
Disaat Satria sedang bingung mencari keberadaan Dio, Kirana sedang berada di sebuah tempat , dia tengah bertengkar hebat dengan Edgar. Edgar tidak sabar melihat keculasan Kirana,: karena itu dia : sengaja muncul di depannya.
"Aku tau kalau kau yang selama ini meneror ku, tapi aku orang terpelajar, mana percaya yang namanya hantu atau orang mati bisa hidup dan menakuti manusia yang masih hidup. Itu trik kuno..!" ucapnya dengan congkak.
"Aku akui kau pintar dan terpelajar. Tapi sayang kepintaran mu kau gunakan untuk hal yang salah."
"Jangan menceramahi ku seperti dirimu orang suci saja!"
"Aku memang bukan orang suci, tapi paling tidak, aku masih punya hati." bentak Edgar.
"Lalu apa mau mu?"
"Hentikan perbuatanmu. Aku tau Satria sudah menceraikan mu, Kita mulai kehidupan baru. Demi Dio."
Kirana tertawa lebar
"Kau pikir aku mau hidup denganmu? Dengar, ya, sekalipun aku berpisah dengan Satria, aku tidak sudi hidup denganmu."
"Tapi Dio adalah anak ku!"
"Benar, Dio adalah putramu. Tapi itu terpaksa aku lakukan agar bisa menjerat Satria saja.
Edgar meradang.
"kalau begitu, aku tidak perduli lagi denganmu, terserah kau mau melakukan apa, tapi serahkan Dio padaku. Aku tidak rela dia di didik oleh ibu yang kejam dan licik sepertimu!"
"Enak saja, Dio adalah anak ku, kau hanya menyumbang setitik cairan saja, selebihnya aku yang punya andil. Enak saja ngaku dia anakmu."
Kirana memutar bola matanya dengan malas.
Edgar menggeleng tidak percaya pada kelakuan Kirana.
Lalu dia menangkap tangan Kirana.
"Mulutmu terlalu pedas, tidak sesuai dengan wajah cantik mu itu." ucap Edgar geram sambil menyeringai.
"Lepas!" bentak Kiran dengan marah.
"Lepas saja kalau bisa.. Aku akan memberi pelajaran yang berharga pada wanita seperti dirimu."
Edgar membelai wajah Kiran.
"Cih ..!" Kirana meludahi muka Edgar.
"Edgar membanting tubuh Kirana di atas ranjang di kamar tempat mereka berdebat.
"Apa kau mau aku mengulang saat-saat kita memproses Dio?" ancamnya dengan wajah sangar.
Kirana memalingkan wajahnya. Ia mengutuk orang-orang nya yang belum juga datang padahal dia sudah mengirim pesan.
"Kau tidak akan bisa berbuat sesuatu padaku karena anak buahku akan segera datang."
Kirana tersenyum licik.
Benar saja, dua orang pria segera datang dan menghajar Edgar.
Kini posisi berbalik. Edgar tak berdaya di tangan anak buah Kirana.
'Ikat dia! Setelah urusan ku selesai, baru kita urus dia."
Setelah itu, Kirana terbang ketempat Yasmin
Sedangkan Dio dia amankan di suatu tempat.
Sampai dirumah sakit, dengan akal liciknya dia bisa masuk ke kamar Rayyan.
Saat itu Yasmin sedang keruang dokter untuk membahas perawatan Rayyan. Di kamar itu hanya ada Adam yang terkantuk-kantuk.
Kirana yang sudah memakai seragam suster bisa masuk dengan leluasa.
Pertama-tama dia membereskan Adam dengan membekap mulutnya dari belakang.
Sapu tangan yang dia bubuhi obat bius sangat cepat bekerja.
__ADS_1
Setelah Adam tidak sadarkan diri, dia beralih keranjang Rayyan.
"Maafkan Tante, sebenarnya kau tidak bersalah dalam masalahku dan Yasmin.
