
Kirana semakin geram melihat perhatian Satria yang begitu besar pada Yasmin.
"Aku tidak akan membiarkan mereka bersatu kembali...!" ucapnya geram.
Dari bisik-bisik para karyawan, dia tau kalau Rayyan hilang beberapa jam yang lalu di kantor itu.
"Anak Yasmin hilang? Siapa yang sudah membantu meringankan pekerjaan ku?" ucapnya heran.
Kirana sengaja menghindar dari Satria. Ia hanya menyaksikan Satria yang terlihat bingung karena sikap Yasmin.
"Bagus, keadaan terus berpihak padaku. Yasmin pasti menyalahkan Satria atas menghilangnya Rayyan... Lalu aku tinggal memperparah kesalah pahaman di antara mereka, terus mereka, bubar deh!" ucapnya sambil tersenyum penuh kelicikan.
Perlahan ia meninggalkan tempat itu dengan hati puas.
"Kita lapor polisi saja" saran Bara.
"Percuma Bar, mereka pasti menunggu dua puluh empat jam dulu baru menanggapi laporan kita." ucap Satria.
"Sementara, kita hanya bisa menunggu laporan dari anak buah kita." Bara ikut prihatin dengan keadaan yang terjadi, baru saja hubungan mereka hampir membaik, eh sudah ada bencana seperti ini.
Sementara masih kebingungan.
Dirumahnya, Yasmin sedang menangis tersedu. Ia sangat menyayangkan kenapa ada orang tega menculik anak sebaik Rayyan.
"Tenanglah Yang.." ujar Adam menghibur sambil mengelus pundaknya.
"Gimana aku bisa tenang disaat nasib anak ku belum ketahuan, bagaimana kalau dia kedinginan, dan kelaparan?"
Yasmin malah membentaknya.
"Aku perasaanmu saat ini, kami juga kehilangan Rayyan. Tapi dengan menangis apa bisa memperbaiki keadaan?"
Della bersuara.
"Lagi pula pak Satria pasti tidak akan tinggal diam. Dia begitu sayang pada anaknya." imbuhnya lagi.
"Aku bingung dan panik, maafkan aku, ya!" Yasmin menatap Adam dan Della bergantian.
"Kami mengerti keadaanmu, siapa pun yang di posisimu pasti akan melakukan hal yang sama." ucap Adam.
Tiba-tiba ada pesan yang masuk di ponsel Yasmin.
Ia agak ragu membukanya karena nomornya tidak di kenal.
(Yasmin, kita ketemu di kafe melati, aku punya info tentang anakmu. Tapi ingat! Jangan ceritakan ini pada siapapun, kalau itu sampai terjadi, kau akan kehilangan anakmu)
"Rayyan...! Dia tau informasi tentang Rayyan." pekik Yasmin.
"Siapa dia?" Dilla ikut penasaran.
Yasmin menelpon nomer itu, Banun sudah tidak aktif.
Aargh..! Yasmin membanting ponselnya di sofa.
"Aku harus kesana!" ucapnya bersiap-siap.
"Tapi kau tidak mengenal siapa pengirim pesan itu. Siapa tau saja dia ingin mengerjai mu, padahal dia tidak tau dimana Rayyan."
ujar Dilla.
__ADS_1
"Lalu aku harus diam berpangku tangan disini ,begitu?" ucapnya geram.
Dilla terdiam.
"Kalau begitu biar aku temani!" ucap Adam.
"Tidak, menurut pesan ini, aku harus datang sendiri. Kalau sampai orang lain ikut campur, nyawa Rayyan dalam bahaya." jawabnya keras.
Adam dan Dilla hanya bisa menatap kepergian Yasmin.
Di tengah padatnya jalanan, Yasmin melajukan motornya dengan pikiran panik.
ia berharap anaknya segera ketemu dan dalam keadaan baik-baik saja.
Sementara itu Dilla dan Adam sepakat untuk memberitau Satria.
Mereka tidak mau ambil resiko dengan membiarkan Yasmin pergi sendirian.
"Apa dia sudah gila,? Pergi sendirian tanpa memperhitungkan keselamatannya sendiri."
Satria menggerutu kesal.
'Panik boleh, tapi ini grasa grusu. Kalau yang mengirim pesan justru penculik Rayyan, repot, kan?"
Satria pergi sendiri ke kafe melati seperti yang di ceritakan Dilla lewat telpon.
Ia berharap belum terlambat.
Sampai disana,suasana tidak terlalu ramai.
