SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 17


__ADS_3

Satria merasa bingung karna Mamanya tau kalau dirinya sudah menikah dengan Kirana.


Kirana juga tak kalah bingungnya.


Ia menurut saja saat nyonya Lidia menuntunnya masuk.


"Kau sedang masak rupanya? Mama jadi lapar, maklum lah pagi-pagi sekali sudah meluncur kesini, belum sempat sarapan." ucapnya cengengesan.


"Ma, aku ingin bicara!" tegur Satria.


nyonya Lidia pura-pura tidak mendengarnya.


"Mama... Jangan pura-pura tidak mendengar."


"Nanti saja bicaranya, sekarang nikmati dulu sarapan mu, Mama juga lapar nih." kata nyonya Lidia sambil memegangi perutnya.


Acara sarapan itu pun berlanjut dengan keseruan Kirana dan nyonya Lidia yang membahas soal masakan.


Lama kelamaan Kirana merasa nyaman ngobrol dengan nyonya Lidia.


Satria merasa di cuekin.


Selesai sarapan, Kirana membawa piring bekas kebelakang.


Hal itu di manfaatkan Satria untuk bicara dengan Mamanya.


"Ma, kenapa Mama bisa membuat muncul disini tiba-tiba?"


"Kemarin Mama mengikuti mu diam-diam. Saat tau kau sudah menikah dan hidup dengan Kirana, Mama bahagia sekaligus kesal. kenapa kau menyembunyikan hal yang sebesar ini? Lalu Mama juga prihatin dengan keadaan kalian, makanya Mama mengirim barang-barang itu." jelas nyonya Lidia dengan santai.


"Harusnya Mama bicarakan dulu sama Aku sebelum melakukan semua ini." keluh Satria.


"Bicara? Jangankan bicara, ingin tau tempat tinggal mu saja kau tidak bolehkan, dan ingat ya.. di kantor kau boleh seorang Bos di depan anak buahnya, tapi disini kau tetap anak Mama yang harus nurut!"


nyonya Lidia bangkit dan menyusul Kirana ke dapur.


"Aduh bagaimana ini? Bagaimana aku menjelaskan pada Mama kalau aku dan Kirana..." Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kiran, Mama pergi dulu. Besok Mama datang lagi kau harus bersiap kita akan pergi shopping, okey?"


Kirana mengangguk senang.


Satria tidak bisa berkata apa-apa saat wanita yang sudah melahirkannya menuju mobilnya dan pergi.


Kirana memandang Satria dengan pandangan heran.


"Ok, aku akan ceritakan semuanya."


Kirana duduk di meja makan. ia menanti penjelasan Satria selanjutnya.


Satria menceritakan semua nya kenapa dia sampai pergi meninggalkan rumahnya, kerajaan bisnisnya, dan Mamanya yang menangisinya setiap hari.


Kirana memandang Satria tak percaya.


"Jadi kau..?" Kirana tidak bisa meneruskan kata-katanya.


"Maaf, aku tidak bisa berterus terang."


"Apakah... Yasmin tau semua ini?"


Satria menggeleng.


"Pertemuanku dengan Yasmin juga karna tidak aku rencanakan. Melainkan almarhum papanya minta aku menikahinya untuk merubah sikapnya yang manja dan arogan.


Yasmin maupun papanya tidak diriku sebenarnya. mereka taunya aku hanya anak bengkel."


"Setelah tau kebohonganku, apa tanggapanmu? Kalau merasa aku bodohi dan tersinggung aku maklum. Dan sekalipun kau mau mengakhiri kebersamaan kita ini, aku juga pasrah."

__ADS_1


Kirana memalingkan wajahnya.


Sebenarnya Satria berharap kalau Kirana tidak terima lalu minta berpisah. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.


"Aku memang merasa di bodohi, tapi kalau sampai berpisah, aku juga tidak bisa. Aku akan berusaha menerima Satria yang sebenarnya, Satria yang sekarang." jawab Kirana mantap.


Satria memasang senyum yang di paksakan.


Satria merasa masalahnya semakin rumit saja.


Semenjak saat itu, Kirana semakin akrab dengan nyonya Lidia. Hal itu membuat Satria cemas, bagaimana ia bisa melepaskan Kirana kalau Mamanya sudah ikut campur?


Seperti Dia g itu, nyonya Lifia menjemput Kirana, mereka Shopping bersama.


"Kau boleh memilih apa saja yang kau mau, Mama traktir. Kau pasti sangat menderita karna Satrio tidak bisa memenuhi kebutuhanmu, iya, kan?"


"Tidak begitu, Ma. Aku senang dengan kehidupan kami sekarang ini."


Jawab Kirana.


Nyonya cantik di depannya itu tidak tau kalau menantu yang di anggapnya susah itu adalah


Seorang wanita kaya raya.


"Owh manis ya..." ucap nyonya Lidia mengagumi menantunya.


"Terus ceritakan dong gimana pertama kali kalian bertemu, pasti dramatis."


Kirana menelan ludah yang terasa pahit.


"Kenapa? Keberatan kalau Mama, tau?" desak wanita itu.


