SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 18


__ADS_3

Hari itu Yasmin pergi ke kantor Bram.


Dia merasa telah dikhianati atas kesepakatan yang telah mereka buat.


Bram yang tidak tau maksud Yasmin menyambutnya dengan senyum yang mengembang.


"Apa hubungan Om Bram dengan Om Mizwar?" Yasmin langsung pada pokok masalahnya.


"Duduklah dulu, Om tidak mengerti apa maksudmu."


"Jangan pura-pura bodoh deh, Om. Aku tau apa yang kau lakukan di belakangku."


Bram menyipitkan matanya.


"Coba jelaskan baik-baik." ucap Bram dengan lembut. sangat berbalik dengan sifatnya yang arogan dan tempra mental seperti kesehariannya.


"Om bukanya membalaskan dendam ku, tapi begitu akrab dengan Om Mizwar." ucap Yasmin sengit.


Bram berpikir sejenak,


"Jangan kira Om Bram bisa membodohi aku!" ucap Yasmin kesal.


"Yasmin, Yasmin... Kenapa kau beranggapan kalau aku ada hubungan dengan pria itu?"


"Om tidak perlu tau, pokonya kesepakatan kita batal! Aku bisa melakukannya sendiri." ketus Yasmin.


"Jangan! Dia sangat bergaya buatmu. Aku sengaja mendekatinya sebagai rekan, setelah kami berteman aku akan mudah mencari kelemahannya." jelas Bram, namun Yasmin terlanjur tak percaya.


Ia pergi dari tempat Bram dengan marah.


Yasmin tidak mau kembali ke rumah mewah milik Bram, ia juga tidak ingin menggunakan fasilitas milik Kirana. Ia memutuskan mencari kontrakan kecil-kecilan dengan sisa tabungannya.


"Aku harus mencari pekerjaan untuk menyambung hidup, tapi pekerjaan apa? Kuliah saja masih setengah jalan, keahlian tidak punya." ia berpikir keras.


Yasmin ingat seorang temannya yang bekerja jadi penyayi di sebuah kafe. Dulu Yasmin sering berduet dengannya. dan menurut orang-orang, suaranya lumayan bagus.


Ia berusaha menghubungi temannya itu.


"Wah kebetulan sekali, Yas. Kafe ini mencari seorang penyanyi wanita, kita bisa berduet seperti dulu." ucap temannya saat mereka bertemu dan membicarakan soal pekerjaan.


Mata Yasmin berbinar bahagia, kali ini dia akan menunjuk kan pada almarhum papanya dan tentunya pada Satria bahwa dia mampu hidup sederhana.


"Tapi ya, gitu. Gajinya gak seberapa. Tentunya nilainya sangat kecil buat seorang Yasmin." gurau Bagas.


"Tidak papa... Berapa pun gajinya, yang jelas aku mau bekerja dulu." jawab Yasmin antusias.


"Baiklah, kau bisa datang besok!"


"Serius??" tanya Yasmin tak percaya.


Bagas mengangguk sambil tersenyum.


"Kebetulan pemilik kafe sudah menyerahkannya padaku." saking gembiranya tak sadar Yasmin memeluk Bagas.


"Sorry .. Aku terlalu senang." ucapnya tersipu.


"Santai saja..' kata Bagas tersenyum kearahnya.


Besoknya, Yasmin benar-benar datang sesuai janjinya.


Setelah berbincang sebentar dengan pemilik kafe, Yasmin di sodori surat kontrak.


"Apa ini tidak kecepatan, pak?" tanyanya ragu.


"Tidak, saya percaya sepenuhnya pada Bagas, kalau dia sampai merekrut mu jadi rekanya berarti kamu berkualitas."


"Terima kasih banyak sudah memberi saya kesempatan."


Yasmin menanda tangani kontrak selama tiga bulan langsung.


Sore itu ia merasa deg degan. Sudah lama dia tidak menyanyi.


