SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 28


__ADS_3

Pagi itu Satria bersiap pergi ke kantor dengan suasana hati yang belum membaik.


Yasmin mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk!" jawabnya tanpa melihat siapa yang datang.


"Sebelum berangkat minum dulu susu hangat ini, ini perintah Mama." kata Yasmin seraya berbalik hendak keluar.


"Kau masih marah?" Yasmin berhenti sejenak namun ia melanjutkan langkahnya lagi sambil berkata,


"Aku tidak mau berdebat lagi."


Satria menangkap sebelah tangan Yasmin.


"Aku juga tidak mau berdebat. Aku ingin berangkat ke kantor dengan perasaan tenang."


"Percuma saja kalau kita tidak saling percaya!" ucap Yasmin pelan.


"Aku mohon! Tersenyumlah. Aku tidak akan bisa tenang kalau kau masih marah padaku."


Yasmin mengangkat ujung bibirnya sedikit.


"Sudah tenang?" tanya Yasmin acuh.


"Ini..!" Satria menunjuk pipinya.


Yasmin terbelalak.


"Ayo! Aku belum percaya kau memaafkan aku kalau kau tidak mau melakukannya."


Yasmin maju dan mencium pipi Satria.


"Aku baru percaya kalau kau benar sayang padaku." bisiknya pelan di telinga Yasmin.


Yasmin bergegas keluar, namun ia masih sempat mendengar ucapan Satria.


"Jangan lupa tunggu aku di kafe setelah ini!"


Yasmin terus berlari ke dapur untuk menaruh nampan.


Tapi di dapur ia bertemu Kirana.


"Jangan puas dulu hanya karna bisa membuatkan susu untuk Satria. hanya numpang saja bangga!" sindir Kirana.


"Apa pun yang kau katakan, aku tidak perduli. Ah, ya.. ! Aku tau yang membuatmu kalang kabut seperti ini pasti karena Satria begitu mencintaiku. Ia memilihku. Iya, kan?"


Darah Kirana mendidih mendengar hinaan Yasmin.


"Dan kau bilang apa? Aku menumpang disini? Apa tidak terbalik, tuh? perpisahan mu dengan Satria sedang di proses. Dan secara agama kalian sudah tidak ada hubungan apa pun lagi, jadi jangan coba mengangguku lagi!"


Tangan Kirana terangkat hendak menampar Yasmin. Tapi Yasmin dengan sigap menangkapnya.


"Pelihara tanganmu yang mulus ini dan gunakan pada waktu yang tepat." Yasmin menghentak tangan Kirana dengan keras.


Kirana melihat Satria mendekati mereka.


Ia langsung berpura-pura menyusut air matanya.


"Aku sadar, siapa aku disini? Tapi tidak sepantasnya juga kau mengingatkan aku. Aku merasa sedih.." ucap Kirana dengan nada pelan.


Yasmin heran kenapa dia berubah begitu cepat. Dari yang meledak-ledak menjadi tenang seperti itu.


Yasmin tidak menyadari keberadaan Satria di belakangnya.


"Kau mau akting bagaimanapun aku sudah tau kelicikanmu. jangan harap bisa merebut Sat..."


"Yasmin!"


Suara Satria menghentikan ucapan Yasmin.


"Aku sudah bilang aku tau siapa aku sekarang ini, bukan siapa-siapa mu lagi, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkan mu. tapi dia terus mengingatkanku..." kata Kirana sambil berusaha tersenyum.


Yasmin tercengang, dengan cerdiknya dia membalik kan fakta.


"Tapi ya sudahlah. tidak apa-apa." ucapnya pasrah.


Satria terlihat kesal, ia melangkah sambil berkata,

__ADS_1


"Yasmin ikut denganku!"


Yasmin memandang Kirana dengan wajah tidak percaya.


"Kau lihat?" ucap Kirana tersenyum penuh kemenangan.