Tapi kau sudah hadir dan menjadi jembatan untuk mereka bersatu kembali. Itu kesalahanmu!"
Rayyan yang sedang tidur tidak menyadari bahaya yang mengintainya.
Kirana mengambil sesuatu dari kantong seragamnya. Dia sudah mempersiapkan semuanya dengan rapi.
Saat hendak menyuntik kan cairan itu ke infus Rayyan. Anak itu menggeliat .
"Mama...!" ucapnya sambil membuka matanya.
Karna Rayyan melihatnya, Kirana menjadi gugup dan spontan mengambil bantal lalu membekap wajah Rayyan dengan bantal itu.
Ia tidak merasa iba melihat tangan Rayyan yang menggapai-gapai seolah minta tolong. Kirana menghentikan aksinya saat mendengar langkah mendekat. Ia meletakkan kembali bantal itu pada tempatnya semula.
Lalu melenggang santai keluar dari ruangan itu. Yasmin berpapasan dengannya tidak jauh dari pintu ruangan Rayyan. Kirana yang dalam penyamaran tentu saja tidak di kenali oleh Yasmin.
Yasmin menoleh pada wanita yang hampir hilang di balik pintu.
"Aku seperti mengenalnya, wajahnya tidak asing bagiku, tapi siapa, ya?"
Tangannya menepis keudara. Ia tidak bisa mengingat sedikitpun.
Saat membuka pintu, ia melihat Adam sedang terkulai lemas di kursinya.
"Huh, dasar tukang tidur.." omel Yasmin seraya mendekati ranjang Rayyan.
"Ray, kenapa wajahnya pucat dan bibirnya membiru?" tanpa pikir panjang. Yasmin berteriak memanggil perawat.
Dia masih gemetaran di pojok ruangan saat Rayyan dapat penanganan.
"Ada apa dengan anak saya?"
"Anak ibu kehabisan oksigen. Kami juga tidak tau penyebabnya apa..."
Yasmin memegangi dadanya. Ia terduduk lemas. Tiba-tiba seorang suster memungut sesuatu dari lantai.
Dokter itu meneliti benda di tangannya.
"Memangnya ada seseorang yang sudah masuk kemari, Bu?" wajah Dokter itu berubah serius.
Yasmin menggeleng.
"Cairan ini sangat mematikan, ini hanya dugaan, ada seseorang yang menginginkan kematian anak ibu." Yasmin tertegun. Ia belum percaya dengan ucapan sang dokter.
"Coba ingat-ingat, siapa tau ibu atau ayahnya punya musuh."
"Saya jelas tidak ada, Dok. Tapi kalau papanya mungkin banyak."
Dilla mengusap wajah Adam dengan air, perlahan pria itu membuka matanya.
"Dam, kenapa kau tertidur? Gara-gara kelalaianmu Rayyan hampir saja celaka .
"Sabar, Dil. biar Adam jelaskan." Yasmin menengahi.
"Aku juga tidak tau apa yang terjadi. aku hanya ingat, ada seseorang yang membekap mulutku dari belakang. Lalu aku tidak ingat apapun."
"Tuh, kan apa kata saya, ada seseorang yang sudah masuk ruangan ini." tukas Dokter itu.
Yasmin merasa shock berat dengan kejadian itu.
"Sat, ada orang yang hendak mencelakai Rayyan." ucap Yasmin sambil tersedu di telpon.
Satria yang mendapat kabar itu begitu murka.
Ia langsung menyuruh Bara mengerahkan anak buahnya untuk berjaga di rumah sakit. Sedangkan sebagian lagi menyebar mencari keberadaan Kirana dan Dio yang bak di telan bumi.
"Mama harus ikut...!" ujar Bu Lidia.
"Tapi, Ma?"
__ADS_1
"Kali ini jangan halangi Mama lagi, cucu Mama dalam bahaya. Bagaimana Mama bisa tenang di sini?"
"Baiklah, ayo Ma!"
