
"Malam ini aku masuk malam lagi. Hari ini aku harus mulai mencari Anisa di beberapa rumah sakit. Kalau untuk rumah sakit internasional, aku rasa tidak mungkin. Itu hanya untuk orang yang mempunyai prestasi, skill yang bagus dan berkoneksi. Sementara Anisa tidak sepintar itu untuk bisa masuk kesana. Aku harus menemukan dia sebelum hari pertunanganku di gelar, agar aku merasa tenang dan tidak merasa bersalah lagi," gumam Abian.
Abian kemudian mulai mencari Anisa ke berbagai rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta. Namun dia tidak menemukan keberadaan Anisa.
"Tidak masalah hari ini aku gagal menemukannya. Masih banyak rumah sakit lain yang belum aku datangi. Aku pasti bisa menemukannya. Lagian bodoh sekali kenapa aku tidak pernah bertanya padanya dimana dia bekerja selama ini. Hanya karena ingin menghindarinya, aku sampai tidak perduli apapun tentang dirinya. Padahal dia...."
Abian jadi teringat tentang semua perhatian Anisa padanya. Dia teringat tentang kipas angin yang pertama kali Anisa belikan dengan gaji pertamanya. Kipas angin yang tidak membuat dirinya kepanasan lagi.
"Kipas angin?"
Abian langsung menghentikan mobilnya dan berbalik arah. Kini tujuan utamanya pergi ke rumah Suban. Saat tiba disana, seperti biasa rumah itu terlihat sangat sepi. Abian masuk begitu saja, karena pintu itu tidak terkunci. Saat melihat kedatangan Abian, Neneng tidak diam saja. Dia tidak perduli dengan apa yang Abian lakukan saat memasuki kamarnya.
Abian melihat kipas angin besar itu, masih berada di tempat yang sama. Dia jadi teringat kenangan saat dirinya masih bersama Anisa. Dimana biasa Anisa berganti pakaian, bersolek, dan berbaring diatas tempat tidur.
"Ini tidak benar. Kenapa aku sangat merindukan dia tiba-tiba. Aku merasakan sesak didadaku, saat mengingat semua tentang dia," gumam Abian sembari sedikit meremas bagian dadanya.
Abian menepis semua pemikirannya, dan kemudian membawa kipas angin yang Anisa beli. Saat melihat Abian membawa kipas angin, tentu saja Neneng jadi protes.
"Mau kamu bawa kemana kipas itu? apa di rumah sakit jiwa tidak punya kipas angin. Apapun yang ada di rumah ini, tidak boleh dibawa keluar," ujar Neneng.
Abian menghentikan langkahnya dan berbalik setelah meletakkan kipas angin di lantai. Abian kemudian mendekat kearah Neneng, yang membuat wanita itu jadi takut.
"Berhati-Hatilah bicara dengan orang gila. Kalau dia tersinggung, kamu bisa dicekiknya sampai mati," ujar Abian yang membuat Neneng jadi kabur ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Abian kemudian pergi dengan membawa kipas angin pembelian Anisa. Sesampai di rumah, Abian mematikan pendingin ruangan di kamarnya. Sebagai gantinya dia menyalakan kipas angin dan berbaring diatas tempat tidur hingga matanya terlelap.
"Kenapa mas tega bohongin aku. Kenapa mas? kenapa mas tega tinggalin aku sendirian? padahal mas tahu cuma mas tempatku bersandar dan berbagi. Aku kesepian mas, aku ketakutan. Mas sangat jahat sudah membuat Nisa jadi janda di usia muda. Mas jahat...mas jahat!"
Hosh
Hosh
Hosh
Abian terbangun dari tidurnya, karena memperoleh mimpi buruk berupa hujatan dari Anisa. Pria itu mengusap wajahnya berkali-kali, kedatangan Anisa begitu terasa nyata baginya.
"Maafin aku Nisa. Aku akui aku bersalah sama kamu. Aku juga sudah mengingkari janji sama almarhum bapak kamu. Tapi sejujurnya aku tidak ada niat menyakitimu," gumam Abian.
Abian melirik jam di pegelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 3 sore.
