
Satria dan Yasmin masih mengawasi Rayyan yang sedang di goda oleh Adam.
"Aku tidak mau memberi harapan palsu pada Rayyan. Ya, aku memang percaya padamu, tapi tidak pada Kirana" Yasmin menegaskan.
"Jangan kan kau, aku sendiri tidak akan pernah percaya padanya. Tapi apa aku akan menyerahkan Rayyan padanya? Tidak!"
"Pokoknya aku tidak bisa membiarkan anak ku dalam bahaya!"
Satria terdiam. Ia tau, menghadapi Yasmin tidak bisa dengan ngotot-ngototan.
Dilla datang membawakan minuman untuk Satria. Tapi Rayyan yang kurang hati-hati tidak melihatnya dan menabrak Dilla.
Alhasil, minuman itu tumpah mengenai baju dan celana Satria.
"Aduh, maaf kan saya Pak!"
"Tidak apa-apa, Rayyan yang tidak sengaja menabrak mu." ucap Satria mengibas- ngibaskan bajunya.
Yasmin menarik nafas lega. Sebelumnya ia khawatir kalau Satria akan marah marah.
Tapi nyatanya tidak, apa karna sedang berusaha merebut hati kami? Ah terserah lah.
"Bisa numpang ke kamar kecil?" tanyanya pada Yasmin.
"Iya, bajunya harus di keringkan!" timpal Dilla.
Yasmin mengangguk cepat.
Iya mengajak Satria ke kamarnya.
"Terima kasih...! Eh pinjam handuknya?"
Kening Yasmin berkerut.
"Handuk? "
Satria mengangguk.
Yasmin mengambilkannya handuk di lemarinya, lalu buru-buru keluar.
Satria hanya tersenyum geli melihat ya.
Tak lama kemudian, ia memanggil Yasmin kembali.
"Ada apa lagi?" ucap Yasmin. Tapi ia langsung memalingkan wajahnya.
Satria berdiri di depannya hanya dengan memakai handuk sebatas pinggang.
"Tolong keringkan pakaianku!"
Yasmin menerimanya sambil menatap kearah lain.
Ia bergegas kabur membawa pakaian Satria.
"Huh...! dia menarik nafas lega saat menutup pintu.
"Ngapain coba, dia cuma memakai handuk seperti itu? Ayolah Yasmin jangan berpikir macam macam!" ia mengetuk pelan kepalanya sendiri.
Sementara Yasmin mengeringkan pakaiannya, Satria masih berada di kamar Yasmin.
Ia mengamati kamar yang tidak terlalu luas itu. Keadaan itu membuatnya terbayang pada Yasmin yang baru di kenalnya waktu itu.
Dia arogan, manja dan keras kepala. tapi lihatlah setah menjadi Mama muda. Hidupnya sangat sederhana. mungkin pengalaman mengajarkannya untuk berdamai dengan takdir.
Pintu kamar di ketuk.
"Pasti Yasmin." gumamnya pelan.
"Masuk saja." teriak Satria.
Yasmin masuk perlahan, ia kembali menyaksikan tubuh Satria yang terbungkus handuk.
Karena gugupnya ia tidak hati-hati akhirnya tubuh mereka terjatuh di ranjang. posisi Yasmin tepat di atas Satria.
Yasmin merasakan kehangatan yang menjalar saat kulit mereka saling bersentuhan. Jari jemari saling bertautan. Mereka hampir saja hanyut dalam suasana kalau tidak di kagetkan oleh suara Rayyan.
"Pa, papa...!"
Yasmin buru menarik tubuhnya dan membenarkan rambutnya. Lalu membuka pintu.
"Pintunya nggak di kunci, kok!" ucapnya sambil menutupi rasa malunya.
"Ada apa, Ray?" ucap Satria pada Rayyan tapi matanya melirik Yasmin sambil menyunggingkan senyum nakal. Yasmin semakin salah tingkah.
"Ya, sudah.. Mama tunggu di luar, ya!"
