SUAMI YANG TERGADAI

SUAMI YANG TERGADAI
Episode 38


__ADS_3

"Bar, temani aku jalan- jalan sore ini.." ajak Satria dengan mimik serius.


"Jalan-jalan?" Bara seperti tak percaya.


Satria mengangguk pasti.


Bara masih menatapnya dengan curiga.


"Kenapa? Aneh?" ulang Satria.


"Sangat aneh! Biasanya setelah urusan selesai, kau akan buru-buru ngajak pulang ke jakarta."


Satria tersenyum tipis.


Tentu saja dia tidak mau mengatakan pada Bara bahwa yang merubah kebiasaannya itu adalah Rayyan, si bocah misterius.


"Tu, kan. Kau malah senyum. Aku curiga pasti ada apa-apanya?" di saat itu Kirana muncul di antara mereka.


"Boleh aku gabung?" ucapnya ramah.


"Owh tentu saja.." Bara yang menjawab.


Satria hanya acuh, ia terus menandatangani Beberapa berkas yang ada di depannya.


"Emmm tadi aku dengar kau bilang ada yang curiga, curiga apaan?"


"Bukan urusanmu!" sela Satria cepat.


Kirana terdiam.


Melihat itu, Bara merasa tidak enak.


"Gimana kalau kita ngopi saja. Aku pesankan, ya?"


Bara menatap Satria dan Kirana bergantian.


Ia berusaha mengurai kecanggungan di antara mereka.


"Boleh." jawab Kiran. Namun Satria diam saja.


Bara menelpon ke bagian pantry untuk membawakan tiga gelas kopi panas.


Di saat yang sama Yasmin sampai di sana untuk menyerahkan hasil analisisnya kemarin.


Dengan gelisah dia berdiri di depan ruangan Bara.


"Mbak mau. Ketemu pak Bara?" sapa seorang wanita seusianya.


Yasmin mengangguk.


"Saya mau menyerahkan berkas laporan ini."


"Pak Bara sedang di ruangan pak bos. letakkan saja di mejanya!"


Yasmin menggigit bibir.


Dia merasa tidak enak harus masuk tanpa ada yang punya ruangan.


Ia memutuskan duduk menunggu di luar.


Sambil menunggu ia membuka ponselnya.


Membuka galeri dan menggulir nya.


Semua isinya adalah photo-photo Rayyan sejak bayi sampai usia hampir lima tahun.


Ia mengamati Photo dirinya yang sedang memeluk putranya itu.


Tapi tanpa sengaja seseorang menyerempet ponselnya hingga terjatuh.


Yasmin cepat-cepat mengambilnya. Namun ia kalah cepat dengan tangan seseorang yang menyerempetnya.


Ia mendongak saat melihat tangan yang menyodorkan ponselnya itu adalah Satria.


Yasmin menerimanya.


"Hati-hati.. Ini tempat umum."


"Terima kasih, Pak." ia mengamankan ponsel itu dengan cepat.


"Kau datang untuk menyerahkan laporannya, kan?"


Yasmin mengangguk.


Ia masih gemetaran karena khawatir Satria akan melihat Photo dirinya bersama Rayyan.


Satria melangkah keluar.


Tiba-tiba ia berubah pikiran.


Ia menoleh kearah Yasmin.


"Tinggalkan laporannya, dan kau ikut aku!"


Yasmin menoleh kanan kiri. Kebetulan tidak ada orang lain di dekatnya.


Dan memang Satria sedang bicara dengannya.


"Saya, pak?" tanyanya tak percaya.


Satria tidak memberinya kesempatan untuk bertanya.


beberapa saat kemudian, mereka sudah berada dalam satu mobil.

__ADS_1


Satria sengaja tidak memakai sopirnya.


Yasmin gelisah ia khawatir tahi lalat palsunya terjatuh karna grasa grusu tadi.


"Pak, saya duduk di belakang saja, ya?" ucapnya memelas.


"Kau pikir aku sopir mu? Duduk dan diam lah!"


