
"Aku tidak tahu kenapa, sejak tadi jantungku berdebar-debar dengan sangat kencang. Masak iya, aku gugup karena menjadi pembawa cincin tunangan?" gumam Anisa.
Anisa memarut dirinya di cermin, Geisha sengaja membelikannya gamis berwarna putih, karena gadis itu pikir Anisa pasti akan mengenakan hijab diacara itu. Dan Anisa juga sangat menyukai baju itu.
Anisa juga mengoleskan sedikit lipstik dibibirnya, untuk menunjang kecantikan wajahnya. Dan setelah selesai, Anisa bergegas pergi ke gedung lebih dulu karena dia yang akan membawakan cincin pertunangan Geisha.
"Nisa? kamu ada dimana?" tanya Geisha lewat panggilan telpon.
"Aku baru nyampai nih. Kalian jam berapa kesini?" tanya Anisa.
"Kami lagi bersiap menuju gedung. Nanti kita ketemu disana ya!" ujar Geisha.
"Oke." Jawab Anisa.
Anisa pergi ke toilet setelah mengakhiri percakapannya dengan Geisha. Dia sama sekali tidak memperhatikan nama yang terpajang dibeberapa karangan bunga. Ditambah tamu-tamu sudah mulai berdatangan, memenuhi ruangan itu.
Tidak berapa lama kemudian suara riuh terdengar, karena Geisha sekeluarga sudah datang ke aula hotel tempat acara itu akan berlangsung. Suara musik dan lagu mulai dilantunkan oleh seorang artis yang disewa untuk menyemarakkan acara meriah itu.
"Sayang. Aku ke toilet bentar ya!" ujar Abian.
"Jangan lama-lama. Habis artisnya nyanyi satu buah lagu lagi, acara akan langsung di mulai." Jawab Geisha.
"Ya." Jawab Abian.
Geisha segera membuat panggilan untuk Anisa, setelah Abian pergi ke toilet. Sementara Anisa yang berada di dalam toilet segera menerima panggilan itu sembari berjalan menuju keluar pintu. Namun saat Abian masuk ke toilet pria, Anisa membuka pintu toilet secara bersamaan.
"Ya dok?" tanya Anisa.
"Kamu dimana? acara sudah mau dimulai. Aku tunggu diatas panggung ya! kamu harus pegang cincin tunangannya." Jawab Geisha.
"Oke aku langsung kesana sekarang dok," ujar Anisa yang kemudian bergegas mengakhiri panggilan itu.
Langkah Anisa begitu besar, sehingga dia begitu cepat sampai diatas panggung yang tingginya hanya 50 cm itu.
"Dok," sapa Anisa.
__ADS_1
"Hey...cantik banget kamu malem ini," ujar Geisha.
"Dokterlah yang paling cantik. Dokter seperti putri di negeri dongeng malam ini," ujar Anisa yang membuat keduanya jadi terkekeh
"Oh ya ini cincinnya. Jadi waktu MC nya nyebutin tukar cincin, kamu harus naik panggung dan berjalan kearah kami. Nanti posisinya kamu disamping kami, namun ditengah-tengah," ujar Geisha.
"Oke saya paham dok. Jadi saya nungu dimana nih?" tanya Anisa antusias.
"Disana. Tepat didepan panggung ini, jadi kamu bisa dengar apa yang dikatakan MC nya." Jawab Geisha.
"Oke. Tapi dok calon tunangan dokter mana?" tanya Anisa.
"Dia ketoilet sebentar." Jawab Geisha.
"Dokter,"
"Apa?"
"Kenapa ya jantung saya berdebar-debar? saya merasa gelisah sekali," tanya Anisa.
"Ya ampun Nis. Baru jadi pembawa cincin aja segugup itu. Apalagi kalau bawa bom?" ujar Geisha terkekeh.
Abian yang berada di toilet bergegas kembali dan menaiki panggung. Namun karena MC itu berdiri tepat di depan Geisha dan Abian, Anisa jadi tidak bisa melihat sosok calon tunangan dari sahabatnya itu.
