Mereka terdiam lagi.
Satria merasa jenuh juga.
Ia bangkit dan berjalan ke mobilnya.
"Kau mau kemana?"
"Aku tidak bisa duduk diam disini tanpa kepastian keadaan Yasmin. Aku akan ketempat Bram.!" ucapnya tegas.
"Gila, kau mau ke kandang macan sendirian?"
"Aku tidak perduli!"
"Setidaknya kita susun rencana dulu." bujuk bara.
Satria tidak perduli.
Ia mengambil sesuatu dan menyelipkannya di balik jaketnya.
Bara tidak bisa lagi mencegah kemauan Satria.
Ia ikut naik di belakang Satria.
Mereka tiba di tempat tongkrongan Bram.
Melihat Satria datang. Beberapa orang berusaha menghalanginya.
"Dimana bos kalian?" tanpa ampun Satria dan Bara meninju siapa saja yang berusaha menghalangi mereka.
Satria menerobos masuk ke ruangan Bram.
Bram tidak terkejut sedikitpun. ia terlihat menikmati rokoknya dengan santai. sambil menaik kan kaki di atas meja, ia menyapa Satria. "Owh selamat datang keponakanku.."
Bram memberi isyarat pada dua orang gadis cantik yang berada di ruangan itu untuk keluar.
"Tidak usah berbasa basi! Aku kesini bukan untuk beramah tamah. Aku mau kau kembalikan Yasmin!"
Bram menghirup rokoknya dalam-dalam.
"Silahkan duduk dulu, biar bicaranya lebih santai." kata Bram membuat Satria tidak sabar.
Bara waspada di pintu. Ia sadar sedang berada di kandang musuh.
"Cepat kau katakan dimana Yasmin!" bentak Satria.
" Mungkin kau tidak percaya kalau aku bilang, aku tidak tau. Aku juga terkejut mendengarnya. Berarti diantara kalian sedang ada masalah serius sampai gadis itu memilih pergi darimu!"
Satria menggebrak meja.
"Aku tidak main-main dengan ancaman ku ini.
Kalau terbukti kau terlibat dalam menghilangnya Yasmin, aku tidak segan untuk menghabisi mu walaupun kau masih Om ku sendiri!" ancam Satria di depan wajah Bram.
Bram hanya tersenyum mengejek.
"Aku akui kau memang punya nyali besar anak muda, tapi kali ini aku tidak berbohong. bahkan aku juga akan ikut mencari Yasmin. Dan kalau aku yang lebih dulu menemukan nya, kau tau artinya, kan?" Bram tersenyum lebar.
"Ayo kita pergi!" Ucap Satria pada Bara.
anak buah Bram sudah merangsek hendak menghadang. Tapi Bram memberi isyarat agar mereka membiarkan Satria pergi.
"Menurut mu apakah dia serius tidak tau tentang Yasmin?"
Tanya Bara saat mereka sudah meninggalkan tempat Bram.
"Aku pikir kali ini dia sungguh-sungguh. Aku paham bagaimana sifatnya, dia tidak akan tahan di panas-panasi, kalau sampai dia tidak terpancing, berarti itu benar." jawab Satria.
"Sat, bukannya aku ingin menggurui. Tapi sebaiknya kau pulang. Nyonya sangat khawatir. Mungkin disana kau bisa bertanya penyebab kepergian Yasmin atau petunjuk apa lah .."
__ADS_1
Satria merenungkan ucapan Bara. Ada benarnya juga dia mencari tau yang sebenarnya terjadi di rumah hingga membuat Yasmin mengambil keputusan untuk pergi.