Di sebuah hotel bintang lima. Kirana sedang menikmati secangkir kopi pesanannya.
Dia pikir rencananya berjalan mulus. Dia juga berpikir kalau Rayyan sudah meninggal.
"Maaf Yasmin... Selamat menikmati kekalahanmu, menangislah sepuasnya. Dengan senang hati aku akan bertepuk tangan untuk mu." ucapnya sambil tertawa terbahak.
"Dio adalah anak satu-satunya Satria, tidak ada yang lain!" ucapnya lagi sambil berurai air mata. bibirnya bisa tertawa lebar tapi hatinya menjerit histeris karena kenyataan yang sedang di hadapinya.
Sampai di rumah sakit, Bara langsung menghadang Satria.
"Sat, petugas sudah memeriksa cctp di sekitar ruangan Rayyan. di situ terlihat gerak gerik seorang wanita berpakaian perawat yang masuk keruangan Rayyan."
"Selidiki terus. Aku mau menemui Yasmin dulu."
Bara mengangguk hormat pada Bu Lidia.
Yasmin sedang menjaga Rayyan yang masih terlihat lemas dan pucat.
"Sat..!" Satria langsung memeluk Yasmin.
"Tenanglah, aku ada disini." bisiknya.
Satria mendekati Rayyan yang berusaha menyapanya.
"Ini Papa dan Mama , Ray... Jagoan Papa pasti kuat. cepat sembuh, ya!" Satria begitu terharu sekaligus geram melihat keadaan Rayyan, siapa yang sudah tega mencelakai anak semanis putranya ini.
Sementara itu di depan pintu, Bu Lidia tengah berdiri dengan air mata membanjiri kedua pipinya.
"Oh, ya.. Ada seseorang yang sangat ingin bertemu kalian." Satria menunjuk kearah pintu.
Yasmin begitu kaget. Tanpa sadar ia bergumam,
"Mama...?"
Bu Lydia menghampirinya, begitu pula Yasmin
Bu Lidia langsung memeluk Yasmin erat.
"Apakah Mama yang tak berguna ini masih pantas mendapatkan maaf mu?" ucapnya terisak.
"Mama, tidak ada seorang ibu yang bersalah pada putrinya. semua amarahmu adalah berkah bagiku..." jawab Yasmin tersedu.
Bu Lidia semakin tersedu. Ia malu pada Yasmin karna ternyata hatinya begitu besar, dia bisa memaafkan semua kesalahannya.
"Mama janji, akan menjadi seorang ibu yang baik bagi putrinya, bukan baiknya seorang mertua pada menantunya."
Bu Lidia mencium kening Yasmin lalu kedua pipinya. Mereka berpelukan dengan penuh rasa haru.
"Mama tidak tau, kau sudah memberi seorang cucu yang begitu tampan buat Mama." gurau Bu Lidia.
"Anaknya siapa dulu, Ma.." Satria menepuk dadanya sendiri.
Rayyan sudah bisa tersenyum mendengar candaan neneknya.
"Ini Oma, sayang. Omanya Rayyan..." Bi Lidia mencium kening Rayyan.
"Cepat sembuh, Nak. Oma ingin sekali bermain-main denganmu, kita ke mall beli mainan yang banyak."
"Pokoknya Rayyan akan tinggal sama Mama!" kata Bu Lidia yang langsung di jawab oleh Satria.
"Aku juga baru bertemu anak ku, Ma.
Aku juga ingin menghabiskan waktu bersamanya." sergah Satria.
"Rayyan bersama Mama... Titik! Kalian, kan masih bisa bikin adik buat Rayyan, susah amat."
Ucap Bu Lidia sambil membelai rambut cucunya.
Yasmin hanya tersipu mendengar ucapan mertuanya. Apalagi saat Satria menggamit tangannya minta persetujuan atas permintaan Mamanya. Wajahnya semakin memerah. Adam dan Dilla ikut masuk dan merayakan kebahagiaan keluarga Yasmin.
__ADS_1
"