SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 52


__ADS_3

Kirana sedang uring-uringan di kamarnya. Ia membanting barang-barang di dalam kamarnya.


"Om Bram tidak bisa di harapkan, dia terlalu lemah. Akhirnya Yasmin dan Satria punya kesempatan untuk bersatu lagi..." ucapnya geram.


"Baiklah... Karna Satria sudah menceraikan ku, maka Yasmin pun tidak boleh menjadi istrinya."


Kirana meremas bantal yang di pegangnya. Lalu Ia menatap bayangannya di cermin. Ia heran pada Satria, kenapa dia sama sekali tidak tertarik pada dirinya, padahal dirinya begitu cantik. Seksi dan menggoda. Kurang apa coba? Namun matanya terbelalak, dari pantulan cermin yabg mengarah ke jendela. Dia melihat Edgar sedang berdiri menatapnya dengan wajah dan tubuh berlumuran darah.


Sontak dia berteriak dan menutup matanya.


Namun saat membuka mata kembali, bayangan itu sudah tidak ada.


Kirana duduk lemas di ranjang. Ia mengusap keringat yang tiba-tiba saja membanjiri tubuhnya.


"Apakah yang barusan aku lihat beneran Edgar? Atau malah hantunya yang sedang gentayangan?"


Merasa merinding ia berlari keluar.


Tak sengaja dia menabrak Bu Lidia.


"Jiban..? Kapan kau pulang? Dan.. kenapa kau berlari seperti ketakutan begitu?" cecar Bu Lidia dengan pertanyaan.


"Anu, itu, Ma.. Hantu ." jawabnya tergagap sambil menunjuk kedalam kamarnya.


"Hantu? Kau masih percaya hal hal seperti itu!" Bu Lidia merasa heran.


"Iya, sebenarnya ti-dak, sih. Tapi jelas sekali diluar jendela ada hantunya."


"Ah, sampai setua ini, Mama belum pernah tuh melihat wujudnya hantu." gumam Bu Lidia berlalu.


Kirana menggaruk tengkuknya.


***


"Adam, tolong nikahi aku segera...!"


Sontak Adam dan Dilla saling pandang.


Dilla meraba kening Yasmin.


"Aku sehat, aku juga sadar dengan apa yang barusan aku katakan." ucap Yasmin menepis tangan Dilla.


Adam masih belum percaya.


"Kau tidak mau? Kalau begitu aku mau cari calon yang lainnya saja." keluh Yasmin dengan mimik serius.


"Ada apa, Yas? Bukannya aku tidak mau. Tapi permintaan mu sangat aneh." jawab Adam.


"Tidak aneh, kok. Memang sudah waktunya aku move on dari masa lalu."


"Kau bicara begitu bukan ingin menghindari pak Satria, kan?" tanya Dilla dengan wajah curiga.


"Salah satu alasannya memang itu, Dil."


"Bagaimana? Kau mau Dam? aku ingin Rayyan segara punya seorang ayah. dengan begitu dia melupakan Satria."


Adam dan Dilla saling terdiam.


"Apa ini tidak terlalu buru-buru, Yas? Kau menuduh pak Satria yang ada di balik semua ini, tapi itu semua belum terbukti." Dilla mengingatkan.


Terlepas dari dia terlibat atau tidak, Hidup kami akan terus dalam bahaya kalau masih berhubungan dengannya." sesal Yasmin.


"Aku sih, sangat menyayangkan keputusanmu itu." Dilla mengangkat bahunya.


"Kau, Dam? Bisa apa tidak?"


Adam terlihat ragu.


"Aku bisa menyimpulkan jawabanmu.


Baiklah, kalau begitu aku harus mencari calon yang lain."


Obrolan itu berakhir dengan Yasmin yang masuk ke kamar Rayyan. sedikitpun ia tidak ingin lengah menjaga anaknya kali ini.


"Bagaimana menurutmu, Dil? permintaan nya tidak masuk akal. kalau dia mengajakku menikah karna kesadaran penuh dan benar-benar ingin memulai hidup baru denganku, tentunya aku sangat bahagia.


Tapi kalau hanya karna ingin lari dari pak Satria.. Kayaknya aku masih berpikir."


Dilla menggigit ujung jarinya.

__ADS_1


"Aku akan coba berdiskusi dengan pak Satria. Tentu saja Yasmin tidak boleh sampai tau."


Adam mengangguk setuju.


Pagi harinya, Yasmin terbangun oleh suara ponselnya.


Dengan posisi masih memeluk Rayyan, dia meraih ponselnya di nakas.


"Selamat pagi cantik...!" sebuah suara yang amat dikenalnya menyapa lembut.


"Pagi juga,Om." jawabnya malas.


"Bagaimana dengan kesepakatan kerjasama kita? Kalau kau bisa, kau datanglah ke kantorku hari ini."


"Harus, ya Om..?"


"Jangan menunda-nunda hal baik Yas."


Yasmin termenung. Sebenarnya dia harus gembira karena Bram menawarkan kerjasama dengannya. bukan kah ini kesempatan mengembangkan sayapnya setelah gagal menjalin kerja sama dengan perusahaan Satria? Tapi Kenap ia merasa tidak bersemangat, ya?"


"Bagaimana?" desak Bram.


"Liat nanti, deh Om. Pagi ini aku harus mengantar anak aku kesekolah, dan mungkin jam sepuluh baru kelar."


"Tidak apa-apa, jam berapapun kau datang, seluruh isi kantor ku akan menyambut mu." gurau Bram.


"Tidak usah sampe segitunya juga, Om." kilah Yasmin lalu dia memutuskan panggilan Bram.


Setelah memandang wajah Rayyan sebentar ia langsung bergegas mandi.


