SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.59. Merindukanmu


__ADS_3

Anisa menatap langit-langit kontrakkan yang dia tinggali saat ini. Wanita itu baru saja menyelesaikan surat lamaran yang baru saja dia buat. Tidak tanggung-tanggung, Anisa bahkan membuat 10 surat lamaran, agar dirinya bisa segera bekerja.


"Aku harus mendapat pekerjaan secepatnya. Dengan begitu aku punya kesibukkan dan tidak terlalu merindukan mas Abian. Hah...kira-kira dia sedang apa ya saat ini? ingin sekali rasanya aku menelponnya, dan mendengar suaranya walaupun sebentar. Tapi kalau aku melakukan itu, aku pasti akan bertambah sulit melupakannya," gumam Anisa.


"Sebaiknya sembari nunggu panggilan kerja nanti, aku akan kursus membuat makanan khas kota palembang saja. Siapa tahu nanti aku bisa buka usaha sendiri,"


"Hah. Semoga dari 10 surat lamaran ini, ada yang nyangkut dan aku bisa segera bekerja. Sekarang aku hanya perlu menghafalkan nama-nama jalan yang ada di kota ini. Tapi semoga saja lamaranku di rumah sakit umum di terima, agar aku nggak jauh-jauh lagi kalau mau berangkat kerja,"


"Sudah hampir jam 9 malam. Sebaiknya aku segera tidur, karena besok pagi harus berjuang mencari kerja," gumam Anisa.


Anisa kemudian pergi tidur, namun Abian malah sebaliknya. Pria itu kesulitan tidur malam ini.


"Kamu ada dimana sayang. Kenapa kamu ninggalin aku sendirian? apa kamu mau membalas dendam? aku tidak bisa tanpa kamu Anisa," gumam Abian sembari menatap foto wanita yang dia cintai itu.


*****


"Semangat Anisa. Kamu pasti bisa, kamu pasti diterima bekerja," Anisa terlihat memberi semangat pada dirinya sendiri.


Anisa kemudian pergi dengan pakaian rapi. Hari ini dia memutuskan untuk melamar bekerja. Dan yang menjadi sasaran utamanya adalah rumah sakit umum yang tidak jauh dari tempat dirinya tinggal saat ini.


Dan pada siang harinya, dirinya sudah selesai menyebar 10 surat lamaran kerja, baik itu di rumah sakit pemerintah, maupun rumah sakit swasta.


Sementara itu di tempat berbeda, Abian cukup syok saat teman Ryan mengatakan kalau saat ini Anisa tidak berada di pulau Jawa lagi. Mengetahui hal itu tentu saja Abian jadi lemas.


"Jadi kita-kira dimana tepatnya Anisa berada? aku ingin tempat pastinya," tanya Abian.


"Aku butuh waktu. Tahu sendiri di Indonesia ini banyak propinsi, banyak kota, dan banyak pulau. Tentu aku butuh sedikit waktu untuk melacak keberadaannya." Jawab Riko.


"Aku akan tunggu. Aku akan membayar mahal, kalau kamu berhasil menemukan keberadaan calon istriku," ujar Abian.


"Aku akan berusaha. Pokoknya selagi sim cardnya masih aktif, kita masih bisa melacak lokasi terakhirnya," ujar Riko.


"Makasih ya Rik. Cuma kamu harapanku satu-satunya. Aku harap rahasia ini tidak bocor kemanapun. Karena kalau sampai bocor, bisa saja ada yang memberitahu Anisa sehingga dia tidak lagi mengaktifkan sim card miliknya," ujar Abian.

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Yang tahu tentang ini hanya kita bertiga saja," ujar Riko.


"Terima kasih," ucap Abian.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Riko.


"Aku juga Bi. Aku harus kembali ke kantor juga," timpal Ryan.


"Baiklah. Kabari aku secepatnya kalau ada perkembangan," ujar Abian.


"Pasti." Jawab Riko.


Riko dan Ryan pergi dari rumah Abian. Baru saja menutup pintu, seseorang kembali mengetuk pintu rumahnya.


"Apa ada yang keting-ga-lan?" kalimat Abian terpenggal saat melihat seorang gadis berada tepat di depannya.


"Hai...dok," sapa Stevi.


"Stevi? ada apa?" tanya Abian.


Abian tampak berpikir sejenak, kemudian mempersilahkan Stevi masuk.


"Silahkan duduk!" Abian mempersilahkan Stevi duduk.


"Makasih dok," ucap Stevi.


"Sudahlah. Jangan panggil aku dokter lagi, panggil aku kakak saja. Nanti setelah Anisa kembali dan kami menikah. Kamu kan akan jadi adik iparku juga," ujar Abian yang membuat senyum Stevi jadi lenyap dari bibirnya.