Pria itu menyuruhnya memasang sabuk pengaman.


""Pegangan yang kuat!"


Setelah berkata demikian, mobil itu melesat menuju kearah luar kota.


Yasmin sampai memejamkan mata karna Satria mengebut di jalan raya.


"Pak, kita bisa mati sia-sia karna ulah bapak ini!" teriak Yasmin.


"Biar saja aku mati,"


"Kalau bapak mau mati, mati saja sendiri! Jangan ngajak- ngajak, saya masih punya anak kecil!"


Tiba-tiba Satria mengerem dengan mendadak membuat Yasmin meringis memegangi dahinya yang terpentok.


Satria terdiam.


Yasmin menata nafasnya yang memburu.


"Bapak, mau bunuh diri, ya?" tanya Yasmin kesal.


"Ayo turun!" tanpa menjawab Satria malah mengajaknya turun.


Yasmin merapikan rambut palsunya sebelum akhirnya melangkah turun.


Yasmin tak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi padanya?


Mereka berada di tepi sebuah pantai yang indah.


Buih yang memutih bergulung seakan berebutan mencapai tepian.


Satria menatap ketengah lautan luas.


"Disini sangat tenang...!" ucapnya lirih seakan pada dirinya sendiri.


Yasmin tidak mengerti maksud ucapannya.


Perlahan ia mendekati pria itu.


"Memang sangat tenang... Tidak ada kebisingan, tidak ada masalah" ucapnya mengulangi kata-kata Satria sambil merentangkan tangan dan menghirup udara sepuasnya.


Satria menoleh jengah pada wanita di sebelahnya.


"Apa kau mengerti rasanya kehilangan? apa kau tau rasanya kesepian di tengah keramaian?" tatapan matanya yang tajam seakan menembus langsung ke jantung Yasmin.


Yasmin menggeleng.


Ponsel di saku Satria berdering. Saat tau ada mama Kirana yang tertera, ia menaruhnya kembali dengan malas.


Namun ponsel itu terus berisik minta di angkat.


"Ada apa?" tanya Satria dengan suara berat.


"Kata seorang karyawan, kau pergi dengan wanita cupu itu?" suara Kirana terdengar tidak suka.


"Apa urusanmu?" jawab Satria tersenyum sinis.


Yasmin bisa menebak kalau yang menghubungi Satria adalah Kirana.


Ahh... Kenapa lingkaran masa lalu itu datang kembali menghampiri nya. Yasmin mendesah pelan.


"Aku hanya ingin tau, dan sangat lucu kalau kau mengabaikan aku dan lebih memilih wanita itu." Kirana masih menjelekkan Yasmin.


Hal itu membuat Satria semakin ilfil padanya.


"Kau tau? Sipat congkak mu itu yang membuatku tidak bisa menerimamu."


Satria menutup paksa panggilan itu dan mematikan ponselnya. Ia menarik nafas panjang.


"Kau ceritakan tentang kisah hidupmu!" ucap Satria tiba-tiba.


Yasmin terkejut, ia membenarkan letak kaca matanya.


"Tidak ada yang menarik, pak. Kecuali rasa sakit karna kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidup saya." ucap Yasmin sambil tersenyum getir.


"Papanya Rayyan?" tebak Satria. Entah kenapa ia merasa nyambung bicara dengan wanita di sebelahnya itu.


Yasmin mengangguk. Ada kecewa yang menyesak di hatinya. Kenapa Satria tidak bisa mengenalinya? Kalau benar dia kehilangan dirinya, kenapa Satria tidak bisa merasakan getaran aneh di hati Yasmin.


"Aku tidak tau kau, dan kau juga tidak tau siapa aku sebenarnya, tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu, apa ya? Sesuatu yang membuat aku nyaman saja bercerita tentang masalah pribadi ku. Kau boleh tertawa mendengarnya, seorang bos galak seperti aku bisa curhat dan mengobrol dekat seperti ini denganmu. Aneh, kan?"


Yasmin menggeleng.


