
Karena merasa Dio sudah baik baik saja, Satria berencana kembali ke kota tempat Yasmin berada.
Kirana merasa panik, apa yang harus di lakukan nya untuk mencegah Satria pergi.
"Kau mau meninggalkan Dio lagi?" tanyanya mendekati Satria.
"Aku tidak perlu bernegosiasi denganmu."
"Aku tau alasanmu ingin pergi dan betah disana. Yasmin, kan?" ucap Kirana berapi-api.
"Baguslah kalau kau sudah tau, jadi aku tidak perlu capek menjelaskannya."
Kirana memukuli dada Satria.
"Kau benar-benar tidak punya hati..!"
"Kalau kau anggap aku tidak punya hati, sudah dari dulu aku mengeluarkan mu dari rumah ini." jawab Satria enteng.
"Lagipula, kau sudah tau konsekwensinya, kau berada disini hanya karna Dio, tidak lebih! Jadi jangan pernah melebihi batasanmu." Satria memegang bahu Kiran dan menatapnya tajam.
"Aduuh, ada apalagi ini?pagi-pagi sudah ribut. Malu kalau di lihat orang." tegur Bu Lidia.
"Mama tanya saja sama dia." Satria menunjuk Kirana.
"Apa salah kalau aku mencemaskan suamiku pergi?" Kirana malah bertanya.
"Tentu saja salah kalau kau memang mempunyai hak untuk itu! Dan mulai sekarang aku perjelas. Aku menceraikan mu Kirana!"
Kirana terbelalak kaget.
" Sekarang secara agama kita sudah sah bercerai. Aku tidak mau mendengar lagi kau menyebut-nyebut hak. kau tidak ada hak atas diriku."
"Sat... Tolong tarik lagi ucapanmu itu." ratap Kirana.
Satria tidak bergeming.
"Sat, aku akan menuruti apapun katamu, aku juga tidak ikut campur urusanmu, tapi jangan ceraikan aku. Bagaimana nasib Dio?"
"Kau tidak usah khawatir soal itu, Dio tetap putraku dan aku akan memenuhi tanggung jawabku."
"Apa tidak ada jalan lain? selain perceraian?"
Bu Lidia begitu merasa terpukul.
Tidak ada, Ma.. Aku sudah mantap dengan keputusan ku."
"Aku tidak mau bercerai, Ma. Aku tidak mau!" tegas Kirana.
Satria hanya terdiam. Ia mencium tangan Bu Lidia lalu pergi.
"Apa kau sudah bilang pada Dio kalau mau pergi?"
"Sudah, Ma."
Sebelum melangkah keluar, Bu Lidia masih sempat berbisik ke telinga putranya.
"Secepatnya bawa Yasmin pulang..!"
Satria hanya mengangguk kecil.
Kirana memasang wajah masamnya saat melihat ibu dan anak itu berbisik bisik.
Ia segera berbalik ke kamarnya saat ponselnya berbunyi.
__ADS_1
"Berita apa yang kau bawa, cepat katakan!"
Kirana masih merasa kesal.
"Nona, tugas kami laksanakan baik, dan semuanya aman...!"
"Tidak meninggalkan jejak kan?"
"Tidak, sekarang kami minta sisa bayarannya."
"Iya, tunggu saja aku transfer."
Telpon ia tutup.
"Bagus, sekarang aku bebas dari masalah yang satu ini, tinggal membereskan masalah yang di sana..." ucap ya tersenyum sini.
Sampai di kota tujuan. Satria langsung menemui Rayyan.
Namun kata Dilla, Rayyan masih di sekolahnya. sedangkan Yasmin ada di tempat kerjanya.
Satria minta ijin untuk menjemput Rayyan.
Dengan bersiul kecil, ia melajukan mobilnya kesekolah Rayyan.
Sampai disana ternyata masih sepi. Hanya ada beberapa Mahmud yang sedang menunggu anaknya.
Dengan santai Satria duduk di salah satu bangku.
Ia tidak perduli dengan para wanita yang berbisik-bisik di sebelahnya.
"Siapa dia? Waah tampan sekali. Pasti orang kaya yang nyasar di sini..." salah satu gunjingan mereka sampai ke telinganya.
Ia cuek saja tanpa perduli sedikitpun.
Disitu terlihat ada keributan.
Seorang anak menangis karna di pukul oleh Rayyan.
Ibu si anak tidak terima.
"Saya tidak terima Bu guru, bagaimana kalau anak saya patah tulang? Saya minta anak ini bertanggung jawab!" ucap si ibu sambil menenangkan anaknya.
"Rayyan benar sudah mendorongnya?" tanya gurunya pelan.
