SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.28. Berdebar


__ADS_3

"Mbak Nisa nggak ngajak kita masuk?" tanya Mita dengan tidak tahu malunya.


"Tentu saja. Ayo kita masuk!" ujar Anisa.


"Ckk...duh...sebenarnya mereka mau apa sih datang kesini? biasanya juga nggak perduli dengan aku. Sekarang mereka datang menemuimu, pasti bukan karena sengaja ingin memperhatikan aku kan?" batin Anisa.


"Tadi kami sempat berpapasan dengan suamimu mbak. Apa dia masih gila? kok dilepas begitu aja? takutnya dia nyakitin orang loh," tanya Stevi.


"Sudah kuduga. Selamanya mereka tidak akan pernah bisa tulus dengan orang lain. Mereka kesini memamg sengaja ingin mengolok-olokku," batin Anisa.


"Dia tidak seperti itu, dia hanya punya kepribadian lebih pendiam dari kebanyakkan orang." Jawab Anisa.


"Eh mbak. Sekarang kan suamimu lagi pergi, kita ngobrol di kamar kalian aja yuk!" ujar Mita.


"Tapi...."


"Aduh mbak. Kita ini kan saudara, masak nggak boleh? kita pengen tahu kehidupan mbak setelah menikah seperti apa," ujar Dea yang kemudian menggamit lengan Anisa.


"Eh? sama kok seperti pada orang-orang," ujar Anisa.


"Berarti mbak Nisa juga malam pertama dong dengan suami mbak yang gila itu?" tanya Stevi.


"Hussssttt...jangan keras-keras ngomongnya nanti ibu mertuaku dengan," ujar Anisa yang jadi panik saat Stevi bertanya dengan nada tidak biasa.


"Kenapa ibu mertuamu jahat ya mbak?" tanya Dea dengan suara lantang, yang membjat Anisa jadi panik.


Anisa jadi terpaksa mengajak para sepupunya itu masuk kedalam kamarnya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Tapi tentu saja hanya ada dalam angan-angannya. Saat masuk ke kamar, malah mereka membuat masalah yang lebih parah dari sekedar omongan.


"Wah...ada springbad juga untuk pengantin baru. Aku jadi membayangkan saat orang gila itu menggoyangmu mbak," ujar Mita sembari terkekeh


"Iya mbak. Gimara rasanya ditunggangi orang gila? pasti gaya liar-liad gitu ya?" tanya Dea.


"Apa dia nggak mencekimmu mbak? kamu nggak takut?" tanya Stevi.


"Ya Allah ya Tuhanku. Berilah aku kesabaran dalam menghadapi saudara-saudaraku yang tidak berperasaan ini. Kalau saja ini bukan rumah mertuaku, aku sudah menampar mulut mereja yang sadis-sadis ini. Kalau sampai aku melakukan itu sekarang, ibu mertuaku pasti akan bertambah mengolok-olokku," batin Anisa.


"Pada intinya kekhawatiran kalian tidak terjadi. Kami menjalani semuanya seperti pada orang kebanyakkan." Jawab Anisa.


"Wah...ini piala siapa mbak? besar sekali," tanya Stevi saat melihat dua piala yang berjejer rapi diatas rak.


Namun saat Stevi ingin meraihnya, dengan sengaja dia menyenggol tropo ity hingga jatuh kebawah dan beberapa bagian tropi terlepas.


Klontangggg


Klontangggg

__ADS_1


Klontangggg


Anisa sangat syok dan menghampiri tropi itu. Sementarat Stevi menjauh, dan berdiri didekat saudara-saudaranya yang lain.


"Mbak maaf ya. Aku nggak sengaja mbak," ujar Stevi sembari tersenyum puas saat melihat Anisa memungut tropi yang berserakkan.


Abian yang baru pulang dari mini market. Matanya terbelalak, saat melihat tropi Ardan jatuh ke lantai dan rusak di beberaoa bagian. Tangannya bergetar dan menjatuhkan makanan ringan dan minumam ke lantai.


Drap


Drap


Drap


Langkah Abian terlihat besar dan kasar. Anisa yang melihat Abian kembali, jadi tersenyum senang. Namun hal tak terdugapun terjadi, Abian menghampirinya dan menamparnya dengan keras.


"Lancang!"


Plaaaakkkkk


Ketika saudara Anisa membelalakkan matanya saat melihat Anisa ditampar dengan begitu keras, hingga wajah sepupunya itu tertoleh kesampimg. Ketifa gadia itu kemudian kabur tanpa mengucapkan apapun.


"Beraninya kamu merusak barang kakakku? apa kamu sudah bosan hidup. Ha?" hardik Abian.


