
"Paklek. Gimana ini bisa terjadi? kenapa bapak sama buk'e bisa kecelakaan?" tanya Anisa dengan air mata yang meleleh dipipinya.
"Dari saksi mata yang melihat kejadian itu, bapakmu menyetir seperti orang lepas kendali. Dugaan sementara itu terjadi karena rem mobil pick up bapakmu blong." Jawab Surani yang bersikap tenang saat menyetir mobilnya.
"Kok bisa?" tanya Anisa penasaran.
"Mana Paklek tahu. Kamu tahu sendiri, mobil bapakmu itu keluaran tahun berapa. Mobil itu sudah tua, sudah hampir tidak layak pakai. Mungkin itulah sebabnya remnya mengalami blong." Jawab Surani.
Anisa terdiam. Gadis itu memejamkan matanya karena dia begitu tidak sabar ingin segera sampai di rumah sakit.
"Harusnya kamu juga ikut dalam kecelakaan itu. Kami tidak menyangka kamu pergi lebih dulu. Tapi itu tidak apa-apa, kamu juga gadis yang lemah. Kamu sama sekali bukan ancaman bagi kami," batin Surani.
Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, merekapun tiba di rumah sakit. Anisa berlari sekencang yang dia bisa, setelah mengetahui ruangan dimana kedua orang tuanya dirawat. Namun kaki Anissa mendadak lemas, saat salah seorang menutupkan kain putih diseluruh tubuh ibunya.
"Dok-Dokter. Kenapa anda menutup tubuh ibuku seluruhnya? oksigennya akan berkurang," tanya Anisa.
"Maaf nona. Ibu anda sudah meninggal." Jawaban dokter membuat aliran darah Anisa terasa terhempas dari ketinggian.
"Buk. Buk'e jangan tinggalkan Anisa buk'e. Jangan tinggalkan Anisa. Hiks...." Anisa terisak sembari memeluk erat jenazah ibunya.
"Buk'e bangun! buk'e aku jadi lulusan terbaik, aku sudah pasti dapat kerja, buk'e sama bapak belum foto-foto denganku memakai baju sarjana. Kata buk'e mau lihat aku jadi sarjana. Hiks...."
"Bapak? dimana bapak saya dok?" Anisa yang baru teringat dengan bapaknya, langsung menanyakan bapaknya itu.
"Bapak anda masih dalam keadaan kritis. Kalau nona anak dari pasien, tolong selesaikan administrasi dulu di depan ya?" ujar dokter.
"Ya dok. Tapi saya mau lihat bapak saya dulu," ujar Anisa.
"Maaf pasien belum bisa di jenguk dulu. Karena masa kritisnya belum lewat." Jawab dokter.
__ADS_1
"Nisa. Sebaiknya kamu urus dulu administrasinya, setelah itu kita urus pemakaman ibu kamu," ujar Surani yang kemudian dijawab dengan anggukkan kepala oleh Anisa.
Anisa kemudian pergi ke bagian informasi untuk menanyakan rincian biaya. Dan Anisa cukup syok, saat melihat total biaya yang harus dia bayarkan. Terlebih Sumarno akan melakukan operasi pada bagian kepalanya yang masih terdapat beberapa pecahan kaca.
"Lakukan yang terbaik untuk bapak saya dok. Saya akan mencari biayanya," ujar Anisa yang menemui dokter, sebelum dirinya meninggalkan rumah sakit untuk mengurus jenazah ibunya.
"Pasti. Kami pasti akan melakukan yang terbaik. Banyak-Banyak berdo'a untuk kesembuhan bapakmu ya!" ujar dokter yang dijawab dengan anggukkan kepala dan dengan derai air mata.
"Saya permisi dok. Saya harus mengurus pemakaman ibu saya," ucap Anisa.
"Silahkan. Kami turut berduka ya!" ucap dokter.
"Terima kasih dok." Jawab Anisa.
Anisa meninggalkan ruangan dokter dan mengurus kepulangan jenazah orang tuanya dari rumah sakit. Setelah prosesi pemakaman selesai, semua keluarga Sumarno berkumpul untuk mendengarkan permintaan Anisa.
"Bapak akan di operasi, dan itu membutuhkan biaya yang besar. Nisa minta tolong pada paklek semua buat kasih utang sama Nisa untuk biaya bapak selama di rumah sakit," ujar Anisa sembari meremas jari-jari tangannya satu sama lain.
