SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.52. Kesalahan


__ADS_3

"Sudah hampir jam 10. Tapi kenapa pria itu tidak keluar juga? apa yang mereka lakukan sebenarnya," gumam Abian.


Abian perlahan mendekat kearah pintu rumah Anisa, namun tidak terdengar suara apapun dari arah ruang tamu. Namun setelah lama menunggu, terdengar suara Anisa yang berjalan ke ruang tamu.


"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Anisa.


"Tidak apa. Cepatlah! aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin memecahkannya. Pasti semakin terasa nikmat, saat melihatnya mengeluarkan darah," ujar Niko.


"Mereka mau apa?" batin Abian.


"Cepatlah mulai! aku juga sudah gemas melihatnya. Aku sudah menyiapkan banyak tisu. Ayo cepat tusuklah!" ujar Anisa.


"Oke. Aku mulai ya, kamu juga siap-siap. Saat mengeluarkan darah nanti, cepat lap pakai tisu," ujar Niko.


"Cepatlah Nik. Aku sudah tidak sabar nih," ujar Anisa


"Awww...sakit Nis. Sssttt...aahhh," Niko mendesis.


"Tusuk lebih dalam lagi, biar cepat keluar darahnya," ujar Anisa.


"Iya. Aku mulai lagi ya? kali ini aku harus menusuk lebih dalam, biar cepat keluar darah. Kalau sudah keluar darah, pasti akan terasa lega dan nikmat," ujar Niko.


"Akkkhh...akhirnya pecah juga. Ya ampun, darahnya lumayan banyak Nis. Ayo cepat lap!" ujar Niko.


"Bagaimana Nik? enak tidak?" tanya Anisa.


"Tentu saja enak. Aku sudah lama menahannya. Dan kalau sudah pecah begini, rasanya nikmat sekali. Aku ingin menekan-nekannya, biar cepat keluar semuanya." Jawab Niko.


"Kalau begitu cepatlah tekan," ujar Anisa.


Niko kemudian menekan-nekan bisul yang ada dibetisnya. Darah dan nanah terlihat banyak keluar, hingga bisul itu tampak kempes.


"Ahh...Nisa...nikmat sekali rasanya kalau cairannya keluar semua seperti ini. Aku merasa lega," ujar Niko.


"Aku juga merasa lega Nik. Sini aku lap semua cairannya," ujar Anisa.


"Anisa. Aku tidak menyangka kalau kamu orang yang seperti ini. Bukankah kamu dan pria itu baru bertemu? tapi kenapa kamu menyerahkan harga dirimu begitu saja. Aku kecewa sama kamu Anisa," Abian mengepalkan tangannya, dengan dada yang begemuruh.


"Nisa aku pulang dulu. Aku sudah kenyang makan masakkanmu, dan kamu juga sudah membantuku menuntaskan masalahku. Aku benar-benar merasa puas. Saat bekerja besok, aku pasti tambah semangat," ujar Niko.


"Sama-Sama Nik. Aku juga ikhlas Membantumu. Kamu sering-seringlah main kesini, kita masih banyak hal yang harus diceritakan," ujar Anisa.

__ADS_1


"Pasti. Nanti saat libur aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kita akan bersenang-senang sepuasnya," ujar Niko.


"Oke. Aku tunggu janjimu," ujar Anisa.


Niko kemudian pergi dari rumah Anisa. Setelah Niko sudah pergi, Anita menutup pintu. Namun baru saja dia akan kembali ke kamar, suara ketukan di pintu menghentikan langkahnya. Anisa kembali menbuka pintu.


"Niko kenapa kamu kembali? apa kamu masih belum puas ju...ga...." Anisa terbata, saat tahu yang berada di depan pintu Abian yang datang dengan wajah menggelap.


"Belum puas? mau main berapa kali agar kamu bisa terpuaskan? kamu pasti sangat menikmatinya, hingga senyummu terlihat lebar. Aku tidak menyangka kalau kamu orang yang seperti ini Anisa," ujar Abian.


"Seperti apa maksudmu? lalu kenapa kamu ada disini? pulanglah! ini sudah larut malam," tanya Anisa.


Bukannya pergi, Abian malah mendorong Anisa masuk kedalam, dan mengunci pintu.


"Kamu membiarkan dia masuk, kenapa aku tidak boleh?" tanya Abian.


"Ada apa denganmu? tolong ingatlah perjanjian kita dokter Abian. Sekarang lebih baik anda keluar dari rumahku," ujar Anisa.


"Aku tidak mau!" ucap Abian.


"Ini adalah rumahku juga. Aku yang membelinya," sambung Abian.


