
Tring
Tring
Tring
"Dari rumah sakit? harusnya mereka tahu kalau hari ini aku off," gumam Abian.
"Ya?"
"Selamat pagi dok. Maaf mengganggu," ujar seorang perawat diseberang telpon.
"Ada apa?" tanya Abian.
"Ada pasien yang harus di bedah Cesar dok. Tapi dokter Obgyn yang bertugas hari ini berhalangan hadir karena sakit. Sementara dokter Obgyn yang lain tengah cuti. Jadi satu-satunya cuma dokter Abian yang bisa. Maaf dok sudah mengganggu waktu Off anda."
"Jam berapa jadwal operasinya?" tanya Abian.
"20 menit lagi dok."
"Siapkan alatnya dan juga siapkan pasien seperti biasa. Saat saya tiba disana, saya ingin semuanya sudah siap tanpa ada kesalahan sedikitpun. Siapkan juga dua orang perawat untuk menjadi asisten saya," ujar Abian.
"Baik dok. Terima kasih dok,"
Abian menutup panggilan itu secara sepihak, dan segera beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Ryan.
"Ke rumah sakit. Ada pasien yang mau bedah Cesar." Jawab Abian sembari melepas jasnya dan memberikannya pada Ryan.
"Loh. Bukannya kamu bilang hari ini sedang off?" tanya Ryan.
"Seharusnya gitu. Tapi dokter jaga hari ini nggak masuk karena sakit. Aku pergi dulu ya! telpon aku kalau punya klien baru," ujar Abian
"Oke." Jawab Ryan.
Abian pun pergi ke rumah sakit dengan motor sportnya. Dia tidak ingin terkena macet, dan membuat pasien yang membutuhkannya menunggu terlalu lama. Setelah sampai di rumah sakit, dia menaiki lift dari tempat parkir, langsung menuju ruangannya. Dia tidak ingin ada orang yang mengenalinya di rumah sakit itu.
Saat tiba diruangannya, Abian bergegas berganti pakaian dengan seragam operasi berwarna hijau. Dan seperti biasa, dia akan menggunakan masker dan juga kaca mata untuk menutupi jati dirinya. Abian juga menata rambut gondrongnya, dan menutupnya dengan penutup kepala dengan warna senada.
Drap
Drap
__ADS_1
Drap
"Sudah siap?" tanya Abian saat melihat dua orang perawat menunggu kedatangannya di depan ruang operasi.
"Siap dok." Jawab perawat itu serentak.
Abian masuk ke ruangan itu dan melihat seorang pasien sudah berbaring diatas tempat tidur.
"Bu. Sudah siap ketemu baby nya?" tanya Abian dengan ramah tamah. Nada suaranya berubah 360° dari beberapa detik yang lalu.
"Siap dok. Tapi saya deg-degan." Jawab wanita dengan perut buncit itu.
"Santai saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kenalkan nama saya dokter Abian. Ibu banyak-banyak berdo'a saja ya! semoga operasinya berjalan lancar, dan cepat makan daging," ujar abian sembari mengenakan handscoon dikedua tangannya. Seorang perawat juga membantu Abian mengenakan celemek.
"Kok makan daging dok?" tanya Pasien.
"Kalau abis lahiran pasti ngadain syukuran kan?" tanya Abian.
"Dokter bisa aja." Jawab pasien yang ternyata sudah hilang ketegangannya.
"Anastesi," Abian memberi kode pada seorang dokter anastesi yang selalu membantunya tiap kali dirinya melakukan operasi pada pasien.
Dokter anastesipun melakukan prosedur anastesi pada pasien itu sebelum Abian mulai melakukan bedah cesar. Setelah obat anastesi sudah berefek, Abian mulai melakukan operasi pada pasiennya. Setelah melakukan operasi cesar kurang lebih 50 menit, seorang bayi laki-laki akhirnya dibawa keluar oleh seorang perawat untuk dimasukkan kedalam inkubator.
"Baik dok." Jawab perawat.
Abian melepaskan kedua handscoon ditangannya. Dan kemudian celemek ditubuhnya. Setelah itu dia keluar dari ruang operasi dan beristirahat di ruang pribadinya.
