SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.45. Menolak


__ADS_3

"Kamu kenapa?" tanya Ryan, saat melihat Abian berwajah suntuk.


"Aku baru saja ke rumah kontrakkan Anisa, dan ternyata dia sedang sakit saat ini. Sekarang dia sedang dirawat di klinik, tapi dia tidak ingin aku berada disana. Dia sangat membenciku Yan, dia sangat membenciku." Jawab Abian.


"Kalau menurutku itu sangat wajar. Mungkin kalau aku berada di posisinya, aku akan melakukan hal yang sama. Rasa sakit yang kamu beri, memang diluar batas Bi. Jadi kamu harus berusaha mendapatkan maaf dari dia," ujar Ryan.


"Aku tahu. Sekarang aku butuh bantuanmu Yan. Kamu tolong jaga dia di klinik itu ya! aku takut terjadi sesuatu padanya," ujar Abian.


"Bagaimana kalau dia juga mengusirku Bi? soalnya dia juga benci padaku, karena menganggap aku juga terlibat kebohonganmu padanya," tanya Ryan.


Abian terdiam. Dia tahu Anisa pasti akan mengusir Ryan juga. Tapi paling tidak dia merasa tenang, kalau Anisa ada yang melihatnya meskipun sebentar.


"Kalau begitu kamu lihat dia dari kejauhan saja, saat dia mengusirmu nanti. Saat ini dia sedang panas tinggi, aku takut dia kenapa-napa saat ditinggal sendiri," ujar Abian.


"Baiklah. Mungkin dengan cara ini aku juga bisa dekat dengannya. Sekarang kamu sudah tidak ada hubungan apa-apa dengannya kan? dan kamu juga sudah memiliki hubungan yang baru. Jadi aku izin mau mendekati Anisa," ujar Ryan.


Abian menatap Ryan, dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Entah kenapa Ada perasaam tidak rela, Anisa didekati oleh pria lain.


"Dia membencimu dan juga membenciku. Jangan membuatnya berpikir diperlakukan seperti bola, dengan dioper kesana kemari. Aku sudah membuatnya menderita Yan, aku nggak mau kamu menambah penderitaannya," ujar Abian.


"Siapa yang mau menambah penderitaannya? kan kamu yang membuat masalah dengannya? aku sudah memperingatkanmu waktu itu, dan aku juga sudah mengatakan kalau Anisa wanita yang baik dan cocok untukmu. Jadi kamu jangan berpikir aku akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan padanya."


"Ingat! aku dan kamu itu sangat berbeda Bi. Aku sangat menghargai yang namanya wanita," sambung Ryan.


"Sekarang kamu katakan padaku, dimana alamat klinik dan alamat rumah Anisa? aku mau kesana sekarang," tanya Ryan.


Dengan sedikit perasaan tidak rela, Abian terpaksa memberikan alamat klinik dan alamat rumah Anisa. Tanpa membuang banyak waktu, Ryan segera mencari alamat yang Abian berikan.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Ryan mengetuk ruangan, dimana tempat Anisa dirawat.


Ceklek


Pria itu menekan handle pintu dan mendapati Anisa sedang tertidur. Perlahan Ryan memasuki ruangan itu, dan meletakkan parcel buah yang sempat dia beli di toko buah.


Blammmm


Anisa membuka matanya, saat merasa ada pergerakkan disekitarnya. Matanya kemudian menyipit, saat mata itu beradu pandang dengan Ryan yang tengah menelan ludahnya karena gugup.


"Mau apa kamu kesini? pergilah!" ujar Anisa dengan nada yang langsung emosi.


"Nisa. Aku tahu aku salah karena terlibat kebohongan yang diatur oleh Abian. Tapi percayalah, aku tidak bermaksud membohongimu. Abian memang salah, tapi dia juga tidak bermaksud...."


"Tidak bermaksud? yang benar saja." Anisa tesenyum sinis.


"Apa bagi kalian seorang pria, pernikahan seperti sebuah permainan. Asal kalian tidak lagi menyukainya, makan kalian seenaknya meninggalkan wanita itu dan menceraikannya?" tanya Anisa.


"Nisa. Tidak bisakah kamu memaafkan aku? Abian cuma bosku, tentu saja aku menuruti perintah bosku kan?" tanya Ryan.


