SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.44. Aku Membencimu


__ADS_3

"Teman kamu masuk nggak hari ini?" tanya Abian.


"Nggak tahu soalnya belum aku samperin. Dia dinas di ruang neonatus soalnya. Kenapa? kok kamu nanyain dia?" tanya Geisha.


"Ya nggak apa-apa? dia kan ngilang tiba-tiba semalam. Ditambah cuaca juga hujan. kamu harus pastiin dia baik-baik aja. Bukannya kata kamu dia orang yang berjasa suksesnya pertunangan kita? iya kan?" ujar Abian.


"Iya. Aku kok bisa lupa gitu ya? ya sudah nanti pas makan siang aku pastiin deh. Soalnya barusan aku telpon pakai ponsel satunya masih nggak aktif," ujar Geisha.


"Tentu saja aku tahu kalau nomornya masih nggak aktif. Karena aku juga mencobanya," batin Abian.


"Emang teman kamu tinggal dimana sih? kamu pernah ke rumahnya?" tanya Abian.


"Pernah. Waktu aku minta temani sama dia buat nyari cincin itu." Jawab Geisha.


"Oh...emang dia tinggal dimana?" tanya Abian.


"Jl. Hasanudin blok E no.89. Tapi tumben loh kamu keponya maksimal gini," ujar Geisha.


"Kamu tidak boleh begitu sayang. Dia kan teman kamu, otomatis sudah jadi teman aku juga. Terlebih dia sudah bantuin acara kita, dan pernah nyelamatin kamu dari copet. Iya kan?" tanya Abian.


"Iya. Ya udah aku jalan kesana dulu deh bentar. Buat mastiin dia masuk apa enggak," ujar Geisha sembari berjalan menuju koridor, dimana tempat Anisa bekerja. Tapi ternyata Anisa tidak masuk bekerja.


"Ternyata dia nggak masuk. Kata temannya dia masuk malam," ujar Geisha.


"Oh gitu. Ya udah kamu hati-hati kerjanya. Aku mau tidur dulu, buat modal nanti malam kerja," ujar Abian.


"Oke." Jawab Geisha yang kemudian mengakhiri panggilannya.


Setelah panggilan itu berakhir, tanpa membuang banyak waktu lagi. Abian langsung pergi ke rumah kontrakkan Anisa.


"No. 89 yang mana ya?" Abian tampak memperhatikan rumah kontrakkan yang berjejer. Saat dia menemukan nomor 89, Abian kemudian mengetuk pintu.


Anisa yang terbaring lemah karena demam tinggi, tentu saja tidak sanggup berdiri untuk membuka pintu. Abian mengintip dari kaca jendela, dan melihat ruangan tengah tampak sepi.


"Apa Anisa pergi ya?" gumam Abian.

__ADS_1


Ceklek


Abian yang iseng menekan handle pintu, merasa sangat senang karena pintu itu berhasil terbuka.


Tok


Tok


Tok


Abian mengetuk pintu kamar Anisa, dan terdengar suara lirih dari dalam sana.


"Si-Siapa?" suara Anisa lirih nyaris tak terdengar.


Ceklek


Abian menekan handle pintu, dan masuk begitu saja ke dalam kamar Anisa. Mata Anisa terbelalak, saat tahu yang datang adalah Abian. Anisa mencoba bangkit dari tempat tidur, meskipun tubuhnya terasa lemah.


"Nisa kamu sakit? wajahmu sangat pucat?" tanya Abian sembari tangannya ingin meraba kening Anisa.


Plakkkk


"Keluar dari rumah saya pak dokter yang terhormat. Saya nggak ingin keberadaan anda disini, membuat saya terkena masalah dan dituduh sebagai pelakor," ucap Anisa.


"Nisa aku pengen jelasin sama kamu semuanya. Aku...."


"Tidak ada lagi yang perlu dijelasin. Karena kita juga tidak saling kenal. Yang aku tahu orang yang pernah aku cintai orang yang mentalnya cacat, sementara anda sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Jadi silahkan anda keluar dari rumah saya," Anisa memotong pembicaraan Abian dengan emosi.


"Nisa aku tahu aku salah. Aku sudah melibatkanmu dalam misi balas dendamku. Aku...."


"Kenapa? apa karena aku orang miskin? anak yatim piyatu, orang rendahan, cuma perawat biasa! hingga anda bisa sesuka hati memperalat saya? hingga anda membuat saya terlihat seperti orang bodoh?" Mata Anisa mulai bekaca-kaca. Dan air mata itu seketika jadi tumpah ruah.


