SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.54. Tidak Terima


__ADS_3

"Ha-Hallo," suara Anisa sedikit bergetar. Entah mengapa sejak kejadian semalam, jantungnya jadi berdebar saat menerima panggilan telpon dari Abian.


"Sayang. Kamu lagi apa?" tanya Abian.


Anisa sedikit tersenyum saat mendengar panggilan sayang dari mulut Abian.


"Baru mau tidur lagi. Mataku sangat mengantuk." Jawab Anisa.


"Maaf ya. Semalaman aku membuatmu tidak tidur. Habis mau bagaimana lagi, rasanya memang sangat nikmat dan menyenangkan," ujar Abian sembari melirik kearah Ryan. Ryan hanya bisa memutar bola mata dengan malas.


"Sayang,"


"A-Apa." Anisa terpaksa menjawab sapaan itu.


"Aku menginginkannya lagi," ujar Abian terkekeh.


Pria berusia 28 tahun itu seperti anak ABG saat ini.


"Mas...." Anisa merasa tidak nyaman mendengar ucapan Abian karena dia tidak ingin mengulang dosa itu kembali.


"Kamu masuk malam kan hari ini?" tanya Abian.


"Ya." Jawab Anisa.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu," ucapan Abian membuat Anisa tersipu.


"Mas. Geisha...."


"Bersikaplah biasa saja saat di dekatnya. Aku akan mengatakan semuanya pada Geisha hari ini,"


"Tapi mas...."


"Sayang. Aku tidak ingin menundanya lagi. Dia selalu mendesakku untuk mengadakan acara lamaran," potong Abian.


"Tapi bagaimana perasaanmu dengan Geisha. Aku tidak ingin kamu putus dengan Geisha hanya karena perbuatan kita semalam," tanya Anisa.


"Aku yakin tidak mencintai Geisha lagi. Aku tidak tahu kapan perasaan itu menghilang tapi tiap kali dia menciumku, tidak ada lagi perasaan meletup-letup atau berdebar seperti yang aku rasakan saat berdekatan denganmu. Aku minta maaf karena terlambat menyadarinya. Tapi kalau boleh jujur, perasaan berdebar ini sudah aku rasakan sejak kita tinggal bersama waktu itu. Bahkan si Joni hanya mau bangun saat berdekatan denganmu,"


"Si Joni? siapa Joni?" pertanyaan Anisa membuat Abian jadi tertawa keras.


"Kamu sangat mengenal Joni. Bahkan kamu sudah memanjakan Joni sepuasnya tadi malam." Jawab Abian sembari terkekeh. Sementara Anisa jadi tersipu.


"Tapi mas. Bagaimana kalau Geisha tahu, kalau akulah penyebab putusnya hubungan kalian?" tanya Anisa.


"Suatu saat dia pasti akan tahu. Tapi tidak ada gunanya juga aku mempertahankan hubungan kami, kalau perasaanku terhadapnya sudah tidak ada lagi. Dia harus mengerti, kalau cinta itu tidak harus memiliki. Aku tahu mungkin ini terasa kejam dan menyakitkan baginya. Tapi itu akan lebih buruk kalau kami memaksa bersama, sementara sudah tidak ada cinta lagi dalam hatiku." Jawab Abian.


"Tapi aku merasa sangat bersalah mas. Dia begitu percaya padaku. Aku seperti merasa jadi seorang pelakor," ucap Aniasa.

__ADS_1


"Sudahlah. Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Pokoknya biar aku yang menyelesaikan semuanya," ujar Abian.


"Tapi mas...."


Tok


Tok


Tok


"Sebentar mas. Ada yang datang, aku buka pintu dulu," ujar Anisa.


"Jangan di tutup telponnya. Aku ingin tahu siapa yang datang itu. Awas saja kalau si Niko itu. Pokoknya aku melarangmu berteman sama dia," ujar Abian.


"Ya nggak bisa gitu dong mas. Dia itu sahabat aku dari SMP. Dia itu selalu membantuku," ujar Anisa.


"Tapi dia nggak boleh nyentuh kamu walau secuilpun. Aku nggak mau dia datang ke rumahmu seperti tadi malam. Aku nggak mau kamu peluk-peluk dia," ujar Abian.


"Ya ampun. Jadi begini mas Abian kalau lagi cemburu. Parah banget ternyata," batin Anisa.


Ceklek


"Maaf. Mbak Nisa ya?" tanya seorang pria berseragam dan berhelm warna hijau.


"Iya mas. Ada apa?" tanya Anisa.


"Mau antar makanan." Jawab pria itu


"Ini kiriman dari suami mbak Nisa," ujar pria itu.