__ADS_1
Yasmin keluar dengan wajah memerah.
"Tolong benerin mobil-mobilan, Ray, tadi di pake balapan terus mogok, deh." Rayyan bercerita dengan lucunya. Pada
"Ok, tunggu sebentar, papa pake baju dulu, ya!"
"Ok, papa..!"
Satria tersenyum. hobi nya ternyata menurun pada Rayyan. Mereka sama -sama suka otomotif.
Kinj ia sudah rapi kembali dengan pakaiannya. Ia menghampiri Rayyan yang sedang membongkar mobil mainannya.
Sempat terlintas di benaknya, kenapa ia merasa banyak kesamaan dengan Rayyan, tapi dengan Dio tidak sama sekali. sifat dan kesukaan mereka sangat berbeda. Kalau di telaah lebih teliti, wajah Dio sama sekali tidak mirip dengannya. Tapi karena sudah di butakan oleh kasih sayangnya, ia mengabaikan hal hal kecil itu.
***
Di jakarta.
Kirana sedang meracuni pikiran ibu mertuanya.
"Seandainya Yasmin kembali dalam kehidupan Satria gimana, Ma?"
"Ya, Mama terima. Sebenarnya Mama sangat menyesal telah mengusirnya. Hal itu membawa penyesalan yang berkepanjangan di hatiku."
"Lalu Dio?"
"Dio tetap anak Satria, tetap cucuku Begitupun anaknya Yasmin."
"Kenapa?" Bu Lidia menelisik wajah menantunya.
"Tidak apa-apa, sih. cuma, apa Mama percaya begitu saja. Maksud Kiran, bisa saja Yasmin tiba-tiba datang dalam hidup kita dengan membawa seorang anak dan mengaku kalau itu anak Satria.
Tapi apa tidak berpikir, kalau itu terjadi, bisa jadi dia datang untuk membalas dendam. Masih, ingat, kan saat Mama mengusirnya dari rumah ini?"
Kirana sengaja memojok kan mertuanya.
"Itu memang salah Mama, tapi kita semua tau Yasmin bagaimana. dia pasti bisa memaafkan kesalahan Mama." jawa Bu Lidia.
"Mama tidak ingat, kalau dia menghilang begitu lama. waktu bisa saja merubah karakter seseorang, Ma."
"Kiran, kenapa kau terlihat begitu cemas? seakan Yasmin memang sudah kembali."
Kirana menggeleng.
"Kau tidak usah berlebihan begitu, lagi pula kau tau bagaimana kami, khususnya Satria menyayangi Dio. Sekalipun anaknya dari Yasmin akan datang. Yakinlah, Satria akan adil pada kedua anaknya."
Jawaban Bu Lidia tidak membuat Kirana puas. Yang iya mau, Yasmin tidak akan pernah muncul lagi dalam hidup Satria.
"Ma, kenapa papa lama sekali perginya, Dio kangen papa...!"
Tiba-tiba Dio sudah berdiri di belakangnya.
"Kalau Dio yang minta, papa pasti mau pulang." Kirana tersenyum licik. Ia membisikkan sesuatu di telinga Dio.
"Ma...Ma..! Badan Dio panas sekali, dia juga tidak mau makan." teriak Kirana panik.
Bu Lidia langsung tergopoh ke kamar cucunya.
"Dio, Kenapa bisa begini? barusan dia baik-baik saja." Bu Lidia ikut panik saat meraba kening cucunya.
"Coba kau beri parasetamol dulu.. Kalau tidak bisa turun juga baru kita panggil dokter."
"Tidak mau, Dio mau papa!" Dio menepis obat yang di sodorkan Mamanya.
"Dio, papa lagi kerja..." bujuknya pada Dio.
"Tidak mau, pokoknya papa harus pulang!"
Dio menutup mulutnya. Ia sama sekali tidak mau meminum obatnya.
"Bagaimana ini, Ma?"
"Biar Mana telpon Satria."
Kiran melirik Dio penuh kemenangan.
