SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.48. Senang


__ADS_3

Surani mengerutkan dahinya, saat melihat kedatangan Abian. Pria parubaya itu jadi teringat dengan cerita Stevi tentang peran Abian di rumah sakit internasional, dan juga sebagai seorang pengusaha sukses.


"Ayo silahkan masuk nak Bian," Surani mulai mencari muka.


Abian menuruti ucapan Surani dan duduk di salah satu sofa.


"Bagaimana bisa orang ini membiarkan keponakkannya terlunta-lunta diluar sana, sementara dia hidup bergelimangan harta seperti ini. Tapi yah...aku jadi ingat ucapan bapak Sumarno sebelum beliau meninggal. Beliau memberikan kuasa pada orang ini untuk menyerahkan aset perkebunan pada Anisa. Tapi kalau melihat hidup Anisa yang menderita dan kekurangan, aku yakin amanat itu tidak pernah sampai ke tangan Anisa," batin Abian.


"Paklek sudah mendengar perceraianmu dengan Anisa. Awalnya memang paklek menyayangkan hal itu, tapi paklek kemudian berpikir kalau Anisa tidak pantas untukmu. Paklek tidak mengerti apa tujuanmu menyamar jadi orang gila dan menikah dengan Anisa. Tapi setelah aku pikir-pikir mungkin itu caramu agar bisa lepas dari Anisa dikemudian hari,"


"Lagipula kamu orang besar, memang tidak pantas kalau bersanding dengan Anisa. Minimal kamu mendapatkan istri yang pendidikkannya setara denganmu. Sedangkan Anisa itu gadis kampung," sambung Surani.


"Aku datang kemari karena ingin menanyakan tentang rumah dan kebun milik orang tua Anisa," ujar Abian.


"Untuk apa?" tanya Surani.


"Aku ingin membelinya." Jawab Abian.


"Membelinya? tapi untuk apa? rumah itu sudah jelek, kebun itu juga tidak besar," tanya Surani.


"Rencananya aku ingin membangun klinik, untuk tempat praktek pribadi. Aku rasa kebun itu sangat cocok untuk dibangun klinik," ujar Abian.


"Benarkah? kebun itu memang dijual oleh Anisa pada orang lain awalnya. Tapi setelah aku pikir, aku teringat dengan almarhum bapaknya Anisa dan membeli rumah dan kebun itu." ujar Surani


"Anisa ditipu habis-habisan oleh orang ini. Kasihan sekali nasib Anisa. Dia tidak pernah tahu, kalau keluarganya sendiri yang berniat ingin menghancurkan hidupnya," batin Abian.


"Kalau begitu aku ingin membelinya dari paklek, apa boleh? kalau klinik itu selesai dibangun, mungkin putri anda yang calon dokter itu bisa kujadikan kepala klinik disana," ujar Abian.


"Benarkah? kamu nggak bohong kan?" tanya Stevi yang sejak tadi menguping.


"Tentu saja. Do'akan saja surat izin pembangunannya lancar, jadi kliniknya cepat dibangun," ujar Abian.


"Ayah. Setuju saja ya? mungkin ini jalan Stevi buat sukses. Dua tahun lagi Stevi lulus juga kan? siapa tahu pembangunannya selesai setelah aku lulus," ujar Stevi.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan menjualnya 300 juta untuk kebun dan rumah itu," ujar Surani.


"Heh. Aku masih dapat untung besar. Aku membelinya dari Anisa hanya seharga 100 juta untuk dua aset itu. Aku akan mendapat untung 200 juta dalam sekejap," batin Surani.

__ADS_1


"Baiklah aku setuju. Urus akta jual belinya. Kalau sudah siap, aku akan datang bersama uangnya," ujar Abian.


"Baiklah." Jawab Surani dengan hati gembira.


Abian kemudian pergi dari rumah Surani. Setelah Abian sudah pergi, Surani jingjrak-jingkrak kesenangan.


"Kenapa Ayah sesenang itu?" tanya Stevi.


"Tentu saja Ayah senang. Ayah membeli rumah dan kebun itu hanya seharga 100 juta. Dan sekarang aku menjualnya seharga 300 juta. Jadi Ayah mendapat keuntungan 200 juta." Jawab Surani.


"Benarkah? aku minta bagianku ya? aku pengen beli ponsel dan laptop. Ini sangat penting untuk pendidikkanku," ujar Stevi.


"Iya tenang saja. Ayah akan membelikan apapun untuk menunjang pendidikkanmu itu. Tapi Stevi, kamu harus ingat! terus dekati Abian. Dia itu tambang uang, bila perlu kamu rebut dia dari tunangannya itu. Maka kamu akan bergelimangan harta," ujar Surani.