'"Hari ini aku yang mengantar dan menunggu Rayyan di sekolahnya. Kau boleh bersiap ke tempat kerja." ucapnya pada Dilla.


"Kau yakin?"


Yasmin mengangguk mantap.


Saat itu Rayyan sudah bangun.


Dilla sudah meraih handuk hendak memandikannya, tapi Yasmin menahan tangannya.


"Biar aku saja." Dilla memandangnya heran.


"Mulai deh melankolisnya, sudah sana. mandiin tuh anak mu!" ujar Dilla tertawa.


Yasmin berkata jujur. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Rayyan selagi masih bisa.


"Ok, sekarang anak Mamah sudah cakep.. Tinggal sarapan dan berangkat.." goda Yasmin.


"Ray cakep kayak papa, ya?" celetuk bocah itu.


Yasmin menghela nafas berat.


"Coba Mama perhatikan.." Ia berpura-pura meneliti wajah dan tubuh putranya.


lalu menggeleng keras.


"Tidak ada... Justru Ray lebih mirip ke Mama"


"Tapi kata orang-orang, Ray mirip papa.." ucapnya mulai merajuk.


Ia tak memungkiri kalau Rayyan sangat mirip Satria.


"Ya sudah, kalau Ray lebih suka mirip papa, tidak apa-apa, kok."


Yasmin sadar, tidak mudah menghapus sosok Satria dari otak putranya. Namun ia berjanji akan berusaha sebisa mungkin.


Saat akan keluar, Adam datang menghampirinya.


"Mau kesekolah Rayyan?"


"Iya, aku ingin menemaninya kali ini. Urusan di konfeksi aku serahkan ke Dilla." jawab Yasmin.


Namun ia berbalik saat melihat Adam masih berdiri termangu.


"Dam, kau ikut saja!"


"Aku?"


"Iyaa, untuk lebih mendekatkan diri pada Rayyan."

__ADS_1


"Tapi aku memang sudah dekat dengan anakmu itu, Yang..."


"Sekarang dekati dia sebagai calon anakmu..! Ayo cepat!" Yasmin memaksa hingga Adam tidak ada pilihan lain.


Yasmin dan Adam menemani Rayyan di sekolah hari itu.


"Ray, mana papanya Ray yang ganteng itu?" goda seorang ibu.


Mata Rayyan menatap mamanya, ia seolah meminta penjelasan.


"Bu ibu, yang kalian maksud itu memang papanya Rayyan. Tapi dia sudah pergi jauh dan tidak mungkin kembali lagi. Tapi Rayyan tidak akan sedih karna dia punya papa yang baru."


Yasmin memberi isyarat pada Adam dengan matanya.


"Apa..?" tanya Adam pelan. Ia tidak mengerti isyarat Yasmin.


"Gandeng tanganku..!" jawab Yasmin geram dengan bibir terus tersenyum.


Dengan canggung Adam mengandeng tangannya.


"Kok, jauh beda ya sama papanya Rayyan yang asli. Apa ngga salah, tuh Mba?"


Yasmin menjadi geram karena di ledek oleh gerombolan ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya seperti halnya dirinya.


"Ini semua salahmu,Dam!" ucap Yasmin kesal.


"Lho, kok salahku?" Adam tak terima.


"Ya, salahmu kenapa wajahmu pas pasan begitu. Coba lebih kerenan dikit. Kan ibu-ibu tadi tidak meledek kita." jawab Yasmin ketus.


"Jangan banding-bandingin aku dengan papanya Ray, aku sadar diri kok!" jawab Adam pasrah.


"Aku bercanda, Dam. Masa kau anggap serius."


Adam tersenyum.


"Aku juga bercanda kok. Aku sudah lama mengenalmu, jadi tau mana bercanda dan mana serius mu." mereka kembali duduk sambil membahas berbagai hal.


Satria yang merasa ingin bertemu Rayyan, ia memutuskan untuk ke sekolahnya.


Tapi ia agak kaget saat melihat Yasmin dan Adam disana.


"Dam, kau harus berakting di depannya, kalau kita benar akan menikah." bisik Yasmin saat melihat Satria mendekati mereka.


"Hay..!" sapa Satria.


Yasmin malah membuang muka.


"Selamat pagi, pak..!" jawab Adam gugup.


"Pagi menjelang siang, Dam." Satria menegaskan.


'Oh, iya.. tumben kau menemani Rayyan?"


Satria menatap Yasmin


"Kami, aku dan Adam memang sengaja mengantar dan menunggunya, takut kejadian kemarin terulang lagi. Sekarang dia tidak boleh jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab lagi." ucap Yasmin ketus.


Satria tau kalau Yasmin sedang menyindirnya.


"Owh, begitu."


Yasmin mengangguk tegas.


"Owh, ya.. Kebetulan kita bertemu disini, aku mau memberitahumu langsung. Aku dan Adam akan segera menikah, mungkin dalam minggu-minggu ini." kata Yasmin.


Satria terdiam, ia tidak terkejut dengan drama Yasmin.


"Owh.. Selamat, ya!" ucap Satria singkat.


"Terimakasih.." Adam yang menjawab.


"Satu lagi, tolong jangan sampai Rayyan melihatmu disini, hargai aku. Kalau tidak, aku bisa membencimu seumur hidupku."


Yasmin memohon.


Satria tidak mau berdebat lagi, apalagi tentang Rayyan. Ia lebih mengutamakan kenyamanan Rayyan. Ia mengalah dan beranjak pergi. Namun sebelumnya ia masih sempat berbisik pada Adam.


"Yakiiin sanggup menghadapi kemarahan Yasmin nantinya..?"

__ADS_1


Adam ada bengong sambil menatap Satria yang tersenyum penuh arti padanya.


__ADS_2