"Sebentar lagi sudah mau masuk kerja lagi. Tapi aku masih punya sedikit waktu untuk pergi ke makam itu bukan?"
Abian memutuskan untuk pergi mencari alamat rumah Anisa. Setelah bertemu, ternyata rumah itu sudah berganti kepemilikkan.
"Jadi Anisanya kemana pak?" tanya Abian.
"Saya kurang tahu mas. Saya cuma menyewa rumah ini. Soalnya rumah ini sudah jadi milik pamannya yaitu pak Surani." Jawab sang penyewa rumah.
__ADS_1
"Apa Anisanya berada di rumah pamannya?" tanya Abian.
"Tidak juga. Soalnya kemarin saya baru pergi ke rumah pak Surani buat bayar sewa."
"Benar juga. Nggak mungkin Anisa tinggal bersama ketiga pamanya. Karena selain pamannya jahat, tante dan sepupunya juga bukan orang baik. Dia pasti lebih memilih hidup sendirian," batin Anisa.
"Emm...apa bapak tahu makam pak Sumarno?" tanya Abian.
"Maaf mas saya nggak tahu. Dulu saya ngontrak memang nggak jauh dari sini, tapi saat beliau meninggal saya nggak ikut ke pemakaman. Mungkin masnya bisa nanya dengan orang di rumah sebelah," pria itu tampak menunjuk rumah tetangga yang ada disamping rumah Anisa.
Tanpa membuang banyak waktu, Abian segera pergi menemui tetangga samping rumah Anisa. Setelah bertanya, orang itu bersedia mengantar Abian pergi ke pemakaman tempat dimana Sumarno dimakamkan. Abian memberikan beberapa lembar uang pada pengantarnya dan mempersilahkan orang itu pergi.
Abian melihat kuburan yang berdampingan itu tampak ada bunga yang sudah layu namun masih tampak baru. Sumarno memang di makamkan berdampingan dengan Kusmini istrinya. Namun ada hal menarik yang Abian lihat dari makam itu. Abian melihat ada sebuah botol yang mungkin sebelumnya Anisa gunakan untuk menyiram pusara itu. Abian meraih botol itu dan mengambil secarik kertas di dalamnya.
"Pak. Maafkan Nisa baru datang menemui bapak dan buk'e. Karena sejujurnya Anisa malu pak. Semua orang menolak kehadiran Anisa, termasuk suami Anisa sendiri. Pria yang Anisa pilih sendiri buat jadi suami, pria yang bapak restui menjadi suamiku. Mungkin ini karma karena Nisa sudah berbohong sama bapak, karena laki-laki yang Anisa nikahi seseorang yang mentalnya sudah cacat
Sekali lagi maafin Nisa ya pak. Tapi sekarang Anisa sedang ketakutan pak, karena Anisa tinggal sendirian. Anisa sudah gagal mempertahankan rumah tangga Anisa. Nisa pikir cuma suami Nisa yang akan selalu berada disisi Anisa dan nggak akan pernah meninggalkan Anisa. Tapi ternyata, orang cacat mentalpun tidak mau bersamaku. Padahal aku sangat mencintainya.
Sekarang Anisa hidup dengan sangat menyedihkan meskipun Nisa sudah bekerja. Tapi bapak tenang saja, Anisa pasti akan jadi orang kuat. Nisa pasti bisa sukses dengan usaha Nisa sendiri. Nisa akan membuktikan pada orang-orang yang sudah jahat sama kita kalau aku bisa sukses lebih dari mereka.
Sudah dulu ya pak. Maaf aku ngungkapin perasaanku lewat surat, karena hanya lewat surat Nisa bisa mencurahkan semua isi hati tanpa ada yang tertinggal. Nisa kangen bapak sama buk'e"
Tes
__ADS_1
Air mata Abian tidak terasa menetes dipipinya. Dia tahu betul apa yang Anisa rasakan saat ini. Saat-Saat dimana dirinya merasa hanya seorang diri di dunia. Tanpa ada penopang, tanpa ada penjaga, dan itu membuat rasa bersalahnya pada Anisa semakin menggunung.