
Satria menuruti saran sahabatnya.
Walaupun merasa enggan, akhirnya ia pulang juga.
Bu Lidia menyambutnya dengan wajah cemas.
'Kau kemana saja, Mama khawatir memikirkan mu."
"Seharusnya Mama mengkhawatirkan Yasmin. Kita tidak tau dimana dia sekarang."
"Mama tidak mau membahas tentang gadis itu lagi. harusnya kau bersyukur karena dia sudah pergi jauh dari kita. Dia hanya pembawa aib buat keluarga kita. untung saja semua cepat terbongkar, dan ini semua berkat Kirana..."
Satria semakin yakin kalau Yasmin pergi ada sesuatu yang di ucapkan Mamanya.
"Apa yang Mama lakukan kalau aku bilang kalau anak yang di kandung Yasmin adalah anak ku, darah daging Mama!"
Bu Lidia dan Kirana serentak memandang Satria.
"Itu tidak mungkin!" ucap Kirana.
Ia merasa terpukul oleh kenyataan itu.
"Apanya yang tidak mungkin? Kau tau kalau dia adalah istri pertamaku, dan karna dia pula akhirnya kau menjadi yang kedua."
"Tapi... ?" Kirana menghentakkan kakinya di lantai. Ia merasa sungguh kesal pada kenyataan itu.
"Mama yang tidak percaya! Yasmin sudah sempat tinggal dengan Bram. apalagi dia tidak berani berterus terang. Apa itu belum cukup sebagai bukti?"
"Lalu apa yang Mama katakan padanya hingga dia memutuskan untuk pergi?"
"Mama hanya minta dia menjauhi keluarga kita, terutama kamu."
Satria bertambah geram. Pantas saja Yasmin pergi.
"Entah Mama percaya atau tidak, anak yang di kandung Yasmin adalah cucu Mama!"
Satria berlalu ke kamarnya dengan kesal.
Kirana dan Bu Lidia duduk dengan kesal pula.
"Mama tidak suka Satria begitu terpengaruh oleh Yasmin."
"Aku juga, Ma. Tapi apa dayaku? Satria sudah hendak menceraikan aku"
"Itu tidak boleh terjadi. Kita harus memikirkan cara agar kamu tidak jadi bercerai dengan Satria."
Kirana merasa mendapat dukungan.
Ia merasa sementara waktu hubungannya dengan Satria aman karena Mama Lidia berada di pihaknya.
Sudah sebulan sejak Yasmin pergi meninggalkannya. Satria hanya bisa menahan kerinduannya, Tidak ada lagi ada acara panjat jendela hanya untuk melewatkan malam panas penuh cinta bersama Yasmin.
Kepergian Yasmin membawa separuh jiwanya.
Satria menjadi irit bicara, ia hanya menjawab iya, dan tidak apa pun yang di katakan Mamanya.
Terhadap Kirana pun ia pasrah saat gadis itu menolak perpisahan mereka.
"Aku ingin menemanimu di saat -saat sulit ini, ijinkan aku tetap di sampingmu, aku juga ingin menyembuhkan lukamu. Aku tulus mencintaimu, Sat.. Beri aku kesempatan untuk membuktikannya."
Satria masih terdiam.
"Cobalah memberinya kesempatan, kau tidak akan menemukan cinta yang lain kalau kau tidak membuka hatimu." bujuk Bu Lidia.
Satria hanya mengangguk.
Walaupun ia setuju membatalkan pernikahannya dengan Kirana. Satria jarang pulang. Ia lebih suka menghabiskan waktunya bersama Bara dan anak buahnya yang lain.
Kirana berusaha meraih hati Satria, namun pria itu tetap dingin padanya. Bukan kepada Kirana saja. Tapi kepada semua wanita yang berusaha mendekatinya. Satria seperti batu es yang tidak bisa mencair lagi.
Hingga suatu saat ia memutuskan untuk hijrah keluar negeri.
__ADS_1
"Mama tidak setuju, kau tidak boleh meninggalkan Mama lagi, Sat...!"
"Aku ingin menenangkan diri, Ma."
"Kenapa harus keluar negeri? Disini juga bisa. Kita tidak akan mengganggumu. Iya, kan Kiran?"
Kirana hanya bisa mengangguk pasrah.
"Aku tidak bisa!"
"Lalu sampai kapan kau akan meninggalkan Mama?"
"Aku juga juga tidak tau persis. Mama tidak usah khawatir, masalah pekerjaan aku sudah serahkan pada Bara."
Lima tahun kemudian...
Di sebuah komplek, terlihat seorang wanita yang sudah memakai baju kerja sedang berlarian mengejar bocah laki-laki sambil membawa makanan.
"Ray tidak mau makan!" bocah yang berumur empat tahun itu menutup rapat mulutnya.
"Ayo dong sayang.. Mama akan sedih kalau Ray tidak mau makan, Mau, Mama menangis?"
Bocah itu membuka mulutnya lebar.
"Gitu, dong.. Baru jagoan Mama."
Mereka adalah Yasmin dan putranya Rayyan.
Sejak memutuskan pergi dari rumah Satria, ia mengadu nasib hidup di kota lain.
Dengan perut yang semakin membesar.. Ia mencoba mencari pekerjaan. susahnya tidak ada yang mau menerima perempuan bunting jadi pegawainya.
