SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 21


__ADS_3

Kirana mempercepat langkahnya menuju taksi yang parkir di sekitar tempat itu, niatnya untuk bertemu seorang teman, malah mendapat kejutan yang menyakitkan.


ia benar-benar kecewa dengan perlakuan Satria dan Yasmin.


Kirana termenung memandangi dirinya di depan cermin.


"Satria.. Apa kurangnya diriku? Aku rela meninggalkan kemewahan dan gelimang harta hanya karena ingin bersamamu. Tapi kau campak kan aku begitu saja."


Kirana menggebrak meja. Hatinya benar-benar terluka.


"Aku tidak mau menyerahkan Satria begitu saja, Satria adalah cintaku..!" giginya gemeretak hebat.


"Aku akan berusaha mempertahankan Satria, spa pun caranya. Walau pun harus memakai jalan pintas" ucapnya berapi-api.


Malamnya, Kirana tetap menyambut kepulangan Satria dengan senyum yang di paksakan.


"Kau pasti sudah makan?" tebak Kirana dengan mengangkat kedua ujung bibirnya sedikit.


"Darimana kau bisa tau?"


"Dari kebiasaan mu." jawab Kirana galau.


"Aku ingin bicara sesuatu yang penting!"


Kirana mengangguk sambil menunggu ucapan Satria selanjutnya. Dia sudah bisa menebak, Satria pasti mau membahas soal Yasmin lagi.


Tiba-tiba hatinya merasa muak, ia menganggap gadis itu terlalu munafik dengan berlagak tidak perduli pada Satria, tapi kenyataannya?


"Yasmin sudah menyadari kesalahannya. Dan aku pikir, aku akan memberinya kesempatan sekali lagi...!" ucapan Satria yang pelan namun bagai pisau belati yang menghujam tepat ke jantungnya.


Kirana berusaha menata hatinya.


"Maksudnya?" Kirana menatap Satria tanpa kedip.


"Perbuatan Yasmin memang sangat melukai ku, tapi bagaimanapun, aku sudah berjanji pada almarhum ayahnya kalau aku akan menjaganya. Aku harap kau mengerti."


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Kirana dengan menguatkan hatinya.


"Ini juga yang aku pikirkan. Maafkan aku, aku tidak bisa memberimu kepastian tentang hubungan kita. Kau gadis yang baik, berpendidikan, kalau kau mau, kau bisa melanjutkan hidupmu." ucap Satria hati-hati.


Butiran bening sudah mulai menggumpal di ujung matanya. Namun Kirana tidak mau terlihat lemah di depan Satria.


"Aku tau, semua ini sangat sulit buat kita bertiga. Tapi aku mengerti posisi ku. Aku bersedia lepas dari kehidupan kalian, tapi aku minta waktu untuk meyakinkan Mama." ucap Kirana berusaha tegar. ia tau apa yang harus di lakukannya. Lewat nyonya Lidia ia akan bisa mengendalikan keadaan.


Satria tertegun.


"Kau benar, dalam hal ini Mama tidak akan gampang mengerti." keluh Satria.


"Menurutmu bagaimana jalan keluarnya?" Satria minta pertimbangan gadis di depannya itu.


Kirana berusaha berpikir keras.


"Yasmin boleh kau kenalkan sama Mama, tapi sementara waktu, kenalkan dia sebagai temanku, bulan istrimu."


Satria menoleh kaget.


"Tidak! Mama harus tau yang sebenarnya, Yasmin itu istri pertamaku yang sah." ucap Satria tegas.


"Aku tau, tapi apakah Mama mu bisa mengerti secepat itu? yang dia tau menantunya hanya satu, yaitu aku. Kalau dia sampai tau tentang Yasmin, di akan merasa di bohongi. Lalu kau juga yang kesulitan." kata Kirana lagi.


Sebuah rencana sudah tersusun di benak Kirana.


Satria memikirkan kata-kata Kirana.


"Ya, kau benar juga. kalau begitu, Yasmin akan datang sebagai sahabatmu."


Kirana tersenyum lega.


Satria menemui Yasmin dan menceritakan rencana yang dia susun dengan Kirana.

__ADS_1


Yasmin sedikit heran.


"Kau percaya kalau Kiran bisa menerima semua ini dengan semudah itu?"


"Tak ada pilihan untuk tidak percaya. Dia benar, Mama ku orangnya baik tapi sedikit kaku dalam beberapa hal.


Akhirnya Yasmin setuju menjalankan skenario Kiran sebagai temannya.


Seperti yang mereka duga. Nyonya Lidia datang bertandang kerumah Satria.


"Kiran, Mama datang sayang...!" ia berteriak heboh saat turun dari mobil mewahnya.


"Ini Mama bawain kue, cobain geh. Hasil kreasi Mama sendiri." ucapnya terkekeh.


"Makasih Ma.." ucap Kiran sumringah.


Satria belum pulang, ya..!" matanya menelisik seluruh ruangan.


"Ada kok, Ma. Dia sedang istirahat. Baru pulang dari bengkel." jawab Kiran sambil mengunyah oleh-oleh mertuanya.


"Disuruh ngurus perusahaan besar malah milih kerja di bengkel.." sungut Mamanya.


"Satria sudah bersiap pensiun dari bengkelnya, kok. Dia bilang kasihan pada Mama yang ngurus perusahaan sendirian."


Nyonya Lidia memandang kagum pada Kirana.


"Kau benar-benar Dewi penolong Mama.


Satria hanya nurut omonganmu. Terimakasih, ya sayang."


