SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.23. Gaji Pertama


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Gaji pertama Anisa sudah berada ditangannya saat ini. Senyum semringah tak pernah lepas dari bibirnya. Karena hari ini dia mendapatkan jatah libur, Anisa bermaksud ingin mengajak Abian pergi ke pasar untuk membeli kipas angin. Namun saat dirinya baru pulang dinas malam, dia hampir bertabrakkan dengan Abian di depan pintu kamar.


"Mas? mas mau kemana? sini! aku ingin memperlihatkan padamu sesuatu," ujar Anisa sembari menarik Abian masuk kembali kedalam kamar.


Anisa membuat Abian duduk di tepi tempat tidur. Anisa yang kepanasan, langsung melepas jilbab yang dia kenakan.


"Mas. Aku ingin memperlihatkan ini padamu," ujar Anisa sembari memperlihatkan sebuah amplop putih dari saku bajunya.


Anisa kemudian memperlitkan uang lembaran merah, gaji pertamanya dengan senyum merekah dibibirnya.


"Lihat! ini gaji pertamaku mas. Aku sangat senang hari ini. Hari ini aku akan mengajakmu ke pasar. Kita akan membeli kipas yang besar, agar mas Bian nggak kepanasan lagi," ujar Anisa sembari merentangkan tangannya untuk menggambarkan kipas angin yang besar sesuai hayalannya.


"Mas hari ini boleh minta makan enak. Kita akan mencari makanan enak di pasar. Aku juga akan membeli baju baru buat mas. Mas tunggu sebentar ya! biar aku mandi dulu, setelah itu baru kita pergi," sambung Anisa dengan antusias.


Anisa meninggalkan Abian di kamar seorang diri, dan juga uang gajinya disamping pria itu.


"Dia terlihat senang menerima gaji pertamanya. Emang berapa sih gajinya? sok sekali mau beli apapun untukku," batin Abian yang kemudian meraih uang itu untuk menghitungnya.


Abian menghela nafasnya saat tahu, gaji yang diperoleh istrinya hanya UMR.


"Ckk...apa aku harus ikut dengannya ke pasar? aku sudah lama tidak ketempat seperti itu. Lagi pula aku ada meeting dengan klien. Sudahlah, ngapain aku perduli dengannya. Uang yang akan aku tangani ini nilainya ratusan milyar, nggak sebanding dengan apa yang dia peroleh," batin Abian.


Tanpa perasaan Abian pergi begitu saja. Sementara Anisa mandi dengan buru-buru. Namun dia sangat kecewa, saat dirinya keluar dari kamar mandi tidak menemukan keberadaan Abian.


"Dia pergi kemana? jadi dia nggak mau aku ajak ke pasar? uangnya...."


Anisa bergegas menghitung uangnya, dan ternyata masih utuh.


"Sebenarnya kamu orang yang seperti apa mas. Kenapa sangat sulit dekat denganmu. Meski semua orang mengatakan kamu gila, tapi aku merasa kamu tidak seperti yang orang katakan. Memang kamu lebih pendiam dari orang pada umumnya, tapi aku merasa kamu orang yang sangat berkarakter," gumam Anisa.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu pergi kemana setiap hari? dan kamu pulang selalu malam hari. Saat dihubungi kamu tidak pernah mengangkat telponku," sambung Anisa.


"Tapi ya sudahlah. Aku akan membuat kejutan saat kamu pulang nanti dengan membeli kipas angin baru untukmu," Anisa senyum-senyum sendiri. Diapun bergegas berganti pakaian dan kemudian pergi ke pasar


"Mau kemana kamu?" tanya Neneng saat melihat Anisa akan pergi keluar.


"Mau ke pasar Bu. Ibu mau ke pasar juga? kalau begitu kita pergi bersama aja," tanya Anisa.


"Lagi banyak duit rupanya. Kalau punya duit gantian beli keperluan dapur. Disini bukan tempat panti sosial," ujar Neneng.


"Iya bu." Jawab Anisa singkat.


Karena tidak ingin meladeni ucapan ibu mertuanya, Anisa memilih pergi ke pasar secepatnya. Setelah membeli kebutuhan dapur, Anisa membeli kipas angin idamannya.


