SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 59


__ADS_3

"Om Bram, dan Om Bram lagi.. ! Aku bosan mendengar nama itu. Cepat cari tau tentang masalah ini. satu jam lagi hasilnya sudah harus ku terima!" perintahnya dengan tegas pada Bara. Setelah itu dia langsung pulang menemui Yasmin.


โ€‚"Yas, apa Om Bram masih suka menghubungimu?" tanya Satria hati-hati.


Yasmin menatap Satria.


"Sempat beberapa kali, itupun karena kami membicarakan proyek kerjasama. Kenapa? Ada masalah dengannya?"


Satria menggeleng dan tersenyum.


"Tidak, hanya ingin tau saja."


Yasmin mengangguk lega. Ia sempat berpikir kalau Satria akan marah karna ia berhubungan dengan musuhnya itu.


"Ya, aku ingat kau pernah cerita dan kerjasama itu batal, kan?"


"Iya, saat itu aku merasa ragu saat dia mulai menjelek kan mu."


Satria memandangnya intens.


"Kenapa?" Yasmin merasa heran


"Berarti kau marah saat ada orang yang bilang sesuatu yang buruk tentang diriku. Itu berarti....?"


"Berarti apa?" sergah Yasmin tak sabar.


"Berarti kau perhatian padaku. walaupun kau tidak pernah mau mengakuinya, tapi aku yakin sekali."


Yasmin tersipu.


" Aku hanya minta, jangan lagi berhubungan dengannya, dia sangat berbahaya. Mau berjanji padaku?"


"Iya, aku janji.." jawab Yasmin tersenyum.


"Aku bakik ke kantor dulu, kasian Bara lama menunggu." Satria sudah hampir mencium pipinya saat tiba-tiba Rayyan datang mengagetkan nya.


"Papa, tolong bukain ini." ucap Rayyan sambil menyodorkan mainannya.


Satria jadi salah tingkah.


"Iya, yang mana, Ray?"


Yasmin tersenyum penuh kemenangan.


"Awas kau nanti malam..." bisik Satria sambil melangkah keluar di iringi oleh tawa Yasmin.


โ€‚Satria tiba di kantor dan di sambut oleh wajah cemas Bara.


"Ada apa?" Satria merasa ada sesuatu yang tidak beres.


Ada penyidik di dalam, mereka menerima laporan kalau kita menyelundupkan barang terlarang di produk kita."


"Apa,? Dapat berita darimana mereka?" Satria geram.


"Itu yang aku tidak tau, mereka tidak mau mengatakan darimana sumber berita itu..."


Satria masuk di mana petugas pemerintah sudah ada di sana.


Satria menyapa mereka dengan ramah.


"Mohon maaf, pak Satria. Sebenarnya kami tidak percaya dengan rumor ini. Tapi kami juga harus menjalankan prosedur yang berlaku."


"Owh silahkan saja lakukan tugas kalian, saya bisa mengerti. tapi saya yakin kalian juga pasti tau, perusahan saya bersih dari hal-hal semacam itu." jawab Satria yakin.


"Benar, kita sudah lama menjadi mitra. Dan saya juga yakin kalau pak Satria adalah pengusaha yang bersih. Dan terimakasih juga atas kerjasamanya."


Satria mengepalkan tinjunya ketika petugas itu berlalu.


"Aku yakin ini perbuatan, Bram."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" suara Bara terdengar pesimis.


Satria membisikkan sesuatu di telinga Bara.


Bara terlihat menganggukkan kepala.


Setelah itu Satria pulang.

__ADS_1


Yasmin menyambutnya dengan heran.


"Ada apa? wajahmu terlihat tegang." tanya Yasmin khawatir.


Satria langsung duduk di sofa empuk nya.


"Aku hanya sedikit pusing." Satria menarik tubuh Yasmin dan mendudukkannya tepat di pangkuanny.a.


"kepala ku agak pusing, dengan tatapan mu dan sedikit sentuhan mu mungkin akan bisa mengurangi pusingku..." godanya lagi.


"Belajar dimana sih nge gombal? perasaan dulu tidak seperti ini? owh... pasti di ajari Kiran, ya?" ledek Yasmin sambil bangkit dan mulai memijat kepala suaminya.


"Kalau aku jawab, Iya.. Apa kau tidak akan cemburu?" balas Satria tak mau kalah.


"Mau cemburu juga sudah terlambat, tapi awas kalau sekarang kau berani melakukan itu pada wanita lain..!" ancam Yasmin.


Satria menarik kembali tubuh Yasmin dalam pangkuannya.


โ€‚"Aku tidak akan bisa melihat wanita lain lagi.


Karena di sampingku sudah ada permaisuri cantik dan anakv yang tampan dan pintar. Aku tidak butuh yang lain lagi..." ucap Satria lirih.


Yasmin tersenyum bahagia. Ia merasa begitu tersanjung.


Bagaimana dia tidak merasa bangga, banyak wanita yang hanya bisa menatap penuh kekaguman pada pria itu, tapi dirinya mendapat perlakuan istimewa, bahkan bisa menguasai hatinya. Bukankah itu keren?


Yasmin tersenyum sendiri.


Dia menempelkan hidungnya pada hidung suaminya. Ia sangat menikmati suasana.


Saat itu Suara merdu dari penyanyi Marcel mengalun dari acara musik di tv yang ditonton Yasmin sebelum Satria datang.


"Oh, cintaku.. Ku mau tetap kamu. Yang jadi kekasihku, jangan pernah berubah.