"Suami? tapi saya...."


Anisa jadi teringat dengan Abian, terlebih pria diseberang telpon itu sedang terkekeh.


"Mas. Kamu pesanin aku makanan?" tanya Anisa.


"Iya sayangku. Aku pikir tenagamu sudah terkuras tadi malam. Jadi kamu butuh asupan nutrisi yang banyak." Jawab Abian yang membuat kepala Anisa menggeleng.


Setelah menerima makanan itu, Anisa meletakkannya diatas meja makan.


"Kenapa mas repot-repot begini?" tanya Anisa.


"Sayang. Mulai hari ini aku aku akan memenuhi kewajibanku, yang tidak pernah aku berikan selama kita menikah dulu. Aku akui aku sudah berlaku tidak adil padamu. Aku tidak memberikan nafkah lahir batin. Jadi aku akan memberimu nafkah mulai hari ini," ujar Abian.


"Nggak perlu mas. Lagipula kita belum menikah. Penuhi kewajibanmu setelah kita menikah saja," ujar Anisa.


"Aku tidak menerima penolakkan. Sekarang juga kamu harus memberikan nomor rekeningmu!" ujar Abian.

__ADS_1


Anisa menghela nafas panjang, dan menuruti perkataan Abian. Namun dia sangat terkejut setelah melihat notif di ponselnya.


"Apa mas sudah gila? ini terlalu banyak mas," ujar Anisa.


"Anggap saja 50 juta itu nafkahku selama 6 bulan yang tidak pernah aku berikan waktu itu. Mulai bulan depan, aku akan kembali memberikanmu nafkah secara rutin," ujar Abian.


"Tapi mas bukan berarti kita masih berstatus suami istri bukan? talakmu sudah jatuh, sejak kamu tidak pernah memberikan nafkah lahir batin selama 6 bulan lebih. Bahkan kamu tidak pernah ada kabar selama kamu pergi. Kita sudah bercerai dimata agama," ujar Anisa.


"Aku mengerti. Secepatnya aku akan menyelesaikan masalahku dengan Geisha. Setelah itu kita akan meresmikan pernikahan kita," ujar Abian.


"Sekarang kamu makanlah. Setelah itu kamu tidur," sambung Abian.


"Iya mas." Jawab Anisa.


Anisa dan Abian kemudian mengakhiri percakapan itu. Dan tepat pada pukul 4, Abian datang lebih dulu dari Anisa. Tentu saja Geisha sangat senang melihat kedatangan Abian. Gadis itu bahkan langsung berhambur kepelukkan Abian, dan ingin mencium pria itu.


"Kenapa?" tanya Geisha saat Abian dengan gerakkan gesit, mendorong tubuh Geisha.


"Aku ingin bicara serius denganmu," ujar Abian


"Tunggu! apa ini?" tanya Geisha sembari memegang tanda merah di leher Abian.


Abian diam membisu, dia jadi bingung merangkai kalimat yang tepat untuk memutuskan hubungannya dengan Geisha.


"Abian. Katakan padaku! apa ini? ka-kamu selingkuh dariku?" tanya Geisha dengan mata berkaca-kaca.


"Geisha dengar. Aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita. Aku...."


"Kenapa? apa kamu mencintai wanita lain?" tanya Geisha dengan tangan terkepal.


"Ya. Aku minta maaf Ge, aku tidak tahu kapan perasaanku ini hilang terhadapmu. Tapi memang itulah kenyataannya." Jawab Abian sembari melepaskan cincin tunangan mereka.


"Siapa? siapa wanita yang sudah merebutmu dariku?" tanya Geisha.


"Itu tidak penting. Yang...."


"Siapa???" teriak Geisha.


"Geisha tenangkan dirimu!" ucap Abian.


"Kamu menyuruhku tenang? bagaimana aku bisa tenang? kamu menghianatiku, dan memutuskan pertunangan kita, memutuskan hubungan yang sudah kita jalin selama bertahun-tahun. Dimana hatimu Abian? aku sangat mencintaimu," hardik Geisha.


"Tapi aku tidak mencintaimu lagi. Aku tahu perkataanku ini sangat kejam. Tapi itulah kenyataannya. Aku tidak ingin memberikan harapan untukmu, aku benar-benar minta maaf Geisha," ucap Abian.


Plaakkkkk


Geisha menampar Abian dengan sangat keras.

__ADS_1


"Kamu dengar baik-baik Abian. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau putus darimu. Tidak akan," ujar Geisha.


Geisha kemudian meraih tasnya dan pergi dari ruangan itu.


__ADS_2