"Bukan begitu, Ma. ceritanya panjang, nanti lah Kiran ceritakan." Kirana memasang senyum yang paling manis yang dia punya.


Jantung Kirana berdebar kencang, mertuanya bertanya tentang awal pertemuannya dengan Satria? Oh tidak!


Kirana ragu, apakah perlakuan mertuanya akan tetap sama setelah mendengar kisah yang sebenarnya.


"Kiran, Mama lapar... Kita makan yuk!"


Kiran mengangguk, ia senang karna nyonya Lidia melupakan pertanyaannya.


Mereka mencari tempat makan yang lumayan mewah.


Kirana mengikutinya dari belakang.


"Ayo kita duduk disana!" Kirana mengikuti mertuanya ke sebuah meja.


"Kamu pesan makanannya, Mama mau ke toilet sebentar." bisik wanita butuh tersenyum manis.


"Baik, Ma."


Nyonya Lidia melenggang ke toilet, namun ia hampir terjatuh karna disenggol orang tak di kenal.


Untungnya ada seseorang yang menangkap tubuhnya.


"Kalau jalan pakai mata, dong!"


"Saya sedang tergesa." jawab orang yang menabrak tadi sambil berlari.


" Dasar tidak bertanggung jawab!" omel gadis tomboy bertopi itu.


"Tante tidak apa-apa?" ia beralih kearah orang yang di tolongnya.


"Tidak apa-apa.. Terima kasih sudah menolong Tante."


Gadis itu tersenyum.

__ADS_1


"Lain kali, kalau ketempat ramai kayak gini ajak putra atau putrinya, jadi dia bisa menjaga Tante saat seperti tadi." ucapnya sambil mengambilkan tas nyonya Lidia yang tergeletak di lantai.


Nyonya mengangguk.


"Kau benar, tidak baik berjalan sendirian disini." ia membenarkan ucapan gadis itu.


"Lupakan saja, Tante. Saya hanya asal ngomong kok. Maaf, ya!" gadis itu berlalu dari hadapannya.


"Hem.. gadis yang unik, tapi menarik." nyonya Lidia tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


Sementara itu, Kirana yang sedang menunggu mertuanya. ia sedang asik memilih menu makanannya saat matanya tertumpu pada sosok Yasmin yang juga sedang di tempat itu.


Yasmin duduk lumayan jauh dari meja Kirana.


"Ngapain Yasmin disini? Jangan sampai dia melihatku bersama Mama Lidia. Gawat..!" pikir Kirana.


'Aku Haris membawa Mama Lidia menjauh dari sini." gumam Kiran dan melangkah tergesa dari tempat itu.


Nyonya Lidia heran karna tidak mendapati Kiran di mejanya lagi.


(Ma, tiba-tiba aku sakit perut, aku tunggu di parkiran, ya.) pesan dari Kiran membuat kening nyonya Lidia berkerut.


"Kenapa anak itu? Apa dia bingung karna baru kali ini masuk ketempat mewah dan ramai seperti ini? Salah ku juga membawanya kesini, dia belum terbiasa."


Nyonya Lidia sudah hendak keluar saat ia melihat Yasmin di sana.


"Hey.. Lagi makan juga?" sapanya dengan ramah.


"Iya, Tan. Tante mau makan juga?"


"Tadinya, tapi anak mantu tante tiba-tiba sakit perut. dia sudah menunggu di parkiran katanya."


"Oh gitu."


"Tante duluan, ya.. semoga kita bertemu lagi."


Yasmin hanya tersenyum melambaikan tangannya.


"Baik sekali Tante itu, seandainya Mama masih ada..." wajahnya berubah sendu saat mengenang orang tuanya.


"Kiran, kau masih sakit perut? Kita ke dokter?"


Tanya nyonya Lidia khawatir.


"Udah mendingan, Ma. Maaf.. Gara-gara Kiran Mama jadi batal makan." ucap Kiran menyesal.


"Sst.. Jangan berkata begitu, masalah makan bisa kapan dan dimana saja, tapi kalau kamu sakit? Mama takut di marahin Satrio kalau sampai kenapa-kenapa."


Kirana sangat tersanjung dengan perlakuan mertuanya. Ia merasa tidak rela untuk membaginya dengan siapa pun termasuk Yasmin.


"Tadi Mama bertemu seorang gadis, dia menolong Mama yang hampir terjatuh."


nyonya Lidia bercerita.


"Oh, ya Ma? Baik sekali dia. siapa namanya?" jawab Kirana iseng.


"Iya, Mama lupa menanyakan namanya. Padahal dia sangat manis, pedas tapi lembut."


Ucap nyonya Lidia sambil mencoba mengingat kejadian tadi.


Bayangan Kirana melayang pada Yasmin.


"Pedas, lembut... Itu mirip karakter Yasmin. Jangan-jangan.. Mereka sudah sempat bertemu." bathin Kiran khawatir.


"Jangan sampai mereka bertemu, jangan sampai Mama Lidia jatuh cinta pada gadis itu. Itu tidak boleh terjadi!" pergolakan bathin Kirana begitu hebat.


Favorit dong!!

__ADS_1


__ADS_2