
Selama proses operasi cesar berlangsung, Abian diam membisu. Anisa yang menjadi asisten di depannya jadi ikut diam, begitu juga perawat dan bidan yang membantu prosesi itu. Setelah selesai melakukan cesar, Abian keluar begitu saja tanpa memberikan intruksi apapun.
Anisa yang dulu pernah magang di rumah sakit dan pernah mengikuti prosesi cesar, sudah tahu apa yang harus dilakukan.
"Dokter Abian kenapa ya? tumben dia diam dan nggak ngasih intruksi apa-apa," tanya suster Dita.
"Mungkin lagi nguji kemampuan kita. Kita kan sudah sering ikut dia operasi. Jadi kita harus mengurus pasien dengan benar," timpal Bidan Ina.
"Mungkin dokter Abian sedang kecapek'an. Kita lakukan saja sesuai prosedur," ujar Anisa.
"Atau jangan-jangan dia lagi marahan dengan dokter Geisha," ujar Suster Dita.
"Nggak mungkinlah. Mereka itu couple yang serasi dan harmonis. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya? aku pernah tidak sengaja melihat mereka sedang ciuman. Uwuu banget deh," timpal Bidan Ina.
"Duh...jadi bayangin. Gimana ya rasanya ciuman dengan dokter Abian, pasti melayang banget kan dokter Geisha," ujar Dita semabri terkekeh.
Anisa terdiam mendengar pembahasan kedua temannya itu. Entah kenapa dadanya masih saja bergemuruh.
Setelah membersihkan pasien, Dita, Ina dan Anisa, segera memindahkan pasien ke ruang perawatan.
"Aku akan memberikan list pasien pada dokter Abian. Agar kita tahu apa yang dia perintahkan," ujar Dita.
"Iya. Sekalian tanya, barangkali dia ingin nitip makan siang di kantin," ujar Anisa.
"Oke." Jawab Dita.
Dita keluar dari ruang perawatan, Anisa dan Bidan Ina membantu Pasien pindah ke atas tempat tidur.
"Nisa. Kamu disuruh dokter Abian membeli makanan di kantin. Ini uangnya," ujar Dita sembari menyodorkan satu lembar uang berwarna merah.
"Kok aku? padahal kamu kan sudah dari sana?" tanya Anisa sembari merapikan perlak yang menjuntai di ranjang besi milik pasien.
"Nggak tahu. Aku juga heran. atau mungkin dia ingin kita berbagi tugas, karena aku sudah mengantar laporan sama dia tadi." Jawab Dita.
__ADS_1
"Ya sudah. Aku beli makanan dulu untuk dokter Abian. Oh ya, apa dia bilang ingin makan apa?" tanya Anisa.
"Dia bilang kamu sudah sering membelikan dia makanan, jadi kamu sudah tahu apa yang dia sukai." Jawab Dita.
"Abian apa-apaan sih? apa dia nggak tahu, perkataannya itu bisa menggiring opini. Aku mana pernah membelikan dia makanan di kantin," batin Anisa.
"Apa itu benar Nis?" tanya Bidan Ina.
"I-Iya. Kebetulan aku memang selalu kebagian shif yang sama dengan dokter Abian. Jadi dia suka nitip gitu." Jawab Anisa asal.
"Ya sudah bagus kalau gitu. Jadi pastinya nggak akan salah. iya kan?" tanya Dita.
"Ya sudah aku pergi dulu ya!" ujar Anisa.
Anisa kemudian pergi ke kantin, dan membeli menu yang Abian sukai. Setelah selesai, diapun bergegas kembali dan menyiapkan makanan untuk dokter Abian.
"Ini makanannya dok," ujar Anisa sembari meletakkan baki diatas meja kerja Abian. Sementara Anisa ingin bergegas keluar dari ruangan itu.
Namun sebelum benar-benar mencapai pintu, ucapan Abian membuat langkah kaki Anisa terhenti.
"Maksudnya siapa? Niko?" tanya Anisa.
"Ya. Apa hubunganmu dengannya?" tanya Abian.
"Apa hubunganku dengannya yang pasti tidak ada hubungannya dengan anda dokter Abian. Jangan membuatku salah paham. Nanti aku bisa mengira, kalau anda ini sedang terbakar api cemburu. Nggak mungkin kan?" ujar Anisa.
