
"Mas..Geisha...."
"Dasar bodoh. Kenapa kamu main pergi saja, tanpa tahu kebenarannya seperti apa. Sikapmu ini membuat pelakor jadi tambah meraja lela. Kamu main percaya saja ucapan Geisha, tanpa bertanya dulu denganku. Apa segitu bajingannya aku dimatamu?" tanya Abian.
"Bu-Bukan begitu mas. Perkataan Geisha semua terdengar masuk akal. Aku dan dia sama-sama wanita, tentu saja aku bisa merasakan penderitaannya, yang hamil diluar nikah." Jawab Anisa.
"Lalu bagaimana denganmu? bagaimana dengan anak kita? apa kamu tidak memikirkan nasib mereka? kenapa kamu tidak memperdulikan anak kita? kenapa kamu malah memperdulikan anak orang lain?" tanya Abian.
"Kok anak orang lain sih mas? itu anak kamu mas. Kamu harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu. Dan aku lebih baik mengalah, daripada harus dimadu." Jawab Anisa.
"Anakku darimana? aku nggak pernah menyentuhnya selain berciuman. Itupun dia yang memaksa menciumku. Kita sama-sama kehilangan perjaka dan perawan waktu itu. Aku berani sumpah, aku nggak pernah menyentuhnya," ujar Abian.
"Kamu pergi, membuat dia gencar mendekatiku kembali. Sekarang tidak hanya dia, tapi adik sepupu kamu juga," sambung Abian.
"Adik sepupu? siapa mas?" tanya Anisa.
"Stevi." Jawab Abian.
"Aih...dia lagi," gumam Anisa.
"Ap-Apa perkataanmu ini sungguh-sungguh mas? apa kamu sungguh tidak pernah berhubungan dengan Geisha?" tanya Anisa.
"Tidak pernah sekalipun." Jawab Abian.
"Aku susah payah mencarimu untuk menjelaskan semuanya. Beruntung aku sedang berada di palembang, saat temanku menghubungiku dan mengatakan kalau kamu tengah berada di Palembang saat ini," ujar Abian.
"Maafin aku mas. Sebenarnya di hari pertama mas datang ke rumah sakit umum, aku juga sempat melihat mas dan hanya berani melihat dari kejauhan. Termasuk dihari mas akan pulang ke Jakarta. Aku mendatangi hotel Arya Duta, hanya untuk melihat mas terakhir kalinya. Rasanya saat itu ingin sekali aku memelukmu mas. Aku merindukanmu," ujar Anisa.
"Bodoh!" Abian membawa Anisa dalam pelukkannya.
"Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Meski aku menjalani hubungan dengan Geisha selama 5 tahun, tapi bukan berarti jodohku harus dia juga. Kamu harus percaya padaku, kalau aku hanya mencintaimu saja. Tidak akan ada wanita lainnya," ucap Abian.
"Jadi mas belum menikahi Geisha kan?" tanya Anisa.
"Buat apa aku menikahinya? aku tidak mencintainya, terlebih dia tidak mengandung anakku." Jawab Abian.
"Baguslah. Kalau begitu biarkan aku egois. Aku nggak mau lagi jadi wanita bodoh dan lemah. Mulai hari ini mas hanya akan jadi milikku saja. Awas saja kalau ada yang berani merebutmu dariku," ujar Anisa.
"Bagus. Karena kamu memang harus mempertahankan aku, seperti aku mempertahankanmu," ujar Abian.
"Sekarang lebih baik kamu tiup lilinnya. Kita rayakan ulang tahumu dengan spesial," sambung Abian.
Anisa melerai pelukkannya sembari tersenyum.
"Makasih ya mas," ucap Anisa.
__ADS_1
"Sama-Sama. Sekarang buat permintaanmu," ujar Abian.
"Semoga aku dan mas Abian bersatu selamanya. Semoga anak-anakku sehat. Semoga kami menjadi keluarga yang bahagia kelak," gumam Anisa.
"Amiin," Abian mengaminkan ucapan Anisa.
Anisa kemudian meniup lilin itu bersama Abian. Setelah itu dia memotongnya, dan menyuapkannya pada Abian.
"Aku punya hadiah untukmu," ujar Abian.
"Hadiah apa mas?" tanya Anisa.
Abian kemuidan merogoh kantung celananya, dan menyodorkan sebuah kotak perhiasan berukuran kecil di hadapan Anisa.
"Apa ini mas?" tanya Anisa.
"Bukalah!" ujar Abian.
Anisa kemudian membukanya dan mendapati sebuah kalung berlian cantik berada di dalam sana.
"Kalungnya cantik sekali mas," ujar Anisa.
