SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.33. Demam


__ADS_3

Pok


Pok


Pok


Abian menepuk-nepuk pipi Anisa, agar istrinya itu terbangun.


"Emmm...sudah jam 4 ya mas?" tanya Anisa, namun sama sekali tidak dijawab oleh Abian.


Anisa beranjak dari tempat tidur dan bergegas mandi.


"Sepertinya tangan Anisa nggak sakit lagi. Dia sudah bisa pakai baju dan melepas bajunya sendiri bukan?" batin Abian.


"Haduh...pakai acara lupa bawa baju ganti lagi. Masa iya aku keluar cuma pakai handuk? nanti mas Bian bisa mikir yang aneh-aneh tentang aku. Tapi dia kan suamiku? kenapa aku harus malu? lagian sepertinya dia nggak akan mengerti hal begituan," gumam Anisa.


Anisa dengan cuek dan percaya diri keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan handuk yang hanya menutupi sebagian dadanya dan panjangnya hanya satu kilan dari pangkal pahanya.


"Apa-Apaan dia? dia sengaja ya ngelakuin itu? uggghh...bisa gawat lama-lama berdekatan dengan Anisa," batin Abian sembari sok sibuk bermain ponsel.


"Benar dugaanku. Mas Abian nggak ngerti soal hubungan suami istri pada umumnya. Dia juga pasti nggak ngerti yang namanya syahwat. Jadi seharusnya aku juga tidak masalah kalau berpakaian sexy didepan dia," batin Anisa.


Anisa dengan santai bernyanyi-nyanyi sembari mencari pakaiannya dalam lemari. Abian hanya bisa mencuri-curi pandang, saat Anisa dengan nakal mengenakan pakaian dalam dihadapan Abian.


"Huh...kalau tahu dia nggak ngerti soal beginian. Aku nggak bakal capek bolak balik kamar mandi cuma buat ganti baju doang. Tapi nggak apalah, lagian aku akan anggap sebagai pahala," Anisa terkekeh dalam hati.


"Apa dia sengaja mau menggodaku? atau di sengaja ingin ngetest aku? mungkin dia pikir orang gila nggak punya nafsu," batin Abian.


"Aduh Jon. Pakai acara bangun lagi. Kan cuma lihat belakangnya doang Jon, nggak bisa amat diajak kompromi. Tunggu Geisha pulang deh, gue bakal celupin kamu pada sarang yang tepat ya Jon. Jadi sekarang tidur lagi aja gih,"


Setelah selesai berpakaian, Anisa segera berpamitan kerja.


"Mas. Nisa berangkat ya!" ujar Anisa sembari mencium tangan Abian.


Lagi-Lagi Abian tidak menjawab ucapan Anisa. Dan setelah pintu kamar tertutup, barulah Abian bisa bernafas dengan lega. Abianpun bergegas pergi dari rumah, karena dia kebagian shif yang sama dengan Anisa.


"Gimana tangan Anisa? sudah sembuh? tadi aku lihat dia masih masuk kerja," tanya Ryan.

__ADS_1


"Sudah kayaknya." Jawab Abian singkat.


"Kamu kenapa? wajahmu kayak kurang fit gitu?" tanya Ryan.


"Kayaknya aku mau demam nih. Mungkin karena kecapek'an." Jawab Abian.


"Mau cuti? nanti aku yang urus," tanya Ryan.


"Jangan dulu deh. Malam ini ada dua orang yang akan operasi cesar. Nanti aja pas Geisha pulang, aku mau liburan berdua sama dia." Jawab Abian.


"Emang kapan dia pulang?" tanya Ryan.


"Sekitar 5 atau 6 bulan lagi." Jawab Abian dengan wajah berseri.


Ryan terdiam, saat mendengar jawaban dari Abian.


"Emm...jadi setelah Geisha kembali, apa kamu benar-benar akan menceraikan Anisa?" tanya Ryan.


Abian terdiam saat mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu.


"Karena kamu tidak mungkin bisa memiliki keduanya. Kalau kamu benar-benar ingin bersama Geisha, Anisa buat aku ya?" pertanyaan Ryan membuat kepala Abian menoleh kearah Ryan.


"Loh kenapa? kamu kan nggak mencintai Anisa, jadi beri aku kesempatan buat membahagiakan dia yang selama ini hidup menderita," ujar Ryan.