"Katakan saja apa yang aku tanyakan. Apa dia pacarmu?" tanya Abian.
"Atau calon suamimu berikutnya?" sambung Abian.
"Dia temanku, tapi bisa jadi juga calon suami masa depanku. Yang pasti dia pria baik dan sangat menghargai wanita. Dia juga tulus, dan tidak pernah berpura-pura." Jawab Anisa.
"Berhati-Hatilah. Kadang yang terlihat baik belum tentu itu yang sebenarnya. Begitu juga sebaliknya. Kamu jangan salah paham, aku hanya ingin menjalankan amanat bapakmu, agar aku menjagamu," ujar Abian.
__ADS_1
"Anda benar dokter Abian. Dulu aku sudah pernah merasakannya. Dulu aku berpikir bahwa lebih baik aku menikahi orang gila, karena mungkin dengan begitu orang gila itu lebih tulus daripada orang waras. Tapi ternyata aku tertipu, orang yang aku anggap baik ternyata orang yang paling jahat yang pernah aku kenal," ujar Anisa.
"Tapi Niko berbeda. Aku mengenalnya bertahun-tahun. Dan aku sangat menyesal sudah memutuskan menikah terlalu cepat, hanya karena ingin membuat bapak senang. Dan pada akhirnya merusak statusku yang tadinya lajang, menjadi seorang janda kembang. Tapi tidak masalah, mungkin Niko dan aku memang berjodoh," sambung Anisa.
"Sudah dulu ya dok. Aku juga butuh istirahat dan makan," ujar Anisa yang kemudian pergi dari ruangan itu.
Brakkk
Abian memukul meja kerja dengan lumayan keras, pria itu sangat kesal saat Anisa membahas tentang pria lain dihadapannya.
"Hah...ada apa denganmu Abian? kamu tidak mungkin cemburu kan? Kamu sudah bertunangan dengan Geisha, jangan kecewakan orang yang kamu cintai. Yakinlah ini pasti cobaan sebelum menikah," gunam Abian.
Abian mencoba menenagkan diri dengan memakan makanan yang Anisa belikan. Abian tersenyum, karena Anisa masih ingat makanan yang dia sukai.
Dan setelah jam pulang sudah berakhir, Abian secara tidak sengaja melihat Anisa ngobrol dengan Niko di tempat parkir.
"Nanti malam aku ke rumahmu ya? aku mau ngapel," ujar Niko sembari terkekeh.
"Boleh. Kita harus ngobrol banyak hal Nik. Aku pengen mendengar ceritamu selama di luar negeri," ujar Anisa.
"Boleh. kalau begitu siapin makanan enak ya! sekalian kita dinner gitu," ujar Niko sembari terkekeh.
"Ya sudah. Aku pulang dulu, biar aku bisa memasak untukmu," ujar Anisa.
"Masak yang enak ya calon istriku," ujar Anisa sembari terkekeh.
Abian begitu geram mendengar percakapan yang terdengar romantis di telinganya itu.
"Mereka ingin dinner di rumah Anisa? pria itu ingin makan masakkan Anisa?" gigi Abian bergemeratuk.
Setelah Anisa pergi, Abian juga pulang ke rumahnya. Namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Pikirannya selalu tertuju pada Anisa dan Niko.
"Kenapa aku merasa tidak senang, kenapa aku merasa sakit saat melihatnya tertawa lepas dengan pria lain. Aku tidak mungkin sudah jatuh cinta dengan Anisa kan? aku tidak boleh ada perasaan seperti itu pada Anisa. Ini pasti karena sugestiku yang ingin melindunginnya. Yah...pasti hanya itu saja," guman Abian.
__ADS_1
Namun meskipun menepis perasaaan itu berkali-kali, tetap saja dia merasa tidak tenang. Dan setelah magrib, Abian memutuskan pergi ke rumah Anisa. Abian bisa melihat Senyum merekah dari bibir Anisa, saat menyambut kedatangan Niko.
Niko terlihat memasuki rumah Anisa, dan Abian memutuskan mengintai rumah Anisa sampai Niko keluar dari rumah itu.