SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.32. Cengeng


__ADS_3

Abian mengobati luka lecet dilengan Anisa dengan betadine. Sementara Anisa masih terisak, karena ternyata dia tidak hanya mendapat luka pada lengannya saja, tetapi tangannya juga terkilir.


"Sudah bodoh, cengeng lagi," batin Abian.


Ketika kembali ke kamar, penyakit diamnya Abian kembali kumat. pria itu kembali enggan berbicara meskipun Anisa sudah bertanya berkali-kali.


"Cukup mas! terima kasih," ucap Anisa.


Anisa beranjak dari tepi tempat tidur dan mencoba berganti pakaian. Malam ini dirinya kembali mendapat shif malam, sama seperti jadwal Abian.


"Ssstttt awww..."


Anisa kesulitan melepas baju saat mengangkat tangannya dan diapun kembali menangis.


"Sepertinya tangan Anisa terkilir. Dan dia memaksa ingin bekerja, ckk...merepotkan!" batin Abian.


Abian beranjak dari duduknya, dan menghampiri Anisa. Pria itu membantu Anisa melepas pakaian istrinya, dan tentu saja itu membuat mereka jadi canggung.


"M-Mas. Aku ingin mengganti BH ku," ujar Anisa dengan menahan rasa malu.


Tanpa sadar Abian reflek melirik kearah dada Anisa yang sesak penuh, dan kemudian melengos karena si Joni miliknya tiba-tiba bereaksi.


"Aduh...malu sekali. Tapi mau bagaimana lagi, diakan suamiku. Lebih baik aku malu dihadapannya, daripada malu dihadapan orang lain. Lagian minta bantuan ibu mertua rasanya nggak mungkin kalau mengingat sifatnya yang seperti itu," batin Anisa.


"Kamu apa-apaan si Jon. Baru melihat dada besar aja sudah hormat begini? padahal kamu sudah sering lihat punya pasien, tapi nggak begini amat," batin Abian.


Abian berpura-pura tenang dan mencari penyangga dada Anisa di dalam lemari. Setelah menemukannya, Abian melepas pengait penyangga dada Anisa dari arah belakang istrinya itu, dan kemudian membantu Anisa mengeluarkannya dari tangan istrinya. Dan selanjutnya dia membantu Anisa memakai penyangga dada yang baru, dan tentu saja itu dari arah belakang. Abian tidak ingin dirinya mendapat masalah, dan sekaligus dia ingin menyembunyikan tonjolan yang sudah terlanjur membuat sesak celananya.


Anisa membenahi bagian cup depan yang terasa kurang pas, karena dadanya memang ukurannya melebihi standar.


"Tolong pakaikan aku baju daleman dulu ya mas! setelah itu baru baju putihnya. Aku harus tetap bekerja, mungkin besok aku agak pulang telat karena mau cari tukang urut dulu," ujar Anisa.


Abian sama sekali tidak menggubris ucapan Anisa, karena dia membantu Anisa berpakaian sesuai yang Anisa inginkan.


"M-Mas. Maaf merepotkan lagi. Bo-Bolehkah bantu aku mengganti celana juga?" tanya Anisa yang merasa tidak enak.


Mata Abian menatap tajam kearahnya, dan itu membuat Anisa jadi takut.

__ADS_1


"N-Nggak jadi. Biar Nisa coba sendiri saja," ujar Anisa sembari mencari kain segitiga miliknya dari dalam lemari.


Namun masalahnya dia sangat kesulitan membuka kancing celana yang akan dia lepas maupun akan dia pasang. Dan dia cukup malu, saat melepas kain segitiga miliknya di hadapan Abian.


Anisa bisa mendengar helaan nafas Abian yang kasar. Suaminya itu kembali mendekatinya dan membantu memakaikan kain segitiga maupun celana miliknya. Setelah selesai dirinya segera masuk ke kamar mandi untuk menenangkan diri dan menenangkan si Joni disana.


"Aku tidak menyangka berdekatan dengan Anisa membuat pertahananku terancam. Aku harus bersabar. 6 bulan lagi Geisha pulang, dan ini akan segera berakhir. Aku tidak perlu lagi berdekatan dengan wanita merepotkan ini," batin Abian.


Abian bergegas menyudahi mandinya, karena dia juga tidak ingin terlambat bekerja. Namun saat dia keluar dari kamar mandi, Abian tidak lagi menemukan keberadaan Anisa.


"Sepertinya dia sudah berangkat bekerja. Entah bagaimana caranya dia bekerja dengan satu tangan seperti itu. Tapi apa perduliku? itu sama sekali bukan urusanku," gumam Abian.


