
"Kamu nggak masalah kan Nis, kalau kami mesra-mesraan di depan kamu? tapi di depan kamu aja Nis, kalau di depan orang lain nggak berani juga. Kalau kamu kan teman aku," tanya Geisha.
"Tidak masalah. Dengan mantan suamiku dulu, aku juga gitu. Bahkan tidak ada hari tanpa bermesraan," sindir Anisa.
"Duh...so sweet deh. Aku jadi nggak sabar pengen cepat-cepat nikah. Kalau nggak ada halangan, rencananya kami akan menikah awal tahun nanti. Do'ain ya Nis!" ujar Geisha.
"Berarti sekitar 7 bulan lagi dong ya? udah nggak lama lagi kalau begitu," ujar Anisa.
"Terasa lama tahu nggak Nis. 7 bulan terasa 7 tahun. Ya nggak sayang?" tanya Geisha pada Abian, yang hanya ditanggapi senyuman kaku oleh Abian.
"Kamu kenapa sih? kok malu-malu gitu? kemarin-kemarin dia nanyain kamu terus loh Nis? sekarang malah jadi pendiam. Kamu jangan begitu, nanti temanku tersinggung," ujar Geisha.
"Kenapa dokter Abian menanyakanku?" tanya Anisa.
"Dia bilang kamu itu temanku, jadi dia, ingin mengnggapmu teman juga. Sesama teman harus saling mengkhawatirkan bukan?" ujar Geisha.
"Teman? oh...ya tentu saja. Senang berteman dengan anda dokter Abian," ujar Anisa dengan nada datar, sementara Abian jadi tersenyum kaku.
"Sayang. Aku pulang dulu ya! Nisa jagain calon suamiku ya!" ujar Geisha.
Anisa hanya menanggapi ucapan Geisha dengan senyuman hambar.
Cup
Geisha mencium bibir Abian sekilas, sebelum benar-benar pergi. Anisa yang menyaksikan hal itu langsung memalingkan wajahnya dengan tangan terkepal. Sementara Abian tubuhnya jadi menegang.
"Da...sayang. Nis aku duluan ya!" Geisha melambaikan tangan.
Suasana mendadak hening, setelah Geisha keluar dari ruangan itu. Anisa ingin beranjak pergi, namun tangannya langsung di cekal oleh Abian.
"Lepaskan!" kata-kata Anisa penuh penekanan.
Abian langsung mengendurkan cengkraman tangannya.
"Aku harap dokter tidak lupa dengan perjanjian kita. Tidak ada hubungan apapun diantara kita. Kita harus bersikap proposional. Dan di rumah sakit ini kita hanya teman sejawat, patner kerja, tidak lebih dari itu," ujar Anisa.
Anisa kemudian meninggalkan ruangan itu, setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan. Sementara Abian tampak duduk di kursi dengan wajah frustasi.
"Kenapa aku merasa sakit, saat dia bersikap seperti itu denganku? aku sudah membuat kesepakatan dengan Anisa, tapi kenapa hatiku merasa tidak senang," gumam Abian.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
__ADS_1
"Maaf dok. Ada pasien yang ingin melakukan USG," ujar perawat Nia.
"Apa alat USG nya sudah di siapkan?" tanya Abian.
"Sudah dok. Suster Anisa sedang menyiapkannya." Jawab Nia.
"Baiklah. Kita kesana sekarang," ujar Abian.
Abian dan Nia pergi ke ruang tindakan. Alat USG tampak sudah siap.
"Selamat pagi Bu, pak," sapa Abian.
Abian meraih buku periksa kandungan milik pasien untuk mengetahui nama dan juga terakhir memeriksakan diri.
"Terakhir posisi bayinya sungsang ya bu?" tanya Abian.
"Iya dok." Jawab Pasien.
"Sekarang silahkan ibu berbaring ya! kita akan lihat, apa posisinya sudah bagus atau belum," ujar Abian.
Anisa membantu pasien berbaring diatas brankar. Anisa juga menaruh sedikit gel pada perut pasien. Abian mulai memeriksa kandungan pasiennya.
"Usia kandungan sudah 32 minggu, semuanya normal, air ketuban cukup. Sekarang letaknya sudah bagus. Kepala sudah dibawah, tapi masih belum masuk panggul," ujar Abian.
