
Anisa tampak merebahkan kepala dibahu Abian. Kepalanya terasa pusing, karena Abian lebih memilih lewat jalur darat karena tidak ingin mengambil resiko untuk keselamatan anak-anaknya. Namun keputusan itu cukup Abian sesali, karena ternyata Anisa tipe orang yang mabuk kendaraan. Beruntung Palembang menuju kota Lampung sudah memiliki jalan tol, jadi perjalanan menuju pelabuhan lebih cepat.
"Sabar ya sayang. Sebentar lagi kita akan sampai," ujar Abian.
"Emm." Anisa mengangguk.
"Nggak apa-apa mas. Aku baik-baik saja. Asal ada mas disampingku, aku dan anak-anak pasti akan aman," ujar Anisa.
Abian tersenyum sembari mengusap puncak kepala Anisa.
"Mas. Amunisiku sudah habis. Kalau ada yang jual cepat beli ya? itu akan mengurangi rasa mualku," ujar Anisa.
Abian melirik kotak makanan yang awalnya berisi irisan mangga muda, dan potongan apel hijau, sudah habis Anisa makan.
"Apa dia tidak merasakan asam atau giginya linu. Makan buah seasam itu, membuat gigiku yang jadi ngilu. Tapi jangan kamu tanyakan itu padanya Abian. Bisa-Bisa kamu kena tsunami," batin Abian.
"Iya. Nanti kamu juga bantu aku melihat-lihat ya? barangkali mataku tidak menemukannya," ujar Abian.
"Ya." Jawab Anisa.
"Sebentar lagi bus kita akan sampai kepelabuhan. Kamu tidur saja lagi," ujar Abian.
Tidak berapa lama kemudian kondektur bus mengumumkan bahwa bus akan berhenti untuk beritirahat disebuah rumah makan. Mendengar itu tentu saja Anisa jadi sangat senang. Dia bahkan tidak sabar ingin turun ke bawah, karena ingin menghirup udara bebas.
"Sayang. Berhati-Hatilah! ingat ada anak kita," ucap Abian yang memperingatkan Anisa yang terkesan buru-buru ingin segera turun.
"Mas. Coba lihat itu!" mata Anisa berbinar, saat melihat Ada pedagang buah di dekat rumah makan itu.
Abian bisa bernafas lega, karena masalahnya cepat terselesaikan.
"Sayang. Bagaimana kalau buah asamnya kamu ganti dengan buah yang sedikit manis. Jeruk misalnya. Atau anggur barangkali?" tanya Abian penuh dengan kehati-hatian.
"Kenapa?" tanya Anisa.
"Sayang. Kita ini sama-sama orang kesehatan. Mengkonsumsi zat asam terlalu banyak tidak baik untuk lambung. Kalau lambung sudah bermasalah, itu artinya kamu akan meminum obat macam-macam. Dan kamu pasti tahu, ibu hamil tidak diperbolehkan sembarangan mengkonsumsi obat-obatan." Jawab Abian.
Anisa terdiam. Sesaat kemudian dia tersenyum.
"Jadi menurut mas aku beli buah apa?" tanya Anisa.
"Emmm...bagaimana kalau apel atau pear saja?" tanya Abian.
"Eh?" Anisa terkejut.
"Kenapa? tidak suka ya?" tanya Abian.
"Bukan tidak suka, tapi terdengar aneh saja. Bukankah tadi mas menyarankan buah jeruk atau anggur? kenapa sekarang jadi apel dan pear? jauh sekali." Jawab Anisa sembari terkekeh.
__ADS_1
"Begitu ya? aku sampai lupa buah apa yang aku sarangkan pertama kali," ujar Abian.
"Ya sudah kalau begitu ambil jalan tengahnya saja. Aku akan membeli buah anggur, dan juga buah pear. Jadi anggurnya bisa dimasukin kedalam kota makanan ini," ujar Anisa sembari menunjukkan kotak makanan yang sudah kosong.
"Boleh," ujar Abian.
"Pak. Anggurnya satu kilo, pear satu kilo," ujar Anisa.
Pedagang itupun menimbang buah yang Anisa inginkan. Setelah membayar buah itu, Anisa dan Abianpun berkumpul bersama penumpang lainnya di rumah makan untuk sekedar mengganjal perut dan menghilangkan dahaga.
"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Abian.
