SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 50


__ADS_3

Perasaan Yasmin semakin tidak enak, rasa curiga pada Satria semakin menjadi.


Ia berusaha meronta sekuat tenaga agar ikatannya terlepas. Tapi ikatan itu terlalu kuat untuk tenaga seorang wanita seperti dirinya.


Ia kembali memikirkan kenapa Satria terlihat kenal dengan dua orang yang sudah menyekap Rayyan.


"Apakah Satria berpura-pura agar terlihat menjadi pahlawan di mata Rayyan?"


Yasmin merasa Pusing saat memikirkan itu semua.


"Kalau ini semua permainannya, lalu buat apa dia menculik diri ku juga? Apa untuk menghabisi ku lalu hak asuh Rayyan jatuh padanya? Sungguh keji perbuatannya." membayang kan itu, Yasmin mengutuk Satria.


Sedangkan versi Satria. Ia merasa bingung karena Rayyan ternyata baik-baik saja. Dan dua orang yang menunjukkan tempat di mana Rayyan berada juga terlihat bersahabat.


Ia menjadi bingung. Ada apa sebenarnya? Sedangkan Yasmin belum di ketahui keberadaannya.


Setelah membawa Rayyan pulang kerumahnya.


 Ia kembali memeluk putranya itu.


'Ray, kenapa pergi dari kantor papa? Dengan siapa Ray pergi?"


"Dengan seorang Tante,kata Tante itu, Mama sudah nunggu Rayyan. Tapi sampai sekarang, Mama belum datang juga..." jawabnya polos.


"Seorang wanita,? Siapa? apa mungkin Kirana,?" hati Satria bertanya-tanya.


"Ray, coba lihat photo ini. Apa Tante ini yang mengajak Ray pergi?"


Rayyan menggeleng.


"Bukan, Pa! Tante itu rambutnya pendek kayak Mamah." ujar Rayyan lagi.


"Kirana, bukan. Lalu siapa?"


Satria menghubungi Dilla, barangkali Yasmin sudah ada kabar.


Tapi dia kecewa karena ternyata Yasmin belum pulang, ponselnya juga tidak bisa di hubungi.


"Yasmin, dimana kau saat ini?" keluhnya sedih.


Baru saja mereka bertemu dan hampir dekat, kenapa ujian kembali datang menghampiri.


"Hamba lelah jika harus menanti lagi ya Allah..." gumamnya perlahan.


***


Hari sudah beranjak sore saat Yasmin mendengar suara keributan di luar ruangan. Tempatnya di sekap.


Dan beberapa orang dengan cepat membuka ikatan tangannya serta penutup mulutnya.


Yasmin merasa bingung, karena tidak mengenal orang-orang yang telah membebaskannya.


"Kalian siapa?"


"Anda tidak usah banyak tanya, kami hanya menjalankan perintah."

__ADS_1


Saat keluar dari tempat itu, Yasmin melihat beberapa orang yang semula menyekapnya sedang merintih kesakitan di lantai.


"Katakan pada bos kalian si Satria, bos, kami menunggunya!"


Yasmin semakin tidak mengerti. Kenapa mereka menyebut-nyebut nama Satria? Tuhan.. Jangan buat kecurigaan ku menjadi kenyataan." batinnya merintih.


Ia tidak akan sanggup menerima kenyataan kalau Satria yang ada di balik semua yang terjadi.


Dua orang yang menyelamatkannya itu membawanya kesebuah tempat yang cukup bagus.


"Silahkan masuk Nona! di dalam sudah ada bos kami yang menunggu.Tugas kami hanya sampai disini."


Dengan ragu Yasmin meraih handle pintu yang ternyata tidak terkunci.


Yasmin mengarah kan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Tidak ada siapa pun disana.


Yasmin berdiri celingukan.


"Siapa disini? siapa pun kau, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih karna sudah menyelamatkanku." ucap Yasmin setengah berteriak.


Terdengar suara bertepuk tangan dari sebuah meja di pojok.


 Yasmin tidak memperhatikannya sebelumnya.


"Selamat datang cantik... kau masih belum berubah juga, tetap berani, keras dan agak pedas...!"


"Om, Bram?" mata Yasmin melebar sempurna.


"Apa kabar, sayang...?" sapa pria itu mendekati Yasmin.


"Apa arti semua ini, Om? Jelaskan padaku! Aku tidak punya banyak waktu." ucap Yasmin ketus.


Bram menuangkan sampanye ke dua buah gelas. Lalu menyodorkan kearah Yasmin.


"Maaf, aku tidak bisa meminum minuman seperti itu."


Bram meneguk minumannya sendiri.


"Kau pasti bertanya apa yang terjadi, Om juga tidak mengerti, apa maksud Satria menculik anaknya sendiri. Lalu membuatmu cemas dan terus menculik mu pula. Apa yang ingin dia tunjuk kan,? Dan pada siapa?"


