
"Apa yang kamu bawa itu?" tanya Ryan.
"Makanan kesukaan Anisa. Dia pasti akan menyukainya. Aku sengaja menyuruh pelayan buat masak ini pagi-pagi, agar kita bisa mengantar makanan ini sebelum berangkat ke kantor." Jawab Abian.
"Makanan kesukaan? sejak kapan kamu tahu makanan kesukaan Anisa?" tanya Ryan.
"Apa kamu tahu? saat di rumah Suban, dia selalu mengajakku berbicara meskipun aku diam. Dia terus saja mengoceh dari hal yang kecil, hingga hal yang besar. Termasuk tentang makanan yang dia sukai. Untungnya meski aku tidak memperhatikan dia, tapi telingaku masih berfungsi." Jawab Abian.
"Tapi bagaimana kalau dia mengusir kita lagi? kemarin dia mengancam akan mencolok mataku dengan jarum suntik," ujar Ryan sembari terkekeh.
"Apa? dia bilang begitu?" tanya Abian sembari terkekeh.
"Iya. Sebenarnya aku pengen tertawa saat dia bilang begitu, tapi aku takut dia bertambah marah. Andai kamu melihat ekspresinya, dia terlihat sangat menggemaskan." Jawab Ryan.
"Cepatlah! aku sudah tidak sabar ingin bertemu kelinci kecil itu," ujar Abian.
"Hati-Hati dengan ucapanmu itu. Sekarang kamu sudah milik Geisha, jangan menambah masalah untuk Anisa lagi," ujar Ryan.
Abian terdiam. Untuk sesaat dia lupa, kalau saat ini dia sudah menjadi tunangan dari Geisha. Gadis yang dia klaim, sangat dia cintai itu.
Tidak berapa lama kemudian Abian dan Ryan tiba di klinik. Saat mengetuk ruangan Anisa, senyum Abian terbit dari bibirnya. Namun saat dia membuka pintu itu, senyum Abian mendadak lenyap.
"Kemana dia?" tanya Abian.
"Sebentar! biar aku mencari informasi dulu ke depan," ujar Ryan.
Ryan bergegas ke depan, untuk mendapatkan informasi tentang Anisa.
"Oh mbak Nisa memaksa pulang pagi-pagi sekali pak. Dia bilang ada urusan penting, jadi kami membiarkan dia rawat jalan." Jawab salah seorang perawat.
"Terima kasih atas informasinya sus," ujar Ryan.
"Sama-Sama pak."
Ryan bergegas menemui Abian yang masih menunggu dalam ruangan Anisa.
"Bagaimana?" tanya Abian.
"Nisa memaksa pulang cepat." Jawab Ryan.
__ADS_1
"Dasar keras kepala. Ya sudah kita temui dia di rumahnya saja kalau begitu," ujar Abian, yang kemudian diangguki kepala oleh Ryan.
Ryan dan Abian kemudian pergi ke rumah kontrakkan Anisa. Namun mereka sangat terkejut, saat tahu Anisa sudah pindah dari rumah itu.
"Tidakkah kamu pikir dia terlalu nekad, hanya karena ingin menghindari kita?" Abian berkali-kali mengusap wajahnya karena kesal.
"Apa dia tidak berpikir? dia itu masih sakit. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya?" tanya Abian.
"Jadi sekarang kita harus bagaimana?" tanya Ryan.
"Aku tidak tahu. Sepertinya jalan satu-satunya bertemu dengan Anisa cuma di rumah sakit. Geisha bilang dia dinas di ruang neonatus. Hari ini aku masuk malam, kemungkinan dia mulai bekerja malam ini." Jawab Abian.
"Hah. Untungnya kita sudah tahu tempatnya bekerja, kalau tidak bakal berabeh. Sekarang kita kemana?" tanya Ryan.
"Ke kantor. Kita harus mengurus pengiriman barang yang dipesan oleh rumah sakit Medika." Jawab Abian.
"Oke," ucap Ryan.
Ryan dan Abian kemudian kembali ke kantor. Sementara di tempat berbeda Stevi dan para sepupunya sedang bergosip ria.
"Sebenarnya gosip heboh apa yang mbak Stevi maksud? awas saja kalau nggak seru," tanya Mita.
"Berita apa mbak? jangan buat kami penasaran," tanya Dea.
"Mbak Nisa ternyata sudah bercerai dari suaminya." Jawab Stevi.
"Halah. Aku kira berita apaan. Siapa juga yang betah punya suami gila dan tukang pukul begitu. Mbak Nisanya aja yang bodoh mau bertahan selama berbulan-bulan begitu," ujar Mita.
