SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.50. Penyakit Hati


__ADS_3

"Aku memang suka melihat mbak Nisa menderita. Karena mbak Nisa itu nggak pantas mendapatkan hal apapun yang berupa kebahagiaan." Jawab Stevi.


"Kasihan sekali. Sebentar lagi kamu itu akan menjadi calon dokter. Tapi sayangnya kamu memiliki satu penyakit, yang aku rasa tidak cocok untuk gelar seorang dokter. Yaitu penyakit hati," ujar Anisa.


"Kamu sudah tahu, tidak ada yang istimewa dari dalam hidupku ini. Sejak dulu aku sudah hidup menderita dan kekurangan. Berbeda dengan kalian. Kalian kuliah ditempat yang bagus, rumah yang bagus, harta yang banyak, bahkan kedua orang tua kalian sangat lengkap."


"Tapi kondisiku sebaliknya. Aku tidak punya apapun yang bisa aku banggakan. Jadi aku mohon, jika kalian tidak ingin mengasihi aku, atau tidak menganggapku bagian dari keluarga. Setidaknya jangan mengusik hidupku lagi. Anggap saja aku tidak ada lagi di dunia ini," sambung Anisa.


"Wah...mbak Nisa hebat sekali. Hidup miskin tidak membuatmu mendapat pelajaran hidup. Harusnya kamu mengerti tentang hukum alam. Dimana yang lemah, memang harus ditindas oleh yang kuat. Kalau kami baik sama mbak Nisa, terus siapa dong yang bakal jadi bahan buat di tindas," ujar Stevi sembari menyeringai.


"Kenapa? apa karena aku miskin, kamu begitu terang-terangan ingin menindasku? ingatlah satu hal Stevi, Tuhan itu tidak pernah tidur. Siapapun yang berbuat jahat atau tidak berlaku adil pada orang lain, maka dia pasti akan mendapat ganjarannya," ujar Anisa.


"Sepertinya jalur kita sudah berseberangan. Tapi dari dulu sih kita memang tidak sejalan. Jadi silahkan dokter Stevi, pintu keluarnya ada disana!" sambung Anisa.


"Sombong sekali mbak Nisa? aku jadi ingin tahu, apa kamu masih bisa sombong saat aku memberitahu Geisha tentang hubunganmu dengan Abian. Hati-Hati, dia orang berpengaruh di rumah sakit. Kamu bisa hilang pekerjaanmu, atau lebih parah lagi dia akan menyebarkan rumor bahwa kamu seorang pelakor," ujar Stevi.


"Silahkan saja. Aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu," ujar Anisa.


"Yakin tidak takut? tapi untuk sementara aku tidak akan melakukan itu dulu. Soalnya aku punya tujuanku sendiri," ujar Stevi dengan senyum misterius.


"Mbak tunggu saja kejutan dariku ya! soalnya aku senang kalau melihat air matamu mengalir sampai ke lututmu itu," sambung Stevi sembari keluar dari rumah Anisa.


Anisa mondar mandir karena panik. Tentu saja dia sangat khawatir kalau Stevi melapor tentangnya dan Abian pada Geisha.


"Sebenarnya apa yang di rencanakan Stevi? kenapa dia dan saudara-saudaraku, selalu berusaha menyakitku? sebenarnya apa salahku pada mereka? aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran mereka," gumam Anisa.


"Tapi kalau sampai dia benar-benar mengadu pada Geisha bagaimana? pertemanan kami pasti akan hancur. Aku tidak perduli tentang pekerjaanku, aku lebih perduli kalau Geisha akan melakukan hal yang akan membuatku malu," gumam Anisa.


"Ckk...kenapa hidupku jadi penuh drama begini. Belum selesai dengan masalah yang satu, kini muncul lagi masalah yang lain. Apa aku ini memang ditakdirkan tidak hidup bahagia?"


Anisa masuk ke kamarnya, dan meraih handuknya. Dia bergegas mandi karena ingin membersihkan diri.


"Coba kalau ada Niko. Aku pasti bisa bercerita dengannya. Aku sudah meninggalkan nomor ponselku pada tante Intan, tapi kenapa Niko belum menghubungiku? apa dia sangat sibuk?" gumam Anisa.


*****


Keesokkan harinya....


"Ih...kesal deh. Apa kamu tahu? semalaman aku kepanasan," ujar Geisha.


"Kenapa?" tanya Abian yang baru saja datang ke ruang pesalinan.


"Apanya yang kenapa? semalam Ac ruangan ini mati. Ac nya rusak, teknisinya akan memperbaikinya pagi ini. Ruang tertutup seperti ini, mana betah tanpa Ac. Jadi semalam aku istirahatnya bergabung dengan ruang perawat." Jawab Geisha.


