SUAMIKU CACAT MENTAL

SUAMIKU CACAT MENTAL
Bab.29. Jadwal Yang Sama


__ADS_3

"Sudah dua hari ini Mas Bian nggak keluar. Apa itu karena aku ada di rumah ya? apa kalau aku pergi, dia ikutan pergi juga? tapi nanti sore aku kan harus pergi, karena aku dapat shif malam," ingin sekali Anisa bertanya, tapi Abian terlihat cuek dan tampak sibuk dengan ponselnya.


"Mas. Nanti malam aku kebagian shif malam. Mas nggak apa ya Nisa tinggal sendirian nanti malam?" tanya Anisa.


"Percaya diri sekali ini perempuan. Emangnya aku akan pingsan kalau nggak ada dia? kalau mau pergi ya pergi saja. Lagian kenapa harus serba kebetulan sih? kemarin dia dapat jatah off, aku juga dapat jatah off. Dan hari ini sama-sama dapat jatah shif malam," batin Abian.


"Lagi-Lagi nggak mau jawab. Kalau begini caranya, aku lebih suka melihat dia marah seperti kemarin, daripada dia diamin aku begini," batin Anisa.


"Oh ya. Aku belum minta maaf soal tropi kemarin ," batin Anisa.


"Mas. Nisa minta maaf atas nama adik sepupu Nisa kemarin Ya! dia benar-benar tidak sengaja menjatuhkan tropi itu. Tapi mas tenang aja, tropinya sudah Nisa perbaiki. Ya meskipun nggak sempurna betul, tapi nyaris nggak terlihat kok cacatnya," ujar Nisa.


"Terus Nisa juga minta maaf, karena sudah bawa masuk mereka ke kamar kita. Sebenatnya Nisa nggak mau, tapi Nisa nggak bisa menjelaskan sama mas kalau adik-adikku itu orangnya...."


"Hah...sulit aku menjelaskannya mas. Tapi aku tetap mau minta maaf sama kamu mas. Entah mas mendengar, mengerti atau tidak dengan ucapanku ini. Tapi aku benar-benar menganggap pernikahan kita ini mas," ujar Anisa.


"Oh ya. Nisa boleh curhat nggak mas? Nisa semalam mimpi ketemu bapak sama Buk'e. Nisa kangen mereka mas. Kehilangan mereka, seperti mimpi bagi Nisa. Padahal Nisa belum sempat membahagiakan mereka. Mereka belum sempat mencicipi hasil jerih payah mereka menyekolahkan aku. Apalagi Buk'e, dia sangat ingin melihat aku jadi sarjana. Tapi..."


Suara Anisa tercekat ditenggorokkan, diiringi air matanya yang sudah membasahi wajahnya.


"Kadang meski dalam keramaian, saat menyibukkan diri dengan pasien, aku masih merasa kesepian mas. Tapi aku senang, saat dirumah aku punya kamu yang menemani aku tidur. Jadi Aku tidak merasa takut sendirian lagi,"


Flower bicara seorang diri, seolah Abian mendengarkan semua keluh kesahnya. Meskipun memang benar, tapi Abian sama sekali tidak merespon ucapan Anisa. Pria itu seolah sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Anisa menyeka air matanya dan beranjak dari tempat tidur.


"Nisa mau bantu ibu buat makan siang. Mas mau makan apa? biar Nisa masakkin buat mas," tanya Anisa.


Tetap tak ada respon dari Abian. anisa hanya bisa tersenyum kecut, dan kemudian keluar dari kamar itu. Sepeninggalan Anisa keluar, Abian meletakkan ponselnya, dan menatap langit-langit kamar.


"Aku rasa sikapku sama dia sudah benar. Kalau aku bersikap biasa atau seperti pasangan pada biasanya, itu akan memberikan dia harapan setinggi langit, sementara sebentar lagi aku pasti akan menceraikannya setelah kedatangan Geisha. Ini semua karena Suban sialan itu, yang seenaknya memaksakan kehendaknya," gumam Abian.