Stevi tampak berpikir keras. Sesaat kemudian dia tersenyum senang.


"Ayah tenang saja. Aku pasti akan mendapatkan apapun yang aku mau. Termasuk Abian," ujar Stevi.


"Ya sudah. Sekarang ayah mau mengurus akta jual beli dulu. Semakin cepat semakin baik," ujar Surani.


Setelah menunggu kurang lebih seminggu, rumah dan kebun sudah menjadi milik Anisa lagi. Abian juga memberikan mobil dan perhiasan secara bersamaan dengan kunci rumah dan sertifikat.


"Terima kasih karena kamu sudah membantuku mengembalikan peninggalan bapakku. Terima kasih juga untuk mobil dan perhiasannya," ucap Anisa.


"Sama-Sama. Cuma ini yang bisa aku berikan untukmu Anisa. Ini masih tidak sebanding, dengan apa yang aku lakukan padamu," ujar Abian.


"Baiklah. Sesuai perjanjian kita, hubungan kita cukup sampai disini saja dokter Abian. Lupakan apapun yang pernah terjadi diantara kita. Mulai sekarang hubungan kita hanya sebatas rekan kerja di rumah sakit," ujar Anisa.


Abian menatap Anisa dengan lekat. Ditatap sedemikian rupa, Anisa segera memalingkan wajahnya.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Asalkan kamu bahagia dengan pilihanmu, aku akan menuruti permintaanmu Anisa. Mungkin dengan cara menuruti permintaanmu, rasa bersalahku juga jadi berkurang. Jaga dirimu baik-baik ya!" ujar Abian sembari mengusap puncak kepala Anisa.


Setelah berkata demikian, Abianpun pergi dari rumah Anisa. Setelah kepergian Abian, Anisa menangis sejadi-jadinya. Ternyata perasaannya pada Abian lebih besar, daripada rasa bencinya.


"Hah. Ternyata pada akhirnya aku menjual cintaku demi uang. Tapi itu sebanding kan? sebanding dengan rasa sakit yang dia berikan padaku. Kalau aku memiliki cinta bajingan seperti dia sebanyak 99 kali, mungkin aku akan menjual semuanya," gumam Anisa.


"Sekarang kamu jangan perdulikan tentang laki-laki itu lagi Anisa. Kebun bapakmu harus berfungsi kembali. Bapak dan buk'e pasti senang kalau melihat kebun kesayangan mereka ditanami kembali," ujar Anisa.

__ADS_1


Anisa mencari beberapa warga sekitar rumahnya, agar mau mengurus kebun peninggalan orang tuanya.


*****


Dua bulan kemudian....


"Hah...akhirnya tiba juga waktunya. Hari ini hari pertamaku bekerja di ruang persalinan. Itu artinya aku akan bertemu dengan Abian dan juga Geisha. Aku harus kuat, aku pasti bisa. Dua bulan ini aku memang tidak pernah lagi bertemu dengan Abian, seharusnya perasaanku tidak lagi kuat seperti dulu," gumam Anisa.


Anisa menarik nafas panjang, setelah turun dari motornya. Dia bergegas berjalan menuju ruang persalinan karena ingin aplusan dengan pekerja lainnya. Setelah aplusan dengan rekan kerjanya, Anisa berniat melapor pada dokter jaga yang bertugas pagi ini.


"Kira-Kira siapa yang bertugas pagi ini ya? teman-teman bilang, semalam dokter Geisha yang berjaga. Itu artinya pagi ini dia akan pulang, dan digantikan oleh dokter jaga yang lain," gumam Anisa.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


Anisa bisa mendengar suara decap dibalik skerem putih yang menjuntai.


"Ehemm...permisi," Anisa cukup membuat kaget dua sejoli yang tengah berciuman dibalik tirai.


"Anisa?" Geisha tersenyum senang, sembari menyeka sisa ciumannya dengan Abian.


"Sial. Inilah akibat Geisha yang selalu tidak bisa menahan diri," batin Abian.


"Kamu mulai rolling hari ini ya?" tanya Geisha.


"Ya. Ini hari pertamaku dok." Anisa berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi.


Anisa melirik kearah Abian yang baru keluar dari balik tirai.


"Maaf Anisa. Kurasa kamu sudah mengerti apa yang terjadi tadi ya? kamu kan pernah menikah, maklum saja ga*rah muda," ujar Geisha sembari terkekeh.


Anisa tersenyum kecut, sembari melirik kearah Abian yang tertunduk malu.

__ADS_1


__ADS_2