
Yasmin menarik nafas lega saat Satria dan Bara meninggalkan tempat itu.
Ia bergegas mendekati Dilla.
"Kenapa bisa ketemu dia, sih?"
"Aku juga tidak mengerti, tiba-tiba saja Rayyan sudah bersamanya."
Yasmin mengawasi Rayyan yang bermain .
"Ray, kita pulang yuk!"
"Mama, kenapa tidak mau bicara sama papa? Mama jahat!" ucapnya cemberut.
"Dia bukan papa mu!" bentak Yasmin membuat Rayyan ketakutan.
Melihat itu Yasmin menjadi iba. Belum pernah ia membentak Rayyan sebelumnya.
Dilla menggeleng padanya.
"Bukan begini sara menyelesaikan masalah. Kau lihat, Rayyan ketakutan."
Yasmin sangat menyesal. Ia berjongkok di depan putranya.
"Mama minta maaf, Nak. Mama tidak bermaksud marah pada Ray.. Tapi memang dia bukan papanya Ray."
Rayyan hanya terdiam.
"Rayyan memang sangat pintar cari papa, kau tau Yas.. Pria itu sangat gagah dan berwibawa, kayaknya dia orang kaya. Dan kenapa aku merasa Rayyan ada kemiripan dengannya?" Adam seperti mengingat sesuatu.
"Ah itu hanya perasaanmu saja, memangnya siapa dia dan siapa Rayyan?" ucapnya berusaha tertawa.
Dilla menatap Yasmin serius.
"Tapi kalau menurutku, apa yang di katakan Adam ada benarnya. Coba kau perhatikan, Rayyan memang persis papanya. Kau tidak bisa pungkiri itu." bisik Dilla.
"Aku pusing, tidak usah bahas itu."
Yasmin mengajak mereka semua pulang.
Rayyan masih saja cemberut.
Yasmin merasa bingung bagaimana lagi caranya membujuk Rayyan.
Rayyan tidak lagi mau bicara padanya.
Hal itu membuatnya berpikir kembali.
Di tempat lain, Satria sedang berkemas untuk pulang, saat tiba-tiba saja Dio muncul di hadapannya.
"Papa...!" bocah itu menghambur ke pelukan Satria.
"Dio, kau disini? Papa baru saja bersiap untuk pulang."
Di belakang Dio, muncul Kirana.
"Dia memaksaku untuk menyusul mu kesini."
Wajah Satria tetap datar, ia tidak marah maupun gembira atas kedatangan Kirana.
"Harusnya kau tidak menyusul kesini, aku bisa pulang secepatnya"
"Kau seperti tidak tau siapa Dio?"
Satria larut dalam kebersamaan dengan Dio.
Ia sama sekali tidak perduli dengan kehadiran Kirana di sana.
Kirana membuang pandangannya keluar jendela.
Sekeras apa pun dia berusaha, Satria tidak pernah bisa membuka hatinya.
__ADS_1
Hanya karna Dio lah mereka masih hidup satu atap.
Aku sudah menelpon menelpon resepsionis untuk menyiapkan kamar untuk mu."
Kirana hanya mengangguk. Ia sudah tau apa yang akan terjadi.
Karena kedatangan Dio, otomatis rencana kepulangannya ia batalkan.
"Bar, kita tidak jadi pulang. Dio datang menyusul kesini." ucap Satria lewat telpon.
"Tapi, Sat. Tiketnya bagaimana?"
"Biarkan saja hangus!" jawab Satria enteng.
Bara tidak bertanya lagi, ia sudah hafal siapa bosnya itu. Kalau sudah bilang A tidak akan bisa di rubah menjadi B.
Malam itu Dio tidur dalam pangkuan papanya.
Ia terlihat tidur dengan nyaman.
Satria memandanginya lalu mengusap rambutnya. Entah kenapa tiba-tiba dia teringat Rayyan, bocah tampan yang dua hari ini bisa membuatnya tersenyum.
"Anak siapa sebenarnya dia?" tanpa sadar ia membuka galeri ponselnya.
ia memandangi photo Rayyan.
"Benar kata Mama, di antara kami ada sedikit kemiripan..." Satria meletakkan kembali ponselnya. Ia membaringkan tubuhnya di sisi Dio. Tak berapa lama, dia sudah masuk kedalam mimpi.
Dalam mimpinya dia melihat Yasmin bersama seorang anak kecil yang tidak jelas wajahnya.
Yasmin begitu marah saat dirinya berusaha memegang tangannya.
"Jangan pegang aku! Kau suami yang tidak bertanggung jawab, selama ini kau. Tidak pernah berusaha mencariku, jangan salahkan. Aku kalau anak ini tidak mengenali mu sebagai ayahnya...!"
"Yasmin, kau tidak tau, selama ini aku mencari mu kemana-mana. Tak sedikitpun hatiku berlalu tanpa mengingat kalian." tangan Satria menggapai-gapai namun Yasmin menghilang di balik awan putih yang tebal.
Satria berteriak-teriak memanggil ya hingga tenggorokannya terasa kering.
"Uhuk uhuk...!"
Satria menyalakan lampu. Ia melihat Dio masih tertidur nyenyak.
"Yasmin... setelah sekian lama aku kembali memimpikannya. Apa artinya ini? Ya Allah.. Bila memang kau izinkan, pertemukan kami segera! Kalau pun dia sudah tiada atau telah melanjutkan hidupnya, beri satu pertanda." Satria mengusap wajahnya yang berkeringat.
