
"Yasmin, tinggallah bersama Om, kau boleh pilih apartemen mana yang kau sukai.. Tinggal sendiri sangat berbahaya." Bram membujuk Yasmin malam itu.
Sebenarnya dia melakukan itu karna khawatir kalau Satria akan mendekati Yasmin kembali.
Namun Yasmin terlihat kurang suka.
"Aku tidak suka di atur, dimanapun aku tinggal.. Itu terserah padaku. Om Bram tidak berhak mengatur ku." jawab Yasmin ketus.
"Maksud, Om. Akan sangat berbahaya buat gadis seperti mu tinggal sendiri." ulang Bram lagi.
"Aku tidak takut apa pun lagi, Om."
Yasmin membenarkan posisi duduknya, lalu berkata lagi,
"aku berada disini hanya karna kesepakatan rahasia kita.." ucap Yasmin setengah berbisik.
"Baiklah, Om tidak akan memaksamu lagi."
Ucap Bram sambil menelan ludah.
Dalam hati dia sangat mencemaskan kalau Yasmin dan Satria bertemu, habislah harapannya. Ia merasa terlanjur menyayangi gadis itu. Tapi kalau dia terus terang tentang Satria juga tidak mungkin. Bram merasa serba salah.
'Atau ada sesuatu yang Om sembunyikan dari ku?" selidik Yasmin saat melihat Bram duduk dengan gelisah.
"Tentu saja tidak, mana berani Om menyembunyikan sesuatu darimu." ucapnya sambil tersenyum.
Yasmin kembali meneguk minuman di depannya. Semula dia tidak bisa minum minuman beralkohol, tapi semenjak frustasi karna Satria ia mulai terbiasa.
Yasmin kembali hendak minum saat tangan Bram menahannya.
"Sudah cukup! Kau bisa mabuk."
"Jangan remehkan aku, aku masih kuat beberapa gelas lagi..." ucapnya sambil tertawa kecil.
Yasmin memang mulai hilang separuh kesadarannya.
Bram merampas paksa gelas dari tangannya. Namun Yasmin meronta.
"Aku masih kuat minum, ayo kita minum lagi, Om.." teriaknya.
Bram memapah gadis itu menuju mobil. Yasmin yang setengah sadar menurut saja.
Pemandangan itu tak lepas dari sepasang mata yang menatap dengan penuh kebencian.
"Awas kau..! Anak kemarin sore mau merebut Bram dariku?" gumam seorang perempuan cantik yang sedari awal memperhatikan gerak gerik mereka.
Wanita itu mendekati Bram.
"Mas Bram, siapa gadis itu?" tanyanya dengan raut wajah tidak suka.
Bram belum menjawab.
"Pantas saja beberapa hari terakhir ini kau susah di hubungi, ternyata sedang asik dengan cewek ingusan ini!" ucap wanita itu dengan nada meninggi.
"Ayo, kita jalan lagi..!" Bram kembali memapah Yasmin yang linglung.
"Jangan pergi dulu, kau belum menjawab pertanyaan ku." sergah wanita itu dengan berani.
__ADS_1
Bram menghentikan langkahnya.
"Jangan pernah berani mempertanyakan apa yang aku lakukan. aku tidak pernah memberimu hak untuk itu, jadi jangan melewati batasanmu!" ucap Bram tegas penuh penekanan. Setelah berkata demikian ia kembali melangkah tanpa perduli pada Chaterine, wanita yang selama ini dekat dengannya.
"Berani sekali dia mencampak kan aku setelah menemukan daun muda. Awas kau Bram." ucapnya marah.
Bram membaringkan Yasmin di tempat tidurnya.
Gadis itu masih sempat mengigau tentang Satria.
"Aku menyesal, aku sangat menyesal.. kau benar, semua harta dan kekayaan tidak ada artinya tanpa ada cinta sejati. Maafkan aku, Satria.."
Sebelum akhirnya dia tertidur pulas.
Bram menyibak rambut yang menutupi wajah Yasmin.
Ia memandanginya begitu lama, sebelum akhirnya dia bangkit hendak meninggalkan kamar itu.
Bram menerima telpon dari anak buahnya.
Ia begitu marah saat mengetahui Satria dan anak buahnya mengambil alih beberapa tempat hiburannya...
"Sial..! Awas kau Satrio, aku akan bikin perhitungan denganmu." ucap ya sambil menggebrak meja.
Giginya gemeretak menahan amarah.
"Aku tidak mungkin menghadapi Satrio secara langsung. Yah.. Aku akan menghancurkan bocah sombong itu lewat mamanya..!"