"Lalu kenapa kalau dia bosmu? otakmu itu masih waras kan? kalau bosmu melakukan hal buruk, kenapa kamu mau mendengarkannya? apa saat bosmu menyuruhmu masuk kedalam sumur, kamu juga akan langsung masuk kedalam sumur? bodoh!" umpat Anisa.


"Eh? Anisa sangat mengerikan pada saat sedang marah. Tapi apa yang dia katakan memang benar. Abian membuat masalah untukku kali ini," batin Ryan.


"Sekarang mending kamu pulang deh! Kepalaku sedang nyut-nyutan. Terlalu banyak bicara dan emosi membuatku jadi bertambah pusing. Dan ingat pesanku, saat melihatku nanti. Maka berpura-puralah tidak melihat apalagi mengenal. Karena sekeras apapun kalian mencoba, aku nggak akan pernah memaafkan kesalahan kalian itu," ujar Anisa.


Anisa kemudian berbalik badan dan membelakangi Ryan. Pria itu hanya bisa menghela nafas, karena merasa tidak mudah menaklukkan hati Anisa.


"Baiklah aku pulang dulu, dan jangan lupa makan buahnya. Besok aku akan kesini lagi untuk menjengukmu," ujar Ryan.

__ADS_1


"Tidak perlu! awas saja kalau berani kesini lagi, aku akan mengambil jarum suntik dan mencolokkannya ke matamu," ujar Anisa.


Ryan tersenyum mendengar ancaman Anisa. Namun pria itu tidak perduli, dia sudah bertekad akan terus menjenguk gadis yang sudah perlahan mencuri hatinya itu. Ryan kemudian pergi dari ruangan itu.


"Aku tidak bisa terus berada di klinik ini. Aku akan keluar besok pagi, dan segera pindah dari rumah kontrakkan. Aku tidak mau mereka terus menggangguku dan menciptakan kesalahpahaman antara aku dan Geisha. Karena walau bagaimanapun Geisha tidak bersalah, dia tidak tahu tentang pernikahanku dengan Abian," gumam Anisa.


"Hah...kenapa harus Geisha. Aku harus menjaga rahasia ini sampai mati. Kalau tidak Geisha pasti akan sangat terluka nantinya. Ini semua karena Abian bajingan itu. Aku sangat membencinya! dasar penipu! harusnya gadis secantik dan sebaik dia, jangan menikah dengan pria pembohong seperti itu. Sama sekali tidak cocok," gerutu Anisa.


Disisi lain Ryan yang berada di tempat parkir langsung menghubungi Abian.


"Bagaimana?" tanya Abian.


"Dia menolak kehadiranku. Dia bahkan tidak ingin kita berdua menemuinya. Dia ingin kita berpura-pura tidak mengenalnya." Jawab Ryan.


"Ya. Dia juga menginginkan itu dariku. Tapi bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu. Iya kan?" tanya Abian.


"Kenapa kamu tidak bisa melakukannya? bukankah ini yang kamu inginkan? sebenarnya aku mengerti kenapa Anisa tidak mau kamu menemuimu lagi, ini pasti demi Geisha. Mereka bersahabat. kalau Geisha sampai tahu, persahabatan mereka pasti akan renggang. Atau lebih parahnya lagi mereka akan bermusuhan." Jawab Ryan.


Abian terdiam. Apa yang Ryan katakan ada benarnya. Abian jadi memijat keningnya, lagi-lagi ucapan Sumarno terngiang-ngiang ditelinganya.


"Entah kenapa suara bapaknya Anisa selalu menghantuiku akhir-akhir ini," ujar Abian.


"Sepertinya kamu sudah dihantui rasa bersalah Bi," ujar Ryan.


"Sepertinya memang begitu. Dan pertemuan kembali dengan Anisa, membuatku jadi kesulitan tidur pada malam hari," ujar Abian.


"Mungkin saat mendapatkan maaf dari Anisa, barulah aku akan tenang," sambung Abian.


"Dan itu tidak akan mudah Sobat," timpal Ryan.


"Aku tahu, tapi aku akan terus berusaha sampai dia mau memaafkan aku." Jawab Abian.

__ADS_1


"Ya sudahlah. Sekrang aku mau kembali ke kantkr dulu. Nanti kita akan ngobrol lagi.


Ryan mengakhiri panggilan itu, dan segera kembali ke kantor.


__ADS_2