"Aku tidak mau menjelaskan apapun. Karna aku tau apapun yang aku katakan, kau tidak akan percaya!"


Satria terlihat bingung. dia mau percaya pada Yasmin, tapi kenyataan yang di lihatnya berbeda.


"Aku mohon, jangan mencari perkara dengan Kirana. Aku ingin proses perpisahan kami berjalan lancar. Bukannya itu juga yang kau inginkan?" ucap Satria akhirnya.


Tanpa menjawab, Yasmin berlalu begitu saja.


"Yasmin...!" teriaknya, namun Yasmin tidak menoleh sedikitpun. Ia terlanjur sakit hati karna Satria lebih percaya pada Kirana ketimbang dirinya. Tanpa sadar Satria memukul tembok karna kesalnya.


Kirana sedang duduk santai di sofa sambil mengobrol.


"Masa kecil Satria seperti apa, sih Ma?" tanya Kirana berbasa basi.


"Ya, seperti anak kecil pada umumnya. Tapi dia keras kepala , dan sampai sekarang keras kepalanya itu masih di pelihara. Buktinya Mama suruh dia pindah kesini tidak mau, entah apa alasannya."


"Mungkin kalau aku yang tinggal disini dia akan ikut kesini, Ma." kata Kirana .


"Iya, juga ya? Sebaiknya kau pindah saja, Kiran. siapa tau seperti perkiraan mu. dia merasa kesepian dan ikut kesini." mereka tertawa begitu akrab.


Kirana mulai menjalankan aksinya.


Ia sengaja menggulir galeri ponselnya,


dengan berpura-pura kebelet pipis, ia meninggalkan ponselnya di depan mertuanya begitu saja.


Bukannya ke toilet, Kirana malah mengawasi Bu Lidia dari kejauhan.


"Ayo, Ma. Periksa ponselku!" ucapnya tak sabar.


Benar saja, Bu Lidia melihat ponsel Kirana masih menyala.


"Ceroboh sekali anak ini." ucapnya, namun matanya menangkap sesuatu yang membuat matanya menyipit.


"Bukannya ini Bram? Dan kenapa ada photo Bram dan Yasmin. Mereka terlihat sedang mengobrol serius."


Bu Lidia langsung meminta konfirmasi.


"Kiran, apa ini? Dimana kamu dapatkan photo- photo ini?"


"Itu dari kafe tempat Yasmin bekerja, Ma.


Tempo hari aku dan Satria sempat menjemputnya disana." jawab Kirana acuh.


Wajah Bu Lidia terlihat tegang.


"Kenapa? Mama terlihat khawatir?"


"Tidak apa-apa." jawab wanita itu, tapi Kirana yakin ada sesuatu yang di sembunyikan nya.


Kirana tersenyum puas.


"Aku hanya perlu menunjukkan artikel tentang kedekatan mereka saja dan Yasmin langsung di tendang!" ucapnya bangga


"Aku kagum pada Yasmin, dia masih muda, tapi relasinya orang-orang besar dan berpengaruh seperti Om Bram itu." kata Kirana lagi.


"Benarkah? Kamu ada bukti lainnya?"


"Ada, Ma. Tapi untuk apa, sih? Menurutku wajar saja kalau dia bergaul. Dia masih lajang, jadi masih bebas memilih pasangannya."


"Mama tidak mempermasalahkan itu, tapi dia sudah berjanji tidak akan dekat-dekat dengan pria itu."


Kirana membiarkan Bu Lidia membaca artikel yang dia simpan.


Disana tertulis bahwa Bram dan Yasmin mempunyai hubungan yang tidak biasa. Yasmin juga sempat tinggal di salah satu apartemen mewah milik Bram.


Bu Lidia langsung shok membacanya.


Ia langsung menuju kamar Yasmin.


"Yasmin, cepat buka pintu!"

__ADS_1


Yasmin merasa heran kenapa Mama Lidia terdengar begitu marah padanya.