Bram menggeram hebat.
Sementara itu di tempat lain, Satria dan beberapa anak buahnya sedang melakukan pembersihan di daerah yang baru mereka rebut kembali.
Bara sampai mencolek lengannya.
"Kenapa kau beri kebebasan pada pengikutnya Bram? kau lupa kekejaman mereka pada orang-orang kita?"
"Aku tidak lupa, bahkan aku masih ingat dengan jelas. Tapi kalau kita melakukan hal yang sama, apa bedanya kita dengan mereka?
Ini caraku sekarang, kalau diantara kalian ada yang tidak suka, cari saja pemimpin yang lain!" tegas Satria dengan suara lantang di depan anak buahnya.
"Bukan itu maksud ku, Sat. Baiklah, mulai sekarang kami akan mendukung semua kebijakan mu." ucap Bara memohon maaf.
Dan semua yang hadir setuju dengan sikap Satria itu.
Bahkan banyak dari anak buah Bram yang memilih ikut dengannya.
Setelah merasa urusannya selesai. Satria minta diri untuk pulang duluan.
Sampai di depan club itu, Satria tertegun melihat mobil mewah lengkap dengan sopir sudah menunggunya.
Satria memandang Bara yang berjalan di belakangnya.
Satria mengangguk hormat.
"Ini layak untuk bos baik hati sepertimu."
"Maaf, Bar. Untuk sementara, aku belum bisa memakai fasilitas mewah seperti ini. Aku masih punya misi pribadi yang belum terselesaikan."
__ADS_1
"Tapi, Sat...?"
Walaupun Bara memaksa, tapi Satria kukuh menolak.
Bara hanya menggeleng heran pada sikap Bos yang sekaligus sahabatnya itu.
Satria kembali ke rumah sederhananya, dimana Kirana sedang setia menunggu kedatangannya.
"Kau kemana saja? ponselmu tidak aktif, aku sampai takut kau kenapa-kenapa." rajuk Kiran.
Satria tersenyum kecil.
"Memangnya aku kenapa? Ponsel tidak aktif bukanya menandakan seseorang akan kenapa-kenapa."
"Tapi tidak salah, kan aku khawatir pada suamiku?" Kiran semakin berani menyinggung status mereka.
Satria terdiam sejenak.
Kirana melirik ekspresi Satria.
Pria itu menggeleng.
"Kau tidak salah.." jawab Satria akhirnya.
Wajah Kirana berseri.
Dengan gembira ia menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Satria tak tega membuat gadis itu kecewa.
Menurutnya Kirana terlalu baik untuk merasakan kecewa.
"Sat, bukannya aku bermaksud merendahkan profesi mu sekarang ini. tapi, siapa tau kau berminat. Perusahaan peninggalan ayahku sangat membutuhkan seorang yang ulet dan gigih seperti mu. Apa kau tidak tertarik untuk bekerja di kantoran?" tanya Kirana hati-hati. Ia sangat takut menyinggung perasaan Satria.
Satria langsung menggeleng.
"Aku menikmati pekerjaanku yang sekarang, walaupun di mata banyak orang pekerjaan itu rendahan, tapi aku suka." jawab Satria sambil terus mengunyah makanannya.
"Aku tidur dulu, ya! capek rasanya." ucap Satria sambil menguap panjang.
"Mau aku pijatin, begini-begini aku jago lho, dulu papaku sangat candu dengan pijatan ku." ucapnya bangga.
"Owh, tidak usah, terima kasih. Aku takut kecanduan seperti papa mu." jawab Satria bergurau.
"Bagaimana aku tidak candu kalau badanku di gerayangi tangan Kirana? Walaupun tidak perasaan istimewa untuknya, tapi.." pikiran Satria mulai mengembara.
Ia tak ingin berlarut-larut, karenanya ia segera masuk ke kamarnya.
"Kecanduan juga tidak apa-apa Sat.. Malah itu yang aku harapkan. Aku ingin mencairkan hatimu yang sedingin gunung es." gumam Kirana sendirian.
paginya, Satria pamit pada Kirana untuk ke bengkelnya. Tapi setelah agak siangan, ia keluar dan menuju kantor mamanya.
Namun di tengah perjalanan. Ia menerima telpon dari Bara bahwa dia sedang melihat Yasmin di ikuti seorang pria.
"Kau awasi mereka, aku segera datang!" perintahnya pada Bara.
Sampai di tempat, Satria melihat Yasmin sedang duduk mengobrol dengan seorang pria. Satria dan Bara mengawasinya dengan diam-diam.
__ADS_1
.