Anisa bisa melihat wajah Abian menggelap, karena diliputi dengan amarah yang meledak-ledak.


"Akkhh..."


Anisa kesakitan, saat rambutnya dicengkram dan ditarik kebelakang. Namun tanpa sadar, perbuatan Abian itu disaksikan oleh Alda.


"Kak Bian...."


Cengkraman Abian mendadak lepas begitu saja saat mendengan suara Alda. Abian mengusap wajahnya dengan kasar, sementara Anisa bergegas menyapu air matanya.


"Kak Bian kok gitu? bukan kak Nisa yang merusak piala itu, tapi teman kak Nisa yang berambut pendek tadi," ujar Alda.


Ternyata saat kejadian itu, Alda tidak sengaja melihat saat Stevi dengan sengaja menjatuhkan tropi itu, sementara Anisa membantu memungut benda itu.


Mendengar ucapan Alda, Abian keluar begitu saja dari kamar itu.


"Kak Nisa. Apa pipi kak Nisa sakit?" tanya Alda.


"Tidak sayang. Kakak Bian cuma salah paham, lagian dia nggak nampar kakak kok, cuma main-main aja." Jawab Anisa.


"Kakak nggak usah bohong. Kalau Alda nakal, Ibu juga sering begitu denganku," penuturan Alda membuat Anisa terkejut.

__ADS_1


"Kak Bian galak ya?" tanya Alda dengan polosnya.


"Nggak kok. Sekarang Alda main di dulu ya! kak Nisa mau benerin piala kak Bian dulu, biar dia nggak marah lagi. Oke?" ujar Anisa.


"Iya kak." Jawab Alda yang kemudian keluar dari kamar itu.


Anisa membawa serpihan piala itu diatas tempat tidur, dan kemudian mengambil selotip dan gunting. Meski tidak sempurna seperti semula, tapi Anisa berhasil memperbaikinya dan meletakkan benda itu kembali seperti semula.


"Sssttt," Anisa mendesis, saat dia merasakan sakit dipipinya.


Anisa mematut dirinya di depan cermin, dan melihat pipinya membengkak. Anisa memang merasakan kalau pukulan Abian sepenuh hatu sekuat tenaga. Namun Anisa malah merasa senang, meskipun kesakitan tapi imbalannya cukup sepadan baginya. Dia akhirnya bisa melihat dan mendengar ekspresi wajah Abian yang baru, dan juga kata yang Abian ucapkan lebih banyak dari satu kata yang dia dengar tadi malam.


Anisa memutuskan ingin beristirahat saja, dan tanpa sadar diapun tertidur.


Drap


Drap


Drap


Abian melangkah perlahan, dan mendapati Anisa tengah tertidur pulas. Tidak seperti biasanya, kali ini Anisa tidak menunggu kepulangannya dengan wajah khawatir, melainkan Dia tidur dengan damai saat ini.


"Dia pastu kesakitan. Aku sudah menamparnya dengan sangat keras, hingga pipinya merah dan bengkak seperti ini," batin Abian.


Abian melihat obat lebab ditangannya, dan bermaksud ingin mengoleskannya. Namun saat ingin melakukannya, Anisa terbangun tiba-tiba.


"Mas Bian sudah pulang?" tanya Anisa yang duduk tiba-tiba.


"Mas Bian sudah makan belum? kalau belum, akan Nisa siapkan," tanya Anisa.


Abian tidak menjawab ucapan Anisa, sebagai gantinya dia mengoleskan salf dipipi Anisa.


Deg


Deg


Deg


Jantung Anisa berdebar dengan kencang. Jarak yang begitu dekar, ditambah Abian yang perhatian padanya cukup membuat Anisa salah tingkah. Namun Anisa menikmati moment itu, dua jadi bisa mengamati wajah suaminya dengan lebih detail lagi.


"Mas Bian memamg sangat tampan. Rahangnya sangat tegas, beralis tebal dengan bulu mata yang cukup panjang. Bibirnya...."


Anisa memalingkan wajahnya, dengan tangan me**mas baju tidurnya karena sempat membayangkan hal yang tidak-tidak. Anisa kemudian berbaring dengan membelakangi Abian.


"Dia kenapa? apa dia marah karena aku menamparnya?" batin Abian.

__ADS_1


"Ckk...kenapa aku harus perduli dengannya? masih untung aku berinisiatif mengoleskan salf pada wajahnya. Lagian dengan membawa saudara-saudaranya itu kedalam kamar pribadi, itu sudah menjadi kesalahan besar," batin Abian.


Abian meletakkan Salf diatas meja rias. Pria itu kemudian mencuci tangan dan tidur saling membelakangi.


__ADS_2