"Ternyata selama ini Abian sudah membohongi semua orang. Selama ini ternyata Abian itu nggak gila," ujar Stevi.
"Tunggu! maksudnya nggak gila gimana mbak? jelas-jelas dia berada di rumag sakit jiwa selama 12 tahun kan?" tanya Dea.
"Ternyata semua itu bohong. Apa kalian tahu identitas Abian yang sebenarnya? kalian pasti akan pingsan saat mendengar ini," ujar Stevi.
"Memang dia punya identitas apa selain sakit mental?" tanya Mita.
"Ternyata dia itu seorang dokter Obgyn yang handal. Tidak cuma itu, ternyata dia juga seorang pengusaha distributor alkes terbesar di kota ini.' Jawab Stevi.
"Apa???" Mita dan Dea berteriak bersamaan.
__ADS_1
"Mana mungkin dari gila jadi dokter berbakat. Terlebih dia seorang pengusaha sukses. Mbak Stevi ngarang nih," ujar Mita.
"Bego! buat apa aku mengarangnya? dua hari yang lalu aku pergi ke acara pertunangan anak dari direktur rumah sakit tempatku magang. Apa kalian tahu? anak direktur itu adalah tunangan Abian," ujar Stevi.
"Apa? hebat sekali mantan orang gila itu," Mita terkejut.
"Ya. Tapi ada hal yang lebih mengejutkan lagi. Ternyata mbak Nisa berteman dengan anak direktur itu. Dan apa kalian tahu? dimalam pertunangan itu, mbak Nisa yang jadi tukang pembawa cincin tunangannya. Aku bisa melihat air mata mbak Nisa mengucur sederas air terjun. Dia sangat syok, saat dia tahu tunangan sahabatnya adalah mantan suaminya," ujar Stevi.
"Ya Tuhan. Rasanya aku menyesal tidak ikut menyaksikan kehebohan itu," ujar Dea.
"Sayangnya aku lupa mengabadikan moment itu dengan ponselku. Kalau tidak kalian pasti akan melihat betapa menyedihkannya saudara sepupu kita yang satu itu," ujar Stevi.
"Uggghhh gemes deh. Kenapa kami nggak ada disitu juga. Tapi tunggu! bukankah mbak Stevi bilang Nisa kerja di tempat mbak magang? berarti Nisa bakal ketemu terus dong dengan Abian dan tunangannya?" tanya Mita.
"Iya. Aku yakin 100% Anisa merahasiakan pernikahannya dengan Abian. Kira-Kira apa jadinya, kalau Geisha tahu ya?" Stevi tersenyum licik.
"Cuma mbak Stevi yang bisa menghancurkan mimpinya buat punya bestie orang berkelas seperti itu. Dengan begitu, mbak Stevi yang akan menggantikan posisi Anisa. Iya kan?" tanya Mita.
"Betul mbak. Kalau mbak Stevi berhasil jadi bestie Geisha, saat lulus nanti mbak akan mudah mendapat pekerjaan," timpal Dea.
Stevi tampak mencerna ucapan kedua saudara sepupunya, dan kemudian menyeringai.
"Mereka benar. Hal yang sangat membahagiakan saat lulus kuliah, tentu saja langsung diterima bekerja. Kalau aku mendekati Geisha, peluang untuk mendapatkan pekerjaan akan lebih mudah," batin Stevi.
"Mbak akan lihat dulu situasinya. Saat ini mbak Nisa tengah dinas di ruang neonatus, seperti 3 bulan sebelumnya dia di rolling dari ruang penyakit dalam. Semoga saja 3 bulan berikutnya dia akan dirolling di ruang persalinan," ujar Stevi.
"Wah...akan terjadi badai besar sepertinya. Ini kisah cinta segitiga yang cukup menegangkan," ujar Mita.
"Iya. Aku sudah tidak sabar ingin melihat mbak Nisa nangis bombay setiap hari," ujar Dea sembari terkekeh.
"Oh...mbak Nisaku yang malang. Kenapa nasibnya semalang itu. Aku jadi sangat kasihan sama dia," ujar Mita.
"Sepertinya dia itu anak pembawa sial. Bahkan orang tuanya saja tiada, saat dia akan di wisudah. Jadi terima nasib saja," ujar Dea.
Uhukkk
Uhukkk
Uhukkkk
__ADS_1
Anisa yang tengah makan siang dengan nasi bungkus tiba-tiba tersedak. Hari ini dia sangat lelah setelah mencari kontrakkan dan juga beberes barang-barang. Namun dia sangat beruntung, karena dia mendapat kontrakkan tidak jauh dari rumah sakit.