SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 57


__ADS_3

Satria terus menyesali kenyataan yang baru saja di dengarnya. Dia menghampiri Dio yang sedang mengobrol dengan Mamanya.


"Dio.." Satria memeluknya erat.


Dia baru sadar, kenapa Dio tidak sedikitpun mirip dengan dirinya atau Mamanya.


"Tega sekali Kirana berbuat ini padaku." ucapnya geram.


Bu Lidia menatap Satria dengan penuh pertanyaan.


Tapi Satria hanya diam. Sampai Edgar masuk keruangan itu.


"Maafkan saya, pak Satria. Saya ingin membawa anak saya. Kalau bapak masih belum percaya dengan cerita saya. kata bisa lakukan tes DNA."


Bu Lidia semakin bingung.


"Kalian bicara apa? Tes DNA apa?"


"Ma, ternyata selama ini Kiran sudah menipu kita mentah-mentah. Dio bukan lah anak kandungku." ucap Satria berusaha menahan gejolak di dadanya.


"Apa?" Bu Lidia terhuyung kebelakang sambil memegangi dadanya.


"Benar, Ma. Dio kesayangan kita bukanlah anak ku." ratap Satria.


"Saya bisa jelaskan pada ibu." kata Edgar.


"Siapa pria ini?" tanya Bu Lidia dengan tatapan nanar.


"Dia adalah ayah biologis nya Dio." penjelasan Satria membuat Bu Lidia shock.


"Semua memang sudah di rencanakan oleh Kirana, Setelah dia hamil dengan saya, dia menyusun rencana agar bisa menghabiskan malam dengan pak Satria agar terkesan anak yang di kandungnya adalah benih pak Satria.


Saya terus memerasnya sebagai uang tutup mulut. Karena merasa jengah dan takut rahasianya terbongkar. dia merencanakan sebuah pembunuhan untuk saya. Tapi saya selamat dari insiden itu. Terakhir dia menyekap saya di suatu tempat. Dari situ saya bisa tau kalau dialah penyebab kecelakaan yang di alami anak pak Satria.


Dia ingin Dio sebagai pewaris tunggal dari pak Satria, karena itu pula dia berambisi untuk melenyapkan Rayyan." Edgar mengakhiri ceritanya.


Bu Lidia menangis tersedu. Yasmin berusaha menenangkannya.


"Yang tabah ya, Ma."


"Saya akan bersaksi di pengadilan agar Kirana mendapatkan imbalan dari semua perbuatannya." imbuh Edgar.


Satria menghembuskan nafasnya.


Dia mendekati Dio.


"Dio, dengar kata Papa. Sekarang ini Dio punya dua orang Papa. Ini dia papa Dio yang satunya." Satria menepuk pundak Edgar.


"Dio senang, dong punya dua papa sekaligus. Orang lain saja cuma punya satu."


Dio memperhatikan Edgar. Satria baru sadar kalau wajah Dio agak ke barat baratan menurun dari Edgar.


"Iya Dio, ini Papa.. Peluk Papa, Nak." Edgar Membuka tangannya.


Satria mengangguk pada bocah itu.


Dio menurut dan mendekati Edgar.

__ADS_1


"Terimakasih atas kemurahan hati bapak." ucap Edgar.


"Kau boleh membawa Dio, tapi kau harus membuatnya bahagia. jangan sia-sia kan dia. Kapanpun dia ingin bertemu kami, kau bisa mengantarnya padaku." ucap Satria sedih.


"Dio.. peluk Oma, sayang." Bu Lidia menyongsong Dio.


"Siapapun adanya dirimu, Oma terlanjur sayang padamu, Nak. Kau tetap cucu kesayangan Oma." Isak Bu Lidia.


Dio hanya terdiam tak mengerti.


"Terima kasih atas kasih sayang kalian yang tulus pada Dio selama ini." ucap Edgar.


Satria memandang kepergian Dio dengan hati pilu.


Bu Lidia meraih tangannya lalu menyatukannya dengan tangan Yasmin.


"Allah itu adil... Saat dia harus mengambil seseorang yang kita sayangi. dia langsung menggantinya dengan pangeran kecil yang tampan dan menggemaskan." Bu Lidia menyentil dagu Rayyan.


Daaan... Mama tidak mau hanya satu penggantinya Dio, tapi dua. Ingat ini PR buat kalian." ucapnya sambil mengedipkan mata pada Yasmin.


Yasmin tersipu malu.


Satria memeluknya erat.


"Kita tidak akan berpisah lagi..." bisiknya lembut di telinga Yasmin.


Bu Lidia menutup mata Rayyan dengan tangannya.


"Tutup mata Ray, kau tidak boleh melihat adegan yang tidak pantas." ucapnya bercanda.


Satria dan Yasmin tertawa kecil.


"Yas, sekarang aku mohon dengan sangat. Pulanglah ke rumahku, rumah kita..."


Yasmin terdiam.


