
"Bagaimana Abian bisa tahu kalau aku menemui Anisa? bagaimana dia bisa tahu tentang hamil pura-puraku? aku yakin saat di rumah Anisa tidak ada satupun orang di rumah itu. kecuali...."
"Stevi? apa ini ulah stevi? tapi mana mungkin dia mengkhianatiku. Apa untungnya dia berbuat seperti itu? aku harus menemui gadis kecil itu," batin Geisha.
Geisha meraih tasnya dan mencari keberadaan Stevi. Gadis itu terlihat sedang menangani pasien dengan dokter senior di ruang penyakit dalam. Setelah stevi selesai, dia segera menarik tangan gadis itu kebelakang.
"Apa kamu yang memberitahu Abian, aku pergi ke rumah Anisa?" tanya Geisha.
"Tidak. Buat apa aku melakukan itu dokter? kalau aku berniat jahat, untuk apa aku mengadukan hubungan dokter Abian dan Anisa? kenapa aku susah-susah membawa dokter ke rumah Anisa. Tapi aku memang melihat ada beberapa warga yang mengintip kearah rumah Anisa. Mungkin saat dokter Abian pergi ke rumah Anisa, dokter Abian diberitahu oleh warga disana." Jawab Stevi dengan wajah meyakinkan.
"Benar juga. Tidak mungkin Stevi mengkhianatiku. Tapi aku bisa bernafas lega, karena Anisa benar-benar sudah pergi dari rumah itu. Aku bisa mendekati Abian pelan-pelan setelah suasana sedikit dingin," batin Geisha.
Geisha kemudian pergi meninggalkan Stevi begitu saja. Setelah Geisha pergi, Stevi jadi terkekeh. Dirinya merasa menang saat ini.
"Dasar bodoh. Kamu pikir Abian akan mau kembali padamu setelah apa yang kamu lakukan pada Anisa? mimpi saja!"
"Setelah kamu tersingkir dari kehidupan Abian, maka aku akan masuk perlahan-lahan kedalam hati Abian. Dan akulah yang akan menguasai seluruh hati dan hartanya," Stevi terkekeh dalam hati.
Geisha yang hendak menuju pulang, mengurungkan niatnya dan kembali memutar jalan.
"Aku sama sekali tidak bisa tenang. Aku harus menemui Abian sekarang juga, dan bersikap lemmah lembut. Mungkin dengan meminta maaf dan bersikap lembah lembut, dia akan memaafkan aku dan mau kembali padaku," gumam Geisha.
Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, Geishapun tiba di kediaman Abian. Sementara Abian saat ini sedang sibuk dengan laptopnya dan juga ponselnya.
"Ryan. Cepatlah! aku sudah tidak sabar ingin mengetahui dimana Anisa berada saat ini. Aku menelponnya pakai kartu lain, nomor itu aktif tapi tidak diangkat. Aku nelpon dengan nomorku, diluar jangkauan. Sepertinya dia sudah memblokir kontakku. Jadi bantu aku temukan posisinya saat ini," ujar Abian dari seberang telpon.
"Kamu tenang saja. Temanku pasti bisa menemukan keberadaan Anisa," ujar Ryan.
"Aku tunggu kabarmu secepatnya," ujar Abian dan kemudian mengakhiri panggilan itu.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Abian yang mengira itu adalah pelayan, tanpa ragu dia membuka pintu dengan lebar. Saat tahu itu Geisha, Abian bermaksud hendak menutup pintu namun Geisha keburu masuk kedalam kamar.
"Please. Beri aku kesempatan buat menjelaskan semuanya Bi. Apa kamu pikir aku salah dalam hal ini? aku nggak salah Bi, aku nggak salah sama sekali. Aku hanya mempertahankan apa yang menjadi milikku. Aku hanya memperjuangkan cintaku. Lalu apa salahku? meskipun dulu kalian pernah menikah, tapi itu sudah berlalu Bi. Kenapa kamu tega melakukan ini padaku. Hiks...." Geisha kembali terisak.
Abian menghela nafas. Geisha menutup pintu kamar Abian dan mengunci pintu itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Abian.
"Kalau masalahnya urusan ranjang, kenapa kamu tidak bilang saja Bi. Aku bisa memberikan apapun yang kamu mau, termasuk urusan ranjang," ujar Geisha.
Gadis itu mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu.
"Apa yang kamu lakukan? apa kamu sudah gila? pakai kembali pakaianmu! aku sama sekali tidak tertarik menyentuhmu," hardik Abian sembari melengos.