"Ya tetap aja nggak pantas kalau kamu ngomong hal itu sekarang," ujar Abian.


"Ya oke deh. Ntar aku ngomong pas kamu benar-benar udah cerai aja," ujar Ryan.


"Kenapa aku mendadak kesal, saat mendengar Ryan akan mendekati Anisa? ini benar-benar nggak bisa di biarkan. Apa aku pura-pura nggak betah aja ya? dan aku pura-pura kembali ke rumah sakit jiwa," batin Abian.


Setelah sampai di rumah sakit, seperti biasa Abian bergegas mengganti pakaiannya. Dan malam itu setelah mengoperasi dua pasien, tubuh Abian benar-benar drop. Abian terpaksa pulang lebih cepat dari biasanya.


Ceklek


Anisa yang baru pulang bekerja mendapati Abian berbaring diatas tempat tidur sembari berselimut tebal.


"Sepertinya mas Bian belum bangun tidur ya? ini sudah hampir jam 9, apa dia sudah sarapan?" gumam Anisa.

__ADS_1


Anisa tidak ingin mengganggu Abian yang tengah meringkuk di dalam selimut. Anisa lebih memilih membersihkan diri, karena dirinya benar-benar merasa gerah dan lengket.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, hati Anisa merasa terusik saat Abian sama sekali tidak bergeming.


"Mas. Bangun! kamu sudah sarapan belum?" tidak ada respon dari pria yang tengah membelakanginya itu.


"Mas. Nggak baik tidur pagi-pagi begini. Ntar kena diabetes loh," sambung Anisa.


Anisa berjalan memutari tempat tidur, untuk melihat wajah suaminya.


"Mas. Kamu sakit?" tanya Anisa sembari menatap dahi Abian dengan punggung tangannya.


Anisa terlihat panik, saat merasakan suhu tubuh suaminya yang terasa panas. Anisa bergegas mengambil kompres untuk suaminya itu. Setelah mengompres cukup lama, Anisa bergegas keluar untuk membeli obat di apotik.


"Kemana dia? suami sakit malah ditinggal. Malah ninggalin kompresan dikepala gitu aja," gerutu Abian.


Tanpa sadar Abian mengakui, kalau Anisa adalah istrinya. Setelah pergi hampir 20 menit, Anisa kembali dengan beberapa obat dan bubur ayam.


"Mas sudah bangun? ini aku belikan bubur dan obat. Mas makan dulu ya buburnya? setelah itu baru minum obat," ujar Anisa.


Anisa kemudian menyuapi Abian makan dengan telaten, setelah itu dia memberikan minum dan obat.


"Sekarang mas boleh tidur lagi," ujar Anisa yang kemudian beranjak dari tepi tempat tidur.


"Kamu mau kemana?" tanya Abian yang keceplosan.


Anisa menyembunyikan senyumnya dan kemudian berbalik badan.


"Aku mau ke dapur sebentar mas, mau mengembalikan mangkok sama gelas kotor. Mas nggak mau aku tinggal ya? masih kangen sama aku?" goda Anisa yang membuat Abian melengos dengan wajah bersemu merah.


Anisa kemudian membawa mangkok dan gelas kotor untuk dia cuci. Setelah selesai dia kembali ke kamar dan berbaring disamping Abian. Karena habis dinas malam, rasa kantuk begitu cepat menyerang. Hingga tidak terasa Anisapun tertidur.


Merasa tidak ada pergerakkan lagi, Abian berbalik badan dan menatap wajah lelah Anisa.


"Sejujurnya aku mulai merasa nyaman dengannya. Dia yang apa adanya dan juga tidak neko-neko. Tapi maaf Nisa, hatiku sudah dimiliki oleh wanita lain. Mungkin Ryan benar, aku tidak bisa memiliki dua wanita sekaligus saat bersamaan. Jadi mau tak mau aku harus melepaskanmu,"


"Niatku untuk memperalatmu sebagai alat balas dendam pada Suban, sudah aku urungkan. Mungkin dengan begitu aku tidak lagi merasa terbebani dengan janjiku pada bapakmu. Semoga suatu saat nanti kamu bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri," batin Abian.

__ADS_1


Abian mengusap puncak kepala Anisa. Dan siang itu merekapun tidur siang bersama.


__ADS_2