
Tok
Tok
Tok
"Abian. Ayo makan dulu nak! sejak kemarin kamu belum makan," Suban membujuk Abian berulang-ulang kali, namun sama sekali tidak ada respon.
Prannggggg
Suban sangat terkejut, saat pintu kamar yang terkunci dari dalam itu dilempar dengan sesuatu yang terdengar pecah dilantai. Suban mengerti, itu suatu bentuk amarah dan protes yang dilakukan Abian terhadap kematian Ardan. Suban tahu putranya itu menyalahkan dirinya atas penyebab kematian putra sulungnya itu.
Namun Suban sangat khawatir, saat Abian tidak keluar kamar selama 3 hari. Putranya itu juga tidak makan maupun minum, hingga Suban terpaksa mendobrak pintu kamar itu.
"Bian. Abian bangun! kamu kenapa nak? bangun Abian!" tubuh Suban gemetar, saat melihat tubuh Abian yang pucat, lemas, dan tak sadarkan diri.
Suban bergegas menggendong Abian, untuk membawa putra harapannya itu pergi ke rumah sakit. Abian segera mendapatkan penanganan di ruang UGD. Disela-sela kesadarannya yang menurun, Abian bisa melihat raut ketakutan diwajah Ayahnya itu. Abian sangat puas melihat wajah panik dan putus asa itu, meskipun hal itu belum mengobati rasa luka dihati sepenuhnya.
"Abian. Apa kamu bisa mendengar suara dokter?" tanya seorang dokter yang ingin melihat respon dari Abian. Namun anak itu sama sekali tidak bergeming. Pandangan matanya lurus kedepan, dengan wajah pucat dan bibir pecah-pecah.
Melihat tidak ada respon dari Abian, dokter menggelengkan kepala dan segera menemui Suban.
"Mari ikut ke ruangan saya pak! ada hal yang harus saya pastikan," ujar dokter. Suban mengagguk, dan mengekor dibelakang dokter.
"Silahkan duduk," Suban menjatuhkan bokongnya dikursi yang sudah disediakan.
"Bagaimana keadaan anak saya dok? apa dia baik-baik saja?" tanya Suban khawatir.
"Anak anda mengalami dehidrasi akut. Dan juga kekurangan asupan nutrisi. Namun hal itu bisa kita atasi dengan memberikan cairan infus dan asupan nutris. Tapi ada hal yang lebih serius dari itu pak," ucap dokter.
"Ada apa dok?" tanya Suban.
__ADS_1
"Apa sebelum dibawa ke rumah sakit, Abian pernah mengalami hal yang menakutkan, atau hal yang mengganggu pikirannya? maksudku, hal yang membuat batinnya tertekan?" tanya Dokter.
Suban terdiam. Dia mengerti arah pembicaraan dokter.
"Abian sudah siuman, tapi dia menolak merespon saat saya mengajaknya berbicara. Anak itu seolah terjebak dengan dunianya sendiri. Tatapannya kosong tak bernyawa. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Dokter.
Suban tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Pria parubaya itupun menangis didepan Dokter.
"Dia mengalami trauma atas meninggalnya anak sulung saya dok. Dia memang sangat dekat dengan kakaknya. Namun anak sulung saya meninggal bunuh diri empat hari yang lalu." Jawab Suban sembari terisak.
Dokter manggut-manggut. Kini dia mengerti kenapa Abian bisa demikian.
"Setelah keadaannya lumayan pulih, sebaiknya anda membawa Abian ke psikiater pak. Disana Abian akan mendapatkan terapi yang sesuai," ujar dokter.
"Apa itu artinya dokter mengklaim anak saya terkena gangguan jiwa atau cacat mental?" tanya Suban yang sedikit tersinggung.
"Maaf pak. Saya belum bisa memastikan hal itu. Itulah sebabnya kita membutuhkan psikiater untuk membantu Abian keluar dari dunianya itu. Tapi ini tetap hanya sekedar saran, semuanya tetap andalah yang memutuskannya." Jawab Dokter.
"Silahkan. Ajaklah Abian bicara secara intens. Agar dia segera merespon, saat seseorang mengajaknya berbicara." Jawan Dokter.
Subanpun keluar dari ruangan dokter, dan masuk kedalam ruangan tempat putranya dirawat.