"Apa sudah ada kabar dari mbak Nisa?" tanya Stevi.


"Sebaiknya aku jangan memberitahu Stevi tentang Anisa. Dia kan sepupu Anisa, siapa tahu nanti Stevi menghubunginya dan memberitahu segalanya. Bisa-Bisa Anisa semakin jauh," batin Abian.


"Belum. Aku sudah tidak tahu harus mencarinya kemana. Apa kamu tahu kabar Anisa?" tanya Abian.

__ADS_1


"Tidak kak. Mbak Nisa seperti hilang ditelan bumi. Sampai kapan kakak akan mencari mbak Nisa? dan bagaimana hubungan kakak dengan dokter Geisha?" tanya Stevi.


"Aku tidak mau lagi ada hubungan dalam bentuk apapun dengan Geisha. Aku akan tetap mencari Anisa sampai kapanpun." Jawab Abian.


"Bagus. Itu artinya Geisha bukan ancaman lagi bagiku. Sekarang aku tinggal menyingkirkan Anisa dalam hidup Abian. Dan itu sangat mudah, karena Anisa tidak berada dikota ini tentunya," batin Stevi.


"Aku akan bantu kakak buat nyari mbak Nisa. Tapi saat ini nomor ponselnya tidak bisa dihubungi. Sepertinya dia sudah memblokir nomor ponsel kami sekeluarga," ujar Stevi.


"Begitu ya? aku tidak tahu kenapa Anisa percaya begitu saja dengan ucapan Geisha. Seharusnya dia tanyakan dulu hal ini padaku," ujar Abian.


"Kalau menurutku wajar sih kalau dia percaya. Soalnya kakak berpacaran sudah lama dengan Geisha. Ditambah kakak juga sudah bertunangan. Sebagai sesama wanita dan pria dewasa, pacaran selama itu tidak mungkin tidak melakukan hal-hal seperti itu," ijar Stevi.


"Tapi pada kenyataannya memang seperti itu. Kami bahkan tidak pernah berciuman selama pacaran 5 tahun. Barulah saat dia kembali, kami melakukan hal itu. Itupun karena dia yang memaksa. Ah...astaga...kenapa aku jadi menceritakan hal yang tidak senonoh seperti ini padamu. Maaf," ucap Abian.


"Tidak apa kak. Kita ini sama-sama sudah dewasa. Kalau kakak mau, kakak bisa selalu curhat denganku. Apapun itu," ujar Stevi.


"Terima kasih. Apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Abian.


"Kenapa dia menanyakan hal itu? apa dia sudah membuat ancang-ancang, ingin mencari tambatan hati baru? kalau begitu aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku akan memikat Abian dengan perkataan yang baik," batin Stevi.


"Menurutku pacaran itu hal yang sia-sia. Meskipun ibadahku tidak sebagus orang lain, meskipun mulutku tidak sebaik gadis lain, tapi aku punya prinsip sendiri. Aku tidak mau berpacaran, aku mau langsung menikah saja." Jawab Stevi.


"Prinsip yang bagus dong. Harus kamu pertahankan. Apa yang kamu bilang itu tidak salah. Sebenarnya pacaran kalau nggak bisa nahan diri sangatlah rugi. Jadi lebih baik langsung menikah saja," ujar Abian.


"Kak. Misalnya Mbak Nisa tidak bisa kakak temukan dalam jangka waktu 5 tahun, apa yang akan kakak lakukan?" tanya Stevi.


"Aku tidak tahu. Aku juga tidak mau terlalu naif, karena aku cuma manusia biasa. Tapi untuk saat ini, aku akan menunggu Anisa, mencari Anisa semampuku." Jawab Abian.


"Mbak Nisa beruntung banget ya bisa dicintai pria seperti kak Bian. Coba kalau aku juga punya orang yang mencintai aku seperti kak Bian," ujar Stevi.


"Kenapa aku merasa Stevi ini ingin masuk perlahan di celah masalah yang sedang aku hadapi? tapi aku tidak boleh berburuk sangka dulu, selagi dia tidak terang-terangan," batin Abian.


"Suatu saat kamu pasti akan mendapatkan orang yang kamu cintai, seperti yang kamu mau," ujar Abian.

__ADS_1


"Ya. Dan orang yang aku mau cuma kamu Abian," batin Stevi.


Setelah berbincang banyak hal, Stevi pun pamit pulang. Dia ingin menyusun banyak rencana, agar cepat menaklukkan hati Abian sebelum pria itu berhasil menemukan Anisa.


__ADS_2