"Bu Siska kelamaan. Kalau di tanya Rayyan ya jelas dia tidak ngaku salah. Dasar anak haram! pokoknya kalau ibu tidak menindak lanjuti kejadian ini, saya akan laporkan pada pada suami saya. Dan ingat, suami saya adalah donatur tetap sekolah ini.!"
"Ray mendorongnya karena dia merebut pensil milik Ray..
Satria yang ikut berkerumun merasa panas karna ibu itu menghina Rayyan dan bilang dia anak haram.
Berkali-kali si ibu mengancam akan berhenti menjadi donatur sekolah itu dan mengatakan kalau Rayyan anak haram. tapi setelah di selidiki dan banyak saksi yang bilang. Memang Rayyan tidak bersalah, ia hanya membela hak miliknya yang di rebut temannya.
Saat itu Satria muncul.
Ia langsung menggendong Rayyan.
"Papa...!" ucapnya gembira.
Semua terpana melihatnya termasuk Siska ibu gurunya.
Semua berbisik -bisik.vmereka tidak menyangka kalau orang gagah dan tampan itu adalah ayahnya Rayyan
"Mohon perhatian semua ! Disini ada perlu di luruskan. Siapa yang bilang kalau Rayyan anak haram? Saya papanya. Kalau sekali lagi saya dengar ada yang bilang seperti itu, akan tau akibatnya!" ancam Satria dengan wajah marah.
__ADS_1
Dengan manja Rayyan memeluk leher Satria. Ia merasa bangga dan senang karna merasa di lindungi oleh papanya.
"Kami mohon maaf atas ketidak nyamanan ini, Pak!" ucap Siska.
Tiba-tiba datang orang yang berdasi dan tergopoh masuk.
"Ma, ada apa nyuruh papa datang?"
Si ibu merasa menang karena suaminya datang.
"Ini, pa.. Anak kita di dorong oleh anak haram itu. Sekarang ada orang yang mengaku papanya.. bilang pada mereka, papa akan berhenti jadi donatur tetap sekolah ini." ucapnya bangga.
Si pria dengan angkuh ya berkata,
"Betul kata istri saya, sekolah ini bisa beroperasi karna bantuan kami.. Jadi kalau kami sudah tidak nyaman lagi tentu saja kami menarik diri." ujar ya menakuti.
Para guru merasa cemas dan membujuk mereka.
Satria tidak bisa bersabar lagi
Ia menelpon Bara.
Tidak tau kenapa, setelah mengangkat telpon dari seseorang, wajah pria sombong itu berubah pucat.
"Kenapa, Pa? Ayo bilang! Kenapa wajah papa ketakutan seperti itu?"
"Ma, ayo minta maaf pada pak Satria." ucapnya terbata.
"Minta maaf gimana? Mama tidak mengerti maksud papa."
"Dia adalah pak Satria, CEO di kantor pusat..."
Satria masih tidak perduli pada mereka.
"Tapi masak Mama harus minta maaf, gengsi lah Pa.." ucapnya merajuk.
"Ayo lakukan, apa kau mau papa di pecat hari ini juga?"
Ya tentu saja tidak, aku tidak mau hidup susah lagi." dengan terpaksa wanita itu mengikuti suaminya bersimpuh di depan Satria sambil meminta maaf.
"Kalian aku maafkan asal Rayyan juga mau memaafkan kalian, bagaimana Ray?"
"Ray maafin, pa. Kata Mama.. Kita harus memaafkan orang yang benar-benar minta maaf pada kita."
"Dengar itu wanita angkuh, anak ku yang masih kecil saja mengerti, tapi kelakuanmu sungguh menjijikan. kau sudah sudah manfaatkan posisi suami mu untuk menekan seseorang."
"Maafkan saya, Pak. Saya bersalah." ucap ya membungkuk.
"Saya masih bermurah hati tidak membawa masalah ini ke ranah hukum. saya bisa saja melaporkan kalian atas tuduhan pencemaran nama baik."
"Ayo, Ray. Kita pulang.."
Dengan acuh Satria meninggalkan tempat itu sambil menggandeng tangan kecil Rayyan.
Semua orang berdecak kagum sungguh sepasang ayah dan anak yang benar-benar mirip, dan sama-sama tampan.
"Mulai sekarang, Ray tidak akan di ejek lagi karena tidak punya papa. Papa akan selalu ada di sampingmu."
"Papa tinggal di rumah Ray saja, sama Ray sama Mama juga..."
Sungguh permintaan polos dari seorang anak yang mendamba orang tuanya bersatu.
Satria hanya tersenyum-senyum mengusap kepala Rayyan.
__ADS_1
"Itu yang papa rindukan, Ray.. Tapi hati Mama mu belum terbuka untuk papa.." ucap Satria dalam hati.