"Bian. Kamu sudah siuman nak? Ayah tahu, kamu sangat membenci Ayah. Ayah juga sedih atas apa yang terjadi. Ayah memang terlalu keras dengan kalian, tapi bukan berarti Ayah tidak menyayangi kalian. Andai kamu tahu, tidak mudah menjadi Ayah sekaligus ibu buat kalian berdua. Bahkan sampai detik ini Ayah belum menikah lagi, karena takut kalian tidak menyukai hal itu. Ayah benar-benar minta maaf, Ayah mohon kembalilah. Hiks...."
Suban terisak. Sementara tanpa sepengetahuan Suban, Abian mengepalkan tangannya namun dengan mata masih menatap lurus ke depan. Setelah dirawat selama 3 hari di rumah sakit, Abian di perbolehkan pulang. Namum hal itu terulang kembali. Abian kembali mengurung diri dalam kamar dan tidak makan dan minum.
Abian kembali dilarikan ke rumah sakit, dan itu benar-benar membuat Suban stres.
"Maaf pak. Apa saran saya tempo hari sudah anda lakukan?" tanya Doker.
"Belum dok." Jawab Suban.
__ADS_1
"Maaf pak. Tanpa ada maksud merendahkan, tapi saya rasa Abian memang perlu berkonsultasi dengan psikiater. Mungkin hipnoterapi salah satu terapi yang baik buat Abian. Itu bisa membuat Abian bisa mengungkapkan semua isi hatinya. Dia bisa keluar dari keterpurukkan, dan tekanan batin yang dia rasakan selama ini," ujar Dokter.
"Baiklah dok. Saya akan menuruti saran dokter setelah Abian sembuh," ujar Suban.
"Saya bisa memberikan surat rujukkan kalau anda mau pak. Kebetulan di salah satu rumah sakit jiwa ada seorang psikiater muda dan handal, yang baru pindah bekerja di rumah sakit itu. Mungkin dia bisa membantu Abian keluar dari masalahnya," ucap Dokter.
"Saya sangat berterima kasih dok, karena dokter sangat perduli dengan anak saya," ucap Suban.
"Sama-Sama pak. Kebetulan usia Abian seumuran dengan anak kedua saya. Jadi saya mengerti apa yang bapak rasakan saat ini. Sabar ya pak! mudah-mudahan usaha bapak nanti membuahkan hasil," ujar Dokter.
"Amiin." Jawab Suban.
Sesuai yang dokter sarankan, Suban akhirnya membawa Abian pergi ke rumah sakit jiwa untuk konsultasi pada psikiater. Seorang psikiater muda menyambut kehadiran pasiennya dengan senyum ramah. Melihat Abian tidak merespon, dokter Yasmar mengerti apa yang terjadi dengan pasiennya itu.
"Apa anda bisa menceritakan apa yang terjadi pada anak anda pak?" tanya dokter Yasmar.
Suban menceritakan akar permasalahan yang terjadi. Tanpa menceritakan tentang dirinya yang sering melakukan kekerasan pada kedua putranya itu. Dokter Yasmar kemudian melakukan hipnoterapi pada Abian, agar anak itu bisa melepaskan semua beban di hatinya.
"Abian. Ungkapkan semua apa yang kamu rasakan saat ini. Kurangi beban dihatimu, agar kamu tidak sakit sendirian," ujar dokter Yasmar.
Awalnya Abian masih diam membisu, sampai akhinya air mata anak itu mengalir dan terisak dengan mata yang terpejam.
"Ka-kakak...hiks...." Suban terkejut, kata yang Abian ucapkan pertama kali saat di hipnotis adalah tentang Ardan sang kakak.
"Ka-Kakak. Jangan pergi! jangan tinggalkan Bian sendiri. Kakak jangan pergi. Hiks...." tangisan Abian terdengar sangat pilu, hingga Subanpun tidak tahan untuk tidak meneteskan air matanya.
"Abian sangat sayang kakak ya?" tanya dokter Yasmar yang dijawab anggukkan kepala oleh Abian.
"Kenapa sangat sayang dengan kakak?" tanya dokter Yasmar.
Abian terdiam sejenak. Mungkin dia bingung harus mengungkapkan darimana tentang sosok sang kakak dimatanya.
__ADS_1