"Bodohnya aku. Agar membuat suamiku yang katanya cacat mental bicara padaku, aku rela diabaikan. Aku berbicara seorang diri. Tapi ternyata selama ini aku sudah dibodohi. Suamiku yang katanya harus dibiarkan keluar sendirian, yang sangat aku khawatirkan, ternyata dia seorang dokter hebat dan pengusaha handal. Hiks....tega kamu mas," Anisa terisak.


Bibir Abian kelu, saat mendengar semua keluh kesah Anisa yang dia rasakan selama ini.

__ADS_1


"Dengan bodohnya aku menggantungkan harapanku pada orang yang sama sekali tidak punya hati. Padahal aku sudah bisa menerima kekurangan suamiku. Mungkin dengan bersuamikan orang gila, aku tidak akan ditinggalkan. Seperti keluargaku yang meninggalkanku. Tapi apa? ternyata aku dibodohi. Hiks...."


Greppppp


Abian langsung membawa Anisa kedalam pelukkannya. Namun Anisa dengan sigap berontak.


"Lepasin aku mas! lepasin aku! jangan sentuh aku! aku membenciku!" Anisa berontak dengan keras, namun karena tubuhnya sedang tidak sehat, Anisapun jatuh pingsan.


"Nis. Nisa bangun!" Abian menjadi panik, saat melihat Anisa pingsan. Ditanbah suhu tubuh Anisa demam tinggi.


Abian bergegas menggendong Anisa dan membawa mantan istrinya itu ke klinik terdekat. Anisa segera diberikan tindakan medis, dan terpaksa harus di opname. Setelah menunggu beberapa saat, Anisapun siuman.


"Nis. Kamu sudah sadar?" tanya Abian, saat melihat mata Anisa yang perlahan membuka.


Anisa berdecak, saat tahu dirinya dibawa ke rumah sakit akibat pingsan.


"Aku mau pulang!" ujar Anisa sembari ingin beranjak dari tempat tidur.


"Aku mohon jangan keras kepala. Kamu sedang demam tinggi. Wajahmu pucat," ujar Abian.


"Jangan perdulikan aku, karena kita tidak perlu lagi saling perdulikan. Urus saja urusanmu, dan aku mengurus urusanku," ujar Anisa.


"Aku mohon saat ini singkirkan dulu rasa marahmu. Nanti kita bisa bicarakan lagi setelah kamu sembuh ya!" ujar Abian.


"Aku rasa kamu mengerti bahasa manusia. Sudah aku bilang, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku harap jangan ganggu aku lagi kedepannya! anggap saja kita tidak saling kenal. Aku nggak mau Geisha salah paham padaku," ujar Anisa.


Anisa akhirnya kembali berbaring, namun tubuhnya membelakangi Abian.


"Nisa. Aku tahu kamu tidak ingin melihat wajahku. Aku akui aku salah sudah melibatkanmu dalam aksi balas dendamku. Awalnya aku berpikir dengan menyakiti wanita pilihan Suban, maka dia juga akan merasa sakit dan malu. Tapi saat melihat kebaikkan dan ketulusanmu, niatku jadi berubah dan segera pergi dari situ. Aku tidak ingin menyakitimu terlalu lama, itulah sebabnya aku memutuskan pergi secepatnya,"


"Itu karena kamu menganggap nasib gadis miskin dan rendahan sepertiku tidak masalah kalau dipermainkan sesuka hati. Bukan aku saja, tapi kamu juga sudah mempermainkan Allah. Tapi tidak apa, salahku yang begitu cepat menyerahkan hatiku sepenuhnya. Karena waktu itu aku berpikir, aku pantas buat kamu,"


"Tapi sekarang aku sadar. Dengan statusmu yang tinggi, kaya raya, mana mungkin kamu akan tertarik dengan wanita dari kalangan rendahan sepertiku," sambung Anisa.


"Aku nggak mikir gitu Nis. Aku... "

__ADS_1


"Tapi pada kenyataannya aku kalah dari orang berkedudukkan. Tidak masalah, aku sadar jalur kita memang berbeda. Hanya saja yang kusesalkan adalah, kenapa aku harus terjebak dengan permainanmu itu. Sekarang pergilah! aku sudah mengikhlaskan semuanya. Dan aku mohon sama kamu, bersikaplah seolah-olah kita tidak saling kenal. Dan kita akan bicara hanya urusan pekerjaan," ujar Anisa.


Abian menghela nafas panjang. Karena tidak ingin memperkeruh suasana, Abian pulang terlebih dahulu. Sementara Anisa kembali terisak di ruangan pasien.


__ADS_2