"Aku pakaikan ya?" tanya Abian.
"Iya." Jawab Anisa.
"Makasih ya mas. Aku sangat bahagia malam ini," ucap Anisa.
"Aku tidak menerima ucapan terima kasih dengan mulut saja. Aku juga ingin kamu melakukannya dengan tindakkan," ujar Abian.
Anisa yang mengerti arah ucapan Abian, tentu saja tidak ingin berbasa basi. Wanita itu langsung mencium Abian dengan tergesa-gasa dan memburu.
"Lama tak bertemu, kamu sudah paham caranya menyenangkan calon suamimu," ucap Abian lirih.
Pria itu lalu menggendong Anisa kedalam kamar, dan merebahkannya diatas tempat tidur.
"Biarkan kita menikmati dosa malam ini. Jangan katakan apa-apa, apalagi penolakkan. Karena aku sama sekali tidak akan menerima hal itu," ucap Abian.
Tanpa berbasa basi lagi Abian langsung menanggalkan pakainanya dengan tergesa-gesa. Begitu juga dengan Anisa. Dua sejoli itu seolah tidak perduli dengan apa yang akan mereka lakukan. Mereka hanya ingin melepaskan rindu yang sudah sangat menggebu. Dan malam itu mereka benar-benar melepaskan semua hasrat mereka yang sudah lama terpendam.
Hosh
Hosh
Hosh
__ADS_1
"Besok kamu harus mengundurkan diri. Kita harus segera kembali untuk mengurus pernikahan kita," ujar Abian.
"Baru juga kerja mas," ucap Anisa dengan bibir mengerucut.
"Aku tidak akan mengizinkan kamu bekerja lagi. Kamu hanya perlu fokus mengurus suami dan anak-anak kita saja," ujar Abian.
"Hah....malangnya jadi wanita," gumam Anisa.
"Kamu hanya perlu kipas-kipas duit dari nafkah yang aku berikan saja. Meski aku tidak lagi bekerja di rumah sakit, aku masih mampu menghidupimu dengan uang hasil usahaku," ujar Abian.
"Mas Abian nggak kerja di rumah sakit lagi? tapi kenapa mas?" tanya Anisa.
"Aku sudah resign dari sana. Aku nggak mau berurusan dengan Geisha lagi. Kalau pun nanti ingin jadi dokter lagi, aku ingin kita buka praktek saja." Jawab Abian.
"Aku akan mendukung semua keputusanmu mas. Aku jadi penasaran, dengan cara apa Stevi mendekatimu?" tanya Anisa.
"Awalnya kayak bersimpatik gitu. Lama-Lama yang ngajakin nonton, yang ngajakin liburan, yah...macam-macam pokoknya." Jawab Abian.
"Aku heran kenapa mereka tergila-gila padamu, termasuk aku. Jangan-Jangan kamu pakai ilmu pelet ya mas?" tanya Anisa.
"Pelet apaan? nggak pakai pelet juga wajah suamimu memang tampan. Tapi ngomong-ngomong kita pulang lusa ya?" tanya Abian.
"Aku nurut saja mas. Kalau begitu hari ini kita jalan-jalan dulu sepuasnya disini," ujar Anisa.
"Oke. Emm...yank,"
"Hem?"
"Again," ujar Abian dengan wajah memelas.
"Mas. Kamu kan seorang dokter. Pasti tahu bahayanya kalau sering-sering ngelakuin saat trimester pertama gini," ujar Anisa.
"Aku tahu, aku juga akan hati-hati," ujar Abian.
Anisa hanya bisa pasrah, saat Abian kembali menjadikan dirinya sebagai landasan pacu.
*****
Abian menatap Anisa yang masih tertidur lelap karena kelelah. Tadi malam Abian benar-benar melakukannya hingga puas. Karena Anisa tidur nyanyak, Abian tidak membangunkannya. Pria itu malah meraih laptop Anisa dan membuatkan Anisa surat Resign. Setelah selesai, Abianpun pergi ke dapur untuk membuat sarapan seadanya.
Mata Anisa perlahan membuka, saat mencium aroma wangi dari dapur. Perlahan dia mengingat apa yang terjadi tadi malam, dan berharap itu bukan hanya sekedar mimpi. Namun saat dia membuka selimut, dirinya mendapati tubuhnya yang telanjang dan juga banyak tanda kepemilikkan di tubuhnya itu. Hal itu membuatnya yakin, kalau Abian benar-benar ada dan nyata.
"Mas...Mas...." teriak Anisa.
"Hussstt...kenapa teriak-teriak?" tanya Abian.
__ADS_1
Brukkkk
Anisa langsung berhambur kepelukkan Abian dan memeluk pria itu dengan erat.