Abian sama sekali tidak menggubris ucapa Anisa. Dia malah masuk kedalam kamar gadis itu.


"Dokter Abian. Kali ini anda kelewatan! tolong jangan membuat masalah untukku. Aku tidak enak dengan Geisha," ujar Anisa.


Grepppp


Abian tiba-tiba memeluk Anisa dengan erat.


"Maafkan aku Anisa. Maafkan aku yang baru menyadari perasaanku. Sepertinya a-aku menyukaimu," ujar Abian.


Anisa segera mendorong tubuh Abian, dia tidak ingin pria itu tahu. Kalau saat ini jantungnya berdegup dengan kencang.


"Tolong jangan begini dokter Abian. Sudah cukup selama ini anda mempermainkan perasaanku. Aku ini cuma wanita sederhana, miskin dan tidak berkedudukkan seperti dokter Geisha. Cukup satu kali saja anda membuat hatiku terluka, jadi tolong jangan lakukan itu pada gadis lainnya," ujar Anisa.


"Tidak Anisa. Ini masih belum terlambat, aku akan memutuskan pertunanganku dengan Geisha, dan kita bisa rujuk kembali. Kita akan menikah secara resmi," ujar Abian.


"Aku nggak mau. Aku bisa mencari kebahagiaanku sendiri, meski itu bukan bersama kamu," tolak Ansia.


Grepppp

__ADS_1


Abian meraih kedua sisi wajah Anisa, hingga mata keduanya beradu.


"Kalau begitu tatap mataku! katakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi. Ayo katakan!" ujar Abian.


"A-Aku tidak mencintaimu," ucap Anisa sembari memalingkan wajahnya.


Abian tersenyum saat mendengar ucapan Anisa. Anisa melirik kearah Abian terlihat tersenyum.


"Kenapa dokter tersenyum?" tanya Anisa.


"Tentu saja aku senyum, karena aku tahu kamu sedang berbohong saat ini." Jawab Abian.


"Bohong apa sih? lebih baik anda keluar dari kamarku! dan pulanglah ke rumahmu," ujar Anisa.


"Tapi aku masih mau disini. Nisa, aku mencintaimu. Aku mohon beri aku kesempatan Nis," ujar Abian.


"Maaf aku tidak bisa," ujar Anisa.


"Tapi aku tidak butuh pendapatmu juga. Aku akan tetap memutuskan pertuanganku dengan Geisha. Aku baru sadar, kalau aku tidak mencintainya lagi," ujar Abian.


"Wah...hebat sekali anda ini dokter Abian? jadi saat anda ingin menikah, anda akan menikah. Saat anda bosan, anda bisa menceraikannya sesuka hati. Sekarang anda ingin memutuskan ikatan pertunangan anda dengan Geisha, hanya karena alasan tidak cinta lagi? dan apa ini? anda ingin mengajakku rujuk sesuka hati? maaf saja, aku tidak akan mau. Cukup sekali saja aku tersakiti, aku tidak mau jadi orang bo...."


Abian tiba-tiba membungkam mulut Anisa dengan sebuah ciuman. Anisa berusaha memberontak, namun perlahan pertahanannya melemah. Hati dan tubuhnya lebih jujur dari mulutnya.


Entah sejak kapan mereka sudah tidak mengenakan apapun lagi. Keduanya benar-benar sudah lupa diri.


"M-Mas Bian. Hen-Hentikan mas," Anisa tak memiliki tenaga lagi untuk menolak cumbuan yang Abian berikan. Seluruh tulang belulangnya seperti terkena lumpuh, hingga tidak memiliki tenaga lagi.


"Ni-Nisa kamu...."


Abian bisa merasakan kalau tuduhannya pada Anisa beberapa menit yang lalu sudah keliru. Anisa masih bersegel, karena miliknya tidak bisa menembus pertahanan Anisa dengan mudah. Namun Abian tidak ingin membiarkan Anisa tersadar dan menolaknya, dia kembali meneruskan hasratnya yang sudah membuncah.


"Akkhh...mas...." Anisa menjerit, tatkala Abian berhasil menerobos pertahanannya.


Abian mencium kedua mata Anisa yang meneteskan air matanya.


"Aku mencintaimu sayang," bisik Abian.


Anisa tidak menjawab ucapan Abian, saat ini hatinya tengah dirasuki oleh bisikkan setan yang tengah minta dituntaskan hasratnya yang terpendam.


Abian mulai bergerak perlahan, ranjang Anisa mulai berderit dan menimbulkan kegaduhan diiringi suara mereka yang saling bersahutan. Entah berapa kali mereka mengulang perbuatan tak terpuji itu, keduanya tidak sadar bahwa jalan di depan akan semakin terjal untuk mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2