
Kirana merasa cemas dan penasaran. Ia langsung menemui orang yang pernah di suruhnya menghabisi Edgar.
"Kalian yakin kalau pria itu sudah meninggal saat di buang?"
"Iya, kami yakin."
"Sebelum kalian membuangnya ke jurang sudah pastikan kalau dia tidak bernapas lagi, kan?"
"Ya, karna memang dia tidak bergerak lagi, kami pikir pasti sudah mati."
"Lalu kalian tidak memeriksa denyut nadi atau nafasnya dulu.? Setelah melihat dia tidak bergerak kalian langsung mengartikan n dia sudah meninggal?" Kirana benar-benar emosi dengan kecerobohan orang suruhannya.
"Pasti lah dia sudah mati, siapa yang masih bisa bertahan hidup setelah di tikam tiga kali.." jawab anak buahnya santai.
"Dasar tidak bisa di andalkan!" kalian tau? Semalam dia datang dan meneror ku. Tunggu saja giliran kalian!" ucap Kirana dengan kesal.
Dia meninggalkan tempat itu dengan hati gelisah.
Kalau benar Edgar masih hidup, celaka lah dirinya. Dia pasti akan buka mulut tentang perbuatannya dan tentu saja tentang Dio.
"Tidak!" pekiknya tanpa sadar. Hingga orang yang lewat di sampingnya memandangnya heran.
Ketika ia hendak meninggalkan tempat itu, ia kembali merasa aneh saat mobilnya tiba-tiba kempes, padahal saat dia masuk restoran tadi masih baik-baik saja.
Degupan jantungnya semakin keras saat ia menemukan sebuah pesan lagi di dalam mobil.
..."Aku adalah bayangan dosamu. Dimana pun dan kemanapun kau pergi, bayang bayang dosamu akan terus mengikuti mu...!"...
Kirana merasa stres, ia memegangi kepalanya dan berteriak kencang.
"Aku tidak takut padamu! Apa mau mu sebenarnya!?" Kirana tidak perduli lagi walau banyak mata yang menatapnya.
Dia tidak tau, Edgar Sedang bersembunyi di balik sebuah pohon di tepi jalan.
Dia sedang memantau Kirana.
"Rasakan kau Kiran, kau sudah berani menyuruh orang untuk melenyapkan ku. Aku akan bongkar semua kebihonganmu. Aku yakin Satria akan segera menendang mu.." gumamnya geram.
Ia masih ingat bagaimana malam itu, dua orang yang tidak di kenal tiba-tiba menghampirinya di sebuah bar. Lalu mereka menodongkan senjata dari dalam jaket kepadanya. karna di ancam, ia terpaksa ikut saja saat mereka membawanya ke tepi jurang yang sepi.
Disana mereka menusuk dirinya dengan pisau beberapa kali hingga tubuhnya bersimbah darah dan jatuh tersungkur. Setelah yakin korbannya tidak bergerak lagi. mereka langsung membuangnya ke jurang yang gelap tanpa belas kasihan.
Edgar mengepalkan tangannya saat mengingat peristiwa itu.
Tapi Allah masih berkehendak lain, ia mengirim seorang kakek tua pencari kayu bakar untuk menolongnya. Mungkin Allah membiarkan dirinya hidup untuk membongkar kejahatan Kirana. Beruntungnya Edgar, ternyata si kakek adalah seorang tabib. Selain mendapat perawatan dari petugas puskesmas,nsi kakek merawatnya dengan telaten. Dalam waktu dua Minggu, kondisinya mulai membaik.
Dirinya sempat shock menyadari Kirana mampu melakukan itu padanya.namun perlahan ia bangkit. Ia mulai menyusun rencana untuk membalas kejahatan Kirana.
***
Sementara itu Yasmin langsung menghubungi Dilla.
__ADS_1
Ia semakin kesal karena Dilla bilang Satria membawa Rayyan kerumahnya.
"Tuh, kan... Dia sudah berani membawa Rayyan kerumahnya." dengusnya dengan geram.
Yasmin yang sudah tau alamat rumah Satria. Dia langsung saja menuju kesana.
Tanpa basa basi ia langsung masuk dan nemuin Rayyan.
"Mamah...!" Rayyan memeluknya begitupun Yasmin. Ia menciumi anaknya.
"Kamu tidak apa-apa, Ray? tidak ada yang sakit,kan?" ucapnya sambil membolak balik Rayyan.
"Alhamdulillah, dia tidak apa-apa." ucap Satria yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
Sontak Yasmin terdiam. Ia membalik badannya kearah Satria.
"Ray, bisa main agak jauh sedikit, Nak. Mama mau bicara sama Papa."
Rayyan mengangguk dan langsung berlalu.
"Kau kemana saja? Aku dan Rayyan cemas mencarimu." ucap Satria serius.
Yasmin menanggapinya dengan senyum sinis.
"Cemas? Lalu apa aku harus percaya kau se cemas itu, bukannya kau sendiri yang menciptakan keadaan ini?"