"Hati tidak akan pernah salah memilih, pak.


Mungkin saja kita memang partner dalam hal membagi luka. saya pikir keadaan kita tidak jauh beda."


"Darimana kau tau?"


"Dari cerita, bapak. Dari yang saya lihat dan saya dengar. Bapak sedang bermasalah dengan keluarga, bapak."


Satria tersenyum hambar.


kriuuk...

__ADS_1


Yasmin memegangi perutnya yang berbunyi.


"Kau lapar?"


Yasmin meringis menahan malu.


"Kita cari makan!" ucapnya tegas.


Namun ia tertegun melihat ban mobilnya yang kempes.


Ia menepuk dahinya.


"Mana ban cadangan tidak ada, lagi."


Ia menatap Yasmin yang masih memegangi perutnya.


"Kita jalan kaki.."


"Kemana?"


"Cari makan sekaligus mencari bantuan."


Yasmin menyeret kakinya.


"Ayo cepat, jalannya kayak keong saja."


Cukup lama mereka berjalan, namun tidak menemukan bantuan juga.


Menghubungi Bara juga tidak bisa karna baterai ponselnya habis.


"Pinjam ponselmu, aku mau minta bantuan."


Yasmin kaget. Bagaimana nanti tanpa sengaja terlihat photo aslinya?


"Eeeah.. ponsel saya juga low bat, pak." ucapnya beralasan.


Mereka duduk di tepi jalanan.


Satria melirik Yasmin yang gelisah.


"Saya kebelet pipis, pak"


"Huh, cewek memang selalu ribet. Pergi sana ke balik semak!"


Dengan sedikit ngeri Yasmin ke balik semak.


Disaat yang sama ponsel Yasmin berdering. Yasmin tidak membawa ponselnya.


Semula Satria mengabaikannya. Namun karna panggilan tidak berhenti juga, dan si empunya sedang pipis. Satria melirik layar yang berkedip.


"Rayyan...! Ucapnya senang.


"Hallo anak ganteng.." Satria memberanikan diri mengangkatnya.


"Ini kayak suara papa?"


"Iya, ini papa.. "


"Mama mana, Pa?"


"Ada, Mama aman kok sama Papa."


Rayyan berceloteh riang.


Satria mendengar teriakan Yasmin dari balik semak.


"Ray, nanti kita bicara lagi, ya!"


Satria bergegas melihat keadaan Yasmin.


Gadis itu sudah tergeletak pingsan di sana.


Satria mengangkat ya ketempat yang lebih lapang.


"Aduh pakai pingsan segala.."


Ia menggosok tangan Yasmin agar cepat sadar. Satria mengamati wajah wanita itu dengan seksama. Ia melepas kaca mata dan menyibak poni nya.


Satria terpana, di balik penampilan cupunya, Yosi punya wajah yang sangat cantik.


Bibirnya kecil mungil. Hidungnya jga mancung dan sepasang mata. Yang indah dengan bulu mata yang lentik alami.


Sekilas ia merasa Yosi sangat mirip Yasmin.


Satria membuka ponsel Yasmin.


Ia semakin tercengang tak percaya.


Sambil memeriksa ponsel Yasmin, ia menatap wanita yang tengah tergeletak di hadapannya. Ia tak sanggup menahan air matanya lagi. perlahan Satria melepas wig dari kepala Yasmin.


Kini ia benar-benar melihat' sosok Yasmin.


"Kenapa kau lakukan ini semua? Apakah kau tidak rindu padaku?


Satria hendak merangkul tubuh yang sedang pingsan itu.


Tiba-tiba ia berubah pikiran.


"Aku tidak mau kau mengelak dengan berbagai alasan. Aku akan mengikuti permainanmu dengan pura-pura tidak tau siapa kau sebenarnya."


Satria tersenyum, ia mencubit pelan hidung Yasmin. Antara haru dan bahagia bercampur dalam hatinya.


Kini ia semakin yakin karena perasaanya kepada Rayyan sangat spesial.

__ADS_1


__ADS_2