Abian bergegas keluar rumah, karena Ryan pasti sudah menunggunya di depan lorong.


"Bukannya motor sudah aku kirim? kenapa Nisa masih naik angkot?" tanya Ryan, saat Abian sudah masuk kedalam mobil.


"Dia belum bisa naik motor. Dan gara-gara belajar motor, dia jadi jatuh dan tangannya terkilir. Lagian kamu kenapa ngirim motor itu lewat Suban?" tanya Abian.


"Aku kehabisan ide buat cari alasan itu motor harus sampai ke tangan istrimu yang sangat idealis itu." Jawab Ryan.


"Tapi bagus juga sih. Itu artinya Anisa orang jujur. Dia nggak mau menerima yang bukan menjadi haknya," ujar Ryan.


Abian sama sekali nggak tertarik mengomentari ucapan Ryan. Sementara itu di tempat berbeda, Anisa baru saja tiba di rumah sakit internasional. Meski menahan rasa sakit yang luar biasa, Anisa tetap melakukan pekerjaan dengan baik.


"Kamu sepertinya kurang sehat ya Nis? di ruangan sedingin ini, kamu kok berkeringat?" tanya Dian.


"Sebenarnya tadi pagi aku jatuh dari motor mbak. Tanganku juga terkilir." Jawab Anisa.


"Ya ampun Nis. Kenapa kamu nggak bilang? tahu gitu tadi mbak nggak nyuruh kamu dorong kursi roda pasien , buat melakukan rontgen," ujar Dian yang merasa bersalah.


"Nggak apa mbak. Tapi kira-kira mbak punya kenalan tukang urut yang bagus nggak?" tanya Anisa.


"Ada Nis. Kalau mau, kamu pulang bareng aku aja. Kebetulan disamping rumahku ada tukang urut terkenal. Dia bisa mengobati tangan orang yang terkilir dalam hitungan menit. Dia juga bisa mengobati orang patah tulang."Jawab Dian.


"Kedengarannya bagus sekali. Maaf besok aku harus merepotkanmu mbak," ucap Anisa.


"Nggak repot Nis. Kamu itu temanku. Lagian kalau kamu sakitnya lama, aku juga yang kerepotan,"ujar Dian yang membuat keduanya jadi terkekeh.

__ADS_1


"Kira-Kira Nisa kesulitan nggak ya saat bekerja?" batin Abian yang tampak melamun di ruang kerja.


Abian jadi teringat saat Anisa kesulitan memakai baju dan celana. Dan dia mendadak cemas memikirkan hal itu.


"Ckk...kenapa aku jadi memikirkan dia. Nggak penting banget," gumam Abian.


*****


"Sudah jam 10, tapi dia belum pulang juga. Apa terjadi sesuatu padanya? tapi kemarin dia bilang memang akan pulang terlambat kan?" gumam Abian.


"Ckk...ada apa denganku? kenapa aku jadi mengkhawatirkan dia? ini pasti gara-gara sugesti ucapan Sumarno. Ya, pasti gara-gara itu," batin Abian.


"Lebih baik aku tidur saja. Rasanya ngantuk sekali gegara ada yang operasi cesar tadi malam," gumam Abian.


Abian kemudian memejamkan matanya dan tidak lama kemudian dirinya terlelap.


"Emm..."


Waktu menunjukkan pukul 1 siang, ketika Abian terbangun dan tidak menemukan keberadaan Aniasa.


"Dia belum pulang juga?" mendadak Abian merasakan cemas.


Pria itu kemudian mencoba menghubungi ponsel Anisa, namun ternyata sama sekali tidak aktif.


"Wanita bodoh ini sudah berhasil membuatku terpengaruh dan mengkhawatirkannya. Awas saja saat pulang nanti, aku akan...."


Ceklek


Anisa menekan handle pintu dengan wajah lelah. Ditambah dirinya belum tidur sama sekali. Namun untungnya tangannya yang terkilir sudah tidak sakit lagi meskipun masih sedikit nyeri. Melihat wajah Anisa yang pucat, Abian jadi mengurungkan niatnya yang ingin memarahi istrinya itu.


Brukkk


Anisa menjatuhkan tubuhnya yang lelah diatas tempat tidur.


"Mas. Bangunkan aku jam 4 ya! aku shif malam lagi soalnya," ujar Anisa dengan mata sayu.


Tanpa menunggu jawaban dari Abian, Anisapun memejamkan mata dan terlelap.

__ADS_1


__ADS_2