"Maaf ndok. Bukan paklek ndak mau bantu kamu. Tapi tahu sendiri paklek baru beli kebun, dan ndak punya uang lagi," ujar Surani.
"Bapakmu kan masih punya kebun sawit dan teh peninggalan mbah. Kenapa itu tidak di jual saja?" tanya Sumantri.
"Masalahnya semua sertifikat itu kan belum ketemu, alias hilang." Jawab Anisa
"Tapi kamu kan masih punya kebun dan sertifikat rumah ini. Kamu juga sudah lulus kuliah kan? kamu bisa mencari kerja, dan ngontrak sembari mengumpulkan uang buat beli rumah lagi," timpal Surani.
"Ini peninggalan orang tuaku satu-satunya paklek. Mana mungkin Nisa jual? kalau paklek bersedia, tolong pinjam satu sertifikat paklek buat tak jual untuk biaya pengobatan bapak," ucap Anisa.
"Aduh...gimana ya Nis? harga satu sertifikat itu nilainya ratusan juta. Bagaimana caramu mengembalikannya? lagi pula kamu juga belum tentu langsung dapat kerja kalaupun dapat kerja, paling cuma berapa gaji honor." Jawab Surani.
__ADS_1
"Tapi Paklek. Bapak saudara kalian semua. Apa kalian tega melihat bapak menderita atau dihentikan pengobatannya?" mohon Anisa.
"Ya maka dari itu kamu harus menjual kebun dan rumah ini. Paklek akan membantumu memasarkannya." Jawab Sumantri.
"Jangan terlalu banyak berpikir Anisa. Kamu pikir mudah menjual kebun sawit atau kebun teh yang nilainya ratusan juta? kalau kebun atau rumah milik bapakmu ini pasti cepat laku, soalnya harganya pasti lebih murah," timpal Sukamto.
"Aku benar-benar tidak menyangka, akan tiba waktunya dimana aku melihat wajah-wajah saudara bapak yang sesungguhnya tepat didepan mataku. Aku bisa melihat tatapan menghina, menyudutkan, dan menghakimi saat mereka menatapku. Bahkan tatapan mata para sepupu dan para Bulekku juga sama. Tapi kenapa mereka tidak menyukai kami? apa karena kami lebih miskin dari mereka?" batin Anisa.
"Baiklah. Aku serahkan semua sertifikat kebun dan rumah pada paklek Surani untuk mengurusnya. Tapi kalau boleh Nisa minta tolong, tolong pinjami Nisa 10 juta untuk deposit rumah sakit. Nanti setelah rumah dan kebun terjual, paklek potong saja uangnya," ujar Anisa.
"Baiklah Nis. Kalau cuma 10 juta paklek ada buat pinjami kamu. Paklek akan usahakan kebun dan rumahmu laku dengan harga tinggi. Tapi kalau memang uangnya mendesak, apa boleh buat. Kamu tahu sendiri kan? jual tanah atau rumah nggak semudah jual kacang goreng," ujar Surani.
"Iya paklek. Makasih sudah bantu Nisa," ucap Anisa.
"Sama-Sama Nisa. Sekarang lebih baik kamu cepat kembali ke rumah sakit. Bapakmu pasti membutuhkanmu disana," ujar Surani.
"Iya." Jawab Anisa.
Anisapun bersiap pergi ke rumah sakit. Setelah Anisa pergi, Surani dan saudara-saudaranya terkekeh.
"Beruntung sekali sampeyan Mas. Nisa menyerahkan kebun dan rumah sama sampeyan," ujar Sumantri.
"Iya. Coba kalau dia percaya sama aku. Pasti kebun dan rumah ini jadi milikku," timpal Sukamto.
"Itu namanya belum rejeki. Karena dia percaya padaku, jadi semua ini jadi milikku," ujar Surani sembari tertawa keras.
"Terus berapa sampeyan akan menghargai kebun dan rumah ini mas?" tanya Sumantri.
"Anak itu tidak akan mengerti urusan yang seperti ini. Aku akan kasih dia 100 juta saja." Jawab Surani terkekeh.
__ADS_1
Ada senyum kepuasan dibibir Surani. Tidak ingin membuang waktu, dia ingin segera mengurus surat akta jual beli rumah dan kebun milik saudaranya itu.