
Anisa mengerutkan dahinya, matanya perlahan terbuka. Ingatannya mendadak langsung mengingat, tentang kejadian semalam. Mengingat hal itu, Anisa langsung duduk tiba-tiba.
"Ah..." Anisa merasakan sakit di daerah intinya. Tidak hanya itu, tubuhnya terasa remuk saat ini. Dan saat dia mencoba berdiri, pantulan cermin cukup membuat dirinya terpaku.
Tanda kissmark hampir memenuhi seluruh bagian dada dan lehernya. Dan itu benar-benar membuat dirinya merasa malu.
"Hiks...kenapa kamu jadi begini Anisa. Kenapa kamu menggali kuburanmu sendiri? kamu sudah menciptakan masalah besar, atas kebodohanmu ini. Sebenarnya dimana akalmu semalam? kenapa kamu mudah dibujuk rayu oleh pria yang sudah membuat hatimu hancur berkeping-keping?"
"Sekarang penyesalanmu sama sekali tidak berguna. Semua sudah terjadi, karena kamu tidak bisa mengendalikan hawa nafsu. Kamu harus mempersiapkan dirimu, kalau suatu saat Abian kembali memberikan luka yang lebih parah dari sebelumnya,"
Anisa menyeka air matanya, dan kemudian memasuki kamar mandi. Setelah selesai mandi, dia segera berpakaian. Namun matanya langsung tertuju pada secarik kertas yang Abian tinggalkan untuk dirinya diatas meja rias.
"Sayang. Beri aku waktu untuk menyelesaikan hubunganku dengan Geisha. Aku harus memutuskan pertunanganku denganmya secara benar. Aku bertunangann dengannya dengan cara izin pada orang tuanya yang tidak lain kepala rumah sakit tempat kita bekerja. Minimal kita harus beretika, jika harus memutuskan pertunangan ini. Bersabarlah! setelah semuanya kelar, kita akan langsung menikah. Aku mencintaimu Anisa,"
Air mata Anisa kembali jatuh. Saat ini bukan hubungannya dan Abian saja yang membuatnya takut. Tapi pekerjaannya dan Abian akan terancam, saat Geisha tahu dirinyalah penyebab putusnya pertunangan itu.
"Ya Tuhan...apa yang harus aku lakukan? Geisha pasti akan bersedih. Saat dia tahu akulah penyebab semua itu terjadi, dia pasti sangat membenciku. Padahal dia sangat baik padaku, begitu juga dengan orang tuanya. Aku jadi merasa sangat bersalah," gumam Anisa.
Sementara itu ditempat berbeda, Abian saat ini tengah berendam dalam sebauh bathup. Senyuman selalu menyungging dibibirnya, saat mengingat percintaan panasnya bersama Anisa tadi malam.
"Kenapa aku harus terlambat menyadari perasaanku. Seharusnya aku sudah sadar, saat Geisha kembali dan kami berciuman untuk pertama kalinya. Tidak ada perasaan meletup-letup seperti yang aku rasakan saat bersama Anisa. Mungkin karena terlalu lama melakukan hubungan jarak jauh, perasaanku terhadap Geisha perlahan melemah. Sekarang aku harus mengakhiri semuanya, sebelum Geisha memintaku untuk melakukan sesi lamaran," gumam Abian.
"Hari ini aku masuk malam, sementara Geisha masuk pagi. Aku harus berbicara dengan Geisha, agar semuanya cepat kelar,"
Abian memejamkan matanya, sembari menikmati air hangat. Senyumnya kembali menyungging, saat mengingat kembali saat-saat terindah dalam hidupmya.
"Aku sudah merusak prinsipku sendiri, yang tidak ingin melakukan hubungan diluar batas sebelum menikah. Ini karena aku sangat cemburu melihat Anisa bersama pria lain. Aku berpikir, kalau Anisa sepenuhnya jadi milikku. Anisa tidak akan pernah berpaling pada pria lain. Entah kenapa aku sangat takut kehilangan dia,"
"Ah...aku tidak pernah jatuh cinta segila ini. Hanya Anisa yang mampu membuatku kehilangan akal," Abian terkekeh.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Abian. Apa kamu ada didalam?" tanya Ryan.
"Ya. Tunggu sebentar!" jawab Abian dari arah dalam kamar mandi.
Setelah menunggu hampir 5 menit, Abian akhirnya keluar namun membuat mata Ryan jadi melotot.
"Abian. Kamu...."
"Ada apa?" tanya Abian.