"Oke. Mari kita sambut calon kita yang tengah berbahagian malam ini. Bisa dibilang calon raja dan ratu semalam untuk malam ini. Kita do'akan semoga hubungannya langgeng, yang pastinya sampai keacara akad nikah nanti dilancarkan urusannya. Amiin," Mc itu mulai menggeser tubuhnya kesamping, sementara Abian dan Geisha mulai berdiri dari tempat duduk dan berjalan kearah depan. Yang hanya berjarak 5 meter saja dari tempat Anisa yang mulai berdiri dari tempat duduknya.
Suara gemuruh tepuk tangan menyambut sejoli yang tengah bergandengan mesra itu, namun tidak dengan Anisa yang tertegun melihat Abian yang berada tidak jauh dari hadapannya. Mata Anisa melirik ke kanan dan ke kiri, berharap dirinya menemukan petunjuk. Karena dia tidak ingin salah mengenali orang. Dan tiba-tiba matanya tertuju pada undangan yang tergeletak di meja. Anisa meraih undangan itu dan membaca nama Abian Syahputra tertera dibagian depan undangan.
Plukkkk
Undangan itu jatuh begitu saja dibawah kakinya. Satu persatu ucapan orang yang pernah dekat dengannya terngiang-ngiang ditelinganya.
"Maaf Nisa tapi anak bapak Mentalnya agak terganggu," ujar Suban.
"Kasihan. Ganteng sih, tapi buat apa kalau cacat," sindir Stevi.
__ADS_1
"Kalau menurut aku yang tidak waras itu kamu. Sudah tahu orang gila kok dinikahi," ujar Neneng.
"Kalian harus menuruti apa yang dia mau. Jangan melarang-larang dia, kalau dia pengen keluar. Takutnya dia bisa kumat," ujar dokter Yasmar.
"Aku nggak betah tinggal disini. Aku mau kembali ke rumah sakit jiwa. Aku akan pulang sekali-kali," ujar Abian.
"Semoga suatu saat nanti kamu menemukan pacar yang sempurna seperti pacar aku. Dia dokter yang smart. Selain dokter, dia juga pengusaha. Kamu tahu kan AA Group? itu usaha calon tunangan aku," ujar Geisha.
Kata-Kata orang itu seakan bergantian mengingatkan memori Anisa. Hingga jantung Anisa berdegup berkali-kali lipat saat ini. Tubuh Anisa sampai bergetar saat mengingat itu semua.
"Ja-Jadi semuanya bohong. Di-Dia membobongiku?" Air mata Anisa jatuh membasahi pipinya.
"Ke-Kenapa dia melakukan ini sama aku? ke-kenapa," ucapan Anisa begitu lirih dan tidak bertenaga.
Aliran darahnya terasa dihempaskan dari ketinggian. Rasa dingin menyusup tiba-tiba hingga ketulangnya.
"Apa ada yang ingin disampaikan, sebelum penyematan cincin dilakukan?" tanya MC.
Geisha meraih microfon dari tangan MC. Dan kemudian menatap lurus ke depan.
"Saya ucapkan banyak terima kasih pada semua tamu undangan yang sempat hadir di acara kami yang berbahagia ini. Aku juga mengucapkan terima kasih pada orang tua yang sudah merestui kami. Juga pihak WO dan seluruh pihak yang terlibat untuk suksesnya acara malam ini. Dan yang terakhir aku ucapkan terima kasih buat sahabatku Anisa,"
Tangan Geisha menunjuk kearah Anisa, hingga wanita itu menjadi pusat perhatian, termasuk Abian.
Deg
Jantung Abian terasa berhenti berdetak saat melihat kehadiran Anisa tepat di depan matanya. Mata Abian dan mata Anisa beradu pandang. Anisa tidak bisa menyembunyikan air mata kesedihannya. Karena ini sungguh menyakitkan baginya.
"Ni-Nisa," gumam Abian.
"Hey...sobat. Sampai menangis begitu, kamu pasti terharu ya?" Geisha membuat sedikit banyolan sembari terkekeh.
Anisa bergegas menyeka air matanya sembari menerbitkan senyum kesakitan di bibirnya.
"Anisa adalah salah satu orang yang berjasa hingga bisa membuat acara semeriah ini. Makasih kawan," ucap Geisha yang dibalas senyuman oleh Anisa.
__ADS_1
"Ya Tuhan dok, kenapa bisa kebetulan seperti ini?" ujar Ryan setengah berbisik.
Yasmar sama paniknya saat melihat kehadiran Anisa diantara mereka.