Glek
Glek
Glek
Abian meraih minuman dingin yang berada di dalam kulkas mini miliknya dan meminumnya hingga tandas. Setelah itu dia berbaring diatas tempat tidur pasien sembari bermain ponsel.
Ting
Sebuah chat masuk kedalam ponselnya.
"Mas. Jangan lupa makan siang ya! pulangnya jangan malam-malam," chat Anisa.
Abian hanya membaca isi chat itu tanpa ada niat membalasnya. Padahal tanpa Abian dan Anisa tahu, mereka tengah berada di rumah sakit yang sama meskipun di area yang berbeda. Karena untuk tiga bulan pertama, Anisa akan bekerja diruangan khusus penyakit dalam. Dan setelah tiga bulan berikutnya, dia akan dirolling di tempat yang berbeda.
__ADS_1
Abian tersenyum, saat membaca banyak chat dari Geisha. Mahasiswi kedokteran tingkat akhir itu mengabarkan kalau proposalnya sudah diterima oleh dosen pembimbingnya.
"Cepat pulang sayang! aku kangen banget sama kamu," chat Abian
"Aku juga. Jaga hati kamu ya sayang! tunggu aku pulang," balas Geisha.
"Aku nggak bisa membayangkan kalau sampai Geisha tahu aku sudah menikahi wanita lain. Aku nggak bakalan sanggup melihat dia nangis karena kecewa sama aku. Untungnya aku sama Anisa cuma nikah siri, jadi mudah kalau sewaktu-waktu ingin cerai gitu aja dari dia. Tapi...."
Abian mengusap wajahnya dengan kasar. Bayangan Sumarno yang menitipkan Anisa padanya, selalu terngiang-ngiang ditelinganya.
"Ckk...kenapa aku harus terpengaruh dengan ucapan orang yang sekarat? toh aku dan Geisha memang sejak dulu pacarannya. Sementara Anisa baru masuk dalam kehidupan aku. Ngapain aku perduli?" gerutu Abian.
Abian melirik jam ditangannya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Abian bergegas mengganti pakaiannya, dan keluar untuk mencari makan siang.
"Kamu bawa bekal Nis?" tanya Dian rekan sejawatnya.
"Iya. Lihat kamu bawa bekal, aku jadi kepikiran buat bawa juga. Lumayanlah buat berhemat. Jadi mulai sekarang kita bisa makan bareng kalau pas ketemu shif yang sama." Jawab Anisa.
"Iya. Aku mikirnya kenapa harus beli, kalau bisa bawa bekal sendiri. Kita udah 2 kali ketemu shif yang sama, tapi belum banyak ngobrol. Kamu udah nikah?" tanya Dian.
"Sudah. Mbak dian sudah juga?" tanya Anisa sembari menikmati makan siangnya.
"Sudah. Sudah berjalan 3 tahun. Anak juga sudah punya satu. Anak kamu sudah berapa?" tanya Dian.
"Belum mbak. Baru nikah hampir dua bulan." Jawab Nisa.
"Wah...pengantin baru rupanya. Dua bulan masih hot-hotnya itu. Suamimu nggak keberatan kamu kerja? apalagi kalau shif malam. Cobaan banget untuk pengantin baru," ujar Dian sembari terkekeh, sementara Anisa hanya tersenyum kaku.
"Mbak Dian bisa aja." Jawab Anisa.
"Duh...mas Abian sudah makan siang belum ya? sebenarnya kamu itu kemana sih mas? kenapa kamu tiap hari keluar rumah tanpa aku tahu kamu itu pergi kemana. Sepertinya kalau aku punya waktu libur nanti, aku harus ikutin mas Bian. Agar aku tenang kalau tahu dia pergi kemana. Atau aku pergi ke rumah sakit jiwa aja ya! biar aku tanya, apa setiap pergi ke luar rumah mas Bian pergi ke sana?" batin Anisa.
"Sus,"
"Ya?" Seorang keluarga pasien memanggil perawat didepan pintu ruangan pegawai.
"Maaf Sus. infus bapak saya hampir habis," ujar keluarga pasien.
"Oh...baiklah. Saya ambil cairan infusnya dulu ya mbak," ujar Anisa.
"Ya sus."
Anisa segera mencuci tangannya, dan bergegas pergi untuk mengganti cairan infus pasiennya.
__ADS_1