SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.41. Menyebar Undangan


__ADS_3

Anisa berbaring diatas tempat tidur tipisnya, yang berada didalam kamar berukuran 4 kali 4 meter. Matanya tampak menerawang menatap langit-langit kamarnya.


"Kalau aku cuma mengandalkan gajiku sebagai pegawai honor, kapan aku bisa kaya? kalau aku tidak kaya, bagaimana aku bisa menebus rumah dan kebun bapak? aku mau nggak ngontrak lagi. Lebih dari itu, aku ingin peninggalan bapak sama buk'e kembali,"


"Hah...tapi aku harus melakukan apa agar aku bisa sukses? aku nggak punya modal buat buka usaha. Gini amat hidupku," gumam Anisa.


"Tapi kehidupan dokter Geisha sempurna banget ya! aku merasa beruntung dia mau berteman sama aku,"


"Pekerjaanku ini rasanya berat kalau mau mencari pekerjaan paruh waktu diluar. Aku pasti keteteran. Jadi aku harus bagaimana ya!"


Sementara itu di tempat berbeda Geisha dan Abian tengah berbincang lewat sambungan telpon.


"Sayang. Tadi aku sudah beli cincin tunangan, mencari WO, gedung, dan catering," ujar Geisha.


"Oh ya? kamu pergi sendiri?" tanya Abian.


"Tidak. Aku ditemani sama teman baru aku. Kamu ingat kan aku pernah cerita waktu aku hampir kena copet di mall?"


"Ya."


"Nah yang nolongin aku waktu itu ternyata juga bekerja di rumah sakit kita. Pas pertama kali masuk kerja, aku bertemu lagi sama dia. Aku memutuskan berteman sama dia. Dia juga yang bantu aku milih cincin, Wo, sama gedung buat acara kita. Pokoknya dia baik banget banget deh," ujar Geisha.


"Baguslah kalau kamu sudah punya teman di rumah sakit," ujar Abian.


"Oh ya. Aku juga menjadikan dia pembawa cincin tunangan kita nanti. Nggak masalah kan?" tanya Geisha.


"Nggak masalah. Dia kan teman kamu, jadi kamu berhak menentukan siapa saja yang terlibat dalam acara pertunangan kita." Jawab Abian.


"Makasih sayang," ucap Geisha.


"Sama-Sama. Sekarang mendingan kamu istirahat ya! kamu pasti sangat capek," ujar Abian.


"Iya. Da...sayang,"


Geisha dan Abian mengakhiri percakapan itu. Dan untuk hari-hari selanjutnya Geisha dan Abian terlihat sibuk menyiapkan acara pertunangan yang tanggalnya sudah di tentukan waktunya.


"Nisa. Ini seragam yang harus kamu pakai buat nanti malam ya!" ujar Geisha sembari memberikan paperbag berwarna hitam pada Anisa.

__ADS_1


"Baju seragam? aduh dok. Apa ini tidak terlalu berlebihan? aku bukan keluarga inti, seharusnya aku tidak mendapat baju seragam," ujar Anisa.


"Jangan begitu. Kamu teman pertamaku saat kerja di rumah sakit. Kamu juga banyak membantu untuk suksesnya acara malam nanti. Jadi jangan lupa dipakai ya!" ujar Geisha.


"Maksih ya dok," ucap Anisa.


"Ya sama-sama. Walaupun kamu nggak libur, kamu masih bisa hadir. Soalnya kan kamu masuk pagi hari ini. Kebetulan jadwalmu juga sama seperti calon tunanganku," ujar Geisha.


"Iya juga sih. Jadi semuanya bisa tetap jalan," ujar Anisa.


"Ya sudah aku pulang dulu ya!" ujar Geisha.


"Jadi dokter ke rumah sakit hanya ingin memberikan baju ini?" tanya Anisa.


"Tidak. Aku kesini karena ingin menyebar undangan untuk acara malam ini. Jadi semua yang bekerja, ataupun yang magang disini, semuanya mendapatkan undangan. Aku ingin membagi semua kebahagiaanku pada semua orang." Jawab Geisha.


"Hah. Dokter yang tunangan, tapi kenapa jantungku yang berdebar-debar. Aku tidak tahu kenapa, semalaman aku jadi sulit tidur memikirkan pertunanganmu," ujar Anisa terkekeh.


"Loh kenapa? sabar saja, suatu saat kamu akan mendapatkan pria yang sempurna seperti calon tunanganku juga," ujar Geisha sembari terkekeh.


"Amiin. Ya sudah hati-hati ya dok," ucap Anisa.


