SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.16. Amanat Sumarno


__ADS_3

Anisa mondar mandir di depan ruang perawatan Sumarno dengan mengenakan baju kebaya berwarna putih. Gadis itu sangat gelisah, menanti kedatangan Suban dan putra yang dia janjikan akan menikahinya di hari ini.


"Mbak Nisa. Sebenarnya kamu jadi nikah nggak sih? lama sekali calon mempelainya datang. Jangan-Jangan dia sama sekali nggak bisa melakukan pernikahan ini. Bukankah dia kurang waras?" tanya Stevi.


"Stevi. Kamu ndak boleh ngomong begitu sama mbakmu. Ini hari bahagianya, jadi kamu harus mendukungnya," ujar Sunarti yang berpura-pura menegur putrinya.


"Tapi ini sangat lama sekali buk. Coba mbak Nisa buat panggilan sama bapak mertuamu itu. Mungkin dia lupa kalau hari ini akan menikahkan anaknya dengan sampeyan," ujar Stevi. Sementara Dea dan Mita menahan tawanya.


"Mbak lupa minta nomor kontaknya," ujar Anisa.


"Loh. Sampeyan itu bagaimana sih mbak? gimana kalau ini penipuan? kalau sampai pernikahan ini batal, mbak udah nyia-nyiain dandanan kami," tanya Dea.


"Mbak minta tunggu sebentar lagi ya! mungkin mereka terjebak macet," ujar Anisa.


"Mungkin calon sampeyan itu nggak cuma dia aja yang gila, siapa tahu bapaknya juga. Aku rasa sampeyan itu sudah tertipu," ujar Mita.


"Kalian ini. Apa ndak bisa diam sebentar! jangan buat mbakmu tambah panik. Bicaranya jangan keras-keras, pakdemu ndak tahu kalau calon mbakmu kurang waras," Surani melarang anak serta keponakkannya bersuara keras, namun dirinya sendiri bersuara lantang. Seolah ingin Sumarno mendengar semua ucapannya itu.


"Ya Allah. Apa semua yang Surani katakan itu benar? kalau itu semua benar, bagaimana aku bisa menitipkan Anisa pada orang gila?" batin Sumarno.


Degup jantung Sumarno dilayar monitor semakin meningkat, karena perasaannya terganggu dengan ucapan Surani.


"Aduh. Kalau tahu begini, mending nggak usah datang. Buang-Buang waktu aja," ujar Mita.


"Iya. Aku rasa mbak Nisa nggak akan menikah, dan sudah kena tipu mentah-mentah," timpal Dea.


"Maaf atas keterlambatan kami," ucap Suban yang muncul dari arah belakang keluarga Anisa.


Anisa tersenyum, saat melihat kehadiran Suban dan seorang pria parubaya yang mengenakan peci diatas kepalanya.


"Hey. Apa menurutmu calon mempelainya pria berpeci itu?" bisik Dea.


"Ya ampun ini kan sudah tuwir? jadi selain tuwir, dia juga gila?" ucap Stevi sembari terkekeh.

__ADS_1


"Bapak sudah datang? kemana...."


"Dia ada dibelakang. Dia akan datang bersama dokter dan juga asisten dokter." Jawab Suban.


"Kenapa bersama dokter?" tanya Anisa.


"Dia cuma mau menuruti perkataan dokter, dan juga asisten dokter itu." Jawab Suban.


"Ya ampun malang sekali saudara kita. Sudah mendapatkan suami gila, terus bakal bisu juga nantinya," ucap Stevi setengah berbisik.


Abian yang sudah mendekat kearah Suban, mendengar semua bisik-bisik yang dilakukan saudara Anisa.


"Pak Suban. Ini Abian," ujar dokter Yasmar.


Suban dan penghulu membuka jalan untuk Abian dan juga Ryan yang berada di samping putranya. Mata Anisa dan Abian bertemu satu sama lain untuk pertama kalinya.


"Astaga. Dia suami mbak Nisa? ganteng sekali?" bisik Dea saat melihat Abian yang berpakaian kemeja putih, dan mengenakan peci diatas kepalanya. Rambut gondrong Abian dibiarkan terurai sebahu.


"Apa gunanya ganteng, kalau gila," bisik Stevi.


"Tapi baguslah dia nikah sama orang gila, gadis miskin dan calon yatim piyatu seperti dia memang pantas mendapatkannya," bisik Stevi.