Satria sedang bermain dengan Rayyan saat Mamanya menelpon.
"Sebentar, ya... Oma nelpon."
Satria mencium kepala Rayyan dan mengusapnya.
"Assalamualaikum, Ma."
"WAalaikum salam, Sat. Dio ngambek tidak mau makan, badannya juga panas tinggi.
__ADS_1
Dia melempar semua barang di kamarnya."
"Apa sudah panggil dokter, Ma?"
"Belum, Mama coba kasi penurun panas dulu, tapi dia tidak mau. Dia hanya mau minum obat kalau kau pulang."
"Tapi pekerjaanku masih banyak, Ma, apa Kiran tidak bisa menghandle anaknya sendiri?"
"Sudah, tapi Dio tetap tidak mau nurut, Mama tidak mengerti, kamu ngomong sendiri sama anakmu!"
Bu Lidia memberikan ponsel pada Dio.
"Papa, pulang..." rengeknya dengan manja.
"Pasti, pasti papa akan pulang kalau pekerjaan papa disini sudah selesai."
"Dio tidak mau nanti, sekarang juga papa harus pulang!" rengek Dio lagi.
Kirana sangat puas dengan akting anaknya.
Setelah di bujuk oleh Satria, Dio mau minum obat penurun panas. Setelah itu ia tertidur.
"Syukurlah, dia sudah tidur." ucap Bu Lidia setengah berbisik.
"Apa Satria bisa pulang, Ma?"
"Katanya, sih begitu. kayak tidak tau siapa anakmu saja, dia tidak bisa di janjikan sesuatu."
Dalam hati Kirana bersorak gembira.
"Rasain, kalian tidak akan aku beri kesempatan untuk bersama lagi."
"Sebaiknya kau temani dia malam ini."
"Iya, Ma." jawab Kirana senang.
Bu Lidia langsung meninggalkan kamar itu.
Tapi tidak berapa lama ia teringat sesuatu, dan kembali masuk kekamar Dio.
"Kiran..." tidak ada jawaban.
Mata Bu Lidia tertarik pada ponsel Kirana yang berbunyi. Di layarnya tertera nama Vivian.
"Kemana anak itu? ponsel di biarkan. Apa aku angkat saja, ya? siapa tau ada yang penting banget."
Setelah berpikir beberapa saat. Ia mengangkatnya.
"Kenapa lama sekali mengangkat teleponku?"
Bu Lidia terkejut, yang tertera di layar ponsel jelas nama Vivian, teman Kirana yang da kenal. Tapi dari suaranya sangat jelas dia seorang pria.
Bu Lidia masih kaget, hingga masih terdiam.
"Jangan coba-coba menghindar dari ku! Kau tau apa akibatnya bukan? ingatlah Dio..."
Mendengar kata Dio, Bu Lidia sontak berkata.
"Kenapa dengan cucuku? awas ya kalau berani macam- ma..."
panggilan langsung di putus.
"Heeh...dasar manusia tidak jelas!" omel Bu Lidia.
"Kenapa, Ma?" Kirana begitu kaget mendapati mertuanya sudah memegang ponselnya.
"Ini, kamu sudah salah kasi nama di kontak.
Masa nama Vivian, tapi yang bicara pria, kasar lagi. Pake bawa-bawa nama Dio pula."
Sungguh, andai Bu Lidia melihat wajah Kirana saat itu pasti kaget.
Dia langsung pucat pasi.
"Mama... Benar, akhir- ini aku sering pusing. Jadi kadang salah memasukkan nama di kontak ponsel ku."
"Ohya, Mama ada perlu?"
"Iya, sebenarnya Mama ada perlu, tapi apa ya.. ? Jadi lupa gara-gara penelpon misterius itu. blokir saja, jagan Kau layani orang yang nggak jelas begitu."
Bu Lidia kembali ke kamarnya.
Kirana menarik nafas lega.
"Kenapa pula aku harus meninggalkan ponselku.." ia geram pada dirinya sendiri.
__ADS_1