"Intinya jangan gugup, semua akan mengalir begitu saja." nasehat Bagas.


Seluruh pengunjung kafe itu bersorak dan memberi tepuk tangan yang meriah oleh penampilan Yasmin. Pemilik kafe terlihat puas.


"Kau hebat, lihat saja antusias pengunjung." kata Bagas menyemangatinya.


"Terimakasih, ini juga karna kepiawaian mu bermain gitar." jawab Yasmin merendah.

__ADS_1


Walaupun merasa penat dan lelah, Yasmin sangat menikmati pekerjaannya.


Kabar tantang Yasmin jadi penyayi kafe cepat sampai ke telinga Satria dan Bram.


"Kenapa sih dia memilih jadi penyanyi di kafe? Padahal secara materi dia tidak kekurangan apapun..." pikir Satriavheran.


"Aku harus mencari tau!"


"Tapi...? Buat apa aku masih peduli padanya, dia saja sudah nyaman bersama Om Bram." pikirnya lagi.


Malam itu, Satria sengaja ketempat itu diam-diam. Ia memilih duduk paling belakang, tempat yang cukup terlindung dari perhatian orang.


Bram dan anak buahnya juga datang. Berbeda dengan Satria, Bram duduk di kursi paling depan.


Semua menunggu penampilan Yasmin malam itu.


Di pemilik kafe sangat senang, karna sejak Yasmin bergabung. Kafenya bertambah ramai.


Tepuk tangan riuh menyambut Yasmin.


Yasmin merasa tidak senang saat melihat kehadiran Bram di meja paling depan.


Namun ia juga tidak mungkin membatalkan acara yang sudah tersusun rapi hanya karna kehadiran Bramantyo.


Yasmin begitu menghayati lagu yang sedang di bawakannya.


Tepuk tangan riuh menyambut berakhirnya lagu dari Yasmin.


Satria berdecak kagum, ia tidak menyangka kalau Yasmin punya bakat yang lain selain bakatnya menghambur hamburkan uang.


"Lumayan.. !" ucapnya tanpa sadar.


Yasmin masuk kedalam di ikuti oleh Bram.


"Jangan ikuti aku lagi. Kita sudah tidak ada hubungan!" ucap ya sinis.


"Kau salah paham, dengar dulu penjelasan dari Om."


Yasmin tidak mengindahkannya, ia terus melangkah ke lokernya.


"Tidak perlu penjelasan." Yasmin meraih tasnya dan meninggalkan Bram sendiri.


Beberapa anak buah Bram mengikuti Yasmin keluar.


Yasmin merasakan ada yang mengikutinya, ia semakin mempercepat langkahnya.


Ketika dua orang tak di kenal itu mencoba menangkapnya Yasmin berhasil melarikan diri.


Dua orang pria itu terus mengejarnya sambil menodongkan senjata.


Yasmin yang sedang berlari tak tentu arah itu merasa ada yang menariknya kedalam sebuah gang sempit.


Yasmin hampir berteriak namun Satria memberinya isyarat agar diam karna Para pengejarnya sudah sampai di ujung gang itu.


Tanpa minta persetujuan dari Yasmin.


Satria langsung mengungkung tubuh Yasmin yang mungil dengan tubuhnya yang tinggi besar sampai Yasmin hampir tidak terlihat.


Satria mencium bibirnya. Yasmin begitu kaget. Ia tidak bisa mengartikan perasaanya saat itu. Pria yang di rindukannya kini sedang mencium bibirnya.


Melihat adegan itu si pengejar langsung kembali.


"Gadis itu sudah menghilang, kita lapor saja sama bos."


Ucap mereka dan berlalu pergi.


Satria dan Yasmin masih belum melepaskan ciuman mereka. Sampai akhirnya Yasmin mendorong tubuh Satria.


"Mau cari kesempatan dalam kesempitan.." gerutu Yasmin sambil membenarkan rambutnya.