Ia bangkit untuk mengambil air wudhu. Walaupun ia mantan seorang preman. Tapi sholatnya tidak pernah ketinggalan.
Hal itulah yang kadang membuat Bara kagum padanya.
Satria menenggelamkan dirinya dalam doa yang panjang. Dalam kepasrahannya masih ada secuil harapan untuk bisa berkumpul bersama Yasmin.
"Ayo papa cepetan..!"
"Dio menarik tangan Satria.cia tidak sabar mau ke mall seperti janji papanya.
Selain untuk membayar janjinya pada Dio, dalam hati Satria berharap bisa bertemu Rayyan lagi.
Tapi hatinya merasa kecewa karna bocah tampan itu tidak ada di sana.
"Kenapa aku merasa kehilangan saat bocah itu tidak muncul menemuiku? padahal ada Dio di sampingku..." ia menggumam heran.
Tapi itu tidak berlangsung lama, karna dia langsung larut dalam keceriaan di bawa Dio.
Di tempat Yasmin.
Rayyan masih mendiamkannya. Yasmin merasa pusing tujuh keliling.
"Sifatnya keras seperti Satria!" ucapnya tanpa sadar.
"Tidak ada cara lain, kau harus mengantarnya menemui pria itu, SATRIA." bisik Dilla mengaskan di telinganya.
Yasmin menggigit bibirnya.
__ADS_1
"Buang egomu demi anak mu!" kata Dilla lagi.
Setelah itu Yasmin masuk ke kamarnya.
Dia memakai wig dan kaca mata yang dia pakai bertemu Satria pertama kali.
Dilla tidak bisa menahan tawanya saat melihat penampilan Yasmin.
"Jangan tertawa terus. Dan ingat, jangan panggil aku Yasmin di depannya. Tapi "Yosi"
Dilla berusaha menahan tawanya sebelum akhirnya mengangguk.
"Ray, ayo kita ketemu papa, jangan marah lagi, dong. Mama kan jadi sedih kalau di marahin Rayyan..." Yasmin berpura mengusap air matanya.
"Ray tidak marah lagi..!" ucapnya sambil memeluk Mamanya.
Tapi, kenapa Mama harus kayak gini?" Rayyan memandangnya dengan curiga.
"Ini? Mama cuma pingin menghibur Rayyan biar tidak ngambek lagi" jawabnya beralasan.
Dengan bersemangat Rayyan berjalan mendahului Yasmin.
"Apa ikatan batin di antara ayah dan anak ini begitu kuat, ya?" gumam Yasmin pada dirinya sendiri.
Sesampainya di tempat biasa, Rayyan terlihat kecewa karena tidak mendapati Satria di sana.
Ia hanya duduk menopang dagunya.
"Tuh kan.. Dia tidak akan datang, karna dia bukan papanya Ray." ucap Yasmin gembira karena tidak harus bertemu Satria.
Rayyan hanya terdiam.
Tiba-tiba saja senyumnya mengembang.
"Itu Papa.." Rayyan berlari menghampiri Satria yang sedang mengawasi Dio bermain.
"Papa...!"
"Hay.. Rayyan? Kau datang juga." Satria mengangkat anak itu dan menciuminya.
Beberapa saat setelah menyadari ada yang memperhatikannya. Di merubah mimik wajahnya menjadi serius dan berwibawa.
Ia heran melihat wanita yang tempo hari ditemuinya juga berada di sana.
"Kau? Bukankah kau utusan Yasdesign? Kita sudah pernah bertemu."
Yasmin mengangguk sampai kaca matanya hampir terjatuh.
"Ia benar, pak. Dan saya tidak menyangka kalau yang di maksud anak saya itu adalah bapak.."
Yasmin menunduk menghindari tatapan tajam mata elang milik Satria.
"Jadi, Rayyan ini anak mu?"
Yasmin mengangguk lagi. Ia terus menunduk.
"Sekali lagi saya mohon maaf, biar saya ajak pulang dia sekarang."
Yasmin melihat kearah Rayyan yang memeluk leher Satria dengan manja.
"Ayo, Ray, kau salah. Ini adalah pak Satria bosnya Mama."
Rayyan tidak bergeming dari pangkuan Satria.
Jantung Yasmin berdebar kencang. Aroma maskulin menganggu indra penciumannya. bagaimana tidak? Saat ia hendak meraih Rayyan dari Satria dia harus mendekatkan dirinya ke dada pria itu.
"Aku tidak tau masalah apa yang terjadi dengan papanya Rayyan hingga dia harus memanggilku papa. Tapi aku tidak keberatan kalau dia menganggap ku papanya, selama kau juga tidak keberatan."
"Tentu saja, kenapa pula kau harus keberatan, Rayyan, kan putramu!" batin Yasmin.
"Bagaimana? Ohya, aku harus memanggilmu apa?"
__ADS_1
"Yosi, pak. Panggil saja saya Yosi. Tentu saja saya tidak keberatan, pak, Tapi saya merasa tidak pantas saja." suara Yasmin lirih.
Dilla hanya menyaksikan adegan itu dari tempat yang agak jauh. Ia berdoa semoga ada jalan agar pasangan itu bisa bersatu lagi.