"Duh...mas Bian kemana ya! ini sudah hampir jam 11 malam, aku jadi khawatir. Besok aku dinas pagi, tapi aku tidak bisa tidur kalau dia belum pulang begini," Anisa terlihat mondar-mandir didalam kamar. Jika beberapa jam yang lalu ponsel Abian masih bisa di hubungi, namun saat ini nomor itu sudah tidak aktif lagi.


Setelah menunggu cukup lama, Abian akhirnya pulang tepat pada pukul 12 malam.


Abian menekan handle pintu, tatapan mata Abian dan Anisa bertemu. Senyum Anisa terbit dari bibirnya, dan refleks memeluk suaminya itu.


"Mas kemana saja? aku sangat khawatir mas," tanya Anisa.


"Jadi dia belum tidur karena mengkhawatirkan aku? dia ini benar-benar bodoh, atau bagaimana?" batin Abian.


"Mas. Coba lihat itu! aku sudah membeli kipas angin buat kita. Jadi mulai malam ini mas tidak akan kepanasan lagi," ujar Anisa.


Abian melirik kipas angin yang lumayan besar, dengan putaran angin yang lebih kencang dari kipas sebelumnya. Namun bagi Abian tentu saja itu tidak berarti apa-apa baginya, karena dirinya bias menikmati udara sejuk dari pendingin rungan.


Pria itu kini tak lagi melepas bajunya, dan langsung berbaring diatas tempat tidur. Seperti biasa dia membelakangi Anisa dan kemudian memejamkan mata. Sementara Anisa hanya bisa menghela nafas panjang, dan ikut tidur disamping Abian. Karena terlambat tidur, Anisa yang lupa mengatur alarm diponselnya, bangun kesiangan dan tidak sempat berpamitan dengan Abian yang masih tertidur lelap.

__ADS_1


"Astaga. Aku bangun kesiangan. Kemana Anisa? kenapa dia tidak membangunkan aku? aku jadi terlambat ke kantor," batin Abian, saat melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Abian melirik memo yang Anisa tinggalkan diatas meja


"Mas aku pergi kerja dulu, maaf tidak membangunkanmu, aku sudah terlambat!"


"Hah. Aku pikir dia marah karena aku abaikan terus menerus. Tapi malah sempat-sempatnya meninggalkan memo konyol ini," Abian meremas kertas itu dan memasukkannya kedalam kotak sampah.


Abian bergegas meraih handuk dan membersihkan diri. Setelah selesai, diapun pergi ke kantor. Sementara itu di tempat berbeda Anisa tengah sibuk mengukur vital sign pasien yang baru saja dirawat akibat serangan jantung.


"Berapa tensinya suster Nisa?" tanya dokter Ichal.


"170/100 mmhg dokter." Jawab Anisa.


"Oke. Berikan obat hipertensi, dan letakkan dibawah lidahnya!" ujar dokter Ichal.


"Baik dok." Jawab Anisa.


Anisa bergegas keluar ruangan untuk mengambil obat hipertensi, sementara dokter memeriksa keadaan pasiennya yang saat ini tengah mengalami sesak akibat jantungnya yang bermasalah. Tidak berapa lama kemudian Anisa kembali dengan membawa sebutir obat hipertensi, dan meletakkan obat itu dibawah lidah pasien.


"Suster Anisa. Pasien langsung infus saja! atur Gtt nya 28/menit. Dimana keluarga pasien?" tanya dokter Ichal.


"Ada di luar dok. Oh ya dok, infus apa yang digunakan?" tanya Anisa.


"RL." Jawab dokter Ichal.


"Baik dok," ujar Anisa.


Dokter Ichal keluar dari ruang perawatan, dan berbicara dengan keluarga pasien tentang keadaan pasien dan membutuhkan persetujuan tindakkan jika sewaktu-waktu ada kegawatdaruratan. Sementara itu Anisa tampak telaten mengurus pasiennya, bahkan dia mengajarkan pasiennya tehnik mengatur pernafasan agar mengurangi rasa sesak didada pasien.

__ADS_1


Setelah jam kerja sudah berakhir, Anisapun bergegas pulang. Namun seperti biasa, dia tidak menemukan Abian di rumah.


__ADS_2