"Ini baca!" Bu Lidia meletakkan ponsel Kirana di tangan Yasmin.


"Ada apa ini, Ma?" tanya Yasmin bingung.


"Kamu baca saja.!"


Yasmin mulai membacanya. Seketika wajahnya menjadi pucat.


"Ma, biar aku jelaskan semuanya "


"Aku kecewa sama kamu, mana janjimu?aku tidak bisa seatap dengan orang yang berhubungan dengan manusia laknat seperti Bram."


"Aku mohon, sekarang juga kau pergi dari rumah ini!"


Yasmin tidak di beri kesempatan menjelaskan yang sebenarnya. Kepalanya tiba-tiba pusing dan dia ambruk tidak sadarkan diri.


Bu Lidia ikut panik karena Yasmin tiba-tiba saja pingsan.


Bagaimana, dokter? Apa yang terjadi padanya?" suara Bu Lidia terdengar cemas. Sampai sampai harus memanggil dokter keluarga mereka.


Yasmin juga sudah membuka matanya. ia sendiri merasa heran, kenapa bisa tiba-tiba pingsan.


"Dia tidak apa-apa, hanya kecapean saja."


Jawab dokter itu tersenyum.


"Saya merasa sehat-sehat saja, dok. Tapi kenapa bisa pingsan?" tanya Yasmin heran.


"Tidak usah heran, itu kadang bisa terjadi pada kehamilan trimester pertama.."


"Hamil?" tanya Yasmin dan Bu Lidia bersamaan.


"Iya, mbak Yasmin sedang hamil. Saya akan kasi vitamin. Jangan terlalu lelah."


Yasmin masih belum percaya dengan pendengarannya. Begitu pula dengan Bu Lidia dan Kirana.


Setelah Dokter pergi, Bu Lidia kembali menghampiri Yasmin.


"Aku tidak menyangka kau bisa serendah itu.." tatapannya penuh kemarahan pada Yasmin.


"Ma, ini bukan seperti yang Mama pikirkan.


Memang sangat rumit. Tapi kita tunggu Satria pulang, dia akan menjelaskan semuanya." kata Yasmin. Ia sendiri sangat kaget dengan kehamilannya. Memang dia dan Satria sangat mengharapkan kehamilan itu, tapi situasinya sangat berbeda.


"Apa hubungannya dengan anak ku? Jangan seret Satria dalam masalah ini." ucap wanita itu memohon.


Yasmin tak bisa membendung air matanya.


Ia tak sanggup bicara yang sesungguhnya, tapi dia juga tidak tahan dituduh telah hamil dengan laki-laki lain.


Yasmin mencoba menghubungi Satria.


Namun Kirana merampas ponselnya.


"Aku yang salah, aku minta maaf telah memasuk kan Yasmin kedalam keluarga kita, Ma."


Ucap Kirana.


"Kiran, ayo bicaralah yang jujur tentang hubungan kita bertiga. Jelaskan pada Mama Lidia!" Yasmin memohon.


"Tidak usah mencari pembelaan. Kedokmu sudah terbuka." kilah Kirana.


"Ma, anak yang aku kandung ini adalah anaknya...."


"Mama tidak akan terpengaruh dengan ucapanmu lagi." Kirana cepat memotong ucapan Yasmin.


"Kirana benar.. silahkan kau pergi baik-baik dari sini. Jangan pernah ganggu kami lagi, apalagi Satria...! Mama sangat memohon, jauhi Satria!"


Wanita itu terduduk lemas di lantai.


Yasmin tidak tega melihatnya.


Ia mengangkat wanita yang sudah di anggapnya orang tua kandungnya itu.


"Aku janji, tidak akan menganggu kalian lagi." ucapnya bercucuran airmata.

__ADS_1


Yasmin menatap Kirana sangat lama sebelum akhirnya ia mengemas beberapa bajunya dan pergi dari rumah itu.


Dukungannya Maaak!!


__ADS_2