Satria terkejut dengan kata kata Yasmin.
"Tapi Allah masih melindungi ku dari niat licik mu itu, dia mengirim..."
Satria langsung menutup mulut Yasmin dengan sebelah tangannya.
Ia menatap tajam kedalam bola mata Yasmin.
"Kau pikir aku sekeji itu? Aku kira kau sudah kenal diriku, tapi ternyata salah."
Yasmin menghempas tangan Satria kasar.
'Iya, aku memang sudah salah menilai mu, aku tertipu oleh kata kata manismu.!" jawab Yasmin tak kalah kerasnya.
"Kau memang penyebab hadirnya Rayyan di dunia ini, tapi aku mohon, mohon dengan sangat. Jauhi kami.. Jauhi Rayyan! Hanya dia satu-satunya yang ku miliki."
Yasmin luruh kelantai. Airmatanya berjatuhan.
Satria mendengus kesal, ia tidak mengerti kenapa Yasmin justru menuduhnya yang telah menculik Rayyan. Dan parahnya kini dia melarangnya bertemu Rayyan.
Yasmin masih bersimpuh di lantai.
Satria membantunya untuk berdiri.
"Kita bicara baik-baik. Bisa, kan?" tanyanya setelah Yasmin agak tenang.
__ADS_1
Satria mengajak Yasmin duduk di sofa mewahnya.
"Aku tidak tau kenapa kau berasumsi bahwa aku telah menculik Rayyan. aku sendiri bingung, Rayyan bilang dia keluar dari kantor bersama seorang wanita, dan wanita itu bilang padanya kau sedang menunggu mereka di suatu tempat. Lau Dilla bilang kau pergi ke kafe karna di suruh seseorang. Aku menyusul ke kafe itu tapi kau sudah tidak ada. Aku hanya menemukan pesanmu di tisuee. Trus ada orang menelpon ku. dia bilang, kalau aku mau anak dan istriku selamat aku harus ke gudang tua itu sendirian. Aku sudah mengira kau dan Rayyan ada disana. Tapi ternyata tidak, hanya Rayyan, dan dia juga sedang bermain di sebuah tempat. Bukankah itu aneh?"
Satria mengakhiri ceritanya, membuat
Yasmin mengangkat wajahnya.
Tadi ia sempat merasa aneh juga dengan rentetan kejadian yang kisahkan Satria. Tapi ucapan Bram kembali terngiang.
"Aku ikut terharu dengan ceritamu itu..." ucap Yasmin pelan. Satria sudah menarik nafas lega saat Yasmin kembali berkata,
"Tapi sayangnya kali ini aku tidak percaya lagi padamu...,!"
Yasmin melangkah mencari Rayyan dan mengajaknya pulang.
"Yasmin..! siapa yang telah mengotori pikiranmu itu?" teriak Satria tapi Yasmin tidak perduli lagi.
"Ma, kenapa kita harus pulang? Ray suka di sini, kita tinggal disini , ya?"brengseknya pada Yasmin.
Yasmin menatap putranya dalam dalam.
Rayyan masih terlalu kecil untuk mengerti kemelut yang terjadi di antara dirinya dan Satria.
Ia harus menata kalimatnya agar tidak menyakiti putra kecilnya itu.
Dengan senyum lembut ia mengusap rambut Rayyan.
"Kalau Ray mau tinggal disini, boleh kok. Tapi Tante Dilla dan Om Adam akan menangis karena tidak bisa bermain lagi dengan Rayyan. Bukankah mereka sangat sayang pada Ray..?"
Rayyan mengangguk.
"Karena itu, kita pulang dulu.. Nanti kalau Ray mau ketemu papa, Ray tinggal telpon dan papa untuk menjemput..."
Mata bulat Rayyan terlihat senang.
Bocah itu mendekati Satria yang ada di situ juga.
"Papa, Ray pulang dulu. Kasian Tante Dilla dan Om Adam di sana. Nanti kalau Ray kangen Papa, Rayyan telpon, ya."
Satria berjongkok dan merangkul Rayyan. Yasmin memalingkan wajahnya.
"Papa janji, papa akan menjemput Rayyan dan Mama secepatnya. Papa akan buktikan pada Mamah mu kalau Papa tidak seperti yang dia tuduhkan." ucap Satria sambil melirik Yasmin. Yasmin tidak ingin goyah lagi dengan berlama-lama disana. Ia langsung masuk kedalam taksi yang sudah menunggunya.
Satria hanya bisa memandangi kepergian Yasmin dan Rayyan pergi dari hadapannya karena kesalah pahaman yang ia sendiri tidak mengerti.
Ia segera menyuruh Bara untuk memata matai Yasmin. Dengan siapa dia berhubungan. Dari situ dia berharap bisa mendapat petunjuk dari teka teki yang membuatnya pusing itu.
Jempolnya? Komennya mana?
.
__ADS_1
..