Sementara itu di tempat berbeda, Ryan tengah berbincang dengan dokter Yasmar. Dia sengaja datang ke rumah sakit jiwa, atas perintah dari Abian agar memberikan undangan pernikahan.


"Jadi Geisha sudah kembali, dan Abian ingin bertunangan dengannya malam ini?" tanya dokter Yasmar.


"Iya dok." Jawab Ryan.


"Lalu bagaimana dengan Anisa?" tanya dokter Yasmar.


"Secara agama memang mereka sudah bercerai. Karena Abian tidak pernah memberikan nafkah lahir maupun batin pada Anisa selama 6 bulan lebih. Lagipula Abian juga sudah berusaha menemukan Anisa, tapi Anisa seperti hilang di telan bumi." Jawab Ryan.


"Loh. Bukanya Anisa sudah bekerja di rumah sakit?" tanya dokter Yasmar.


"Ya. Tapi sayangnya karena Abian cuek dengannya selama ini, jadi dia sama sekali tidak tahu Anisa bekerja di rumah sakit mana. Dan Abianpun juga sudah mencari Anisa hampir disetiap rumah sakit yang ada di kota ini, tapi sama sekali tidak menemukannya." Jawab Ryan.


"Aku hanya berpikir, bagaimana kalau seandainya suatu saat nanti Anisa tahu, kalau sebenarnya Abian tidak gila dan hanya pura-pura. Terlebih saat dia tahu kalau Abian sudah menikahi wanita lain," sambung Ryan.

__ADS_1


"Jangankan saat tahu soal seperti itu, dengan Abian mengabaikan dan menghilang saja pasti sudah menyakiti hati Anisa," timpal dokter Yasmar.


"Yah. Aku akui sangat disayangkan hal seperti ini bisa terjadi. Tapi mau bagaimana lagi? Abian tidak mencintai Anisa. Kita tidak mungkin memaksa seseorang untuk mencintai orang lain," ujar Ryan.


"Kamu benar. Mungkin ini sudah takdir Anisa yang harus dialami anak itu. Mungkin jodohnya memang tidak lama bersama Abian," ujar dokter Yasmar.


"Kalau tahu dia bakal menyia-nyiakan Anisa, mending dari awal aku saja yang menikahi wanita malang itu. Padahal menurutku Anisa jauh lebih cantik, lebih sexy, dan tipe wanita pekerja keras," ujar Ryan.


"Kamu menyukai Anisa?" tanya dokter Yasmar.


"Ya-Ya tidak. Tapi aku bisa melihat, kalau Anisa tipe wanita yang mudah dicintai semua orang. Dia baik, dia ramah, dan yang pasti dia sangat sopan." Jawab Ryan.


"Kalau kamu menyukainya juga tidak masalah. Kalau kamu menemukannya nanti, kamu bisa berkenalan dekat dengannya lagi," ujar dokter Yasmar.


"Hah. Ya sudahlah kalau begitu. Aku permisi dulu ya dok! aku harus membantu Abian untuk mempersiapkan acara malam ini," ujar Ryan.


"Baiklah. Katakan pada Abian, aku pasti akan datang ke acara pertunangannya malan ini," ujar dokter Yasmar.


"Oke. Oh ya, jangan lupa drescode warna putih," ujar Ryan.


"Terima kasih sudah mengingatkan. Baru saja aku berencana mau pakai baju warna hitam," ucap dokter Yasmar sembari terkekeh.


"Nggak lucu kan saat di depan aula kena usir security," timpal Ryan sembari terkekeh.


Ryan akhirnya pulang ke rumah pribadi Abian. Dia ingin mempersiapkan apa yang dibutuhkan sahabatnya itu.


"Ryan. Kamu ada dimana?" tanya Abian lewat sambungan telpon.


"Aku sedang berada di rumahmu. Kamu nanti sepulang dari rumah sakit langsung menuju rumah calon mertuamu kan?" tanya Ryan.


"Iya. Kita akan pergi bersama ke gedung acaranya." Jawab Ryan.


"Ya sudah aku ke rumah Geisha sekarang kalau gitu. Apa yang harus aku bawa kesana untukmu?" tanya Ryan.


"Bawakan aku pakaian ganti dan sepatu. Nanti di rumah Geisha baru aku pakai baju dari WO nya." Jawab Abian.


"Baiklah. Sampai ketemu nanti ya!" ujar Ryan.

__ADS_1


"Sip." Jawab Abian.


Ryan dan Abian mengakhiri percakapan itu. Ryan bergegas menyiapkan apa yang Abian butuhkan, sementara Abian bersiap-siap akan pulang.


__ADS_2