"Kenapa? apa aku sama sekali tidak menarik dimatamu? aku janji akan memuaskanmu Abian. Sama seperti yang Anisa lakukan padamu," ujar Geisha.
Abian hendak keluar dari kamar, tapi Geisha langsung memeluk Abian dengan tubuh telanjangnya
"Lepaskan Geisha! kenapa kamu berubah menjadi orang yang menjijikan seperti ini?" tanya Abian.
"Please jangan menolakku. Aku janji tidak akan mengecewakamu," ujar Geisha.
"Aku bilang menjaulah dariku!" hardik Abian sembari mendorong tubuh Anisa dengan keras hingga gadis itu tersungkur kelantai.
Abian kemudian keluar dari kamar itu, dan pergi dari rumah begitu saja. Geisha terisak dikamar Abian. Terlebih saat dirinya melihat foto-foto lama Abian saat menikah dengan Anisa. Dan foto terbaru saat Abian dan Anisa selfie berdua.
"Anisa sudah pergi, tapi kenapa Abian tidak mau menerimaku lagi. Apa aku terlalu cepat bertindak? ha...Geisha, kenapa kamu bodoh sekali. Kenapa kamu tidak sabaran," gumam Geisha.
Geisha kembali mengenakan pakaiannya, dan kemudian pulang ke rumahnya. Sementara itu Abian langsung menuju kantornya dan membuat Ryan terkejut.
"Kenapa kamu kesini? kata temanku harus menunggu dulu. Kamu kenapa tidak sabaran begini?" ujar Ryan.
__ADS_1
"Aku sedang kesal saat ini, tapi itu bukan tentang rasa tidak sabarku mendapatkan info dari temanmu itu," ujar Abian.
"Ada apa?" tanya Ryan.
"Geisha datang kerumahku, dan memasuki kamarku. Kemudian dia telanjang didepanku, berharap aku memasukinya. Apa dia itu sudah tidak waras? Joniku hanya mau bangun, saat bersama Anisa. Aku sama sekali tidak trrtarik untuk menyentuhnya." Jawab Abian dengan nafas naik turun.
"Waduh. Hebat banget kamu bisa nahan, meski ada gadis yang bertelanjang di depanmu. Kalau aku sudah tidak tahu apa yang terjadi," ujar Ryan sembari terkekeh.
"Ya mau bagaimana lagi kalau sudah tidak cinta, tidak bisa dipaksakan. Aku sangat bersyukur, bisa mengetahui watak Geisha, sebelum benar-benar menikahinya. Setelah kupikir-pikir, aku jadi ragu apa yang dia lakukan selama kami berpacaran jarak jauh selama ini," ujar Abian.
"Iya juga. Geisha itu tipe gadis yang terlalu mengikuti perkembangan jaman. Dia terlalu dimanjakan orang tuanya, jadi dia pikir bisa melakukan apapun yang dia mau," ujar Ryan.
"Aku tidak tahu sampai berapa lama bisa menghindarinya. Tapi yang pasti, hanya Anisa yang bisa menyelamatkan aku dari kesialan ini," ujar Abian.
"Kenapa dengan Anisa?" tanya Ryan.
"Karena dengan segera menikahi Anisa, Geisha tidak bisa menggangguku lagi. Terlebih anak-anakku sudah berlusin-lusin." Jawab Abian.
"Berlusin-Lusin? seperti Anisa kucing saja," ujar Ryan sembari terkekeh.
"Hah. Kira-Kira Anisa dimana ya? baru ditinggal sehari saja rasanya aku sudah mau mati," gumam Abian.
"Bahkan aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini saat bersama Geisha. Anisa pasti sangat sedih, dan mengiraku membohinginya. Dia pasti akan menganggapku bajingan yang sembarangan menitipkan benih," sambung Abian.
"Bersabarlah! aku yakin kamu dan Anisa akan bersatu selamanya. Yang penting kamu harus teguh pendirian, jangan tergoda lagi dengan Geisha. Terlebih kamu sendiri yang bilang, kalau kamu sudah menikmati keperawanan Anisa bukan!" ujar Ryan.
Diingatkan hal itu tentu saja Abian jadi senyum-senyum sendiri.
"Dasar mesum. Sudah tahu yang enak-enak, langsung pikirannya bercabang," gerutu Ryan.
"Aku sarankan cepatlah cari istri. Kamu akan menyesal kalau sudah keburu kiamat. Aku tidak bisa menggambarkan betapa nikmatnya saat bercinta dengan orang yang kamu cintai," ujar Abian.
Ryan mencibirkan bibirnya saat mendengar ucapan sahabatnya itu.
__ADS_1