"Kemarin periksa di praktek bidan ya bu?" tanya Abian.
"Jenis kelaminnya insya Allah laki-laki bu," ujar Abian.
"Yang benar dok? ini anak keempat kami, tiga anak sebelumnya perempuan," tanya pasien antusias.
"Kalau begitu selamat ya bu. Karena anak bungsunya laki-laki," ucap Abian.
Anisa tersenyum melihat kebahagiaan pasiennya, senyum yang tertangkap oleh Abian. Saat Anisa sadar diperhatikan oleh Abian, diapun memalingkan wajah dengan senyum yang sudah lenyap dari bibirnya. Abian hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap Anisa padanya.
"Nanti jangan lupa rajin berjalan santai ya bu. Biar persalinannya lancar. Setelah lahiran nanti, saya sarankan agar dilakukan steril. Ini sudah anak ke empat, jadi sangat beresiko untuk melahirkan kembali," ujar Abian.
"Baik dok." Jawab Pasien.
Setelah pasien keluar, beberapa pasien yang berkonsultasi tentang kehamilan, dan program kehamilan ditangani dengan baik oleh Abian. Banyak ilmu yang Anisa dapat dari mantan suaminya itu.
"Nisa. Kamu mau ke ruangan dokter Abian ya?" tanya Geisha yang baru datang, karena dia kembali masuk malam.
"Dokter masuk malam lagi?" tanya Anisa.
"Iya. Besok baru dapat jatah libur. Apa yang kamu pegang itu?" tanya Geisha.
"Ini laporan pasien yang akan melakukan operasi cesar sebentar lagi." Jawab Anisa.
__ADS_1
"Sayang sekali kamy sebentar lagi pulang ya! kalau tidak, kita pasti bisa ngerumpi malam ini. Ya sudah berikan laporannya padaku, dokter Abian pasti mau pulang juga," ujar Geisha.
"Baiklah," Anisa menyerahkan berkas itu.
"Oh ya. Apa dokter Abian mengajakmu berbicara?" tanya Geisha.
"Tidak. Kami bicara hanya tentang pasien saja." Jawab Anisa.
"Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu ya dok," ujar Anisa.
"Ya. Hati-Hati ya!" ucap Geisha.
"Ya." Jawab Geisha.
Anisa berbalik badan dan pergi ke ruangan perawat. Diapun mengambil tasnya, dan kemudian pulang.
"Bukannya itu mbak Nisa? ngapain dia masuk ke rumah itu? rumah itu kan sudah dibeli oleh dokter Abian. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus tahu kenapa dia bisa masuk dengan bebas ke rumah itu," gumam Stevi.
Stevi yang tidak sengaja melewati rumah Anisa, tidak sengaja melihat sepupunya itu memasuki rumah lamanya.
Tok
Tok
Tok
"Siapa?"
Ceklek
Anisa terkejut, karena Stevi berada di depan pintu rumahnya.
"Stevi? kamu kenapa kesini?" tanya Anisa
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa mbak Nisa ada di rumah ini? rumah ini sudah dibeli oleh dokter Abian. Dia ingin membangun klinik pribadi diatas rumah dan kebun. Tapi kenapa mbak Nisa disini?" tanya Stevi.
"Oh...jadi Abian membuat alasan seperti itu. Tapi kenapa Stevi bisa tahu?" batin Anisa.
"Rencana awalnya memang seperti itu. Tapi ternyata dia mendapat tempat yang lebih bagus, dan ingin menjual rumah dan kebun ini kembali. Itulah aku membelinya dari dokter Abian." Jawab Anisa.
"Kelihatan sekali tidak masuk akalnya. Dia dapat uang darimana untuk membelinya? uang 300 juta bukanlah sedikit," batin Stevi
"Kini aku mengerti. Setelah menipumu habis-habisan dengan berpura-pura gila, dia memberikanmu harta gono gini berupa rumah kebun, dan sepertinya mobil di luar juga. Kira-Kira apa reaksi dokter Geisha saat tahu, temannya adalah mantan istri dari calon suaminya?" Stevi menyeringai.
"Ada apa denganmu? apa sebenarnya maumu? kenapa kamu sangat suka menyulitkan saudaramu sendiriil?" tanya Anisa dengan kesal.
Stevi tertawa keras, saat melihat ada rasa panik diwajah Sepupunya itu.
__ADS_1