"Jadi semakin sedikit bicara dengannya, itu akan semakin baik. Mungkin sekarang dia akan terluka, tapi kalau aku memberikan dia harapan itu pasti akan lebih menyakitkan lagi. Jadi lebih baik dia tidak usah mengenalku lebih dalam lagi. Biarlah dia tahunya aku memiliki keterbelakangan mental," batin Abian.


Setelah Anisa keluar kamar hampir satu jam, wanita itu kembali dan mengajak Abian makan siang bersama. Seperti biasa, keduanya akan mendapat sindiran karena Suban kebetulan belum datang untuk makan siang.


"Rumah ini sudah seperti panti sosial," ujar Neneng.


"Kenapa menatapku seperti itu? apa kamu mengerti dengan ucapanku? kadang aku merasa kamu itu hanya berpura-pura gila, karena ingin menghindari tanggung jawab. Kalau kamu laki-laki sejati, tidak mungkin kamu membiarkan istrimu menjadi tulang punggung. Sementara kamu enak-enak tinggal makan dan keluyuran nggak jelas," sindir Neneng.


"Hah. Percuma juga ngomong dengan orang gila, kamu tidak akan mengerti juga," sambung Neneng.


Abian mengepalkan tangan dibawah meja, dan itu dilihat oleh Anisa. Anisa meraih tangan Abian, hingga kepalan itu terbuyar. Anisa tersenyum kearah Abian, saat jari jemarinya dia selipkan diantara jemari Abian. Pria itu segera memalingkan wajahnya dan juga menarik tangannya dari genggamam tangan Anisa.


"Pantesan cocok dan jodoh. Kalian itu memang sama-sama tidak waras. Disindir tapi nggak ngerasa," ujar Neneng.


"Bu. Aku mohon jangan menyudutkan suamiku ya! mas Bian sedang sakit, nanti kalau dia sudah sembuh pasti kami nggak akan merepotkan Ibu sama Ayah lagi kok," ujar Anisa.

__ADS_1


"Maksudmu apa? jadi kalian akan pindah kalau Abian sembuh? mimpi aja yang dibesarin. Dirawat oleh dokter 12 tahun aja nggak sembuh-sembuh, apalagi cuma dirawat dirumah seperti ini?" ujar Neneng.


Anisa terdiam. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya meyakinkan ibu tirinya itu, agar tidak lagi menindas dirinya dan suaminya.


"Sudah? segitu saja pembelaan diri yang dia lakukan? dasar bodoh! ibu tiri sialan ini cocoknya punya menantu seperti Geisha. Aku rasa pasti akan cepat masuk kuburan," batin Abian.


Abian menyudahi makan siangnya lebih cepat dari biasanya. Pria itu bergegas masuk kamar dan kembali bermain ponsel. Saat Anisa kembali ke kekamar setelah mencuci peralatan makan, wanita itu mendapati suaminya tengah tertidur lelap.


"Aku sangat bersyukur tadi bisa mengendalikan amarah mas Bian. Karena sudah pernah mendapatkan kemarahannya, aku sangat takut ibu menjadi sasaran empuknya," Anisa menatap wajah abian yang tertidur dengan damai.


Anisa kemudian naik keatas tempat tidur, dan ikut tidur disamping Abian.


"Semakin hari kamu semakin masuk kedalam hatiku mas. Kamu mampu membuatku gelisah, kamu sudah membuatku memiliki rasa rindu saat tidak bertemu denganmu seharian. Sepertinya aku...aku sudah jatuh cinta sama kamu mas. Jatuh cinta pada suamiku sendiri. Meskipun orang-orang bilang kamu gila, tapi bukankah cinta itu buta?" Anisa senyum-senyum sendiri sembari menatap wajah Abian yang tampak tenang.


Setelah menghayal banyak hal, Anisapun jatuh tertidur menyusul Abian yang lebih dulu menuju alam mimpi. Dan mereka sama-sama terbangun setelah pukul 4 sore.


"Jadi dia tidur siang juga?" batin Abian saat melihat Anisa yang tampak tertidur lelap


"Sudah jam 4 seharusnya dia bangun seklarang kalau tidak ingin terlambat," batin Abuan.


Ehemmm


Deheman keras Abian berhasil membangunkan Anisa. Anisa segera melihat jam di ponselnya yang membuat dia bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2