"Tidak mau. Takutnya aku muntah kalau terlalu banyak isi. Kan malu kalau sampai muntah di dalan bus," ujar Anisa.
"Tidak apa-apa, kan ada aku?" ujar Abian.
"Aku mau roti saja. Tapi mas jangan sampai nggak makan. Sana mas pesan makanan," ujar Anisa.
"Iya." Jawab Abian.
Abian kemudian memesan menu soto sebagai menu makan malamnya. Dia juga membeli beberapa roti kemasan bermerk dari keranjang yang berada di depan kasir.
"Apa ini cukup?" tanya Abian.
"Ya. Mas beli apa?" tanya Anisa.
"Makasih ya mas," ucap Anisa.
"Emm. Makanlah!" ujar Abian.
Anisa menyantap soto panas itu dengan hati senang. Sesuai yang Abian perkirakan, Anisa sangat menyukainya. Dan setelah makan malam itu berakhir, perjalanan mereka kembali dilanjutkan. Tidak butuh waktu lama, merekapun akhirnya tiba dipelabuhan menuju merak.
Dan setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, merekapun tiba di pelabuhan merak keesokkan paginya.
"Ah...akhirnya kita sampai juga mas," ujar Anisa. dengan senyum semringah.
"Ya. Akhirnya penderitaanmu akan segera berakhir sayang. Rasanya beban didadaku sudah terhempas," ujar Abian.
"Ryan akan menjemput kita di stasiun. Dia sudah menunggu kita disana," ujar Abian.
"Oh ya? baguslah. Aku sudah kangen sama rumahku mas," ujar Anisa.
"Nggak. Kamu nggak boleh pulang ke rumah itu lagi. Keselamatan kamu bisa terancam. Aku sama sekali tidak percaya pada Geisha maupun Selvie. Kamu akan aku bawa ke rumah kita," ujar Abian.
"Rumah kita?" tanya Anisa.
"Emm. Rumah masa depan kita." Jawab Abian.
__ADS_1
"Hah. Baiklah aku akan menuruti mas saja," ujar Anisa.
Setelah menempuh perjalanan yang singkat, merekapun akhirnya tiba di stasiun. Disana juga sudah ada Ryan yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Selamat datang kembali Anisa," ujar Ryan.
"Makasih kak," ucap Anisa.
Ryan membukakan pintu untuk Anisa, dan kemudian membantu Abian memasukkan koper kedalam bagasi.
"Besok pagi jemput ke rumahku. Kita akan pergi ke rumah ayahku," ujar Abian.
"Eh?" Ryan hampir saja mengerem mendadak, saat mendengar ucapan Abian.
"Dengar tidak?" tanya Abian yang tahu Ryan terlihat meragukan ucapannya.
"Siap." Jawab Ryan.
"Terus urus juga dokumen pernikahan aku dan Anisa. Rencananya kami akan menggelar pernikahan di rumah ayah," ujar Abian.
"Oke." Ryan cepat-cepat menjawab, agar tidak terkena sasaran amarah Abian.
Anisa terlihat merebahkan kepalanya di bahu Abian. Wajah wanita itu terlihat sangat lelah, sehingga dia tidak tertarik untuk mengikuti obrolan mereka.
Abian menuntun kepala Anisa agar merebah di pangkuannya. Anisa terdengar mendengkur karena kelelahan.
"Aku ingin kamu membuat pernikahanku menjadi pernikahan yang termewah, diantara orang-orang di tempat itu. Belikan juga satu set berlian. Pilih keluaran terbaru," ujar Abian.
"Aku mengerti." Jawab Ryan.
"Aku sangat bahagia saat ini Yan. Anisa tengah mengandung anakku," ujar Abian.
"Ap-Apa?" teriak Ryan.
"Ckk...bisa nggak mulutmu di rem dikit?" tanya Abian setengah berbisik.
"Maaf. Soalnya aku kaget banget tadi," ujar Ryan.
"Ya. Terlebih Anisa hamil anak kembar. Ini rasanya sangat menyenangkan hatiku," ujar Abian.
Ryan tersenyum. Dia bisa ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya itu.
"Aku turut bahagia untukmu Bi. Semoga hubungan kalian langgeng ya!" ujar Abian.
"Amiin." Jawab Abian.
Abian melihat kearah Anisa yang tengah tertidur lelap. Senyum pria itu terbit dari bibirnya. Anisa yang sekarang berada dipangkuannya terasa mimpi baginya.
__ADS_1
"