Selamanya, kan ku jaga dirimu.. Seperti kapas putih di hatiku...


Tak, kan ku buat nodaaa.."


Satria menatap mata Yasmin lekat.


"Aku mau seperti syair lagi itu. Jangan pernah berubah, ya..!"ucapnya dengan tatapan mesra.


"Itu juga harapanku padamu. Jangan pernah buat aku menangis lagi.. "


"Tidak akan, karna jika kau yang terluka, aku yang merasakan sakitnya." mereka tersenyum penuh kebahagiaan.


Suara tepuk tangan begitu riuh. Yasmin tersipu saat melihat Rayyan dan Dilla sudah ada di depan pintu. rupanya sejak tadi mereka memperhatikannya dirinya.


Yasmin lebih kaget saat ada yang menyentuh tangannya dengan lembut.


"Hey... Bangun! Kenapa tidur disini dan sambil senyum-senyum pula?"


Yasmin menghela nafas berat saat menyadari


Yang terjadi barusan hanya mimpi belaka.


"Owh.. Aku ketiduran rupanya... " ucap nya seperti orang linglung.


"Pertanyaan ku belum di jawab. Kenapa dalam tidur kau tersenyum-senyum, awas ya kalau memimpikan pria lain.!" ancam Satria.


Yasmin tersipu mengingat keromantisan mereka dalam mimpi.


Satria duduk dengan wajah lesu.


"Ada masalah, ya?" tanya Yasmin seperti dialog dalam mimpinya tadi.


"Tidak, hanya sedikit capek saja." jawab Satria asal.


"Mau aku pijat kepalanya..?" tawarnya ragu.


"Kalau kau tidak keberatan, boleh banget." jawab Satria.


Yasmin mendesah pelan.


Ia kecewa kenapa tidak terjadi keromantisan seperti harapannya.


"Kenapa berhenti? rambutku bau, ya? Perasaan sudah keramas.." gumam Satria sambil meraba kepalanya.

__ADS_1


"Bukan itu, aku hanya teringat sesuatu." jawab Yasmin cepat.


Satria mengira rambutnya yang bau, padahal Yasmin sangat suka aroma rambutnya.


"Teringat sesuatu ? maksudnya pria lain, ya?" tebak Satria merasa tidak suka.


"Kau benar, dia seorang pria.. "


Mata Satria membola.


Yasmin meneruskan ucapannya.


"Dia sangat tampan, tinggi, tubuhnya atletis... dan tatapan matanya itu lho..."


Satria semakin cemburu. Dia menarik tubuh istrinya.


"Siapa pria itu, memang ada ya pria yang lebih gagah dari diriku?" sungutnya tidak suka.


Yasmin kembali tersenyum menggoda.


"Kau tega menduakan ku? Atau jangan-jangan Adam, ya?" ucap Satria sambil meledek.


Yasmin cemberut. Ia mencubit lengan Satria.


"Aduh.. sakit istriku..!" ucap Satria meringis.


"Habisnya, masa Adam sih?"


"Lalu siapa? Jangan bilang kalau Om Bram." suara Satria terdengar ketus.


Wajahnya berubah serius dan tegang.


"Apa yang terjadi" suara lembut Yasmin membuat Satria tersadar.


Tiba-tiba saja Satria meraih tubuhnya.


Yasmin yang hendak bicara tapi telunjuk Satria menahannya.


"Ssst...! Jika aku sedang galau, cukup dengan memelukmu saja bisa menenangkan hati ku." ucapnya pelan.


Yasmin tersenyum.


Satria memang bukan tipikal pria romantis, tapi dari cara dia memperlakukan dirinya,


Yasmin merasa kalau Satria punya cinta dan kasih sayang yang begitu besar pada dirinya.


Yasmin membalas pelukan hangat suaminya.


"Kau belum bilang siapa pria yang kau pikirkan dalam tidurmu.." bisik Satria lembut di telinganya.


"Kau masih ingin tau?"


"Tentu saja, walaupun sebenarnya aku sudah bisa menebak, tapi aku ingin tau secara langsung dari bibir mu."


Desah nafas Satria terasa hangat menerpa wajahnya, membuat seluruh tubuhnya merinding.


"Dia, tentu saja dia adalah ayah dari anakku..!" jawab Yasmin.


Satria semakin mengeratkan pelukannya.


"Sudah ku duga..." kata Satria dengan bangga.


"Kau tidak akan bisa lepas dari pesona suami mu ini, sayang.."


"Aku juga berharap hal yang sama. Kau tidak akan tergoda banyak wanita cantik di luar sana."


"Tidak mungkin lah, kalau dirumah sudah punya seorang istri cantik dan Solehah, buat apa yang di luar?" Yasmin tersenyum bahagia.


"Kecuali... Mereka sendiri yang memaksa, apa dayaku." imbuh Satria lagi membuat Yasmin terbelalak.


Satria berlari kekamar sambil tergelak. Yasmin mengejarnya hingga mereka bergulingan di kasur.


Pada akhirnya Yasmin berbaring di lengan Satria.


"Aku tidak akan sanggup melirik wanita lain lagi, hatiku sudah mati untuk para wanita selain dirimu." Satria mengecup kening Yasmin.


Satria mendesah pelan. Ia tidak ingin Yasmin tau kalau dirinya sedang bermasalah dengan Bram. Ia takut Yasmin terlibat lagi dengan pria yang masih Om nya itu.

__ADS_1


Maaf telat up nya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2