Wanita itu mengira Satria kembali pada habitatnya semula karna mendengarkan Kirana.


Kirana yang mendapat pujian dari sesuatu buang tidak pernah dia lakukan hanya tersenyum tipis.


"Bagus, Ma.. Kau selalu mendukungku." bathinnya.


Setelah Kirana menghilang ke kamar, nyonya Lidia iseng-iseng melihat dapur menantunya.


"Kasihan menantuku, padahal Satria bisa memberinya kenyamanan sebagaimana layaknya. Tapi dasar bocah keras kepala, apa coba yang ingin dia tunjuk kan dan pada siapa?" wanita paro baya itu terus menggerutu.


Matanya tertegun saat melihat seseorang yang sedang memasak di dapur.


Karena penasaran, ia segera menghampirinya.


Yasmin sedang asik membuat telur dadar kesukaannya tanpa menyadari kedatangan nyonya Lidia.


"Kau?" mulut wanita itu terbuka lebar saat melihat Yasmin.


"Tante? Kenapa ada disini?" balas Yasmin tak kalah kaget.


Mereka tertawa bareng.


Hal itu tak luput dari pantauan Kirana. Ia merasa jengkel karena Yasmin cepat akrab dengan mertuanya itu.


"Ternyata dia Tante terkabul. Kita bisa bertemu lagi. Tapi? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya nyonya Lidia serius.


Sebelum Yasmin menjawab, Kiran sudah datang menjelaskannya.


"Dia Yasmin, Ma. Temen Kiran, sekarang jadi teman Satria juga."


Yasmin menghela nafas berat saat Kirana mengenalkannya sebagai sahabatnya.


"Dia baru pindah ke kota ini sebenarnya dia mau mencari rumah kontrakan, tapi Kiran dan Satria menyuruh nya tinggal disini saja. Lumayan, kan uang buat ngontrak bisa di tabung " jelas Kirana.


Yasmin meneguk salipanya.


"Benar, begitu?" Wanita itu menatapnya intens.


Yasmin hanya mengangguk.

__ADS_1


"Begitu, ya..? Kau kerja dimana?"


"Di sebuah kafe Tante, penyanyi, sebagai penyanyi di sebuah kafe."


Jawab Yasmin mantap.


"Kalian gimana, sih? Satria, kan bisa memberimu pekerjaan yang lebih layak. Besok kau datang kesini!" nyonya Lidia mengeluarkan kartu nama dari tas kecilnya.


"Sahabat dari menantu dan putra ku, kok bekerja di kafe, kau harus kerja di kantoran!" ucapan yang bernada perintah itu tidak bisa di bantah oleh Yasmin.


Kirana tersenyum licik. Memang itu yang ia harapkan. Nyonya Lidia akan memberinya pekerjaan dan membawanya keluar dari rumah Satria.


Malam itu mereka makan bersama.


Kirana merasa gerah karena Satria dan Yasmin sering kedapatan saling pandang. Entah apa yang mereka bicarakan lewat bahasa mata itu .


"Sat, Mama sudah bilang pada Yasmin agar kerja di kantor kita." nyonya Lidia membuka percakapan.


"Bagus itu, Ma!" Satria melirik kearah Yasmin.


Gadis itu terlihat sangat cantik di matanya, walaupun terkesan agak tomboy tapi Satria justru menyukainya.


Yasmin tidak memberikan reaksi.


"Satu lagi.. Mama kesepian di rumah sebesar itu, bagaimana kalau Yasmin tinggal bersama Mama saja?"


Satria langsung tersedak mendengar permintaan Mamanya.


"Tapi..?"


"Kau dan Kiran tidak kunjung mau pulang, jadi biar Yasmin saja yang ikut Mama. lagian,


dengan Yasmin tinggal disini, akan membatasi ruang gerak kalian. Bagaimana merealisasikan keinginan Mama untuk segera menimang cucu?" kata nyonya Lidia enteng.


Namun hal itu membuat Kirana tersipu.


Wajah Satria memerah. Sedangkan Yasmin menjadi salah tingkah.


"Tidak usah malu, sayang. Hal itu lumrah pada pasangan yang sudah menikah." nyonya Lidia mengusap rambut Kirana.


Satria terus memandang Yasmin. Ia takut Yasmin akan tersinggung dengan perkataan Mamanya.


Satria tidak bisa mencegah kemauan Mamanya. Sedangkan Yasmin tidak kuasa menolak keinginan nyonya kaya itu.


Kirana sendiri bersorak kegirangan dalam hati saat rencananya berhasil.


"Cepat bersiap, Tante tunggu di depan!" bisiknya pada Yasmin.


Satria mengikuti Mamanya, ia masih berusaha membujuk Mamanya agar Yasmin tidak usah pindah.


Diam-diam Kirana mengikuti Yasmin ke kamarnya.


"Bagaimana rasanya harus jauh dari Satria? Ucapnya sambil tersenyum licik.


Yasmin tidak merasa kaget dengan ulah Kirana.


"Tidak apa-apa, dengan begitu aku bisa lebih dekat dengan Mama.. Mertuaku!" ucap Yasmin santai.


"Untuk apa kau mengambil hati Mamanya kalau hati putranya tidak bisa kau sentuh." ejek Kirana.


"Tentang perasaan Satria, kau tau sendirilah..


Lagian ambisimu tidak akan bisa mengalahkan kasih sayang yang tulus.


Aku mencintai Satria dan Mamanya juga..!" tegas Yasmin.


Kirana meninggalkan kamar itu dengan kesal sambil membanting pintu.


"

__ADS_1


__ADS_2