"Lehermu." Jawab Ryan.
"Ada apa dengan leherku?" tanya Abian tidak mengerti.
"Saking bergairahnya, kamu sampai tidak sadar sudah dikecup drakula Geisha." Jawab Ryan sembari terkekeh.
Abian bergegas kedepan cermin, dan mendapati lehernya ada dua buah tanda merah disana.
"Sepertinya temanku sudah tidak perjaka lagi. Cepatlah kalian menikah. Kalau tahu begini kenapa harus pakai acara bertunangan segala? harusnya langsung menikah saja," sambung Ryan.
Bukannya menyimak ucapan Ryan, Abian malah senyum-senyum sendiri saat mengingat Anisa memberikan tanda itu di lehernya.
"Sial. Membayangkannya saja si Joni jadi bangun lagi," batin Abian.
"Ckk...dasar mesum. Kamu pasti mengingatnya lagi kan? hey, aku ini sedang bicara denganmu Abian," ujar Ryan.
"Jadi kapan kamu akan menikah dengan Geisha? jangan sampai nunggu hamidun dulu, baru mau bergerak," tanya Ryan.
"Hamil? aku harus menyelesaikann masalahku secepat mungkin. Aku nggak mau Anisa hamil sebelum kami menikah lagi," batin Abian.
"Ryan. Aku ingin bercerita denganmu. Semalam aku sudah membuat kesalahan. Tapi kesalahan ini tidak aku sesali, karena hal ini sangat membuatku bahagia,"
__ADS_1
"Ryan. Kamu benar, aku sudah jatuh cinta pada Anisa. Tapi meski aku terlambat menyadarinya, aku ingin memperbaiki semuanya," sambung Abian.
"Apa maksudmu?" tanya Ryan.
"Semalam aku dan Anisa...."
"Tidak mungkin! apa kamu sudah gila? kamu pasti memaksanya kan?" tanya Ryan.
"Awalnya memang begitu. Tapi lambat laun tubuh dan hati Anisa lebih jujur dari mulutnya. Kami sangat menikmati dosa yang kami lakukan semalam. Bahkan kami mengulanginya beberapa kali. Ryan, aku mencintai Anisa." Jawab Abian.
Ryan mengusap wajahnya dengan kasar, saat mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Abian. Kamu sudah menciptakan masalah besar. Lalu bagaimana dengan Geisha? bukan hanya dia, tapi keluarganya akan merasa dipermalukan," ujar Ryan.
"Ya aku harus bagaimana? aku baru sadar, kalau aku tidak mencintai Geisha lagi. Dengan Anisa aku merasakan jantungku berdebar-debar saat didekatnya, dengan Anisa aku baru bisa merasakan kehilangan dan juga rasa cemburu. Dengan Geisha aku tidak merasakan itu, kamu tahu sendiri dia bertahun-tahun di luar negeri. Aku tidak pernah merasa cemburu dengannya," ujar Abian.
"Ya tapi kenapa kamu lakukan ini setelah kalian bertunangan? mereka sudah bersahabat, kamu pasti akan menghancurkan hubungan baik mereka," ujar Ryan.
"Jadi aku harus bagaimana? aku tidak mungkin meninggalkan Anisa. Terlebih aku sudah menikmati keperawanannya. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak mungkin melanjutkan hubungan dengan orang yang tidak aku cintai lagi. Geisha masih suci, aku tidak pernah melakukan hal diluar batas dengannya," ujar Abian.
"Ya Tuhan...akan terjadi badai sebentar lagi. Tapi kamu terlihat begitu santai," ujar Ryan.
"Ryan. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Anisa lagi. Baru beberapa jam pisah dengannya, aku sudah merasakan rindu. Dan...."
"Dan apa?" tanya Ryan.
"Aku ingin sekali mengulang kegiatan semalam." Jawab Abian sembari terkekeh.
"Kamu sudah membuat bencana besar, malah sempat-sempatnya berpikiran mesum," ujar Ryan.
"Mau bagaimana lagi. Kalau aku tahu rasanya senikmat itu, sudah sejak menikah dengannya aku akan melakukannya," Abian tertawa, sementara Ryan jadi menggelengkan kepalanya.
"Sekarang jangan ganggu aku. Aku akan menghubungi kekasih hatiku, tapi sebelum itu aku mau mengirim makanan online untuknya," sambung Abian.
__ADS_1
Sesuai perkataannya, Abian memesan makanan online untuk Anisa. Setelah itu dia baru menghubungi belahan jiwanya itu.