"Aku mohon..?" ulang Satria.


"Tapi aku tidak sendiri, Sat. Ada Dilla bersamaku."


"Jangan pikirkan aku! Kau ikut pak Satria saja." Dilla menyela.


"Tidak Dil, kau adalah keluargaku, sejak aku susah kita sudah bersama. Jadi kemanapun aku dan Rayyan kau harus ikut." ucap Yasmin.


"Tentu saja dengan Dilla juga. Aku tau kalian satu paket yang tidak bisa di pisahkan. Di rumah yang baru kalian lebih bebas karna rumahnya lebih luas." kata Satria lagi


"Dan pastinya pak Satria lebih bebas dengan ayang Yasmin.." celetuk Adam.


Semua tertawa di buatnya.


"Itu maksud ku, kau paling peka kalau hal-hal kayak begini, Dam." gurau Satria.


"Iya, Deh, bapak menang." sungutnya sambil tersenyum.


"Ee ..tunggu dulu...! Mama yang paling tua disini. Jadi Mama yang berhak putuskan kalian akan tinggal dimana." tiba-tiba Bu Lidia muncul begitu saja.


"Mama...?"

__ADS_1


"Istana kita di jakarta sangat rindu padamu. Pulanglah bersama Mama." Bu Lidia memohon pada Yasmin.


Yasmin menggaruk keningnya.


"Tapi Yasmin masih ada pekerjaan di sini, Ma.." ucapnya lirih.


"Sayang... Sekarang kau seorang istri salah satu dari empat pengusaha tersukses di negara ini. Kenapa harus bekerja lagi."


Yasmin memandang Satria.


"Aku membebaskan mu, mau terus berkarier, silahkan. Mau di rumah saja mengurus aku dan Rayyan juga boleh, bahkan itu yang aku harapkan." jawab Satria bijak.


Yasmin tersenyum oleh ucapan Satria.


"Tanpa bermaksud mengecewakan Mama. Aku minta ijin sementara ini biarlah disini dulu, Ma. Tidak apa-apa, kan?" Yasmin Menatap mata Bu Lidia penuh harap.


Bu Lidia terdiam sejenak. Lalu dia berkata,


"okey.. Apapun keputusanmu, Mama dukung. Walaupun sebenarnya Mama sangat ingin kau pulang ke jakarta. Tapi Mama tidak mau gara -gara ini semua kau akan meninggalkan Mama lagi."


"Tidak lah, Ma..!" Yasmin memeluk mertuanya.


"Pastilah, kita pulang, Ma. Yasmin hanya sementara di sini. Kebetulan aku juga masih ada beberapa proyek yang belum rampung. Iya, kan sayang?" Satria mengedipkan sebelah matanya.


"Benar kata Satria, kita pasti akan balik ke Jakarta kok." bujuk Yasmin lagi.


"Kalau begitu, Mama juga akan tinggal di sini. Mama tidak mau jauh-jauh dari Rayyan." jawab Bu Lidia merajuk sambil memeluk cucunya. Bu Lidia memang tidak pernah jauh dari Rayyan.


Akhirnya di putuskan. Mereka pulang kerumah yang Satria beli.


Kini Yasmin bisa menikmati hari-hari indah bersama Satria dan putra mereka.


Disaat Yasmin dan Satria menikmati kebahagiaan mereka.


Kirana harus mempertanggung jawabkan


segala perbuatannya. Ia terus berteriak pada petugas minta di bebaskan. Dia depresi dan putus asa. Rasa kecewa karna kehilangan Satria begitu dalam membekas di hatinya.


belum lagi di tambah harus kehilangan Dio dari sisinya. Ia meringkuk sendiri di ruangan yang dingin. Pengacaranya tidak bisa membelanya karena kondisinya yang kurang stabil.


Beberapa kali Edgar berusaha menjenguknya karena permintaan Dio. Tapi respon Kirana tidak seperti biasa. Ia seperti tidak mengenali anaknya.


Dia hanya bisa melamun lalu tertawa dan tiba-tiba menangis sendirian.


Dalam hati, Edgar merasa iba juga. Bagaimanapun perbuatan Kirana, dia tetap lah ibu dari anaknya.


"Pa, kenapa Mama tidak mau bicara pada Dio? Apa karna Dio nakal?"


Hati Edgar tersentuh.


"Tidak sayang, Mama kurang sehat, makanya dia tidak ingat siapa-siapa. dia tidak tau Dio, tidak tau Papa juga."


"Ma, maafin Dio kalau Dio nakal. Dio janji tidak akan nakal lagi asal Mama mau ikut pulang..." rengek Dio sambil menggoyang tangan ibunya.


Kirana hanya diam tidak merespon.


Wajah Dio terlihat kecewa. Edgar cepat-cepat membujuknya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita main ketempat papa Satria? Dio mau?"


Anak itu langsung mengangguk setuju. Ia begitu antusias akan bertemu Satria.


__ADS_2