"Om yakin, ini ulah Satria?" tanya Yasmin ragu.


"Lalu menurut mu siapa yang bisa melakukan hal keji begini? Dari awal, Om sudah berusaha membuka matamu tentang siapa Satria sebenarnya. Tapi kau sudah di butakan oleh cintamu." Yasmin menelan ludah. Ia belum seratus persen yakin kalau Satria seperti yang Bram bilang. Tapi semua bukti mengarah pada pria yang di cintainya itu. Yasmin bingung memutuskan mau percaya pada Bram atau pada hati kecilnya.


Bram menatap Yasmin tanpa berkedip. Ia kagum pada wanita di depannya. Waktu lima tahun tidak banyak merubahnya, dia tetap cantik dan menggoda seperti saat pertama kali bertemu. Yang terlihat mencolok darinya hanyalah dia terlihat lebih dewasa.


Kalau boleh jujur, Bram tidak bisa melupakan sosok Yasmin. Walaupun banyak wanita yang datang dan pergi dalam hidupnya, tidak ada yang bisa menggantikan Yasmin di hatinya.


Dan ketika dia mendapat informasi tentangnya, sayangnya Yasmin sudah punya anak dan itu dari Satria pula. hal itu sangat melukai hati Bram. Ia mencoba mengadu domba antara Satria dan Yasmin dengan menculik Rayyan lalu membuatnya seolah itu perbuatan Satria. Setelah itu dia menjebak Yasmin di kafe dan membawanya ke suatu tempat.


Dengan tangan dan kaki terikat. Orang-orang yang menyekapnya sengaja menyalakan rekaman aktivitas Satria. Yasmin bisa menyaksikan bagaimana Satria yang bertemu dua orang yang pura-pura menolongnya untuk bertemu Rayyan. Padahal itu anak buah Bram sendiri


 Bram sudah mengatur sekenario begitu rapi hingga Satria yang biasanya cepat tanggap terhadap sesuatu akhirnya bisa kecolongan.


Dari kejadian itu Yasmin bisa berasumsi bahwa Satria lah dalang dari semua itu.

__ADS_1


Dan rencana Bram ternyata sukses membuat Yasmin meragukan Satria.


"Bagaimana manis? Kau sudah paham, kan?"


Bram tersenyum samar. Ia merasa yakin kalau ikan buruannya sudah masuk dalam perangkapnya.


"Aku benar-benar bingung. Semula kupikir ini semua perbuatan Kirana, tapi ternyata..."


"Aku mau pulang..." Yasmin bangkit dari duduknya dengan sempoyongan. kejadian hari ini sudah menguras emosi dan tenaganya. Dengan sigap Bram hendak membantu, tapi Yasmin menolak dengan tangannya.


"Aku masih bisa sendiri."


"Anak buah Om akan mengantarmu pulang." kata Bram.


"Tidak usah, aku bisa naik taksi." sergah Yasmin cepat.


Bram hanya mengangkat bahunya. Ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya,Tentu saja kalau tidak ingin gagal dalam rencananya.


Sepeninggal Yasmin. Bram langsung mengangkat telpon dari Kirana,


"Ada apa? kau menelpon ku terus, sampai tidak tau waktu. Barusan ada Yasmin disini."


ucap Bram langsung saat mengangkat panggilan Kirana.


"Oh, ya? apa yang terjadi?" suara Kirana begitu bersemangat.


"Apa maksudmu? Pikiranmu jangan ngeres.


Aku menghormati Yasmin, karena itu aku tidak mau merusaknya. Aku akan mendapatkan dia tanpa paksaan."


Ucap Bram dan menutup telponnya.


"Cih!" Kirana meludah kelantai.


"Kenapa orang-orang justru mengejar cinta Yasmin? Apa sih hebatnya dia?" Kirana berteriak kasar di kamarnya.


Ting tong,!" suara bel berbunyi. Kirana melirik keluar sebentar.


Bel berbunyi kembali.


"Berisik! pada kemana sih pelayan di rumah ini?"


Karena suara bel tidak mau berhenti.


Terpaksa Kirana yang kedepan membukakan pintu.


Tapi saat membuka pintu, ia tidak melihat siapapun,


"Siapa yang sudah iseng ngerjain aku, ya?" teriaknya dengan lantang.


Tapi saat mau masuk , kakinya terantuk sesuatu.


Kirana mengangkat dan membacanya.


(Bersiap-siap lah menerima balasan dari semua perbuatanmu, aku adalah bayangan dosamu. Salam untuk putraku Dio...)

__ADS_1


Kirana mengeluarkan keringat dingin.


Bukankah Edgar sudah mati,? Kenapa dia bisa mengiri teror padaku? Kirana melipat cepat kertas itu dan membuangnya ke tong sampah. Ia tidak ingin ada yang tau rahasianya.


__ADS_2