 Berbagai Yasmin jalani demi melangsungkan hidupnya. Dari menjual sayur keliling, sampai tulang cuci keliling. Apapun dia lakukan asalkan halal.
Ia tetap bersemangat karena bayi dalam kandungannya.
Disaat usia kandungannya mencapai tujuh bulan, seorang pelanggannya menawarkan pekerjaan.
"Iya, saya mau Bu."
Mulai saat itu Yasmin bergabung.
Karna memang dia bakat. Yasmin cepat menguasai pekerjaannya, bahkan dia mampu memunculkan ide-ide baru.
Disaat usia Rayyan satu tahun. Bersama seorang sahabat dekatnya yang bernama Dilla, Yasmin membuka usaha sendiri. Tanpa di sangka usahanya maju pesat.
Usahanya semakin terkenal. Ia mendapat tawaran kerjasama dari beberapa perusahaan.
Nama "Yas Design" yang menjadi brand nya semakin di kenal orang.
Yasmin menyewa tempat yang lebih besar. Iapun harus mempekerjakan lebih banyak karyawan.
Yasmin menitipkan Rayyan pada ibu kost nya yang sudah di anggapnya keluarganya sendiri.
"Yas, Rayyan semakin aktif, mungkin ada baiknya kau masukkan dia di play group."
usul Dilla.
'Kau benar, coba aku carikan tempat yang cocok."
"Kau tidak ingin kembali pada Satria?"
Pertanyaan Dilla membuat Yasmin menarik nafas panjang.
"Aku tidak berani, Dil.."
"Tapi bagaimana dengan Rayyan? Suatu saat dia pasti mencari sosok papanya."
"Aku tau itu, tapi selagi masih bisa di akali, aku tidak memikirkannya." jawab Yasmin.
Tak di pungkiri, terkadang Yasmin merasakan kerinduan yang amat dalam pada Satria. Ia tidak bisa melupakan ayah dari anaknya itu.
__ADS_1
Tapi mengingat betapa Bu Lidia membencinya, membuat Yasmin tidak punya nyali hanya untuk sekedar memikirkannya.
Yasmin semakin sibuk dengan pekerjaannya. Ia banyak menanda tangani kerjasama dengan perusahaan besar. Ia juga sudah bisa menyewa rumah yang cukup layak.
"Dila, bisa tolong anterin Rayyan ke sekolahnya besok pagi? Aku ada pertemuan dengan perwakilan dari sebuah perusahaan baru, tapi cukup di kenal."
"Oh, ya? Syukurlah, akhirnya perjuanganmu selama ini tidak sia-sia." ucap Dilla terharu. Ia sangat tau kisah hidup Yasmin.
"Ini bukan hanya keberhasilan ku, tapi keberhasilan kita." Yasmin memeluk Dilla.
Gadis itulah yang selalu setia menemaninya semenjak ia hidup susah sampai sekarang.
Dia pun menyayangi Rayyan seperti Yasmin menyayanginya.
Pagi sekali Yasmin sudah berdandan rapi.
Ia memoles sedikit wajahnya dengan make up tipis.
Rayyan sampai terpana di depannya.
"Mama cantik sekali, sama kayak Bu guru."
ucap Rayyan sambil mengerjapkan matanya.
"Beneran Mama cantik?" Yasmin berjongkok di depannya.
Rayyan mengangguk lucu.
"Apa Mama mau ketemu papa?"
Yasmin terkejut oleh pertanyaan putranya.
"Ray dapat dari mana kata-kata itu?" tanyanya lembut. ia tidaak mau membuat bocah itu ketakutan.
"Soalnya, teman-teman Ray semua punya papa. Kenapa Ray tidak ada?" pertanyaan polos dari Rayyan itu sukses membuat Yasmin bungkam.
Ia tidak tau cara menjelaskan yang benar pada putranya itu.
Dilla melirik Yasmin sejenak.
Ia tau Yasmin sedang kesulitan mencari jawaban dari pertanyaan Rayyan.
"Papa Ray ada kok..." kata Yasmin asal.
"Dimana?" tanya Rayyan lagi.
Yasmin kembali di buat terdiam.
"Sekarang mungkin kau bisa membohonginya, tapi semakin dia besar. Kau akan semakin sulit menjawab setiap pertanyaan nya." ucap Dilla.
"Papanya Ray... Lagi pergi jauh!"
Bocah tampan itu memicingkan mata seperti kebiasaan Satria.
Segala tingkah polahnya mengingatkan Yasmin pada Satria.
"Kapan datangnya? Ray ingin bermain dengan papa." rengek anak itu.
Dengan susah payah ia membujuk anaknya untuk pergi ke sekolah.
"Kali ini kau masih bisa memberinya jawaban, tapi tidak hari lain. Katakanlah yang sebenarnya." desak Dilla.
Yasmin mengawasi putra ya dengan wajah gelisah.
"Apa tanggapan Satria kalau tau dia sudah punya seorang putra yang tampan dan sangat mirip dengannya, dari rambut, hidung, pipi, bahkan cara jalannya pun sama." desah Yasmin.
Ia bergegas bangkit. setelah memeriksa beberapa berkas yang di perlukan dalam tasnya. ia menjalankan motornya dengan perlahan.
Selalu dan selalu minta dukungannya!!
.
__ADS_1