"Kalau aku tidak melakukannya, kau sudah di bawa oleh mereka..." sergah Satria.


"Sudah di tolong bukannya terimakasih, tapi malah menuduh." ucap Satria lagi


"Nolong sih nolong, tapi gak gitu juga caranya kale.."


"Terserah! Dasar gadis keras kepala!" sungut Satria sambil berjalan menjauh.


"Eeh.. kenapa aku di tinggalin?" Yasmin berlari mengejar Satria.

__ADS_1


"Kenapa masih ngikutin aku? Kenapa tidak minta perlindungan pada Om tersayang mu itu?" ledek Satria tanpa menoleh, ia terus melangkah.


"Tunggu! kau tau darimana tentang Om Bram?" selidik Yasmin sambil menghadang langkah Satria.


"Kau kenal Om Bram?" tanyanya serius.


"Owh Jadi namanya Bram? Keren, ya?" ledek Satria lagi.


"Jangan bercanda!" teriak Yasmin.


Dari kejauhan kedua preman itu melihat kearah mereka.


"Gawat mereka melihat kita." pekik Yasmin.


Satria sudah naik ke motornya yang tidak seberapa jauh dari mereka.


Yasmin langsung naik di belakang Satria.


"Mau pulang ketempat Ini Bram mu yang gagah itu? Aku tidak mau mengantarmu kesana!" suara Satria setengah berteriak.


"Aku ikut kemana saja, asal aman dari Om Bram dan orang-orang nya!" jawab Yasmin.


Satria mengerutkan keningnya.


"Sebenarnya ada urusan apa kau dengannya?" suara Satria sedikit lunak.


"Panjang ceritanya.." jawab Yasmin.


Satria menghentikan motornya di sebuah taman.


Mereka mencari tempat duduk yang nyaman.


"Aku tidak berani pulang ketempat kontrakan ku. Om Bram pasti mencari ku sampai kesana." ucap Yasmin ketakutan.


"Kau tinggal di kontrakan?" tanya Satria kaget.


Lalu Yasmin menceritakan semua kejadian sampai dia harus berurusan dengan Bram.


"Tapi kayaknya aku tidak mungkin ikut pulang kerumahnya, apa kata Kiran nanti..."


"Ayo naik..!"


Walau dengan hati bingung, Yasmin mengikuti perintah Satria.


Satria membawa Yasmin ke hotel.


"Sementara, kau aman disini."


"Lalu kau?" tanya Yasmin spontan.


Satria memandangnya lurus.


"Maksud ku, aku takut sendirian. Om Bram pasti sudah menyebar anak buahnya untuk mencari ku. Bagaimana kalau mereka menemukan ku?" wajah Yasmin terlihat cemas.


"Kau tidak usah khawatir, aku akan menjagamu dari luar. kamar hotel ini sudah penuh, yang tersisa hanya kamar ini saja." jawab Satria.


"Kau masuk saja, aku akan menjagamu dari sini." ucap Satria meyakinkan.


Yasmin menurut, ia masuk kedalam kamar. Tapi hatinya merasa tak enak, ia merasa kasihan pada Satria harus kedinginan di luar.


Ia kembali menyembulkan wajahnya.


"Ada apa lagi?" tanya pemuda itu, ia terlihat sedang menelpon seseorang.


"Aku tidak tega membiarkanmu di luar, sedangkan aku enak-enakan di dalam." ucapnya terbata.


"Jangan khawatirkan aku..!" jawab Satria acuh.


"Kau masuk saja..!" tawarnya ragu.


Satria menoleh heran ke arahnya.


Yasmin mengangguk.


"Aku jamin Kirana tidak akan tau." ucapnya seperti memohon.


Satria tertegun.


"Kenapa dia harus merasa tidak enak pada Kirana? bahkan dia lebih berhak atas diriku ketimbang Kirana..." batin Satria.

__ADS_1


🌷komen dong, like juga jangan lupa say🙏


__ADS_2