"Untunglah ini sudah jam pulang, kalau tidak aku akan pingsan. Eh...itu Nisa baru datang," ujar Geisha.

__ADS_1


"Pagi dok," sapa Anisa.


"Pagi Nis. Masuk pagi lagi ya?" tanya Geisha.


"Iya. Dokter mau pulang sekarang?" tanya Anisa.


"Iya. Sudah gerah, soalnya semalaman Ac di ruangan ini rusak. Itu apa?" tanya Geisha.


"Oh ini berkas pasien yang akan melakukan operasi cesar jam 9 nanti." Jawab Anisa sembari menyodorkannya pada Abian.


"Terima kasih," ucap Abian.


"Sayang. Aku pulang dulu ya?" ujar Geisha


Cup


Seperti biasa Geisha memberikan kecupan di bibir tunangannya itu. Dan seperti biasa pula Anisa memalingkan wajahnya.


"Sampai kapan aku menikmati rasa sakit ini? ya Tuhan...tolong hilangkan perasaanku pada Abian dari dalam hatiku. Aku tahu dia cinta pertamaku, tapi setidaknya kalau perasaan ini segera hilang, aku tidak akan merasakan sakit lagi," batin Anisa.


"Nisa. Kamu cepat cari jodoh lagi gih. Biar bisa merasakan surga dunia lagi," ledek Geisha sembari terkekeh.


"Dokter tidak usah khawatir. Aku sedang menunggu seseorang. Tapi dia belum sempat menemuiku," ujar Anisa asal.


"Namanya Niko. Dia temanku sewaktu SMA dulu." Jawab Anisa.


"Sayang. Kamu dengar itu? janda kembang ini akan segera laku. Ya wajar sih, Anisa juga sangat cantik," ujar Geisha.


"Anisa sedang menunggu pria bernama Niko? apa itu pria yang aku lihat di garery ponselnya waktu itu? kenapa aku tidak suka mendengarnya," batin Abian.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" ujar Abian.


Ceklek


Seorang pria tampan memasuki ruangan itu. Pria yang tengah mengenakan pakaian kerja berwarna navy itu tampak tersenyum ramah kearah Abian dan Geisha. Sementara Anisa membelakangi pria itu.


"Teknisi Ac ya mas?" tanya Geisha.


"Ya. Saya vendornya, apa Ac ini yang rusak dok?" tanya Niko.

__ADS_1


"Niko?" Anisa yang berbalik badan merasa terkejut, saat melihat kehadiran Niko.


"Nisa?" Niko sama terkejutnya, dan sangat antusias.


"Niko. Kamu...."


Grepppp


Niko langsung memeluk Anisa dihadapan Abian dan Geisha.


"Kamu kemana saja? aku mencarimu, tapi rumahmu sudah di jual. Aku tanya sama saudaramu tapi mereka bilang tidak tahu," tanya Niko.


"Aku sudah nitip nomor ponselku sama tante intan sekitar seminggu yang lalu. Apa tante Intan tidak memberitahumu?" tanya Anisa.


"Tidak. Mungkin mama lupa, karena banyak job. Oh...astaga, aku sangat merindukanmu Anisa," Niko kembali memeluk Anisa dengan erat.


Grriiyuttt


Abian mengepalkan tangannya. Entah mengapa dadanya terasa bergemuruh.


"Sayang. Mereka sangat serasi ya? aku jadi terharu melihat pertemuan mereka," bisik Geisha.


"Ehemmm" Deheman keras Abian membuyarkan pelukkan Anisa dan Niko.


"Aku harap jaga sikap kalian. Ini di rumah sakit," ujar Abian yang membuat mata Geisha jadi melotot.


"Cepat suruh anak buahmu benarkan Ac nya. Udara di dalam sini seperti di neraka," ucap Abian.


"Baiklah dok, sebentar lagi saya akan menyuruh anak buah saya membenarkan Ac nya. Nisa, ayo ikut aku! aku ada banyak hal yang ingin aku ceritakan sama kamu," Niko langsung menarik tangan Anisa.


Tap


Tangan Anisa yang lain dicekal oleh Abian.


"Kamu tidak bisa seenaknya. Anisa sedang bekerja. Pagi ini kami sedang ada operasi cesar. Kamu bisa bercerita lain kali," ujar Abian.


Anisa jadi kebingungan, namun dia terpaksa menolak ajakan Niko untuk sementara waktu.


"Niko. Nanti aku pulang jam 5 sore. Kamu datang aja ke rumahku, soalnya rumah itu sudah jadi milik aku lagi," ujar Anisa.


"Yang benar?" tanya Niko antusias


"Iya. Ya udah aku kerja dulu ya!" Niko menganggukkan kepalanya.


Abian sangat tidak senang mendengar perbincangan itu. Pria itu segera pergi, untuk melakukan operasi pada pasien.

__ADS_1


__ADS_2