"Siapa gadis-gadis cerewet dan bermulut cabe ini? apa mereka saudara gadis ini? atau sahabatnya?" batin Abian.


"Apa dia sungguh tidak waras? tapi dia tampan sekali?" batin Anisa.


"Gadis ini lumayan cantik. Boleh juga mainanmu kali ini," bisik Ryan.


Abian menatap Anisa dengan tatapan kosong.


"Cantik saja tidak bisa memenuhi syarat untuk menjadi istri sungguhanku. Hanya Geisha yang sempurna," batin Abian.


"Lihat bagaimana aku akan mengacaukan pernikahan ini dengan kegilaanku. Aku akan membuat ayah gadis ini kena serangan jantung, saat tahu menantunya adalah orang gila. Heh, mau menikah denganku? aku tidak akan pernah mewujudkn keinginanmu gadis bodoh. Dan kau Suban, kau akan di permalukan hari ini," batin Abian.

__ADS_1


"Mari besan! kita semua masuk kedalam, dan menemui bapak Anisa. Dia sudah menunggu kehadiran kalian sejak tadi," ujar Surani.


Merekapun masuk kedalam ruangan tempat dimana Sumarno dirawat. Sumarno membuka matanya, saat mendengar derap langkah beberapa orang memasuki ruangannya.


"Yang mana calon menantuku," tanya Sumarno.


"Ah...ini Abian putra saya pak Sumarno," ujar Suban sembari menunjuk Abian dengan jari jempolnya.


Sumarno menatap Abian yang terlihat tampan disamping Suban.


"Abian. Kamu salim dulu dengan bapak mertuamu ya!" ujar dokter Yasmar yang memberikan kode pada Abian.


Abian menuruti perintah Yasmar, dan itu membuat Suban cukup takjub. Mata Sumarno dan Abian saling terpaut satu sama lain untuk sejenak.


"Kenapa aku merasa dia seperti orang normal biasanya? jadi dia mempunyai gangguan apa pada dirinya?" batin Sumarno.


"Kalau diperkenankan, apa boleh aku bicara dengan Abian 4 mata saja?" tanya Sumarno.


Suban langsung menoleh kearah Yasmar dan juga pada Ryan. Pria parubaya itu merasa khawatir Abian akan berbuat yang tidak-tidak pada Sumarno. Namun saat dokter Yasmar menganggukkan kepalanya, Suban merasa sedikit lega.


"Abian. Bapak mertuamu ingin bicara denganmu," ujar dokter Yasmar yang kemudian dianggukki pelan oleh Abian.


Semua orang meninggalkan Sumarno dan Abian berdua saja didalam ruangan itu. Sumarno dan Abian saling bertatapan, namun akhirnya Abian menghindari kontak mata dengan pria yang tengah sekarat itu. Sumarno tersenyum melihat Abian menghindari tatapan matanya.


"Bapak tidak tahu apa alasanmu berpura-pura menjadi orang yang sangat dijauhi oleh kebanyakkan orang. Tapi bapak hargai keputusanmu, karena bapak yakin kamu punya alasan tersendiri," Sumarno mulai membuka suara.


"Dia tahu aku berpura-pura?" batin Abian.


"Abian. Anisa adalah putriku satu-satunya. Dia baru saja kehilangan ibunya, dan mungkin sebentar lagi akan kehilanganku juga. Bian, entah kenapa aku tidak bisa percaya semua orang untuk menjaga anakku, tapi aku percaya kamu bisa menjaganya. Keluargaku tidak ada yang suka pada keluargaku termasuk Anisa. Sejak kecil dia dikucilkan karena keluarga kami miskin,"


"Bian. Aku tidak butuh menantu kaya, aku hanya butuh menantu yang bisa membimbing dan menjaga Anisa. Kalau bapak meninggal, dia akan benar-benar sendirian. Bapak juga sudah menyerahkan aset kepemilikkan kebun teh dan kelapa sawit pada saudara keduaku, tapi bapak yakin itu tidak akan pernah sampai pada Anisa,"


"Bapak tidak memberitahu Anisa hal itu, karena bapak tidak ingin dia dicelakai. Abian, maukah kamu berjanji sama Bapak? berjanjilah kamu akan menjaga Anisa, dan tidak akan pernah meninggalkannya sendirian. Bapak percaya, kamu bisa diandalkan," tanya Sumarno.

__ADS_1


Abian menatap mata Sumarno sekali lagi. Tatapan yang tidak bisa Sumarno artikan sendiru.


__ADS_2