Satria sengaja memarkir mobilnya agak jauh dari kafe. Dengan memakai kaca mata hitam nya orang akan sulit mengenalinya.
"Aneh, tidak ku lihat keberadaan Yasmin di sini, jangan-jangan..?" hatinya mulai was-was.
Satria kembali keluar. Ia ingin memastikan motor yang biasa di pakainya masih ada apa tidak?
Ia semakin heran, Motornya terparkir manis disana.
Tidak perlu berpikir terlalu lama, Ia bisa mengerti apa yang terjadi.
Satria bergegas bertanya pada pelayan kafe. Ia menunjukkan photo Yasmin.
"Apakah tadi sekitar dua puluh menit yang lalu ada wanita ini masuk kesini?"
"Iya, ada pak. Tapi dia belum memesan apa pun, saya rasa dia tidak sendiri. Ada dua orang ikut duduk bersamanya. Disini."
pelayan itu mengantar Satria ke sebuah meja. Matanya tertuju pada sebuah lipatan tissue yang tergeletak di bawah meja.
Saat di bukanya, asa tulisan tangan yang Satria yakin itu adalah tulisan tangan Yasmin.
(kalau kalian tidak menemukan aku disini. mereka membawaku ke suatu tempat untuk bertemu Rayyan.)
Satria meremas tissue itu dengan geram.
"Siapa yang sudah berani bermain-main dengan ku?" Ia melangkah cepat menuju mobilnya.
***
Sementara itu, Kirana yang merasa dengan penculik Rayyan mencoba menerka-nerka.
__ADS_1
Terlintas sesuatu di benaknya.
"Halo.. ! Apa kabar? Lama kita tidak saling kontak."
Kirana menelpon. Seseorang yang ia curigai telah menculik Rayyan.
Setelah bicara sebentar. Bibirnya terlihat menyunggingkan senyum licik.
"God, God... Benar-benar suatu keberuntungan buatku. Aku tidak perlu. Mengotori tanganku dengan menculik ibu dan anak itu, aku tinggal mengambil keuntungan saja, ha ha ha..."
Satria yang kalap melajukan mobilnya tanpa arah tujuan tang pasti.
matanya tertuju pada layar ponselnya yang menyala. Dengan tangan kirinya ia menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Halo, siapa ini?" suara Satria terdengar sangat tidak bersahabat.
"Satrio... kau masih saja Sombong. Kalau ingin anak dan istrinya selamat, datang dan selamatkan mereka, mereka ada di gudang tua di belakang pom bensin."
"Siapa kau? Awas kalau sampai terjadi sesuatu pada anak dan istri ku!" teriak Satria. Namun suara yang ujung telpon hanya terkekeh.
"Jangan hanya bisa berteriak, cepat selamatkan mereka! Dan ingat jangan bawa siapa-siapa, apalagi polisi.
Satria mau mengumpat lagi. tapi ponselnya keburu mati.
Tanpa membuang waktu lagi, dia memutar mobilnya ketempat yang di sebutkan barusan. Hati ya begitu cemas akan terjadi sesuatu pada Yasmin dan Rayyan.
Yasmin...! Rayyan..!" teriaknya saat sudah sampai di lokasi. Tempat itu terlihat sepi.
Dua orang pria berpakaian cukup rapi mendekatinya.Satria.
Mereka terlibat percakapan yang seru. Dua orang itu juga sempat menawarkan minum pada Satria.
Perlahan ia menaiki tangga gudang itu.
Di tempat lain, Yasmin yang di ikat dengan mulut di bekap. ia tidak bisa berbuat banyak.
Ada rekaman yang memperlihatkan Satria saat sedang menaiki tangga dan bicara dengan dua orang pria itu. Mereka mengantar Satria pada Rayyan, mereka terlihat sangat bahagia.
Ternyata Rayyan sedang bermain dengan asik di sebuah ruangan.
Rekaman itu tanpa suara dan di saksikan sendiri oleh Yasmin.
Di rekaman yang lain, memperlihatkan dua orang pria itu pula yang menyekap Rayyan.
Yasmin hanya menerka sedang apa Satria dengan mereka.
Hati Yasmin berdesir nyeri.
"Apa mungkin Satria yang menculik Rayyan?
Buat apa? Dia sendiri sudah tau kalau Rayyan adalah putranya.
Rasa curiga pada Satria menyelimuti kepalanya.
Nb
Maaf banyak yang salah ketik🙏
Siapa penculik Rayyan sebenarnya ya,? Komentar dong!
__ADS_1